Ochi Kakakku yang Seksi Part IV




Pagi harinya…
Dengan muka ngantuk aku turun dari tempat tidurku, mengambil handuk dan bersegera mandi untuk siap-siap sekolah. Aku masih rada kesal karena kemarin kak Ochi hanya bercanda saja ngajak mandi bareng, padahal aku ngarep banget. Malam tadi aku juga lagi-lagi tidur sendiri, setidaknya diganti tidur bareng kek gitu.


Saat ku keluar kamar ternyata kak Ochi juga baru keluar dari kamarnya, dia juga sedang menenteng handuknya yang menandakan dia juga mau mandi. Kami saling pandang, sepertinya kami memikirkan hal yang sama saat itu. Kamar mandi cuma satu dan kami sama-sama ingin mandi saat ini. Yang cepat dia menang!!

Segera ku berlari menuju kamar mandi secepat kilat. Dia juga tidak mau kalah dan ikut berlari mengejarku. Tentu saja aku yang menang.

“Adeeeeeekkkkk!!! Kakak dulu yang mau mandiiii!!! Ngalah dong sama cewek!!” teriaknya kesal karena aku yang duluan sampai di kamar mandi.

“Hahaha.. bodo!” ku banting pintu di depan wajahnya.

“Reseeeeeeeeeeee!!!” Hore… puas rasanya bikin dia kesal, dia kira cuma dia yang bisa bikin kesal. Aku tertawa puas penuh kemenangan di dalam sini.

“Deeeeekk!! Kakak mau kuliah iniiii… ntar telat!! Adekkk!!” teriaknya tidak henti-hentinya sambil terus menggedor-gedor pintu. Aku sih cuek saja dan mulai menanggalkan bajuku, dia kira dia doang yang takut telat.

“Cepetan deh kalau gitu kamunya.. dasar” katanya akhirnya pasrah dan mengalah. Dia memang kakak yang baik. Kasihan juga sih sebenarnya, tapi biarlah.

“Cepetan… jangan pake acara coli segala kamu…” teriaknya lagi beberapa saat kemudian, cerewet amat kakakku ini. Godain ah…

Aku buka pintu kamar mandi dan mengeluarkan kepalaku, tampak dia sedang duduk menunggu di ruang tengah.

“Kak….” Panggilku, ekor matanya melirik ke arahku. Sepertinya dia masih kesal.
“Ya? Apa?”

“Kalau mau masuk, masuk aja kak.. Kan udah lama gak mandi berdua.. hehe..” kataku untung-untungan.

“Gak! ntar yang ada kakak malah mandi peju kamu! Cepetan aja mandi sana”

“Hehe.. Gak kok kak… Janji deh gak macam-macam. Ntar kakak telat lho… Aku masih lama lho mandinya” kataku cari-cari alasan dengan niat cabul terselubung. Dia melirikku dengan curiga sambil mengangkat alisnya, sepertinya dia tahu kalau aku memang berniat berbuat mesum padanya.

“Gak!” jawabnya jutek. Wah, dia masih kesal aja. Baru juga nyelonong masuk ke kamar mandi, gimana kalau sampai nyelonong masuk ke vaginanya. Ya sudahlah gak berhasil ternyata, ku tutup lagi pintu kamar mandi dan melanjutkan mandiku.

Hanya terjadi hal-hal biasa setelah itu, aku bersiap ke sekolah sedangkan dia bersiap ke kampus. Seperti biasa, pakaiannya selalu tertutup dan berjilbab, membuat dia terlihat sangat anggun dengan tampillan seperti itu.

“Nih dek, sarapan dulu… mamam yang banyak”
“Iya kak….” Wah, dia tidak marah lagi. Dia memang kakakku yang paling baik deh.

“Napa kamu dek? senyum-senyum gitu liat kakak?” tanyanya heran.
“Hehe.. gak ada kok kak” Dia juga balas senyum padaku, manisnya.
“Dasar kamu” dengan gemas dia acak-acak rambutku sampai kusut.

“Kaaaakkkk… kusut lagi ini rambutku!”

……

Sore menjelang malam, aku bersiap untuk mandi sore. Entah kebetulan atau memang takdir, lagi-lagi kami berpapasan saat akan mandi.

“Nah… sekarang kakak yang duluan” ujarnya padaku.
“Ngalah dong kak sama yang lebih kecil” balasku.
“Kamu tuh yang harusnya ngalah sama cewek!” balas Kak Ochi tidak mau kalah.
“Gak ah, kakak mandinya lama… aku mau pergi main sama teman-teman nih bentar lagi…” kataku beralasan. Rencananya memang aku mau pergi main malam mingguan bareng teman-temanku.

“Kakak mandi lama? Kamu kaleee…. Yang tiap mandi ngocok mulu! Sampai cepat gitu habis sabun.. hihihi” katanya membuka aibku.

“Nah… kalau gitu-”
“Apa! Ngajak mandi bareng lagi?” potongnya, tahu saja dia isi pikiranku.

“Hehehe… tau aja. Mau yah kak?”
“Gak!”

“Yah… mau dong kak… ntar aku cucuin lagi deh baju-bajunya kakak…” bujukku.
“Kakak cantik… ayo dong…” godaku terus. Dia melirik heran padaku, hingga akhirnya dia jadi tertawa melihat tingkahku ini.

“Hihihi.. Apaan sih kamu dek? Segitunya kepengen mandi bareng…”
“Hehehe… ayo lah kak…”

“Hmm… Janji gak bakal macam-macam?” tanyanya.
“Janji”
“Sumpah?”
“Suer suer suer”

“Hihihi… dasar… Ya udah bareng, untung aja kamu adek kakak sendiri, kalau orang lain gak bakal kakak kasih”
Yuhuuu… Dia mau juga! \:v/
“Senang kamu dek? Nih… Kakak turuti lagi fantasimu… Biar puas kamu gak cuma bisa ngayal doang mandi bareng sama kakak, tapi inget… jangan macem-macem!” sambungnya lagi.

“Eh, i-iya kak… janji… gak bakal macam-macam kok" Yes, fantasi mesumku akan terwujud satu lagi. Mandi bareng dengan kakak kandungku yang super cantik. Sudah lama rasanya tidak mandi bareng dengannya, terakhir kali waktu kami masih sd kalau gak salah.

“Ya udah.. ayok dek… kita bugil-bugilan di kamar mandi.. hihihi…” ajaknya dengan senyum manis. Glek, aku menelan ludah mendengarnya. Mulai lagi dia keluarin jurus godaan maut andalannya, yang tentu saja membuat aku jadi berdebar-debar mendengar suara serta melihat ekspresi wajahnya itu.

“A-ayo kak”

“Yakin nih dek? Ntar kita didalam telanjang-telanjangan loh? Kuat gaaak?” suaranya sungguh merdu dan menggoda saat mengucapkan itu.
“Trus kita juga bakal basah-basahan…. Di dalam juga sempit kan? kuat gak kamu?” sambungnya lagi, membuat aku menelan ludahku berkali-kali. Gila, belum masuk aja aku udah tegang bukan main karenanya. Ku tarik juga dia masuk ke dalam, lama amat sih, keburu muncrat duluan aku kalau kelamaan.

“Aduduh, sabar dek sabar, pelan-pelan napa?”

Kini di dalam kamar mandi sudah ada kakakku yang cantik, akhirnya. Segera aku lepaskan seluruh pakaianku hingga aku bugil lagi di depannya. Dadaku berdebar kencang, penisku tegang berdenyut-denyut. Dia sepertinya tahu kalau aku lagi mati kesenangan saat ini. Dia senyum-senyum saja melihat tingkahku.

“Pintunya kakak tutup yah dek…” katanya lalu menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Kemudian menoleh kebelakang melirikku sambil tersenyum, membuat aku lagi-lagi jadi menelan ludah.

“Nah… sekarang kita terkurung deh di sini, cuma ada kamu dan kakak” katanya berbisik. Gaya dan nada bicaranya itu membuat aku jadi berdebar-debar. Aku tidak tahu apa aku bisa bertahan lama di sini T.T

“Hihihi.. napa dek?”
“G-gak ada kak, cuma-”
“Horni ya?” potongnya.
“Eh, D-dikit.. hehe”
“Dikit? Kok udah tegang gitu anu-mu?” tanyanya sambil melirik penisku yang mengacung-ngacung ke arahnya. Aku hanya cengengesan saja, soalnya emang gak dikit sih, horni banget malah.

“Dek… Bisa kontrol diri kan? kakak bakal telanjang di depan kamu lho ini.. kamu bebas kalau mau ngelihat, tapi gak boleh macam-macam… oke adekku?” ujarnya mengingatkan. Apa sih maunya, nyuruh gak macam-macam tapi menggodaku sampai segitunya.

“I-iya kak” jawabku. Aku iya-iyakan saja, soalnya aku sudah tidak sabar melihat tubuh telanjangnya lagi.

Dia mulai membuka pakaiannya, dimulai dari membuka ikat rambutnya sehingga rambut sebahunya tergurai indah. Lalu dia buka baju kaosnya. Yang membuat aku makin horni karena dia membukanya perlahan, sambil tersenyum manis kepadaku pula. Akhirnya bajunya terbuka dan bagian atas tubuhnya kini sudah telanjang di hadapanku. Tampak buah dadanya yang sekal menggantung dengan indahnya pada kulit dadanya yang putih, dihiasi puting merah muda yang berdiri mancung.

Tidak peduli dengan aku yang begitu horni melihat keadaan dirinya, kini dia mulai membuka perlahan celana pendeknya itu sekaligus dengan celana dalamnya. Saat bagian vaginanya akan terlihat, dia melirik padaku dan tersenyum manis. Duh, sangat seksi.

Dia tarik lagi kebawah celananya perlahan-lahan, hingga celana itu jatuh menggantung di mata kakinya dan memperlihatkan vaginanya.

Akhirnya kini dia telanjang polos di depanku, mataku rasanya tidak ingin beranjak darinya. Buah dadanya, vaginanya, lekuk tubuhnya, semuanya ku pandangi puas-puas dari jarak sedekat ini.

“Dek? Udah mandi lagi sana.. liatin kakak mulu” Katanya padaku yang masih saja asik memperhatikan tubuhnya.
“Adeeeekk!! Kok bengong?”

“Eh, nggak kak..”
“Ya udah mandi dong.. lama-lama telanjang ntar kita masuk angin lho.. cepetaaaaan!!”
Tapi mana bisa aku konsentrasi mandi sekarang ini, melihat sosok indah telanjang bulat berada di sampingku yang ada aku malah jadi birahi.

“Lama amat kamu...” melihat aku yang dari tadi tidak bergerak diapun mengambil gayung dan menyirami tubuhku berkali kali, jadilah aku malah dimandikan kakakku.

“Duh kak.. pelan pelan, masuk hidung nih..”

“Kamu sendiri yang lama, udah… biar kakak aja deh yang mandiin kamu..” katanya sambil terus mengguyurku dengan air dingin. Enak benar.

“Jongkok dek, biar bisa kakak siramin rambutnya ”

Akupun jongkok dibawahnya, dengan posisi seperti ini aku malah berada tepat di depan vaginanya yang mulus, sepertinya baru dicukur. Gila sensasinya!! Dia sepertinya tahu aku kesenangan di bawah sini, tapi dia cuek saja karena aku memang tidak ngapa-ngapain selain melihat doang. Dia lumuri rambutku dengan shampo kemudian membasuhnya lagi.

“Udah dek.. diri deh, sampai kapan mau di sana terus” suruhnya, akupun berdiri.
“Sabunin dong kak…” pintaku.
“Iyaaaa… ini juga mau kakak sabunin” Dia lalu mengambil sabun dan mulai menyabuni badanku. Telapak tangannya yang sangat lembut menyentuh kulitku, betul-betul nikmat. Saat sampai menuju penisku dia menghentikan aksinya, sepertinya dia ragu untuk menyabuni bagian itu.

“Napa kak? Gede ya? Sabunin juga dong .. hehe” pintaku mesum.
“Jangan ge-er kamu ya…” dia membelai penisku! Akhirnya aku merasakan belaian tangannya di penisku, membersihkan seluruh bagian penisku dengan tangannya yang berlumuran busa sabun, termasuk buah zakar dan rambut kemaluanku, bahkan batang penisku yang lagi tegang juga dikocoknya. Gila! nikmat betul! Begitu halus telapak tangannya.

“Ngghhh… kak… oohhh….” lenguhku kenikmatan.
“Ngapa sih kamu dek?”
“Enak… lebih cepat dong kak ngocoknya…”
“Hah? Malah keenakan kamu, dasar… udah ah” katanya melepaskan tangannya dari batang penisku. Tentu saja aku kecewa, kentang soalnya. Aku berharap dia terus mengocoknya sampai muncrat.

Dia ambil gayung dan mulai mengguyur tubuhku lagi. Dia cuek saja melihat adeknya ini yang begitu mupeng pada dirinya. Aku yang merasa tanggung melanjutkan mengocok penisku sendiri dengan tanganku sambil terus diguyur air olehnya.

“Hei dek, udah kakak bilang jangan macem-macem” katanya karena melihat aksiku. Dia lalu mulai mengguyur tubuhnya sendiri. Aku hanya berdiri saja melihat dia yang basah-basahan di depanku. Penisku menegang sejadi-jadinya melihat tubuh telanjangnya yang basah itu di depanku. Rasanya ingin sekali menggenjot tubuhnya saat ini juga, tapi aku masih berusaha untuk terus menahan diri dan tidak berbuat macam-macam. Dia yang sepertinya sadar aku sedang horni berat padanya malah tersenyum-senyum kecil padaku, lalu mengedipkan matanya dengan nakal.

Aaahhh, aku tidak tahaaaaan!! ku terkam dirinya dan kupeluk tubuhnya yang basah itu, membuat gayung yang dipegangnya jadi terjatuh ke lantai.

“Adeeeekkk!!” jeritnya terkejut karena aku yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Stop.. apa-apaan sih kamu… geliii deekk” Apa? malah geli? Aku jadi tambah bernafsu memeluknya lebih erat.

“Itu kamu gesek-gesek dibawah!! Ngeganjal banget dek.. Adeeekkk!!” Dia ambil air di dalam bak mandi dengan tangannya dan mencipratkannya ke wajahku berkali-kali seperti dukun yang mengobati pasiennya, aku jadi gelagapan karenanya. Melihatku yang megap-megap dianya malah tertawa-tawa, padahal dia masih dalam pelukanku.

“M-maaf kak.. khilaf” kataku akhirnya tenang tapi masih tetap memeluknya.
“Kamu ini… udah kakak bilang kontrol diri..” katanya akhirnya melunak dan tidak lagi berusaha melepaskan pelukanku.

“Ya udah.. cepetan..”
“Cepetan apa kak?”

“Kamu udah gak tahan kan sebenarnya sampai meluk-meluk kakak? Jadi… kakak bolehin deh..”
“Glek, B-boleh apa nih kak?” tanyaku, aku penasaran apa dia bakal ngebolehin aku nyetubuhi dia.
“Mikir apa kamu? Bolehin meluk kakak sampai kamu muncrat!! Itu doang..”

“Ohh.. gitu ya… hehe”
Yah.. ternyata tidak, gak apa-apa deh, daripada tidak sama sekali, soalnya aku sudah gak tahan amat. Aku rebahkan kepalaku di bahunya sambil tetap memeluknya dari belakang. Mencoba meresapi rasa nyaman dan indah penuh kemesuman ini. Penisku yang sedari tadi betul-betul sudah tegang ku gesek-gesekkan dengan sengaja di belahan pantatnya. Dia sepertinya menyadari aksi cabulku, tapi tetap dibolehin juga dan tidak mempermasalahkannya .

“Dek.. jangan sampai nyelip masuk lho… gak lucu kan kalo kakak sampai gak perawan lagi gara-gara adek sendiri”
“Iya kak..” aku lega dia tidak keberatan dengan aksi gesek-menggesekku, aku kini makin mempercepat tempo goyangan pinggulku.

“Kak?”
“Hmm? Apa?”
“Nggmm… boleh pegang.. ngmmm… susu kakak?” tanyaku takut-takut.

“Susu kakak? Dasar.. Makin ngelunjak aja kamu. Ya udah.. tapi pelan-pelan aja kalau mau ngeremas, jangan kencang-kencang”

“I-iya… Makasih kakak sayang..” kataku kesenangan hingga dadaku berdebar, dia hanya tersenyum saja. Ku yakin dia mengetahui debaran jantungku yang makin kencang saja. Walau sudah dibolehkan, ternyata tanganku gemetaran juga untuk menggapai buah dadanya, itu karena kali ini aku akan meremasnya langsung tanpa tertutup kaos seperti waktu itu. Apalagi kini kami sedang berbugil ria di dalam kamar mandi yang sempit, basah-basahan lagi.

“Hihi.. gugup yah dek? Nih…” dia mengambil tangan kananku dan meletakkannya ke buah dadanya!! Gila, begitu lembut, kenyal dan pas di tangan. Aku goyangkan lagi pinggulku, kali ini sambil tangan kananku meremas buah dadanya sedangkan tangan kiriku tetap memeluk pinggangnya yang ramping. Kalau dilihat di cermin kami terlihat seperti sedang bersetubuh. Kakakku juga ikut-ikutan melihat ke cermin dan tersenyum manis padaku melalui cermin, mana tahan!

“Dek.. ntar kamu mau keluarin dimana? Di muka kakak lagi?” tanyanya memandangku melalui cermin.
“Hmm.. enaknya dimana yah kak? hehe”

“Terserah kamu dong.. kamu punya khayalan muncrat di mulut kakak gak dek? pengen coba?”
Ctar!! Boom! Bastis! Rasanya aku mau meledak saja mendengar penawarannya itu. Siapa juga yang tidak tahan mendengar penawaran seperti itu dari seorang gadis cantik sepertinya, dan siapa juga yang bakal nolak. Soalnya waktu onani aku memang sering ngayal muncrat di mulutnya, aku tidak menyangka akan jadi kenyataan. Tapi tunggu dulu, jangan-jangan dia cuma menggoda lagi.

“Serius ini kak?” tanyaku menatap curiga padanya.

“Hahaha… tenang aja dek, kakak gak becanda kok… Hmmm… tapi gak kakak telan yah? dan cuma sekali ini aja”

“I-iya kak, gak papa” Gila! aku kesenangan bukan main, ini akan menjadi salah satu hari yang tidak akan pernah aku lupakan.

Aku teruskan aksiku, menggesek-gesekkan penisku yang tegang ke belahan pantatnya. Kini aku juga mulai menyelipkannya di antara pangkal pahanya yang membuat batang penisku jadi bergesekan dengan permukaan vaginanya. Dia berkali-kali kaget dan melirikku melalui cermin karena beberapa kali penisku hampir masuk menyelip ke vaginanya,. Namun karena tidak benar-benar masuk, dia tidak mempermasalahkannya lagi dan membiarkan saja aku tetap menikmati permainanku ini padanya. Tanganku juga makin lama makin kencang saja meremas buah dadanya hingga dia mulai merintih-rintih, tapi ku lihat dia tidak berusaha menolak dan tetap memperbolehkan aksiku itu padanya. Mungkin dia juga merasa keenakan. Suara rintihannya terdengar sangat indah dan merdu di telingaku, membuat aku semakin tidak tahan.

“Kak.. mau kluar...”
“Hmm? Ya udah, lepasin dong pelukannya.. katanya mau keluarin di mulut kakak ..”

“I-iya kak..” aku lepaskan pelukanku dari tubuhnya. Kini dia bersimpuh di bawahku dan membuka mulutnya lebar-lebar. Ku arahkan penisku ke depan mulutnya yang menganga. Sungguh pemandangan yang membuat darahku berdesir, kakakku yang cantik sedang telanjang bersimpuh di bawahku dan siap sedia memperbolehkan aku untuk ejakulasi di mulutnya. Ku percepat kocokan penisku dengan tanganku sendiri, kepala penisku sudah berada dibibirnya dan siap memenuhi rongga mulut kakakku dengan pejuku.

“Kak… keluaaaarrrr.. arrggghhhh” lenguhku kenikmatan.
“Croooot… crooott”

Spermaku meluncur dengan derasnya ke dalam mulutnya, bertubi-tubi menghantam langit-langit mulutnya. Saat menerima tembakan laharku matanya selalu menatap mataku sambil berusaha tersenyum, membuat aku makin kelojotan dan rasanya tidak ingin berhenti memenuhi rongga mulutnya dengan pejuku.

“Argghhh.. kaaaakkk… enak” erangku kenikmatan hingga tubuhku bergelinjang.

Akhirnya semprotan itu berhenti. Ku lihat sungguh banyak cairan itu memenuhi rongga mulutnya. Spermaku juga sampai berlumuran disekitar area kumis dan dagunya. Puas menunjukkan spermaku yang ada di mulutnya, akhirnya dia tumpahkan sperma itu ke lantai tidak lama kemudian.

“Huekkk.. bau dek peju kamu, trus banyak lagi.. Hiii.. untung gak ketelen” katanya dengan wajah menunjukkan kejijikan, aku tertawa cengengesan saja melihat tingkahnya itu.

“Hehehe.. sorry kak”
“Ya udah.. puas kan? udah plong kan?”

“Iya.. hehe”
“Ya udah sana, jangan macam-macam lagi. Kamu udah selesaikan mandinya? Kakak masih belum ini..”

“Gak apa nih kak ditinggal sendiri?”
“Iya.. bagus malah, ntar kamu macem-macem lagi… udah sanaaaa” katanya mendorongku. Akupun membuka pintu hendak keluar.
“Bentar dek.. nanti tolong bawain kakak handuk yah habis kamu pake baju, jatuh tadi waktu ngejar kamu. Trus tolongin sekalian bawain nih baju kotor kakak” katanya memberikan pakaian kotornya padaku.
“Iya iya..”
“Dugh” pintupun tertutup.

Aku langsung menuju kamarku untuk berpakaian. Sungguh luar biasa apa yang aku alami barusan. Bisa menembakkan isi pelerku ke dalam mulut kakakku yang cantik tapi nakal itu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebelumnya cuma di muka, sekarang di mulutnya, selanjutnya? Entahlah.

“Tok tok tok” selang beberapa lama terdengar suara ketukan dari pintu depan. Ternyata teman-temanku sudah datang, cepat amat. Segera ku keluar setelah berpakaian dan membukakan pintu, tampaklah wajah-wajah buruk rupa milik temanku ini, si Ucup, Toni, Yanto dan Bono. Kamipun asik mengobrol di ruang depan. Sedang asik-asiknya ngobrol tiba-tiba si Bono berteriak sambil menunjuk sesuatu di belakangku.

“Woi bro.. lihat tuh” sorak Bono, akupun menolehkan kepala ke belakang. Kakakku Ochi sedang lari bugil di dalam rumah!! Duh, kelupaan! aku baru ingat kalau kakakku sedang menungguku membawakan handuk dari tadi. Pasti dia bosan menunggu hingga akhirnya nekat lari ke kamarnya bertelanjang bulat seperti itu. Entah dia tahu saat ini lagi teman-temanku atau tidak. Beruntunglah teman-temanku yang buruk rupa ini dapat melihat tubuh telanjang kakakku yang cantik. Aku jadi merasa bersalah pada kakakku. Dia pasti marah nih.

Tapi ku lihat kakakku malah melihat ke arah kami dan tersenyum!! dan karena tidak melihat kedepan, dia malah tersandung kaki meja dan tersungkur jatuh (kapok... binal sih).

Sontak aku langsung bangkit dan menghampirinya, bahkan teman-temanku ini juga ikut-ikutan menghampiri. Jadilah kini tubuh telanjang kakakku dikelilingi oleh kami berlima. Buah dada, putingnya, vagina semuanya terlihat jelas oleh kami. Rasanya gimanaaaa gitu melihat kakakku yang cantik bening dan lagi telanjang bulat sedang dikelilingi oleh teman-temanku yang buruk rupa dan dekil ini. Suasananya seperti kakakku akan digangbang oleh kami beramai-ramai.

“Gak apa kak? Kakak sih liatnya kemana aja…” kataku sambil menarik tangannya untuk bangkit, masih lembab dan terasa sangat licin tangannya.

“Duuuuh… kamu yang kemana aja dari tadi ditungguin, mana handuk kakak?” kata kak Ochi membungkuk sambil mengelus-ngelus pergelangan kakinya yang tersandung tadi. Temanku yang berada di belakang Kak Ochi tentu saja dapat melihat belahan vagina dan lubang pantat kakakku itu.

“Hehe.. lupa kak.. maaf deh...” jawabku.
“Huh!!” sungutnya dengan wajah kesal, imutnya.

“Gak apa kak?” tanya mereka sok perhatian layaknya anak baik-baik, padahal ku yakin saat itu pikiran mesum mereka sedang melambung tinggi karena melihat sosok telanjang kakakku di tengah-tengah mereka.

“Iya gak apa.. makasih yah…” jawab kak Ochi cuek tidak peduli kalau tubuh telanjangnya sedang dipelototi mata-mata nakal mereka.
“Ada yang sakit kak? Biar saya pijitin deh..” tawar Bono sok bisa mijit.
“Udah, gak apa-apa kok.. kakak ke kamar dulu” kata kak Ochi. Kakakkupun kembali ke kamarnya berlari kecil sambil menutupi tubuh telanjangnya seadanya dengan tangan.
“Awas kak, ntar jatoh lagi lho.. hehe” ujar Ucup, kakakku hanya tersenyum saja menoleh ke arah kami.

Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamarnya. Pakaiannya? Dia pakai baju gamis dengan celana panjang serta memakai jilbab. Kali ini berlawanan dengan yang tadi, yang mana tadi telanjang bulat memperlihatkan seluruh tubuh termasuk vaginanya kini malah begitu tertutup. Betul-betul kontras. Sepertinya dia juga mau keluar malam mingguan main bareng teman-temannya. Tapi tunggu, puting susunya nyetak di bajunya!! Dia tidak makai bh!! Apa-apaan sih kakakku ini.

“Dek, itu teman-temanmu belum dikasih minum dari tadi? Gimana sih kamu” ujar Kak Ochi melihat tidak ada apa-apa di atas meja.

“Eh, iya yah… sorry bro, tolong buatin minum dong kak…” suruhku.
“Iya-iya… Kalian mau minum apa?” tanya kakakku ramah menawarkan minum.

“Susu murni ada gak kak? hehe” kata Ucup sambil lancang melihat ke buah dada kakakku, sepertinya dia sadar kalau kakakku tidak memakai apa-apa lagi dibalik pakaian itu. Kakakku sepertinya juga tahu kalau mata si Ucup memandang ke dadanya, tapi dia cuek aja, nakal amat kakakku ini.

“Gak ada tuh.. yang lain aja yah?”
“Kasih minyak goreng panas aja mereka kak..” kataku kesal, kakakku tertawa renyah mendengarnya.

“Ya udah, bentar deh.. sirup dingin aja yah” ujar kakakku beranjak menuju dapur.
“Mau dibantuin gak kak?” tawar Bono.

“Hihi.. Kalian emang anak yang baik-baik yah.. jadi senang kakak sama kalian, tapi gak usah deh.. biar kakak aja” jawab Kak Ochi ramah.
Apanya yang anak baik, kakakku gak tahu aja apa yang ada dipikiran mereka. Tapi sepertinya kak Ochi emang tahu deh apa yang sebenarnya dipikirkan teman-temanku ini pada dirinya. Diapun ke dapur sedangkan kami melanjutkan ngobrol.

“Nih dek minumnya” dia kembali beberapa saat kemudian membawa nampan dengan gelas-gelas berisi minuman.
“Makasih kak..” jawab mereka hampir serentak.

“Kak.. Bono ngefans banget loh sama kakak” kata Bono tiba-tiba. Kampret nih si Bonbon, apa sih maksudnya.
“Yanto juga”
“Aku juga kak” kata mereka saling berebutan tidak mau kalah menyampaikan isi hatinya. Gaya mereka seperti menembak kakakku aja. Tidak heran sih kalau kakakku menjadi idaman para pria. Udah baik, cantik lagi. Apalagi bagi teman-temanku yang sudah sering melihat tubuh kakakku dengan pakaian minim, bahkan tadi sempat melihat tubuh telanjangnya.

“Hah? Iya yah? Makasih banget kalau gitu.. gak nyangka kakak.. hihihi”
“Iya kak… kakak cantik sih… mau pake jilbab atau nggak sama-sama cantik, apalagi…. kalau telanjang kaya tadi… hehe” ujar si Ucup kurang ajar.
“Huuu… dasar, makasih deh, anggap aja tadi itu hadiah untuk fans-fansnya kakak.. hihi”

“Hehe… pengen deh sering-sering ke sini biar dapat hadiah terus… sayang rumahku jauh” ujar Toni yang paling jarang main ke rumahku.

“Iya, main aja dek sering-sering ke sini gak apa kok… siapa tahu kalau kalian hoki bakal dapat hadiah” kata kak Ochi meladeni obrolan nakal mereka dengan ramah. Apa-apaan sih kakakku ini.

“Ya udah.. kakak ke dalam dulu… santai aja yah kalian, anggap aja rumah sendiri” kata Kak Ochi menuju ke kamarnya.
“Sip kak..”

Kamipun lanjut ngobrol sambil menghabiskan waktu menunggu malam.
“Bro.. gue misi ke wc yah…” kata Ucup.
“Iya, lo udah sering juga ke sini, pake misi-misi segala. Tapi awas jangan salah belok lo” kataku padanya, dianya hanya cengengesan saja.

Asik ngobrol aku baru sadar kalau si Ucup belum kembali dari tadi, aku jadi berpikir yang macam-macam lagi. Beberapa saat kemudian barulah si Ucup kembali.

Saat kak Ochi terlihat lagi, kali ini dia sudah mengenakan baju yang berbeda, emang kemana bajunya tadi? Pikirku. Hal itu terjawab saat aku hendak ke kamar mandi pengen pipis, ternyata bajunya yang tadi ada di tumpukan pakaian kotor. Tapi tunggu… ada banyak noda putih berlumuran di kaosnya itu!! Dan aku yakin kalau itu sperma karena dari baunya yang menyengat!! tapi milik siapa? Ucup!! Ya.. pasti dia. Pantas saja dia lama tadi. Kepalaku jadi pusing membayangkan apa yang tadi terjadi antara mereka berdua.

“Cepat amat bro ke WC nya? Gue tadi malah lama amat… puas banget tadi keluar semuanya.. hehe” kata Ucup cengengesan padaku saat aku kembali ke depan. Kampret nih anak, dia pikir aku tidak tahu apa maksud perkataannya itu. Tapi aku penasaran juga kenapa kakakku mau saja membiarkan si Ucup melecehkannya seperti itu, sampai ngebolehin si Ucup numpahin spermanya ke baju kaosnya segala. Lagian setahuku baju kakakku itu baru dibeli minggu kemarin dan baru sekali tadi dipake, sekarang malah terkena cipratan pejunya si Ucup. Kakakku benar-benar nakal. Memikirkan itu entah kenapa penisku jadi tegang.

Tapi ya sudahlah, siapa juga yang bakal nahan melihat penampilan kakakku seperti itu, apalagi baru saja melihat kakakku yang telanjang. Masih untung dia cuma nyemprot di baju kakakku, coba kalau di vaginanya. Masa aku harus punya ipar kaya si Ucup, gak sudi banget. Okelah kali ini aku maafkan si Ucup, lebih dari ini akan ku hajar beneran dia.

Besoknya aku menanyakan pada kakakku tentang apa yang sebenarnya terjadi kemarin antara dia dan Ucup. Dari pengakuan kakakku sih karena si Ucup maksa karena tidak tahan melihat dia, hingga akhirnya dibolehkan juga oleh kakakku.

“Iya kok dek, cuma ngebolehin dia onani di depan kakak aja kok. Tapi ya itu, dia sembarangan ngecrotnya sampai kena baju kakak”
“Oohh…gitu?”
“Iya, gak lebih kok, sumpah. Masih cuma kamu kok yang pernah ngecrot di muka sama mulut kakak, hihihi…”
“Nnggg.. Ya udah deh kak… Tapi jangan bolehin lagi dia kak, ntar dia ngelunjak ”

“Ya udah kalau itu mau kamu, kakak janji” setujunya sambil membentuk tanda ‘ok’ dengan tangannya.
“Eh, ngomong-ngomong tiga hari lagi kamu ulangtahun kan dek? Yang ke berapa tahun yah? Lupa kakak…” sambung kak Ochi.

“Tujuh belas kak”
“Iya kah? Pantas makin porno aja kamunya… Udah gede ternyata adek kakak ini... hihi” katanya sambil mengusap-ngusap rambutku.
“Gak terlalu porno kok kak… hehe..”
“Dasar, kakak bukan muji. Mau hadiah apa dek dari kakak?”

“Ngggg.. kan aku udah gede nih kak…”
“Iya, terus?” tanyanya sambil menatapku dekat-dekat.
“Boleh minta hadiah khusus orang dewasa gak?”
“Hmm... Apa? film bokep?”
“Nggak…!!” Untuk apa aku film bokep kalau sudah punya kakak seperti dia.

“Trus? Jangan bilang kalau kamu minta gitu-gituan sama kakak!”
“Hehehe.. tau aja.. Gak boleh ya kak? Pengen padahal, hehehe…”

“Gila kamu! Kita tuh saudara kandung! Dasar mesum…” katanya menepuk jidatku.
“Hmm… Gini aja deh, seharian besok ini, kakak bakal ngebolehin kamu wujudkan semua fantasi nakalmu tentang kakak... mau?” tanyanya dengan memasang wajah menggoda.

“Eh, b-beneran kak?”
“Iya… se-mu-a-nya, suka-suka kamu deh pokoknya kakak mau diapain. Tapi dengan catatan, gak boleh sampai gitu-gituan, oce?” katanya dengan senyum nakal lalu mengedipkan mata kirinya.

“O-oke kak”
S-se-semuanya? Yuhuuuu.... Senangnya bukan main. Aku harus memikirkan semua hal cabul sebanyak mungkin dari sekarang, mumpung ada kesempatan untuk melampiaskannya. Tapi, apa mampu aku untuk tidak mengeksekusinya kalau nanti aku betul-betul tidak tahan? Ah, lihat saja nanti apa yang akan terjadi. Yang jelas aku betul-betul tidak sabar menunggu hari itu tiba \:v/

***


Ochi Kakakku yang Seksi Part III




“Adeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!!!”
“Kena nih baju kakaaaak!!” teriak kak Ochi memekakkan telinga.

“M-maaf kak”
“Dasar kamu ih, ngecrotnya sembarangan ajah… lihat nih jadi belepotan kemana-mana gini!!” katanya mengusap kemejanya yang terkena ceceran spermaku, bahkan sampai berceceran ke pahanya yang putih mulus.

“Ish, jorooookkk….,” Rengeknya manja. Dia lepaskan kaos kakinya dan menggunakannya untuk membersihkan pahanya dengan ekspresi jijik, lalu melemparkan kaos kaki itu ke arah ku.

“Ini juga kotor, malas ah kakak pake terus,” katanya dengan santai membuka sisa kancing lalu melepaskan kemeja itu dari tubuhnya. Dia juga melemparkan kemejanya itu padaku.



Aku tidak percaya apa yang aku lihat, Kak Ochi Bugil! Akhirnya aku dapat melihatnya bugil lagi. Mataku tidak bisa lepas dari tubuhnya. Tubuh nakal kak Ochi kini tidak tertutup apa-apa lagi, begitu putih, mulus dan terawat. Posenya juga menggiurkan dengan paha dirapatkan dan tangan menyilang di dada seperti berusaha menutupi buah dadanya yang ranum, tapi tetap saja aku masih bisa melihat puting merah mudanya yang mancung tegak itu. Pikiranku langsung melayang kemana-mana.

“Adek! Malah bengong kamunya… Cuci tuh semua!! Kamu kira apa emang?! Malah ngelamun lliatin kakak… Rese!” katanya dengan wajah dicemberutkan, membuatku tersadar dari lamunan cabulku.

“Eh, i-iya kak,” kataku terbata memungut kemeja dan kaos kakinya itu. Lagian melihat ulah dan keadaan dirinya saat ini siapa juga yang tidak bakal horni dan mikir jorok.

“Ayooo…. Ngelamun apa kamu barusan? Ngayal gitu-gituan sama kakak? Iya? Iya kan? jujuuuurrrrr….,” katanya menatapku penuh selidik, membuat aku jadi grogi.

“Iya kak, upss..,” duh, aku keblablasan ngomong terlalu jujur.

“Rese kamu dek, udah sana bobo! Gitu-gituan sama kakaknya dalam mimpi kamu aja sana, hihi… Malam ini sampai di sini aja. Gak apa kan? udah dua kali ngecrot juga kamunya”

“Ngmmm… tapi kapan-kapan boleh lagi kan kak kaya tadi? Hehe” tanyaku harap-harap cabul.

“Huuu… Seenaknya aja kamu ngomong, dasar!” jawabnya. Meski tidak mengiyakan tapi dia juga tidak menolak, aku anggap saja dibolehkan.

“Jangan lupa tuh dicuci sampai harum lagi. Pokoknya yang bersih! Udah ah, kakak mau bobo,” Ujarnya sambil berlari kecil ke kamarnya, masih dalam keadaan telanjang bulat tentunya.

“Nngg… Kak….” Panggilku.
“Hmm? Apa lagi dek?” sahutnya menoleh ke arahku.
“Tidur bareng?” tawarku. Dia tersenyum manis, lalu menyuruhku mendekat ke arahnya dengan isyarat telunjuk. Dengan cengar-cengir kesenangan akupun segera mendekat ke arahnya.

“Jtak!!”
“Aduh… aw..sshh” Keningku dijitak olehnya, sakit T.T
“Rasain! Sakit dek? Hmm? Mau lagi? Udah kakak bilang udahan… sana-sana hush hush…”
“Iya iyaaaaah”

Yah… aku tidur sendiri malam ini. Ya sudahlah, lagian tadi aku sudah dua kali ngecrot, bisa mati lemas aku nanti. Ku periksa kemeja yang tadi dipakainya. Ternyata memang banyak ceceran spermaku di sana, dan ternyata baunya memang menyengat. Terpaksa aku nyuci dulu malam-malam, daripada besok aku kena sembur olehnya.

….

Beberapa hari berlalu, kakakku tidak pernah lagi menggodaku secara sadis seperti waktu itu. Pernah aku mencoba memintanya lagi pada kak Ochi, tapi ditolaknya. Ya.. aku tidak mau juga sampai terlalu memaksanya, termasuk mengulangi perbuatan kurang ajar menyemprot wajahnya diam-diam seperti waktu itu. Aku takut nanti hubungaan kami malah rusak. Hmm.. ambil aja positifnya, kalau keseringan onani gara-gara dia bisa-bisa makin menonjol tulang lututku ini, hehe… Meskipun begitu, dia masih seperti biasa hanya mengenakan pakaian seadanya kalau di dalam rumah, termasuk bila ada teman-temanku.

Bila aku betul-betul tidak tahan melihat penampilannya, terpaksa aku hanya onani sendiri di kamar atau di kamar mandi T.T Sampai saat ini juga masih kak Ochi yang menjadi prioritas objek onaniku, soalnya masih belum ada yang lebih hot dari dia sih, hehe..

Seperti saat sekarang ini, aku sedang onani tiduran di kamarku sambil memandang fotonya di hapeku. Foto-foto dirinya yang sudah aku edit abis sedemikian rupa pake photoshop. Ada yang seperti dia lagi megang penis, ada yang seperti sedang disetubuhi ramai-ramai dan lain-lainnya.

“Adeeekk…” katanya nyelonong masuk ke kemarku tanpa mengetuk pintu. Aku terkejut bukan main sekaligus panik dipergoki olehnya sedang onani.
“Ups… lagi asik yah? Sorry sorry… kakak cuma mau minta satu sms, pulsa kakak habis nih…” dia lalu mendekat dan dengan santainya mengambil ponsel dari tanganku.

“Hah! Apaan nih dek?!” Mati deh, aku belum sempat nge-close foto-foto itu.
“Kamu ngebayangin kakak kaya gini?” tanyanya lagi sambil terus memperhatikan foto-foto editanku itu. Aku tidak dapat mengelak, aku bersiap-siap saja bakal kena sembur olehnya.

“Rapi banget editnya dek… kaya asli” Heh? Dia malah memuji ternyata.
“Hiiiii gak kebayang deh kalo betulan kaya gitu, masa kakak gituan sama orang negro sih? Digituinnya rame-rame lagi, hahaha… Dasar kamu… fantasinya ada-ada aja. Ya udah, minta satu sms bentar”

Dia tidak marah! Malah dia ketawa melihat editanku!
Aku hanya terdiam di atas tempat tidurku tanpa tahu harus berbuat apa, tanganku menutup penisku yang sedang tegang-tegangnya itu. Sedangkan dia cuek saja berdiri di sebelahku sambil ngetik sms dan… makan pisang? Pikiranku langsung ngeres. Seharusnya tidak ada yang aneh melihatnya lagi makan pisang, tapi aku yang saat ini lagi horni-horninya malah menghayal yang tidak-tidak. Apalagi pakaiannya tetap minim seperti biasa, hanya mengenakan tanktop abu-abu longgar dan celana pendek ketat. Tanpa sadar aku mulai mengocok penisku lagi sambil membayangkan kalau pisang itu adalah penisku.

“Nih dek… makasih” katanya meletakkan hapeku ke dadaku setelah selesai mengirim sms.

“Asik benar kayanya kamu dek… Napa dek? Ada yang salah kalau kakak makan pisang? Kamu mau juga?”
“M-mau kak” kataku kesenangan.
“Nihhhh” katanya sambil menyodorkan pisang itu ke mulutku. Yah.. aku kira dia bakal memakan ‘pisang punyaku’, ternyata malah menyodorkan pisang di tangannya itu, aku gigit dan makan juga sedikit.
“Enak?” tanyanya, aku hanya senyum kecil saja. Dia lanjutkan memakan pisang itu lagi, bahkan sekarang sengaja memancing birahiku lebih lanjut dengan menjilati dan mengemutnya.

“Hihi.. Napa dek? senang banget kayanya kamu lihat kakak makan pisang, mikirin apaan sih?” godanya. Aku hanya cengengesan saja. Aku rasa dia sendiri pasti tahu apa yang aku pikirkan.

“Dasar mesum, adekku ini makin gede makin porno aja… hihi” katanya sambil mencubit hidungku.
“Ya udah, lanjutin deh ngocoknya…” katanya beranjak keluar dari kamarku. Yah... kok udahan? protesku dalam hati. Tapi dia seperti tahu saja kalau aku lagi nanggung, saat hendak menutup pintu dia menoleh lagi padaku.

“Dek… kalau kamu perlu bantuan kakak, kakak ada di teras belakang yah…” bisiknya sambil mengedipkan mata kirinya lalu menutup pintu kamarku, membuat darahku berdesir karenanya. Apa itu isyarat kalau aku boleh pejuin dia lagi? Yuhuuuuuu…. Jantungku jadi berdebar-debar kesenangan.

Aku keluar kamar tidak lama setelah itu, aku nekat saja keluar kamar tanpa memakai dulu celanaku. Ku lihat di halaman belakang dia lagi asik olahraga lompat tali. Kakakku ini memang rajin olahraga, pantas saja badannya tetap indah dan kencang. Beruntungnya aku punya kakak seperti dia, hehe… (Agan2 jgn ngiri yah..)

Kak Ochi tersenyum saja melihatku yang tidak pakai celana menuju ke arahnya. Tapi dia teruskan lagi olahraganya tanpa menghiraukanku. Seolah sengaja memuaskan mataku dengan menunjukkan tubuh indahnya yang sudah mulai berkeringat. Aku duduk di kursi kayu yang ada di dekatnya. Dari sini saja aku dapat mencium aroma tubuhnya yang khas, apalagi sekarang dia penuh keringat seperti ini, membuatku semakin horni karenanya.

Aku mulai mengocok penisku sendiri di dekatnya. Tampak beberapa bagian tanktopnya sudah basah, dia betul-betul bermandikan keringat. Kulitnya jadi terlihat mengkilap menambah keseksiannya yang hanya dibalut pakaian minim seperti itu. Apalagi saat melompat buah dadanya berayun-rayun bebas karena dia tidak memakai bh. Duh, nafsuin banget, kakakku betul-betul menggoda basah-basahan karena keringat gini. Kalau bukan kakakku sudah aku perkosa dia dari tadi.

“Haaaaahh… capek kakak dek, kamu juga capek ya dek? Hihihi,” katanya yang melihat aku juga ikut-ikutan olahraga, olahraga tangan tepatnya. Kak Ochi duduk di lantai sambil mengibas-ngibaskan tanktopnya itu. Sesekali dia menyeka keringat di keningnya dengan tangan. Bahkan dia malah sengaja mempercikkan keringatnya itu ke arahku lalu ketawa-ketawa kecil. Bikin aku semakin gemas dan birahi saja.

“Udah selesai aja kak?” tanyaku.

“Kenapa dek? Masih belum puas lihat kakak keringat-keringatan? Bentar yah… istirahat dulu, capek…”
“Tolong ambilin minum dong dek.. panas niiiih,” pintanya manja sambil masih sibuk menyeka keringatnya.

“Iya nih kak, panas, hehe.. kalau panas dibuka aja kak bajunya,” selorohku.

“Weeek… maunya kamu banget itu! Cepat sana ambiliiiin!! ntar gak kakak terusin lagi lho,” perintahnya.

“Iya kak iya, bentar” Aku lalu pergi ke dapur untuk mengambilkannya minum.
“Dek, sekalian tolong ambilin kakak handuk dong untuk lap keringat” pintanya lagi berteriak. Ku turuti saja permintaannya itu, ku pergi mengambil handuk di kamarnya.

“Nih kak…” kataku menyerahkan botol pocari swe*t dan selembar handuk kecil padanya.

“Makasih deeekkk” ujarnya ketika menerimanya.
Dia sepertinya sangat kehausan, minuman itu sampai berleleran ke dagunya dan jatuh ke dadanya, membuat tanktop yang dipakainya semakin basah.
“Nih, handuknya buat kamu aja deh dek… kayaknya kamu lebih kepanasan dibanding kakak, hihihi…” katanya melempar handuk kecil itu padaku. Wah, sepertinya dia mengerti kalau aku tidak mau dia cepat-cepat mengeringkan keringatnya.

“Lanjut lagi?” tanyanya dengan tatapan menggoda padaku.
“B-boleh kak, hehe…”

Sambil tersenyum diapun bangkit dan mulai melompat lagi, memancing keringatnya untuk keluar lebih banyak dan makin membasahi tubuhnya. Aku juga memulai lagi aksi cabulku, mengocok penisku sendiri sambil menikmati pemandangan indah di depanku. Mukanya sudah memerah karena kepanasan, aku yang menyaksikannya juga jadi ikut-ikutan panas. Apalagi dia sesekali tetap melirik dan tersenyum kepadaku. Duh, penisku menegang sejadi-jadinya, rasanya penisku siap meledak kapan saja.

“Tok tok tok” kami dikejutkan suara ketukan pintu dari depan. Membuat kami sama-sama menghentikan aktifitas kami.

“Kak ada orang…” kataku pelan pada kak Ochi.
“Siapa yah dek? Kamu buka giiiih” suruhnya.
“Aku kan gak pake celana kak, kayaknya orang minta sumbangan deh kak… biarin aja,” kataku.

“Jangan pelit dek… udah, biar kakak aja yang bukain,” katanya.
“Hmm.. Sekalian wujudkan satu lagi khayalan nakalmu tentang kakak,” sambung kak Ochi berbisik sambil mengedipkan matanya dengan nakal, membuat darahku jadi berdesir. Dia lalu menuju pintu depan, namun Kak Ochi terlebih dahulu mengambil uang lima ribuan yang ada di atas kulkas.

Aku hanya mengintip saja dari sela-sela pintu belakang, rumah ini memang tidak telalu besar, dari tempat ku berdiri saat ini aku bahkan bisa dengan jelas melihat keadaan ruang depan. Duh, jantungku berdebar dengan kencangnya memikirkan kakakku akan membukaan pintu pada orang yang tidak di kenal dengan pakaian sembarangan seperti itu, apalagi keadaannya begitu berantakan dengan wajah memerah dan keringat bercucuran.

“Iya bentar…” sahut kakakku. Pintu depanpun terbuka.
“Sumbangan anak yatim non…” kata orang itu, seorang pria tua kulit gelap terbakar matahari dengan baju koko yang tampak lusuh, rambutnya juga sudah banyak tumbuh uban yang tidak bisa disembunyikan dari balik peci hitam tuanya. Ku lihat ekspresi pria itu yang tampak terkejut saat melihat penampilan kakakku. Meskipun sudah berumur, tapi dia tetaplah laki-laki yang pasti juga bakal konak melihat wanita berpenampilan seperti itu di depannya. Badanku jadi panas dingin melihat kakakku sedang dipelototi begitu, oleh pria tua tidak di kenal lagi. Kini bertambah satu orang lagi yang pernah melihat penampilan kakakku yang asal-asalan selain aku dan teman-temanku.

“Ini Pak.. maaf Pak cuma segini” kata kak Ochi menyerahkan uang lima ribu.
“Iya non, gak apa. Makasih banyak yah non… semoga rezeki non makin lancar dan non makin cantik”
“Amin…” sahut kakakku sambil tersenyum manis pada orang itu. Aku jadi konak luar biasa melihat pemandangan beauty and the beast ini. Kak Ochi, gadis muda yang cantik putih dengan pakaian terbuka sedang bersama pria tua hitam, dekil, jelek yang entah siapa.

“Gak masuk dulu Pak? Bapak pasti haus kan? minum dulu pak…” tawar kak Ochi. Apa-apaan sih kakakku ini, sembarangan aja ngajak orang tidak dikenal macam dia masuk ke dalam rumah.

“Eh, gak usah non… gak usah repot-repot” tolak Bapak itu halus.

“Udah pak… masuk aja. Istirahat aja dulu, gak ada siapa-siapa kok di rumah” tawar kakakku lagi. Ku lihat bapak itu seperti menelan ludah mendengar omongan kakakku, khususnya saat kak Ochi bilang tidak ada siapa-siapa di rumah. Kali ini kak Ochi menarik tangan pria tua itu ke dalam. Beruntunglah pria tua itu dapat merasakan halusnya tangan kakakku ini.

“I-iya deh non, permisi…” kata pria itu berusaha sopan. Mereka lalu masuk ke dalam.

“Silahkan duduk Pak…” kata kak Ochi mempersilahkan duduk.
“Mau minum apa Pak?” tanyanya lagi.

“Duh, gak usah repot-repot non”

“Gak repot kok pak. Panggil Ochi aja Pak gak usah pake non segala… kalau boleh tau nama bapak siapa?” tanya kak Ochi ramah tanpa merasa risih sedikitpun, padahal dia sedang dipelototi dari tadi.

“P-panggil aja Pak Ahmad,” jawab Bapak itu grogi.

“Oh… Pak Ahmad. Ya udah, Ochi buatin teh manis aja yah pak,” kata kakakku. Bapak itu hanya angguk-angguk saja.

Aku masih bersembunyi di sini, dengan dada berdebar menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kakakku lalu menuju dapur untuk membuatkan teh manis untuk mereka berdua. Ku lihat mata bapak itu memandangi bongkahan pantat bulat kakakku dari belakang, dia juga tampak membetulkan celananya. Nafsunya sudah terpancing, gawat nih.

Saat di dapur, Kak Ochi tersenyum ke arahku yang masih bersembunyi di sini. Dia menempelkan telunjuk ke ujung bibirnya sebagai tanda agar aku jangan berisik, lalu mengedipkan mata kirinya padaku dengan nakal. Duh, bikin gregetan banget, makin panas dingin badanku dibuatnya.

Kak Ochi kembali lagi ke depan sambil membawakan dua cangkir teh manis hangat. Ada-ada aja kakakku ini, padahal hari panas gini, tapi malah disuguhi teh hangat.

“Silahkan pak diminum tehnya…” kata kak Ochi sambil meletakan minuman di tas meja di depan bapak itu. Saat meletakkan teh itu badan kak Ochi sedikit merunduk, membuat isi dari balik tanktopnya bisa saja terlihat. Sepertinya bapak itu memang melihatnya karna dia terlihat menelan ludahnya lagi. Dia menyadari kakakku tidak pakai bh! Duh, tensi semakin tinggi dan memanas!

“I-iya, Makasih non…”
“Ochi pak, Ochi... Kan udah dibilang tadi, hihi..”
“Hehe, maaf non, eh Ochi. Ngomong-ngomong Ochi habis ngapain? Kok keringatan gini ?” tanya Bapak itu penasaran melihat kak Ochi bermandikan keringat.

“Habis olahraga Pak, kan biar tetap sehat dan cantik.. hihi” jawab Kak Ochi dengan wajah diimut-imutkan.
“Iya, non Ochi cantik benar” kakakku tertawa renyah mendengar pujian bapak ini.
“Hihi, makasih Pak. Paaakk… ayo diminum dong tehnya…” Masih bisa saja kakakku ini ramah tanpa risih sedikitpun, padahal dari tadi mata bapak itu sudah kelayapan kemana-mana. Bahkan kini tidak segan lagi memandangi paha putih mulus kakakku. Hatiku merasa tidak karuan. Takut juga aku kalau kakakku sampai diapa-apakan olehnya, tapi aku juga horni melihat tingkah binal kakakku ini.

Melihat Pak Ahmad tidak juga minum, Kak Ochi inisiatif duluan meminum teh manis yang masih tampak beruap itu. Jadilah tubuh kakakku makin berkeringat karenanya, sepertinya dia memang berniat menunjukkan tubuhnya yang keringatan dengan pakaian minim itu pada pak Ahmad. Tentu saja membuat Pak Ahmad makin grogi dan makin sering membetulkan celananya.

“Panas ya pak? Mau Ochi tiupin teh nya?” tawar kak Ochi, aneh-aneh aja.
“Eh, gak usah Chi..” Diapun akhirnya meminum teh hangat itu. Bapak itu jadi ikutan berkeringat karenanya. Sebenarnya tanpa minum teh itupun bapak itu juga sudah keringatan dari tadi, pemandangan didepannya kayak gitu sih.

Perasaanku makin tidak karuan saja melihat kakakku yang cantik bening lagi keringat-keringatan berdua dengan pria tua itu. Melihat pemandangan ganjil ini aku dari tadi hanya mengelus-ngelus anuku sendiri. Duh… Kak.. adekmu udah gak tahan nih, udahan dong… T.T

“Non Ochi, Bapak permisi ke kamar mandi yah…,” kata pak Ahmad.
“Silahkan Pak… tuh Pak di belakang, terus aja… udah gak tahan yah pak?” goda kakakku sambil tersenyum manis pada bapak itu. Aku jadi geleng-geleng kepala. Binal amat kakakku ini, diperkosa baru tahu rasa dia.

Bapak itupun masuk ke kamar mandi, sedangkan kakakku masih menunggu disana. Kak Ochi lagi-lagi menoleh ke arahku dan mengedipkan matanya lagi dengan nakal. Apa yang aku lihat kemudian membuat aku berhenti bernafas, kak Ochi menanggalkan tanktopnya!! Kini dia telanjang dada disana!! Gila! Sungguh nekat. Ini sih melebihi fantasiku.

Sungguh nakal kakakku ini. Apa jadinya kalau Pak Ahmad tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan menemukan Kak Ochi sedang telanjang dada. Aku yakin pasti langsung diperkosa tuh kakakku tanpa ampun.

Ternyata cukup lama juga bapak itu di kamar mandi, mungkin dia sedang menuntaskan birahinya. Bagus deh, dari pada kakakku yang jadi korban. Setelah sekian lama, gagang pintu kamar mandi tampak bergerak, dengan secepat kilat kak Ochi mengenakan kembali tanktopnya. Fiuuhh… nafasku betul-betul sesak, hampiiiiir saja. Aku kira Kak Ochi akan benar-benar telanjang dada di depan bapak itu.

“Non Ochi.. bapak pamit dulu yah.. ntar keburu malam,” kata Pak Ahmad ketika kembali ke depan.
“Ohh.. ya udah kalau gitu Pak,” kata Kak Ochi sambil berdiri lalu mengantar bapak itu ke depan. Aku tidak dapat melihat mereka berdua karena kak Ochi mengantar sampai keluar rumah, ada sekitar sepuluh detik aku tidak melihat dan mendengar apapun. Aku panik dan hatiku tidak karuan. Aku sampai berpikir yang tidak-tidak.

“Makasih banyak yah non,” kata Pak Ahmad terdengar kemudian.
“Iya pak, sama-sama” tampak Kak Ochi masuk kembali ke rumah. Pintupun tertutup. Akhirnya berakhir juga. Aku betul-betul lega karena tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, tapi itu tadi betul-betul nekat, pake acara telanjang dada lagi. Tapi yang bikin aku penasaran itu apa yang dilakukan mereka berdua selama sepuluh detik di luar. Ah sudahlah, sepertinya tidak ada yang aneh.

Akupun keluar dari tempat persembunyianku. Aku sudah tidak kuat lagi menahannya. Setan dalam pikiranku berteriak-teriak “Exe kak Ochi! Exe kak Ochi! Exe kak Ochi!” Segera ku hampiri Kak Ochi dan memeluknya.

“Adeeeeekkkk… apaan sih, kontrol diri! Adeeeeekkk!” teriaknya sambil mendorong-dorong tubuhku.

“S-sorry kak” Akhirnya ku lepaskan pelukanku. Untung aku masih bisa kontrol diri, kalau tidak sudah ku exe dia.

“Dasar kamu…. Gimana dek? Puas? Suka gak liat pertunjukan barusan?” godanya.
“I-iya kak…” jawabku sambil mengocok penisku dengan cepat di depannya. Dia tertawa kecil melihat tingkahku yang nafsunya sudah di ubun-ubun ini.

“Pengen ngecrot yah? Dah gak nahan yah dek?” godanya melirik nakal ke arahku.
“I-iya. Kak… boleh lagi yah kali ini?” pintaku memelas.

“Hmm? Boleh ngapaiiin? Ngepejuin muka kakak lagi?” tanyanya dengan masih memasang wajah yang dibuat semenggoda mungkin.
“Iya kak… Plisssss… mau yah? Mau yah?” desakku.

“Dasar” Diapun duduk bersimpuh di lantai, tepat di hadapanku. Yuhuuu… dia mau!

Wajah cantiknya yang masih berkeringat menengadah ke atas memandangku, tentu saja dengan senyuman super manis andalannya itu. Sungguh menggoda dan membuatku tidak tahan. Apalagi dari atas sini aku dapat melihat buah dadanya dari sela lubang leher tanktopnya. Ku kocok penisku di depan wajahnya itu. Tidak butuh waktu lama memang karena aku sudah menahannya mati-matian dari tadi.

“Croooottt…. Crooooot…. Crooooot” Pejuku muncrat-muncrat tidak karuan ke wajah kak Ochi yang masih keringatan.

“Kak Ochiiiiiiiiii……. Arggghhhhhh……” Aku melenguh kuat karena sensasi kenikmatan yang luar biasa, soalnya dari tadi sudah kutahan-tahan, akhirnya lega juga.

“Ngmmmhhhh…” Dia ikut-ikutan mengerang dengan mulut tertutup, mungkin terkejut dengan banyaknya spermaku yang tumpah di wajahnya. Aku yang mendengar lenguhannya itu makin membuatku horni, rasanya tidak ingin saja aku berhenti menyemprotkan spermaku ke wajahnya itu. Jadilah wajah kakakku makin berantakan karena pejuku. Sebuah sensasi yang luar biasa melihat keringatnya dan spermaku bercampur di wajahnya yang cantik.

“Iiihhh… banyak amat giniiii” rengeknya manja setelah ejakulasiku berhenti.
“Makasih yah kak… hehe…. Enak bener,” kataku puas.

“Tisuuuuu… cepetaaaaannn…. bau nihhhhh” teriaknya.

“Iya iyaaaahhh” Segera aku berlari mengambil tisu dan menyerahkannya pada kak Ochi.

“Ish… Please deh dek… peju kamu itu gak bau dan gak banyak bisa gak?” katanya dengan wajah dicemberutkan, lalu membersihkan wajahnya itu yang begitu belepotan pejuku.

“Hehe.. gak bisa kayanya kak, kakak sih cantik dan seksi gini…”

“Rese kamu.. gom-bal,” katanya sambil melempar tisu bekas itu ke arahku.
“Udah sana pakai celanamu! kakak mau mandi, gerah banget…,” katanya.

“Kan seksi kak keringat-keringatan gitu, bau badan kakak juga lebih menggoda, hehe…” godaku karena masih ingin melihatnya seperti itu.

“Lama-lama kan gak enak juga dek, lengket banget rasanya kulit kakak” katanya sambil mengusap-ngusap lehernya.

“Udah yah adekkuuu,” katanya lagi sambil mengelus pipiku.
“Lain kali lagi yaaaah…,” sambungnya sambil tersenyum manis. Luluh deh hatiku, akhirnya aku iyakan juga. Lagian aku juga sudah keluar banyak amat barusan sampai lututku lemas. Akupun terduduk puas di kursi terdekat, makin lama makin luar biasa saja yang dia berikan dan tunjukkan padaku. Entah apa lagi selanjutnya. Betul-betul beruntung aku punya kakak cewek sepertinya.

“Dek…” panggilnya lirih sebelum masuk ke kamar mandi.

“Ya kak?”

“Mau mandi bareng?”
JEDAR!! Apalagi ini!!? Sebuah penawaran yang tentunya membuat penisku kembali bangun dan bersorak gembira \:v/

“Adeeeeekkkk? Kok bengong sih? Mau nggaaaak?” tanyanya sekali lagi dengan nada merdu.

“Eh, b-beneran kak? M-ma-mau…” aku tergagap kesenangan. Siapa juga sih yang gak mau diajak mandi bareng cewek secantik kakakku.

“Ber-can-da kok”

...Sialan.





Ochi Kakakku yang Seksi Part II



Aku buru-buru pulang saat selesai jam sekolah. Aku sangat menantikan aksi selanjutnya bersama kakakku. Tapi ternyata aku tidak beruntung karena sepertinya Kak Ochi belum pulang dari kuliahnya. Selain itu aku juga sudah lapar banget karena belum makan siang. Katanya sih Kak Ochi bakal beliin ayam goreng untuk lauk makan siang kami, tapi udah sore gini dia belum pulang juga. Terpaksa aku hanya nonton tv sambil menahan perut yang keroncongan.

Dua jam kemudian barulah ia pulang, seperti biasa ia selalu mengenakan pakaian yang tertutup lengkap dengan jilbabnya bila keluar rumah.

“Duh dek, sorry yah sorry yah.. kelaman yah nungguinnya? Udah lapar yah? Sorry banget… tadi kakak ada perlu…” Ucapnya pertama kali saat masuk rumah. Sebenarnya aku kesal, tapi karena melihat wajah memelasnya itu hatiku jadi luluh.

“Iya iya..” jawabku sambil mengambil bungkusan ayam itu dari tangannya.
“Jangan makan duluuuu… kakak ganti baju dulu bentar, kita bareng makannya” katanya sambil bergegas ke kamarnya.

“Iyaaaa…” jawabku lemas. Sebenarnya aku pengen ngikutin dia ke kamarnya, siapa tahu dibolehin liat dia ganti baju hehe, tapi ternyata rasa laparku lebih kuat. Akupun ke dapur mengambil piring untuk kami berdua.


Selang beberapa lama kemudian dia keluar dari kamarnya. Kali ini dia malah mengenakan kaos biru yang pas-pasan di tubuhnya dan celana pendek hitam yang mirip celana dalam. Sungguh berbeda dengan apa yang aku lihat sebelum dia masuk kamar. Yang tadinya begitu serba tertutup, kali ini begitu terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.

“Mau yang paha atau yang dada dek?” tanyanya dengan memegang paha di tangan kanannya dan dada di tangan kirinya. Duh, coba aja yang ditawarkan itu paha dan dada miliknya, pasti ku pilih keduanya, hehe.

“Mau paha ayam atau dada ayam?” tanyanya lagi, yang sepertinya tahu apa yang sedang ku pikirkan.

“Eh, dada aja kak..” jawabku akhirnya.
“Nih…” katanya sambil meletakkan paha ayam ke piringku, loh kok.
“Kakak pengennya dada, lebih gede… hihi” seenaknya aja dia, trus ngapain pake nanya tadi -.- Aku hanya memandang kesal padanya, tapi dia cuek saja dan pergi ke ruang tengah untuk makan sambil nonton tv. Sabar…sabar… ntar ku balas kakakku ini. Kena semprot lagi baru tau rasa dia. (Agan-agan pembaca ada yang mau bantuin semprotin gak? Hehe…)

Aku juga mengikutinya makan sambil nonton tv, kakakku duduk bersimpuh di bawah sedangkan aku sengaja duduk di atas sofa yang ada di belakangnya. Setidaknya dengan posisiku disini aku bisa menuntaskan dua nafsu sekaligus, nafsu makan dan nafsu birahi dengan memandangi kakakku.

“Temanmu gak main kesini lagi dek?” tanyanya disela-sela makan.
“Nggak kak, kenapa emang?”
“Gak ada sih, bagus soalnya karena kakak gak digoda terus, apalagi temanmu kemarin itu si Ucup, pake minta foto kakak segala”

“Ngapain juga sih kakak kasih?”
“Biarin aja, cuma jepretin kakak beberapa kali doang” jawabnya santai. Kak Ochi gak tahu apa kalau bakal dijadikan objek coli si Ucup.
“Tapi dek..” katanya melanjutkan.

“Tapi apa kak?” tanyaku penasaran, dia tersenyum kemudian naik ke atas sofa di sebelahku.

“Kemarin itu dia juga ambil foto bugil kakak lho..” katanya berbisik.
Jleb!! Apa? Jadi kakakku difoto bugil sama si Ucup? berarti duluan si Ucup yang melihat tubuh bugil kakakku. Pantasan tadi waktu aku mau lihat foto kakakku yang dijepretnya kemarin dia gak mau, terus waktu pulang kemarin dia juga tampak kesenangan, begitu toh ternyata. Bakal ku hajar si Ucup itu besok. Namun aku penasaran juga bagaimana si Ucup merayu kakakku sampai kakakku mau difoto bugil oleh si Ucup. Tapi ah.. sudahlah, lagian aku sudah lihat juga walau sesaat. Tapi aku tetap tidak habis pikir kakakku mau saja difoto bugil olehnya. Mengetahui hal itu aku malah horni, membayangkan kakakku telanjang di depan orang lain yang tidak jelas seperti si Ucup itu.

“Gak apa kan dek? Cuma foto doang kok.. itupun dia maksa sih, lagian dia janji gak bakal nyebarin” walaupun maksa kok kamu mau mau aja sih kak, gerutuku dalam hati.

“Iya, terserah deh.. curang tuh si Ucup. Dasar otak ngeres dia” sungutku.

“Sama kaya kamu.. makanya cari cewek sanaaaa” katanya sambil mencubit pipiku dengan tangan kanannya, sehingga meninggalkan butiran nasi yang menempel di wajahku.

“Duh kak.. sakit tahu..” kataku lebay, dianya malah ketawa-ketawa saja. Tapi yang ku lihat selanjutnya membuat darahku berdesir. Dia mencolek nasi yang ada dipipiku itu lalu memakannya, bahkan dia mengemut-ngemut jarinya sendiri sambil tersenyum manis menatapku. Aku jadi terpana melongo. Tapi tunggu.. mana ayamku? Sial, ternyata sudah diembatnya.

“Kaaaaaaaaaak” teriakku histeris. Jadi ternyata dia sengaja bikin aku mupeng demi mengambil ayam milikku? Betul-betul bikin kesal. Dia betul-betul harus tanggung jawab, udah bikin aku mupeng, dianya juga ngambil ayamku.

“Hihihi, makanya jangan ngeres!!” katanya berlari ke dapur sambil ketawa-ketawa. Aku hanya meremas sisa nasi di piringku yang kini tidak ada lauknya lagi, terpaksa ku sudahi makanku T.T

“Udah sana mandi, udah sore..” katanya santai seperti tidak bersalah. Dia yang sepertinya tahu kalau aku masih kesal terus saja tertawa kecil, bikin aku tambah kesal saja. Diapun masuk ke kamarnya meninggalkanku. Awas yah kak.. betul-betul akan ku tembak lagi mukamu, batinku.

Aku beneran mandi setelah itu. Meski sedang horni-horninya tapi aku tidak onani karena memang sengaja menyimpannya nanti untuk balas dendam. Selesai mandi akupun ke kamar kakakku. Ku lihat dia sedang asik di depan laptopnya.

“Ngapain kamu dek? Nempel mulu dari tadi”
“Suka-suka dong..”jawabku cuek.
“Pengen coli lagi kamu? Mau nembak muka kakak lagi? Jangan ngarep ya..” Ampun deh, sering amat isi kepalaku ditebak sama dia.

“Kakak lagi sibuk, jangan ganggu deh..” sambungnya. Sibuk apanya? Yang ku lihat dia malah asik edit-edit foto. Tapi melihat dia yang lagi asik ngedit foto aku jadi kepikiran hal mesum, bagaimana kalau nanti aku juga mengedit fotonya, ku potong gambar kepalanya lalu ku tempel ke foto cewek telanjang yang lagi disetubuhi rame-rame. Duh, ngebayanginnya aja aku jadi horni.

“Iya… gak ganggu kok kak..” Kak Ochi hanya melirik ku sebentar lalu melanjutkan lagi kesibukannya itu. Akupun hanya tidur-tiduran saja di ranjangnya sambil main game di hpku, aku masih menunggu waktu yang tepat.

“Haaaah.. Cape juga..” katanya sambil melemaskan badannya mengangkat tangannnya ke atas.
“Eh, tumben kamu gak nganggu?” sambungnya melirik padaku, aku hanya cengengesan saja.
“Ya udah kakak mau mandi dulu, kamu mau disini aja? Tapi jangan macam-macam yah di kamar kakak..” Diapun keluar kamar untuk mandi. Cukup lama aku sendirian di kamarnya, dasar cewek.. mandinya lama amat. Setelah sekian lama barulah dia kembali, sekali lagi aku melihat tubuh indahnya yang basah itu hanya diselimuti handuk kecil.

“Lama amat kak?”
“Emang itu urusan kamu? Suka-suka kakak dong…” jawabnya ketus, bikin kesal aja tapi tetap aja nafsuin.

“Dek, kakak mau ganti baju nih..” katanya memandang ke arahku.
“Terus?” kataku cuek, dia pasti bakal nyuruh aku keluar nih, pikirku.

“Kamu mau milihin baju buat kakak gak dek? Pilihin deh suka-suka kamu.. anggap aja sebagai ganti rugi ayam tadi” Jebret!! Aku terkejut mendengarnya. Aku kira tadi bakal diusir, tapi malah disuruh milihin baju untuk dia.

“Eh, Y..yang bener kak?”

“Iya..” jawabnya sambil tersenyum manis. Yuhu… asik, aku dibolehin milihin baju buat dia \:v/ Waktunya berfantasi ria, mana mungkin bakal ku pilihkan baju yang biasa-biasa saja, akan ku gunakan kesempatan ini secabul mungkin. Langsung saja ku buka lemari bajunya, saking banyak isinya aku jadi bingung sendiri. Tapi biarlah, kapan lagi bisa mengobrak-abrik isi lemari kakakku ini.

“Cepetan dek..”
Dadaku jadi berdebar-debar, akhirnya aku bisa mewujudkan salah satu khayalanku. Segera ku obrak-abrik isi lemarinya tanpa peduli kalau dia akan marah.
“Dasar kamu.. Sampai berantakan gitu lemari kakak.. kontrol diri dek.. hihi”

Setelah cukup lama membuat berantakan isi lemarinya, akhirnya ku pilih sepotong kemeja putih lengan panjang yang tampak transparan dan sepasang kaos kaki putih sebetis, tentu saja tanpa celana dalam ataupun bh.

“Ini dek? Dalamannya?”
“Gak usah kak.. itu aja.. mau kan kak?”
“Dasar mesum.. iya deh, ngadap sana dulu kamunya… biar surprise ntar” pintanya. Akupun membalikkan badanku. Sebenarnya aku kepengen melihat dia yang dari telanjang hingga mengenakan itu semua. Tapi betul juga katanya, sepertinya bakalan lebih mengejutkan kalau aku tidak melihat prosesnya. Dia melempar handuknya itu ke kepalaku, entah apalah maksudnya. Mungkin saja sebagai penanda kalau kakakku ini sudah bugil polos di belakangku. Hanya terdengar suara kresek-kresek selama beberapa saat setelah itu.

“Udah dek..”katanya tidak lama kemudian, akupun memutar lagi tubuhku.
Woooow… jantungku berdebar dengan kencangnya, aku langsung panas dingin melihat pemandangan di depan mataku ini. Khayalan mesumku terwujud. Kakakku terlihat sangat seksi dan menggoda dengan pakaian yang aku pilihkan itu. Dia hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang tanpa apa-apa lagi dibaliknya. Kemeja itu tampak longgar dan cukup dalam hingga menutupi paha atasnya, hanya beberapa senti dari pangkal selangkangannya, seandainya dia duduk pasti pantat dan vaginanya akan terpampang bebas. Karena kemeja itu agak transparant aku dapat melihat puting payudaranya yang menerawang dan juga bayangan hitam dari rambut kemaluannya. Sepasang kaos kaki putih yang melekat di kaki indahnya makin menambah kesan seksi dan imut luar biasa. Ah.. untung saja aku tidak mimisan.

“Gimana dek? Suka?” tanyanya sambil memutar tubuhnya bergaya di depanku.
“Iya kak.. s..su..suka banget..”
Duh, aku betul-betul tidak tahan lagi untuk onani saat ini. Penisku menengang sejadi-jadinya dari balik celana. Kakakku hanya tersenyum melihat gelagatku.

“Kenapa dek? Pengen coli ya kamu?” Duh, kenapa sering kali dia bisa menebak isi pikiran cabulku.
“Hmm.. kakak bolehin deh kali ini..” katanya lagi.

“Heh? Beneran kak? Biasanya kan kakak marah..”

“Iya.. sesekali gak apa lah kasih kamu hadiah kaya gini.. hihi”
“Hehe.. kakakku ini emang yang paling baik, udah cantik, seksi lagi..” godaku yang kesenangan.
“G-o-m-b-a-l !!” katanya mengeja kata itu per huruf.
Akupun segera membuka celanaku beserta kolornya, merasa tanggung aku membuka bajuku juga sehingga aku jadi telanjang bulat di depannya. Betul-betul suasana yang cabul.

“Adek!! Seenaknya aja kamu bugil di kamar kakak!! Gak ada yang boleh bugil di sini selain kakak!!”
“Hehe, biar lebih asik kak.. gak apa yah kak? Kali iniiii aja”

“Ya udah ya udah ya udah, suka-suka kamu deh, lihat… udah tegang gitu punyamu hihihi..” katanya melirik ke penisku, aku hanya cengengesan saja. Aku lalu duduk di tepi ranjangnya dan mulai mengocok penisku di depannya sambil mataku menjelajahi tubuhnya. Dia masih berdiri di depanku, membebaskan aku sepuas-puasnya menatap dirinya dengan pakaian seperti itu.

“Semangat amat, pelan-pelan aja dek, ntar lecet loh.. hihi. Tuh kalau kamu mau pakai aja body lotion kakak..”

“Boleh juga tuh kak..” Diapun mengambil botol body lotion yang ada di atas meja riasnya dan memberikannya kepadaku.

“Nih..”
Aku menerimanya dan melanjutkan aksiku kembali, kali ini dibantu dengan lotion darinya. Betul-betul luar biasa rasanya.

“Panas ya dek? Merah gitu mukanya..”
“Hehehe.. gimana gak panas kak, pemandangannya kayak gini…”

Dia hanya tersenyum, tapi apa yang ku lihat kemudian? dia membuka satu kancing kemejanya lalu melirik nakal padaku, membuat tubuhku gemetaran saking horninya. Tapi satu kancing yang terbuka belum cukup untuk melihat belahan dadanya. Seakan mengetahui pikiran mesumku dia membuka satu lagi kancing kemejanya lalu satunya lagi!! kini belahan dadanya terlihat jelas. Duh, kakakku betul-betul penggoda yang jago.

“Cukup segitu aja yah dek…” katanya lalu tersenyum. Ah, padahal aku berharap kalau dia membuka seluruh kancing kemejanya, bahkan kalau bisa telanjang. Tapi ini saja cukup dan sudah membuatku tidak tahan. Aku meneruskan kocokanku sambil menjelajahi seluruh bagian tubuhnya, mulai dari wajah, leher, dada, paha hingga betisnya. Semuanya sungguh putih mulus dan terawat. Dia sendiri santai saja berdiri di depanku sambil BBM-an dengan sesekali melirik dan tersenyum manis padaku.

“Kak.. pakai kaca mata itu dong, pasti tambah cantik deh, hehe…” pintaku sambil menunjuk kacamata bacanya yang ada di atas meja. Sebenarnya dia gak rabun sih, tapi sesekali dia memang memakai kacamata kalau lagi lama-lama di depan laptop atau lagi baca buku, biar matanya gak sakit katanya. Kacamata itu juga modelnya biasa-biasa saja, dengan tangkai hitam tipis dan kaca persegi yang bening.

“Hmm? Ini dek?” tanyanya sambil mengangkat kacamata itu kemudian memakainya. Duh, sekarang dia tambah imut saja. Bayangkan saja, dia hanya memakai kemeja putih polos yang beberapa kancingnya terbuka tanpa bawahan dan dalaman, sepasang kaos kaki putih, dan juga kacamata. Kurang imut apa lagi coba? Siapa yang bakal tidak tahan? Makin lama kocokanku semakin cepat, kurasa aku sudah hampir sampai.

“Kak…”
“Hmm? Apa?” tanyanya dengan nada suara yang merdu.
“Mau keluar.. Ntar keluarin dimana nih kak?” tanyaku sambil mengocok penisku dengan cepat.

“Maunya kamu?” tanyanya balik dengan lirikan menggoda, membuat aku makin tidak tahan saja.

“Di muka kakak lagi boleh gak kak? Hehe” pintaku untung-untungan.
“Dasar.. kakak udah tebak kamu bakal minta itu, hmm.. iya deh.. kali ini aja ya.. Udah mau keluar dek?”

“Iya kak, bentar lagi nih.. ”

Kakakku kini bersimpuh dihadapanku sambil tetap tersenyum manis, wajahnya hanya berjarak sekitar lima belas senti dari ujung penisku. Kali ini sensasi yang ku rasakan sungguh luar biasa karena dia dengan suka rela dan dalam keadaan sadar memperbolehkanku untuk menyiram wajahnya dengan spermaku, bahkan matanya menatapku sambil tersenyum manis! Aku sudah tidak tahan lagi!!

“Kak.. k..keluaaaarrrrr… arghhhh”
“Crooot.. croooottt” spermaku menyemprot dengan banyaknya ke wajahnya untuk ketiga kalinya. Bertubi-tubi spermaku mendarat ke wajah bening cantiknya itu seperti tidak akan berhenti. Karena matanya yang terlindungi kacamata membuat dia tidak perlu memejamkan matanya dan terus menatapku selama aku ejakulasi.

Tidak sia-sia aku tidak onani tadi ketika mandi, jadinya aku dapat menembak lebih banyak peluru sekarang, sangat banyak dan sungguh nikmat sekali. Ku keluarkan semuanya hingga tetes terakhir, mengosongkan kantung zakarku dan memindahkan semua isinya ke wajah kakakku ini. Kini wajah kakakku yang cantik, putih dan halus jadi belepotan pejuku yang kental dan lengket.

“Nggmmh.. banyak amat sih dek ngecrotnya? Bauuuuu…” protesnya dengan nada manja setelah semprotanku berakhir. Dia lepaskan kacamatanya yang juga kotor terkena pejuku.

“Sorry deh kak.. tapi kakak makin cantik aja belepotan gitu.. hehe”

“Huu… Iya iya iya makasih pujiannya.. enak ya kamunya, udah tiga kali pejuin muka kakak” aku hanya cengengesan saja karena memang sungguh beruntung bisa pejuin mukanya, bahkan ternyata bisa sampai tiga kali. Dia lalu bangkit dan mengambil kotak tisu.

“Sayang tuh kak kalau langsung dibersihin..”
“Hmm? Terus? Maunya kamu? Masa dibiarin aja sampai kering? Gak mau ah.. bau”
“Kalau gitu ditelan aja kak..” kataku berani.

“Haaah?!! Sembarangan.. jorok tau!! kamu kira enak apa? Nih kamu telan aja sendiri.. nih nih nih…” katanya mencolek sperma di wajahnya dengan telunjuk lalu mengarahkannya padaku.
“Ah Kak.. apaan, nggak..!!” kataku panik, kakakku tertawa terbahak-bahak melihatku yang jijik dengan spermaku sendiri.

“Hahaha.. tuh kan, kamu sendiri aja jijik, pake nyuruh kakak segala..” katanya sambil masih saja tertawa. Sialan kakakku ini.

“Hmm.. Tapi dikit aja yah? Lihat nih” sambungnya. Dia menjulurkan lidahnya dan menjilati ujung telunjuknya tadi yang ada tetesan sperma itu, kemudian memasukkan jarinya itu kemulutnya dan mengemutnya sambil tersenyum. Tatapan matanya juga melirik ke arahku ketika melakukan itu. Gila, darahku berdesir melihatnya. Sungguh seksi dan menggoda, makin lemas aku dibuatnya.

“Udah kan dek? Puas kan?” katanya lalu membersihkan wajahnya dengan tisu.
“I.. iya kak.. makasih”
“Udah sana pakai lagi baju kamu, terus bikin pe-er” suruhnya.

“Iya.. tapi bajunya kakak jangan diganti dulu kak… biarin aja”
“Kamu mau kakak tetap makai ginian?”
“Iya, gak apa lah kak.. kan cuma di dalam rumah aja, lagian cuma kita berdua aja di sini”

“Iya deh.. malam ini aja lho, dasar kamu nakal” katanya akhirnya menuruti. Akupun mengenakan kembali pakaianku dan keluar dari kamarnya. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Kakakku juga ikut keluar kamar. Dia beraktifitas seperti biasa, keluyuran di dalam rumah dengan masih memakai setelan yang aku berikan tadi. Sungguh menggoda melihatnya berkeliaran di dalam rumah mengenakan pakaian seperti itu. Saat dia duduk tentu saja kemeja itu tidak dapat lagi menutupi vagina dan pantatnya, sehingga dia kelihatan kerepotan menutupi vaginanya itu dari pandanganku, baik dengan tangannya ataupun dengan merapatkan pahanya. Melihat tingkahnya itu malah bikin aku gemas.

“Liat apa kamu?” tanyanya melotot kepadaku.

“Liatin.. kakak, hehe.. gak usah ditutup-tutup segala kak”
“Maunya!! Huh..” katanya seperti menolak. Tapi ternyata dia lepaskan juga tangannya. Dia akhirnya tidak berusaha menutup-nutupinya lagi. Kak Ochi pasrah saja kalau vaginanya menjadi santapan mataku setelah itu. Saat aku kedapatan olehnya melirik ke vaginanya dia malah tersenyum padaku. Bikin aku gregetan aja.

Untung saja hanya aku yang melihatnya seperti itu, entah apa jadinya kalau orang lain melihat penampilan kakakku seperti sekarang. Yang selama ini di luar selalu berpakaian tertutup, kini nyaris telanjang keluyuran di dalam rumah.

Tapi semesum-mesumnya pikiranku, aku belum kepikiran untuk benar-benar menyetubuhinya, itu masih sebatas khayalan sebagai bahan onaniku saja. Aku belum sampai senekat itu, aku masih waras untuk tidak berhubungan badan dengan kakak kandungku sendiri. Ini saja sudah lebih dari cukup, tapi mungkin saja suatu saat bisa terjadi. Saat ini aku nikmati saja dulu pemandangan di depanku ini. Pemandangan kakakku yang seksi dan nakal ini. Sepertinya malam ini aku akan sekali lagi pejuin dia. Sungguh melihat pemandangan indah ini membuat aku tidak tahan. Tidak mungkin aku bisa menahannya lama-lama.

“Crooot…croooot…”

“Adeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!!!”


Ochi Kakakku yang Seksi



Namaku Vino, sejak aku SMA aku tinggal berdua bersama kakak perempuanku Rosi yang biasa ku panggil kak Ochi di sebuah rumah kontrakan. Sedangkan orangtuaku tinggal di kota yang berbeda karena urusan bisnis. Saat ini aku masih kelas 2 SMA sedangkan Kak Ochi sudah kuliah semester tiga. Menurutku kak Ochi cewek yang sempurna, sudah cantik, baik lagi. Idaman semua cowok deh pokoknya, termasuk aku adeknya, hehe.. Setahuku kak Ochi sekarang sedang jomblo, soalnya dia tidak pernah bilang kalau dia sudah punya pacar lagi sejak putus dengan mantan pacarnya dulu. Soalnya kalau ada apa-apa dia biasanya sering curhat padaku, bahkan sampai ngomongin urusan kuliahnya yang tentu saja aku tidak paham.


Meskipun kak Ochi sudah beberapa kali pacaran sejak dia SMA dulu, tapi setahuku dia masih perawan. Aku gak pernah periksa sih, tapi aku yakin saja kalau dia memang masih perawan. Kesehariannya kalau dia sedang ngampus atau keluar rumah pakaiannya biasanya selalu tertutup dan memakai jilbab, walau itupun kadang baju dan celananya agak ngetat juga. Tapi kalau di rumah jangan ditanya, pakaiannya sembarangan amat. Sampai-sampai aku yang adeknya sendiri jadi nafsu melihatnya. Tapi yang jadi masalah itu dia sering menggodaku dengan omongan dan ulah-ulah nakalnya T.T

Makin hari entah kenapa aku makin terobsesi pada kakakku sendiri sampai menjadikan kakakku sendiri sebagai objek onani, lagian salah dia sendiri sih sering menggodaku. Apalagi dia seringnya pake baju minim kalau sedang di rumah, bagaimanapun aku kan laki-laki juga. Ada cewek cantik, seksi, dengan pakaian terbuka berada di dekatku mau gak mau bikin si konti jadi ikutan berontak. Sebenarnya aku cukup beruntung karena aku salah satu orang yang bisa melihat tubuh kakakku dalam balutan pakaian minim begini. Orang lainnya? yaitu teman-temanku yang sering main ke sini.

Tidak heran ketika teman-temanku main ke rumah mereka selalu terkagum-kagum melihat kakakku yang hanya menggunakan celana pendek sepaha dengan kaos oblong. Sungguh beruntung mereka mendapat pemandangan segar seperti itu di rumahku. Kakakku sendiri tidak terlalu peduli dan cuek saja dengan pakaiannya itu, bahkan bersikap ramah pada mereka, meladeni obrolan juga candaan mereka. Sama sepertiku, teman-temanku yang aku dapatkan ini pikirannya sama ngeresnya denganku. Walaupun aku lebih ngeres lagi karena nafsu sama kakak sendiri.

Saat ini salah satu temanku Ucup datang ke rumahku. Katanya sih mau bikin PR bareng, tapi seperti biasa, waktu kami lebih banyak habis karena main PS doang. Selain itu dianya pasti juga sekalian cuci mata kalau datang ke rumahku.

“Bro.. bagi foto kakak lo dong” pintanya di sela-sela asik main game.
“Untuk apaan?”
“Kayak gak tau aja lo.. ya buat bahan coli lah.. hehe” katanya kurang ajar bicara begitu tentang kakakku.
“Kampret lo.. lo minta aja sendiri kalau berani sana”
“Oke.. ntar deh gue coba, lo gak marah kan?”
“Kalau dia bolehin gue sih gak masalah.. asal lo gak jepret dia diam-diam aja”

“Tok-tok-tok” terdengar suara ketukan di pintu kamarku.
“Dek.. ajak temannya makan dulu, nih udah kakak siapin makan” panggil kakakku dari balik pintu.
“Iya kak bentar” sahutku, kebetulan aku juga sudah lapar dan bosan kalah mulu main game dari si Ucup.

Kamipun menghentikan permainan kami dulu untuk makan. Ketika keluar, aku melihat kakakku hanya menggunakan tanktop putih dan celana pendek merah muda. Duh, gak malu apa dia pake gituan. Aku yang adiknya saja sampai berdesir darahku melihatnya apalagi temanku ini yang orang luar. Benar saja, ku lihat ke sebelahku si Ucup dengan tampang bloonnya melongo melihat penampilan kakakku, untung saja si Ucup masih bisa menguasai kondisi.

“Udah makan kak? Bareng yuk” kata Ucup basa-basi.
“Belum sih.. kalian aja deh yang makan duluan” jawab kakakku sambil masih sibuk membereskan dapur.
“Bareng aja yuk kak sini.. ntar demo loh cacingnya, hehe..”
“Hmm.. iya deh” setuju kak Ochi akhirnya ikut makan bersama kami. Aku perhatikan si Ucup ini curi-curi padang ke arah kakakku yang tepat duduk di depannya. Sialan nih kampret matanya.

“Kakak yang bikin yah?” tanya Ucup.
“Iya, kenapa dek? Gak enak ya?”
“Enak kok, enak banget malah.. bikin nafsu”
“Bilang nafsu kok liatin kakak sih, ayo.. gak mikir yang macam-macam kan?” pancingnya. Mulai deh kakakku nakal -,-

“Gak kok kak, kan maksudnya nafsu makan, bukan nafsu yang lain.. duh beruntung banget yah si Vino punya kakak cewek yang seperti kakak, jadi iri Ucup.. udah cantik, baik, bisa masak lagi hehe..” Kak Ochi tertawa renyah mendengar godaan temanku yang cabul ini.
“Hihi.. bisa aja kamu, ya udah.. kalau gitu habisin yah, jangan dibuang-buang loh makanannya”
“Sip Kak, gak perlu disuruh itu mah”

Setelah makan, kamipun melanjutkan lagi membuat PR yang belum selesai tadi. Kali ini kami mengerjakannya di ruang tengah, sambil nonton acara tv yang menayangkan pertandingan liga Indonesia yang gak mutu ini. Ya.. ku tonton juga karena yang main klub dari kotaku. Ku perhatikan dari tadi kakakku sering amat mondar-mandir kesana kemari. Maksudnya apa coba? Tebar pesona? Bikin aku dan Ucup teralihkan fokus saja, bahkan sampai gak ngelihat gol barusan karena pandangan mata kami berubah fokus, malah melihat ayunan bongkahan pantat kakakku dari belakang. Akhirnya menjelang magrib barulah semua PR ini selesai, jadi lama amat selesainya gara-gara kami masih saja kebanyakan nyantainya dari pada bikin PR.

“Kak, Si Ucup pulang nih..” teriakku sambil mengantar si Ucup ke depan rumah. Saat itu kak Ochi sedang berada di dalam kamar mandi.
“Pamit pulang dulu kak..” kata Ucup berteriak berpamitan.
“Iya.. hati-hati yah.. jangan bosan main ke mari” jawab kakakku juga berteriak dari dalam kamar mandi.

“Eh, ngomong-ngomong lo gak jadi minta foto ke kakak gue?” tanyaku pada si Ucup saat kami di depan rumah.
“Udah kok tadi, hehe”
“Kapan emang?” tanyaku heran karena tidak mengetahuinya, diam-diam aja nih anak kampret.
“Itu.. waktu gue ambil minum tadi itu lho.. hehe”
“Diam-diam aja lo ya.. sialan lo.. udah sana lo pergi” kataku sambil mengayunkan kakiku seperti menendang ke arahnya. Dengan tertawa-tawa dianya menghindar dan pergi dari dari hadapanku.

“Udah pulang temanmu dek?” tanya kakakku dari belakang.
“Udah kak barusan” jawabku sambil membalikkan badan.
Deg, aku cukup terkejut melihat penampilan kakakku. Tubuhnya hanya dibalut handuk putih yang tidak dapat menutupi indahnya belahan dada dan paha kakakku. Rambutnya masih basah, dan yang lebih menggoda lagi masih ada tetes-tetes air di kulit mulusnya bahkan ada yang tampak meluncur ke belahan dadanya itu. Tentu saja anuku jadi berdiri, aku memang tidak tahan kalau melihat dirinya basah-basahan begini. Apalagi kalau dia basah-basahan karena keringatnya sendiri seperti saat habis berolah raga, jauh lebih menggoda.

“Liatin apaan kamu dek?” Duh, aku ketahuan sedang memperhatikan dirinya.
“Eh.. ng..nggak ada kok kak”
“Hmm.. Kamu belum mandi kan? udah sana mandi, liatin kakaknya ntar aja.. kakak gak kemana-mana kok.. hihi”

“Ye.. Siapa juga yang mau liatin kakak.. ” kataku pura-pura jaim. Kakakku tidak berkomentar lagi dan diapun berlalu kembali menuju ke kamarnya. Aku masih terpana melihat sosok indah kakakku ini, sambil dia berjalan aku masih saja memperhatikan dirinya, mataku seperti tidak ingin lepas dari tubuhnya itu. Dan sepertinya Dewa mesum memang sedang berpihak padaku karena “sreet..” handuknya tiba-tiba jatuh hingga memperlihatkan tubuhnya yang telanjang itu. Celanaku menjadi makin sempit karenanya.

“Duh.. dek jangan liat!!” teriaknya manja.
“Eh.. i..iya kak, kakak sih pake handuk kecil gitu..” Diapun segera mengambil handuknya, tapi bukannya mengenakan handuknya lagi, dia malah menenteng handuknya itu dan lari telanjang bulat ke kamarnya, sungguh binal dan mengundang birahi. Jadilah makin puas mataku melihat adegan binal kakakku itu, yang selama ini di luar rumah selalu tertutup dan memakai jilbab, kini aku melihat tubuh indahnya bertelanjang bulat bahkan berlari bugil di dalam rumah. Penisku tegang sejadi-jadinya, sekilas aku melihat belahan vaginanya saat dia mengambil handuk tadi, selain itu saat berlari buah dadanya juga terlihat berayun-ayun menggoda.

Aku sudah tidak tahan lagi karena aksi kakakku itu, aku segera mandi yang tentu saja juga diikuti dengan kegiatan onani membayangkan tubuh bugil kakakku yang binal. Sungguh onani yang luar biasa saat itu.

Saat ku keluar dari kamar mandi, aku di sambut lagi oleh kakakku yang berada di dapur.
“Lama amat mandinya dek? Ngapain sih kamu? Onani?” Sial.. tebakannya tepat sasaran. Lagian ulahnya juga sih tadi yang membuat aku terpaksa onani.

“Eh..a..anu.. biasa kan kak.. aku kan cowok normal. Kakak sih pakai telanjang tadi, hehehe..” jawabku sambil cengengesan.
“Dasar, udah kakak bilang jangan lihat. Emang kamu baru pertama kali lihat cewek bugil ya dek? hihi..”

“Iya nih Kak, makasih ya.. hehe”
“Huu.. anggap aja tadi itu rezeki kamu. Tapi kamu siram yang benar kan? awas kalau ntar lantainya lengket-lengket di kaki kakak” mendengar omongan kakakku itu aja aku jadi horni lagi, membayangkan kalau kaki kakakku terkena semprotan pejuku.

“Iya.. udah di siram kok kak.. cek aja kalau gak percaya.. hehe”
Tiba-tiba aku berpikir untuk membalas aksi kakakku tadi, aku penasaran juga menunjukkan penisku di depan kakakku, kira-kira bagaimana reaksinya ya.. hehe.. Memikirkan itu saja penisku kembali tegang, tentu saja langsung nyemplak di handuk yang ku kenakan ini.

“Dek..”
“Ya kak?”
“Itu kamu bangun lagi tuh.. mikir yang jorok-jorok yah? Jangan macam-macam kamu dek”

“Eh.. nggak kok kak.. maaf” Duh, terpaksa aku membatalkan aksiku. Udah kepergok duluan sih mikirin yang nggak-nggak. Lain kali saja deh kutunjukkan.
“Udah sana pakai bajumu” suruhnya lagi.
“Iyaaaa”

Aku menuju kamarku, kemudian bersantai sejenak menenangkan diriku dan adik kecilku yang tadi sempat tegang. Ku isi waktu dengan mendengarkan musik, baca komik dan tidur-tiduran di atas tempat tidur. Cukup lama juga aku mengurung diri di kamar, mungkin hampir tiga jam. Merasa bosan akupun keluar kamar untuk menonton tv. Aku menemukan kakakku sedang tertidur di sofa depan tv.

“Dasar.. lagi tidur tapi tv dibiarkan hidup” gerutuku. Ketika hendak mematikan tv mataku lagi-lagi tertuju pada tubuh kakakku yang tidur sembarangan ini. Paha putih mulusnya terpampang dengan jelasnya membuat nafsuku bangkit lagi. Jantungku berdetak kencang melihat pose tidurnya yang sembarangan itu. Entah dari mana timbul keberanianku, ku pelorotkan celana pendek beserta celana dalamku sehingga penisku menjuntai bebas di depan kakakku yang sedang tertidur. Akhirnya aku dapat menunjukkan penisku di hadapannya, tapi sayang dia tidak sadar.

Aku semakin berani saja kemudian, aku kocok penisku sendiri di depan wajah kakakku. Sungguh gila dan teramat nekat memang, tapi aku tidak peduli lagi. Aku sudah betul-betul tidak tahan. Lama kelamaan kocokanku makin cepat dan sepertinya aku akan segera sampai. Debaran dadaku semakin cepat.

“Dek!! Kamu apa-apaan sih” Aku terkejut bukan main, kakakku terbangun, mungkin terjaga karena aku yang terlalu berisik. Tapi spermaku sudah sampai di ujung penisku. Padahal niat hati tidak ingin sampai keluar di depannya. Tapi kepalang tanggung, dianya sudah terbangun dan sudah sampai sejauh ini, kakiku bahkan jadi tidak ingin mundur menjauh darinya. Akhirnya tetap ku arahkan ujung penisku ke wajahnya dan croott.. crrroott!! Spermaku menyembur bertubi-tubi dengan telaknya ke wajah kakakku yang cantik. Gila! aku membukkake kakakku sendiri. Jadilah wajah cantiknya kini berlumuran cairan putih kental milikku. Aku betul-betul puas, sangat lega karena bisa menuntaskan hasratku, ini betul-betul orgasmeku yang paling luar biasa yang aku rasakan selama ini.

“Kamu apa-apan sih deeeekkkk? Sembarangan amat” teriaknya histeris.

“Maaf kak.. g..gak tahan” kataku nyengir. Aku merasa bersalah juga melakukan hal ini pada kak Ochi. Sungguh perbuatan ku kali ini teramat nekat. Bisa-bisanya aku menumpahkan spermaku seperti itu ke wajahnya. Tapi tadi itu betul-betul luar biasa nikmatnya.

“Ihh.. belepotan gini, bau kan?!” rengeknya manja sambil mengusap ceceran spermaku itu dengan ujung jarinya.
“Ya udah, kali ini kakak maafin.. tapi jangan ulangi lagi” sambungnya.

“Iya kak.. maaf” kataku. Kakakku hanya tersenyum kecil, aku lega melihat dia tersenyum, untung saja dia tidak marah lagi. Tapi melihatnya tersenyum dengan wajah penuh sperma itu memberikan sensasi tersendiri bagiku, membuat dadaku jadi berdebar-debar.

“Ambilin tisu dong dek.. keburu kering nih ntar peju kamu, cepetaaan.. kamu kira kakak suka apa belopotan peju kamu kayak gini”
Aku segera mengambil kotak tisu yang berada di atas meja dan memberikannya ke kakakku. Kakakku menerimanya dan mulai membersihkan wajahnya yang berlumuran peju adiknya itu.

“Puas kamu? Ngecrot sembarangan aja.. ini wajah kakakmu lho, bukan tembok wc!! dasar kamu kebanyakan nonton bokep!!” katanya dengan wajah kesal sambil masih membersihkan wajahnya.
“Maaf kak..”
“Iya-iya.. udah bersih belum dek wajah kakak? Ada yang tinggal nggak?” tanyanya sambil memperlihatkan wajahnya di depanku.

“Itu kak, di bawah bibir” kataku menunjuk bawah bibirku sendiri untuk memberi petunjuk.
“Hmm.. Untung gak masuk ke mulut.. udah?”
“Iya kak.. udah bersih”
“Ya udah pakai lagi tuh celana kamu.. apalagi coba? Belum puas apa?”

“Eh.. i..iya kak” akupun memakai celanaku lagi lalu duduk di sebelahnya. Kami terdiam beberapa saat, aku sendiri tidak tahu harus ngomong apa lagi. Aku merasa begitu canggung karena kejadian barusan. Ingin aku kembali ke kamar saat itu tapi aku juga masih ingin berada di dekat kakakku, siapa tahu akan ada kesempatan yang lebih besar.

“Maaf yah kak..” kataku mencoba membuka obrolan.
“Iya.. Makanya cari pacar dooong.. masa kakak kamu yang jadi pelampiasan.. dasar”
“Habisnya kakak cantik sih.. seksi lagi.. nafsuin ouppss” Duh, aku keblablasan.

“Hihi.. kamu ini.. dasar yah.. udah berani macam-macam ke kakak.. masih bocah ingusan juga hihihi..”
“Enak aja bocah.. siapa bilang, tadi kan kakak udah liat punyaku.. gede kan kak? Hehe”

“Huu.. Rese kamu…” Kayaknya dia gak mau ngaku, malu mungkin.
“Udahan kan dek? Gak kepingin pejuin kakak kamu lagi kan? tidur lagi yuk..”
“Tidur bareng maksudnya kak?” tanyaku. Sebenarnya sampai saat ini sesekali aku masih tidur bareng kakakku, biasanya kalau dia ketakutan kalau lagi hujan badai. Tempat tidurnya juga cukup luas dan muat untuk dua orang.

“Enak aja, ntar kamu macam-macam lagi”
“Yah.. kirain”
“Hmm.. ya udah, malam ini tidur bareng lagi, tapi ingat jangan macam-macam” Akhirnya dia mau juga tidur bareng, sepertinya dia memang berniat menggodaku. Ya sudah.. kesempatan, rasain kamu ntar Kak.

“Iya deh kak.. bentar pipis dulu”
“Ya udah kakak ke kamar dulu, jangan lupa nanti semua lampu dimatikan”
“Beres kak”
Diapun menuju kamarnya sedangkan aku ke kamar mandi. Aku jadi berdebar-debar memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Penisku tanpa sadar ngaceng kembali, duh ngilu.


“Tok..tok”
“Kak…”
“Iya dek, masuk aja..” akupun masuk ke kamarnya. Kakakku duduk bersandar di ranjang sambil membaca novel remajanya, tampak sebagian tubuhnya sudah masuk ke dalam selimut. Aku masih berdiri saja di sini.
“Napa dek? Masih grogi gara-gara tadi? Hihi.. Kan udah kakak maafin..” Ku balas saja dengan senyum kecil. Akupun berjalan menuju ke ranjangnya.

“Op, tunggu bentar!!” katanya menghentikanku, apa lagi nih maunya dia.

“Kamu udah cuci kaki?” tanyanya dengan nada suara menggoda, membuat aku jadi gemetaran.
“Udah kak..”
“Hmm.. udah cuci tangan belum?”
“Udah juga”
“Gosok gigi udah belum?”
“Udaaaah..”

“Ya udah.. boleh naik ke ranjang deh kalau gitu.. hihi.. sini dek bobok” Ckckck, dasar kakakku ini. Akhirnya aku naik ke atas ranjangnya dan tiduran di sampingnya yang masih asik membaca.

“Tapi kamu belum minum susu kan?”
“S..s..susu kak?”
“Iya, susu” katanya dengan tatapan menggoda padaku. Tentu saja aku juga menatap ke arah susunya.

“Kalau itu belum kak, hehe”
“Mau?”
“M..mau apa kak?” tanyaku grogi, berharap dia menawarkan susunya padaku.

“Mau kakak tabok? Jangan ngarap deh kalau itu.. week” katanya memeletkan lidah. Sial, cuma menggodaku aja ternyata. Akupun merebahkan kepalaku dengan kesal.

“Kak.. matiin dong lampunya, mana bisa tidur..” kataku beralasan agar segera bisa beraksi, padahal aku sebenarnya belum ngantuk.
“Ah, kamu ini nganggu kakak baca aja.. iya-iya” diapun menutup bukunya dan bangkit dari ranjang untuk mematikan lampu.

Degh, ternyata dia hanya memakai celana dalam saja di balik selimut itu. Dengan hanya memakai baju kaos dan celana dalam seperti itu kak Ochi kelihatan sangat menggoda, dadaku kembali berdebar dengan kencangnya karena dirinya ini.

“Napa dek? Kan tadi siang udah sempat liat kakak bugil.. masa gini aja nafsu?”
“Hehe.. maunya sih liat kakak bugil lagi”
“Week.. jangan macam-macam kamu, udah sana bobo”

“Klik” lampupun dimatikan dan diapun naik ke atas ranjang berbaring memunggungiku. Aku belum berani untuk melanjutkan macam-macam dulu saat ini, padahal tadi niatnya pengen cari-cari kesempatan, tapi dari pada aku diusir lebih baik ku tunda dulu niatku. Kupaksakan juga memejamkan mata meskipun celanaku sangat sempit. Bagaimana tidak sempit, di sebelah ada kakakku yang cantik dan binal hanya memakai kancut seksi sebagai bawahannya.

Tapi ternyata aku tidak bisa menahannya, dari balik selimut ku pelorotkan lagi celanaku hingga peniskupun bebas. Aku kocok barangku sendiri dari balik selimut itu dengan pelan sambil menatap kakakku meskipun hanya bagian belakang tubuhnya saja. Memikirkan kalau dibalik selimut ini dia hanya memakai celana dalam dan aku sendiri tidak memakai celana makin membuat birahiku tinggi. Tapi sepelan apapun aku onani ternyata dia terusik juga.

“Lagi ngapain kamu dek? Onani lagi? Udah dibilang jangan macam-macam.. baru juga tadi kan pejuin Kakak?” katanya menghadapkan wajahnya padaku.
“Eh.. m..maaf kak.. gak tahan”
“Iya.. tapi jangan disini dong.. dasar kamu nafsu sama kakak sendiri” meskipun bicara begitu tapi dia tidak berusaha bangkit ataupun mendorongku dari ranjangnya. Merasa diberi angin ku teruskan saja onaniku.

“Ckckck.. dikasih tau malah ngelunjak kamu” katanya geleng-geleng kepala.
“Awas kalau kamu macam-macam!!” sambungnya, diapun tiduran lagi membelakangiku, membiarkanku adiknya meneruskan aksi onaniku itu di sampingnya. Makin lama bukannya aku semakin puas tapi malah makin tersiksa, aku seperti ingin menuntaskannya lagi. Aku sibakkan selimut yang tadi menutupi bagian bawah tubuhku sehingga kini penisku terpampang bebas. Aku makin berdebar-debar, sensasi ini sungguh luar biasa, aku mengocok batang penisku yang tidak tertutup apa-apa lagi di atas ranjang kakakku dengan dianya ada disampingku. Aku tidak peduli lagi ucapannya agar tidak macam-macam. Aku bangkit dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tubuh molek indahnya kini terpampang di depanku. Mataku langsung tertuju pada pahanya yang putih mulus.

Kocokanku makin cepat melihat ini semua, nafsuku sudah sampai di ubun-ubun, tapi ku masih bisa menahan untuk tidak memperkosa kakakku, bisa masalah entar.

“Dek…” aku terkejut mendengarnya, ternyata dia masih terjaga meskipun saat ini matanya sedang tertutup.
“Mau kakak hajar?” sambungnya tanpa mengubah posisi tidurnya.
“Eh.. nggak kak, s..sorry kak”

Akupun menutupi tubuhnya lagi dengan selimut, begitupun aku juga kembali berbaring dan masuk ke selimut. Duh, gagal. Lanjutin gak yah.. tapi udah dikasih peringatan berkali-kali ini. Belum tentu kalau aku masih juga ngelunjak dia masih mau maafin. Ah, ku coba sajalah.

“Kak..” panggilku.
“Hmm? Apa? bobok lagi sana”
“Ngg.. Boleh meluk gak?”

“Kalau meluk, meluk aja tapi jangan macam-macam” jawabnya membolehkan. Yes, senang banget dibolehin meluk dirinya. Langsung saja ku lingkarkan tanganku ke perutnya dan memeluknya dari belakang. Bagian depan tubuhku menempel ke tubuh belakangnya, dan tentu saja penisku yang masih bebas bergesekan dengan bongkahan pantatnya yang hanya dibalut kancut tipis itu.

“Dek, celana kamu belum kamu pakai juga?”
“Belum kak.. gak apa yah kak?”
“Dasar.. jangan nakal tapi kamunya..”
“Iya kak”

Betul-betul kesempatan emas bagiku, aku dapat mencium harum tubuhnya itu. Tidak hanya sekedar memeluk, kesempatan itu juga ku gunakan untuk meraba perut dan pinggangnya. Dia mencoba menepis tanganku ataupun menggoyangkan tubuhnya karena risih, tapi lama-kelamaan akhirnya dia capek sendiri dan membiarkan saja aksi nakal tanganku. Untuk saat ini aku tidak ingin melakukan hal yang lebih lagi, cukup ini dulu lah untuk malam ini. Seperti ini saja aku sudah beruntung banget. Akupun berusaha memejamkan mataku lagi ditengah kenyamanan ini, kali ini hingga aku benar-benar tertidur.

Besoknya aku terjaga lebih cepat, itu karena tadi malam aku tidur lebih awal dari biasanya. Sekarang jam masih menunjukkan pukul lima pagi, masih terlalu pagi untuk beraktifitas bagiku. Namanya laki-laki kalau pagi-pagi gini si konti tidak bisa kompromi, apalagi ada cewek cakep alias kakakku yang cantik di sebelahku. Ku perhatikan kakakku masih tidur dengan nyenyaknya, sesekali dirinya menggeliat karena hawa pagi yang dingin. Berbeda dengan tadi malam, untuk pagi ini kayaknya aku bakal gak kuat menahannya.

Masih sama-sama di dalam selimut, aku peluk dirinya lagi dari belakang, bahkan kali ini mulai berani meraba buah dadanya. Dengan kurang ajarnya ku goyangkan pinggulku sehingga penisku bergesekan dengan pantatnya di bawah sana. Beberapa kali kakakku melenguh seperti akan bangun, tapi karena tidak benar-benar bangun jadinya tetap ku teruskan aksi cabulku yang nekat ini.

Makin lama aku semakin tidak tahan, ku sibak lagi selimut itu. Lalu dengan nekatnya aku mengangkangi wajah kakakku dan mengocok penisku di depan wajahnya lagi, tepat di atas bibir mungilnya.

“Adek!!” lagi-lagi dia terbangun di saat-saat genting seperti ini.
“Kamu ini!! masa mau pejuin muka kakak lagi?”
Aku tidak menghiraukan ucapannya lagi kali ini dan tetap saja mengocok penisku karena tanggung, dan crooot… crrooot!! Untuk kedua kalinya aku menyemprot wajah kakakku dengan spermaku.

“Adek… nggmmhh..” dia gelagapan menerima semprotan spermaku, kali ini ada yang masuk ke mulutnya.

Cairan putihku kali ini menyemprot lebih banyak dan kencang dari sebelumnya, bahkan ada yang sampai ke rambutnya. Ku geser posisiku dan mundur setelah ejakulasiku itu. Betul-betul banyak ternyata, sampai ada yang meleleh ke leher dan sprei tempat tidurnya.

“Ngggmmm… adek..!!”
“M..maaf Kak..”
“Kamu ini, udah kakak bilang cukup sekali kemarin aja, eh malah ngulangin.. rese kamu. Tuh lihat sampai kotor gitu kan tempat tidur kakak..!!”

“Maaf deh kak… biar Vino yang bersihin nanti” kataku merasa bersalah.
“Dasar kerjaan kamu onani mulu.. kosong tuh dengkul. Ya sudah, udah terlanjur juga.. ambilin lagi sana tisu”
“Iya kak” akupun mengambil tisu yang ada di atas meja dan memberinya ke Kak Ochi.

“Nggak marah lagi kan kak?”
“Mau kamu kakak marah terus?”
“Hehe.. Ya enggak lah kak, terus spreinya gimana kak? Jadi cuci?”

“Hmm.. biar aja deh, ntar juga kering.. kalau gak kering juga terpaksa deh gantian kakak yang tidur di kamar kamu ntar malam”
“Makasih yah Kak.. hehe”

“Dasar.. Dulu waktu mama ngandung kamu mama ngidam apa sih? Kok gini amat mesumnya, hihihi.. Untung semprotnya di muka kakak, coba kalau di..” dia tiba-tiba berhenti bicara.

“Kalau dimana kak?” tanyaku memancing, ku lihat wajah kakakku memerah karena malu menyebutnya.

“Tau sendiri lah kamu.. Udah sana mandi, ntar terlambat kamu sekolah” Kakakku bangkit dari tempat tidur dan membuang tisu itu ke tempat sampah.

“Iya kak..”
“Kamu mau sarapan apa dek? Kakak bikin nasi goreng aja yah?” katanya sambil mengikat rambut sebahunya itu kincir kuda.

“Oke kak..” dia tersenyum dan meninggalkan kamar. Aku menyusulnya keluar tidak lama kemudian untuk segera mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Sungguh beruntung aku bisa menyemprot di wajahnya sampai dua kali, aku harap masih akan ada lagi semprotan ketiga, keempat atau seterusnya. Aku penasaran apa yang akan ku lakukan lagi nanti sepulang sekolah bersama kakakku yang cantik dan seksi itu.

***

Cerita Seks Mesum Semalam Suntuk Memek Tanteku Digilir Rame-rame

Cerita Seks Mesum Semalam Suntuk - Cerita Sex Terbaru 2016, Cerita Sex Tante-Tante, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Sedarah,Cerita Ngentot Memek Tante - Panggil saja aku Dedy.Aku laki-laki berumur 22 tahu.Aku kuliah di Yogyakarta,dan aku tinggal bersama tanteku.Tanteku bernama Tante Vira.Umurnya sekitar 32 thn,tingginya sekitar 165cm,dan dadanya wooow... mungkin berukuran 36 B dan pantatnya pun sungguh montok sekali.

Semalam Suntuk Memek Tanteku Digilir Rame-rame | Cerita Seks Mesum


Cerita Seks Mesum Semalam Suntuk Memek Tanteku Digilir Rame-rame
Cerita Seks Mesum Semalam Suntuk Memek Tanteku Digilir Rame-rame


Tante Vira adalah janda kembang yang bekerja sebagai seorang akuntan di Yogya. Sebagai lelaki normal siapa saja yang melihat Tante Vira pasti akan terpesona,tidak terkecuali aku.Suatu sore ketika Tante Vira sedang mandi,aku memberanikan diri untuk mengintip lewat lubang kunci.

Aku melihat dengan jelas tubuh polos dirinya.aku melihat "melon" nya yang besar,indah yang sangat mantap jika kunikmati batinku.kulihat puting mungilnya yang bewarna kecoklatan,lembahnya yang ditutupi oleh "rerumputan kecil".Secara tidak sadar "Pisang Ambonku membesar".Ketika,Tante Vira hedak keluar dar kamar mandi aku segera meninggalkan kamar mandi & duduk disofa ruang santai.

Masih terlintas bayangan tubuh polos Tante Vira tadi.Aku lihat Tante Vira menuju kamarnya hanya dengan berbalut handuk.Kulihat pantatnya yang sekal & ingin sekali kumeremasnya.Selang 20 menit kemudian Tante Vira keluar dari kamarnya & mengenakan Kemeja Putih ketat selaras dengan rok hitam yang ketat pula. "Dedy,jaga rumah dulu y...?.

Tante mau pergi meeting sebentar dengan karyawan tante.Pulangnya sekitar jam 9 malam." katanya. "Oke,Tante" kataku. Lalu tante segera menuju garasi & segera menyalakan mobilnya.Setelah tante pergi aku iseng kekamarnya.Aku,masuk kekamarnya yang tidak terkunci itu. Aku kagum melihat keartistikan kamarnya.Aku segera membuka lemari pakaiannya.

Dilemarinya kutemukan 2 buah vibrator miliknya.Aku pun maklum karena Tante Vira sudah janda selama 2 thn.Aku segera mencari benda yang kuinginkan.Tak lama kemudian aku menemukan CD warna pink miliknya beserta Bra pink miliknya yang besar.Branya saja besar apalagi dalamnya,kataku dalam hati.

Ukuran Branya kira-kira 36 B.Aku segera mengambil kedua barang itu lalu bergegas menuju kamarku. Aku segera menciumi & menjilati Branya,seolah-olah aku menciumi & menjilati buah dadanya yang montok.Setelah puas menciumi & menjilati branya,aku segera mempermainkan CD sexy miliknya.Aku raba-raba & kujilati CDnya seolah-olah aku sedang meraba & menjilati Vaginanya.

Kemaluanku semakin mengeras & tidak sanggup lagi menahan magma yang akan keluar. Aku segera mengeluarkan Penisku & segera mengocoknya. Tidak lama kemudian aku arahkan penisku di CD,lalu keluarlah sperma kentalku membasahi CD pink miliknya. "Oh...... yeach...." pekikku kepuasan beronani dengan CD nya. 

 Akupun segera bergegas untuk mandi. Jam menunjukkan pukul 19.10.Tak lama kemudian terdengar mesin Mercy S Class milik Tante Vira.Lalu Tante Vira membuka pintu depan. "Lagi nonton apaan Ded...?" katanya mengkagetkanku "Lagi nonton Sketsa Tan" kataku. 

"Oh...,nich ada oleh-oleh kue buat kamu" katanya "Makasih Tan" jawabku. Aku segera memakan kue yang diberikan tante,seraya menyaksikan tante berjalan menuju kamarnya.Tak begitu lama tante keluar dengan setelan dress warna ungu,dengan belahan dada yang sedikit terbuka. "Kamu sudah makan,Ded...?" katanya.

"Sudah tan" jawabku "Kalau begitu makan dulu y." katanya lagi "Oke tan" jawabku 15 menit kemudian Tante Vira selesai makan & segera bergabung denagnku menonton kelucuan Sketsa.Tante duduk disebelahku,sesekali aku mencuri pandang kepayudaranya yang besar itu.Jantungku berdegum kencang menyaksikan payudaranya montok terbungkus dress warna ungu.

Seolah-olah dress warna ungu yang dikenakannya tidak sanggup menahan dadanya yang montok itu. Jam menunjukkan pukul 21.30. "Ded,tante tidur dulu y." katanya "Y" jawabku singkat Pukul 24.00,aku bergegas untuk pergi tidur. Keesokan harinya pukul 07.00 aku bangun dari ranjangku & segera bergegas menuju kamar mandi.

Aku lihat Tante Vira sudah siap untuk kekantor.Aku segera masuk kekamar mandi. Ketika sedang asyik mandi,Tante Vira mengetuk pintu kamar mandi "Tante berangkat dulu y..." katanya "Y,tante" jawabkuku. 5 menit kemudian aku keluar kekamar mandi & bergegas menuju kamar untuk berpakaian.

Tidak lama kemudian aku sudah rapi & siap berangkat kekampus.Aku segera menuju garasi,lalu kunyalakan motor Ninja 250cc milikku. Seusai kuliah usai aku segera menemui ke 4 temanku yang juga memiliki maniak sex.Kami berlima segera merencanakan untuk mengerjai Tante Vira. 

Hari yang direncanakan pun tiba.Kami berlima menunggu Tante Vira dipersimpangan jalan dekat kantornya.Pukul 18.00 yang ditunggu akhirnya keluar dari kantor.Kami segera mengikuti Tante Vira dari belakang.Didalam mobil,aku menumpahkan banyak cairan Chlorofom untuk membius Tante Vira.

Akhirnya Tante Vira sampai dirumahnya.Aku melihat keadaan disekitarku,keadaan jalan komplk perumaha sepi.Segera aku turun dari mobil,lalu menyekap hidung tante dari belakang dengan menggunakan sputangan yang sudah diberi Chlorofom.Tante sempat meronta-ronta,tapi tangan kananku mencengkram kuat tubuhnya.

Tidak berapa lama kemudian tante pun tertidur. Aku segera menggendong tubuhnya & segera berlari menuju mobil.Anton segera memembukakan pintu mobil untukku.Sementara itu,Bobby segera memasukkan Mercy S Class tante kedalam garasi.Setelah Bobby selesai,kami segera meninggalkan tempat itu & segera menuju tempatyang sudah kami rencanakan sebelumnya.

Setelah didalam mobil,aku segera melepasan topeng yang aku kenakan. "Kamu,gila juga y Ded.Tante sendiri mau ditiduri" kata Bobby kepadaku. "Tante,kamu sexy juga y...?" kata Anton yang duduk disebelah Tante seraya meremas-remas dadanya. "Eh,Bob kamu bawa handicamkan...?" kataku kepada Bobby yang duduk dibelakang.

"Bawa" katanya seraya mengeluarkan handicam dari ranselnya. "Siap rekam Bob" kataku seraya mengulum bibir sexynya. Aku & Anton bergantian mengulum bibir sexynya.Aku & Anton meremas-remas dadanya yang sekal itu.Sementara Bobby asyik merekam adegan kami.Tyo,yang duduk didepanku & Rizal yang sedang menyetir asyik melihat adegan kami lewat kaca tengah yang ada dimobil. 

Dan 30 menit kemudian,am sampai digudang tua yang sudah tidak terpakai. Mobil Avanza milik Rizal diparkir didalam gudang.Kami pun segera turun.Aku menggendong tubuh Tante Vira yang tengah tertidur. Kami segera mencari tempat untuk membaringkan tubuh Tante Vira. 

Aku menemukan sebuah meja besar,usang,& berdebu.Aku segera membaringkan tubuhnya ke meja tersebut.Kami pun segera mengundi untuk menentukan siapa yang pertama menikmati tubuhnya.Beruntung,aku yang pertama menikmati tubuhnya,yang berikutnya Tyo,Bobby,Rizal,yang terakhir Anton. 

"Shit... aku dapat ampas...!!!" gerutu Anton. Aku segera melepaskan celana jeansku,kemudian kulepaskan CD ku.Penisku yang telah mengeras segera meloncat keluar. Kemudian,kulepaskan satu persatu kancing kemeja kantor milik Tante Vira.Setelah lepas kancing terakhirnya,aku segera melepaskan kemejanya lalu kelemparkan ke bawah. "Wooow...." sontak Bobby yang merekam tubuh tante 

Setelah itu aku mebuka pengait restliting rok warna hitamnya. Kuturunkan perlahan-lahan kuturunkan restlitingnya. Laluku pelorotkan roknya.Lalu,kulempar roknya kelantai.Kini tubuh tante hanya berbalut BH warna hitam & CD dengan warna yang sama.Aku segera naik kemeja. 

Aku,segera melumat bibir sexynya,kujilati belakang telinga kanannya,& kugigit mesra telinga kanannya.Setelah puas aku segera melepaskan pengait BHnya.Setelah lepas,segera kujatuhkan BH hitamnya kelantai.Kini dihadapanku terhampar tubuh polos bagian atas milik Tante Vira. Kuraba-raba,kuremas-remas perlahan payudaranya.

Remasanku perlahan-lahan semakin keras,puas meremas dadanya aku segera memilin-milin mesra puting mungil miliknya.Setelah puas,aku segera menjilat-jilati puting kecoklatan miliknya. Kujilati puting yang kanan lalu yang kiri berulang-ulang.seraya tanganku meremas-remas dadanya.Ketiga temanku duduk di lantai seraya menyaksikan adeganku dengan Tante Vira. 

Puas dengan dadanya,segera kulepaskan CD sexy warna hitam miliknya.Setelah itu, kulemparkan CDnya kelantai.Aku,takjub dengan Vaginanya yang ditumbuhi reremputan kecil. "Damn.... Shiit...." sontak Bobby lagi. Aku meraba-raba bibir Vaginanya yang ditumbuhi rerumputan kecil.Kumasukan jari tengahku kedalam vaginanya.

Kucoblos-cobloskan jari tengahku semakin lama semakin liar.Setela puas segera kulepaskan jari tengahku dari vaginanya.Lalu,kucari-cari Clitorisnya dengan jari manisku.Kutemukan Clitorisnya,lalu kepencet-pencet Clitoris mungilnya,kujilat-jilati Clitorisnya berulang-ulang.


Tiba-tiba aku merasakan bibirku basah oleh cairan kental dari vagina Tante Vira. 'Hm... tampaknya tante orgasme nich" kataku dalam hati. Setelah itu aku mulai mengepaskan Penisku dengan Vaginanya.Setelah Penisku masuk semuanya,aku segera menggerakkan maju-mundur tubuhku.Penisku dengan leluasa keluar masuk di Vaginanya.

Sementara bibirku asyik melumat bibir sexy miliknya,& tanganku memeluk punggung sintalnya. 25 menit kemudian aku tidak sanggup lagi menahan gejolak magmaku yang akan keluar.Akhirnya Spermaku keluar didalam vaginanya.Aku kemudian melepaskan Penisku yang belepotan cairanku& cairan dari vagina Tante Vira. 

 Kubuka mulutnya sexynya& kuhadapkan ke penisku,lalu kumasukkan penisku kedalamnya. Kumaju-mundurkan kepala tante.Lalu,Spermaku keluar lagi didalam mulutnya. Setelah itu giliran Tyo,kulihat Tyo membersihan sisa-sisa spermaku di Vagina & bibir Tante Vira.Sekaran giliranku melihat adegan sex tanteku dengan Tyo.

Tyo melalukan adegan sex yang hamir a dengan apa yang aku praktekkan tadi. 20 menit pun berlalu & Tyo pun sudah selesai ngesex dengan tanteku. Kini giliran si Bobby.Ketika iliran Bobby aku yang menjadi cameramennya untuk adegan sex Bobby dengan Tanteku. 25 menitpun berlalu& Bobby pun sudah selasai ngesex dengan Tante Vira.

Kini giliran Rizal.30 Menit kemudian Rizal telah selesai. Dan,yang terakhir Anton. 30 menitpun berlalu,Anton pun telah selesai dengan tubuh tante.Kami pun tidak puas kalau hanya ngesex sekali dengan Tante Vira.Kami pun menggilirnya lagi,sesuai dengan undian tadi.Kami menggilirnya samapai kami merasa puas. 

 Kira-kira pukul 02.00 ketika giliran Anton ngesek dengan tante,tante perlahan-lahan mulai sadar.Aku segera melempar topeng ke Rizal & Rizal pun sudah memakai topengnya.Ketika Tante Vira sepenuhnya tersadar kami sudah memakai topeng masing-masing. Tante terkejut ketik tubuhnya bugil & Penis Anton masih menancap divaginanya.

Tangen Rizal mencoba menahan gerakan kedua tangannya.Tampaknya Anton kewalahan menghadapinya.Kamipun segera membantu Anton memegangi tangan,kaki,& tubuhnya erat-erat.Tapi,tubuh,& tangan tante meronta lebih keras daripada yang tadi.Lalu,Bobby segera mengambil pistol mainan yang mirip dengan yang asli ke kepala Tante Vira. 

"Diam....!!!! " bentak Bobby seraya memukulkan gagang pistol mainan itu kepelipis kiri Tante Vira Darah segar mengalir dari pelipis kirinya. "Apa mau kalian...?" katanya sambil menangis "Yang,kami mau adalah tubuh kamu yang sexy untuk melayani nafsu kami semalaman" kata Bobby menunjuk kearah kami semua. 

Tante Vira pun terlihat pasrah dan terus menangis tidak percaya kalau tubuhnya akan kami gilir semalaman.Anton pun segera melanjutkan menggoyang tubuh tante,sementara Bobby masih menodongkan pistol mainan kekepala Tante Vira. "Yaik...." erang tante mengerang keras ketika Anton menggoyang tubuhnya dengan keras. Setelah puas menggoyang tubuh tante,Anton segera mengeluarkan Spermanya didalam Vaginanya. 

Setelah itu giliranku.Kutarik paksa kedua tangan tante,lalu menyuruh tante berlutut.Kujejalkan Penisku dibibir indahnya.Kupaksa bibirnya agar membuka.Lalu kujejalkan Penisku didalam bibirnya.Kulihat Tante Vira menangis,tapi ku acuhkan saja.kugerakkan kepalanya maju mundur dengan paksaan tanganku. 

Puas dengan gerakkan tadi aku segera menyuruh Tante berbaring di meja.Aku tarik tubuh indahnya hingga ketepi meja,& kuangkat pahanya tinggi-tinggi.Kumasukkan Penisku dengan keras kedalam Vaginanya.Kugoyang keras tubuhnya,seraya kedua tanganku meremas-remas dadanya.

Setelah puas kulepaskan penisku dari vaginanya. "Achh... achh..." erangnya seraya menitikkan air mata,ketikaku mulai menggoyang tubuhnya dengan keras. Lalu,aku naik ke kemeja & menyuruh tante untuk posisi menunging.Tante sudah dengan posisi menungging.Aku segera mengepaskan penisku dengan vaginanya.

Segera kumasukkan penisku kedalam vaginanya.Dinding vaginanya seolah menekan keras penisku.Segera kugoyang hebat tubuhnya,kuremas-remas pantat sintalnya,sesekali aku remas dadanya yang menggantung & bergoyang mengikuti irama.Kuletakkan kedua tangan tante dipunggungnya,lalu kutarik punggungnya kebelakang.

Kukecupi telinga kanan& kugigit mesra telinga kanannya.Kemudian kugoyang hebat tubuhnya,& kedua tanganku meremas-remas payudaranya dengan keras. "Augh.... Achhhh..." erangnya Magmaku sudah tidak sabar untuk keluar.Segera saja kutumpahkan magmaku didalam vaginanya.Setelah aku,kini giliran keempat temanku.

Setelah keempat temanku selesai menggilir Tante Vira,aku berencana membuat adegan yang lebih hot lagi.Aku,Tyo,Bobby bergabung satu group.Sedangkan Rizal,& Anton bergabung satu group. Aku segera tidur terlentang diatas meja,lalu kusuruh Tante Vira naik keatas tubuhku.

Tante Vira mengepaskan vaginanya dengan penisku.Setelah masuk,tante menggoyang tubuhnya perlahan.Tante tidak tahu kalau Tyo naik kemeja tepat dibelakangnya.Tyo segera menunggingkan tubuhnya,lalu mengepaskan penisnya dengan lubang duburnya.Perlahan-lahan penis Tyo mulai masuk dilubang duburnya.

Tante pun sempat meronta-ronta kesakitan,ketika penis Tyo yang besar itu masuk kelubang duburnya.Darah segar keluar dari lubang dubur Tante Vira.Ketika penisnya telah masuk semuanya dilubang duburnya Tyo,segera menggoyang tubuh tante perlahan. "Accchhh.... acchh..." erangnya. Ketika tante mengerang kenikmatan,

Bobby segera naik keatas meja.Boby berdiri tepat dihadapan Tante Vira.Bobby mengangkat kepala Tante Vira,&menjejalkan penis perkasanya dimulutnya.Kini mulut tante asyik mengulum penis Bobby.Gerakkan kami bertiga semakin liar.Tyo dibelakang,aku tepat dibawahnya,sementara Bobby tepat dihadapannya.

Sementara itu tangan-tangan kami tidak kalah liarnya.Tangan Tyo,asyik meremas-remas pantatnya,& payudaranya,sementara tanganku secara bersamaan dengan Tyo meremas-remas payudaranya dengan keras,sedangkan tangan Bobby asyik meremas-remas rambutnya.

Goyangan,kami semakin menggila,adegan itu berlangsung kurang lebih 20 menit.Tyo yang pertama mengeluarkan magmanya dilubang dubur tante,kedua segera kukeluarkan magmaku didalam vaginanya,tak lama kemudian disusul Bobby yang mengeluarkan di mulutnya.

Setelah puas,kami segera turun dari meja.Tampak,tubuh tante terkulai lemas. Tak,lama kemudian Anton & Rizal mulai membersihkan sisa-sisa sperma kami disekitar lubang dubur,vagina,& mulutnya.Setelah semuanya bersih mereka tak memberi waktu istirahat kepada tante.

Mereka berdua mulai melakukan adegan yang sama dengan kami bertiga lakukan.Kulihat,Boby asyik mrekam adegan mereka layaknya cameramen,sedangkan Tyo,tampaknya berusaha untuk mengatur nafasnya kembali. 20 menit pun berlalu.Anton & Rizal tampaknya sudah selesai menggoyang tubuhnya.

Aku memberikan 5 menit untuk tante mengatur nafas.Setelah nafasnya kembali normal,aku tarik kedua tangannya & suruh dia berlutut.Kami berlima mulai membentu lingkaran & perlahan-lahan berjalan menuju tubuh tante.

Kami,segera mengocok penis masing-masing. Kemudian,kami menyemburkan sperma secara bersamaan kewajah tante. Crooot.... crottt... crooottt.... sperma kami membasahi wajah,rambut,& sebagian dadanya.Kini wajahnya penuh dengan cairan sperma kami.Aku,segera menjejalkan penisku kemulutnya.

Kugerakkan maju-mundur kepalanya.Setelah penisku bersih dari bercak sperma,kini giliran keempat temanku melakukan hal yang sama denganku. Bobby mengambil lap kering,& melemparkannya ke tante.Bobby menyuruh tante untuk mengelap wajahnya dengan lap itu.Sementara aku mengambil gunting & mulai menggunting kemeja yang tadi tante kenakan.

Aku menggunting dibagian bawah dadanya,lalu menggunting kedua lengan kemejanya. Setelah wajah tante bersih,aku melemparkan kemeja & roknya yang telah kumodifikasi sedikit. Kemudian,aku menyuruhnya untuk memakainya kemeja tersebut tanpa BH & kemudian rokknya tanpa CDnya.

Tubuh tante sangat sexy memakai kemeja & roknya yang telah kumodifikasi sedikit. Rizal,berpura-pura menanyakan alamat rumah tante.Tante Vira pun menjawabnya secara terbata-bata.Kami,segera menyuruhnya untuk segera menaiki mobil.Aku duduk ditengah bersama Tante Vira,& Anton. Rizal,segera menghidupkan mesin mobilnya.

Mobil pun melaju meninggalkan gudang tua itu.Selama,didalam mobil aku & Anton bergiliran menciumi bibir tante.Sementara itu tangan kananku meremas dada kiri tante sedangkan tangan kanan Anton meremas dada kanannya. Kira-kira pukul 04.30 kami telah tiba dirumah Tante Vira.

Kami segera menarik paksa tubuhnya turun dari mobil.Aku melihat tubuhnya berjalan terhuyung-huyung lemas & berusaha membuka pintu garasi.Sementara mobil yang kami tumpangi telah jauh meninggalkan rumah Tante Vira. END by asyik-coi.blogspot.com ~ Cerita Sex Tarbaru - Cerita Sex Mesum - Cerita Sex Bergambar ~

Cerita Seks Dewasa hot, Cerita Sex Dewasa terpanas, Cerita sex sedarah terpanas,cerita dewasa terpanas bergambar,cerita hot terpanas,cerita esex,sexdewasa, cerita sex dewasa selingkuh bergambar,ceritasexdewasahot,cerita sex dewasa maret 2016, cerita seks april 2016,cerita sex terpanas 2016, cerita sex bergambar terpanas dan terbaru,cerita esex, sexdewasa, cerita sex dewasa selingkuh bergambar, cerita dewasa yang bikin horny,cerita seks sedarah terpanas, cerita sex terpanas hot,cerita sex dewasa terpanas,cerita seks abg terpanas,cerita dewasa terbaru april 2016, cerita sex terpanas bergambar,cerita sex bergambar2016,cerita terpanas terbaru, cerita sex dewasa terbaru, ceritaesex, cerita seks selingkuh terpanas, ceritasexdewasa,cerita dewasa bergambar terpanas, cerita sex terpanas, cerita horny bergambar, cerita dewasa hot bergambar, cerita hot bergambar selingkuh.

Arsip Blog