Marketing Kartu Kredit



Aku bekerja sebagai tenaga marketing kartu kredit sebuah bank. Tentunya sebagai tenaga marketing aku mendapat target untuk memperoleh aplikasi kartu kredit baru ataupun kartu tambahan. Aku berburu calon pemegang kartu kredit dari kantor ke kantor. Suatu pagi aku hunting di salah satu office building di bilangan Slipi. Dah beberapa hari aku survei disitu dan kemaren ketika makan siang di kantinnya, aku ketemu pak ... (nama gak perlu lah ya) yang mengaku sebagai salah satu top management di satu perusahaan konsultan pelatihan. Karyawannya gak banyak, tapi karena ketika itu ada bonus film BBC tentang binatang purba, si bapak mau menerima aku keesokan harinya. Pagi2 sekali aku dah nunggu di ruang tamu perusahaan tersebut. Si bapak belon dateng, kata salah seorang karyawannya. Mereka mananyakan kepentinganku bertemu si bapak. Aku menjelaskan bahwa aku menawarkan kartu kredit dengan bonus video tentang dinosaurus kalo aplikasi disetujui. Ketika itu video tentang kehidupan binatang purba sedang digemari sehingga semua karyawan (gak banyak sih, total karyawannya cuma 35 orang termasuk driver dan messenger) yang ketika itu mendengarkan penjelasanku menyatakan minatnya untuk mengisi form aplikasi permohonan kartu kredit tersebut.

Ketika si bapak masuk ke ruang, mereka segera menyatakan keinginannya untuk mengajukan aplikasi. Tanpa susah payah, si bapak meng ok kan saja permohonan para karyawan. Hari itu aku mendapat 25an aplikasi, satu jumlah yang besar sekali dari satu company kecil. Si bapak menerbitkan surat keterangan penghasilan bagi semua karyawan yang mengajukan aplikasi. aku menunggu sembari ngobrol ma si bapak di ruang kerjanya. "Wah target bulanan tercapai dong Nes", katanya. "Ya berkat bantuan Bapak lah, kalo enggak gak akan semudah ini Ines mendapatkan aplikasi sebanyak ini". "Aku dapet bonus dong Nes". "Boleh pak, asal jangan minta rupiah ja bonusnya", aku menjawab sembari mengedipkan mataku ke si bapak. Si bapak ganteng juga, usia 40an, badannya atletis. "Ya udah, nanti kita omongin kalo dah bubaran kantor aja ya, kita ketemu enaknya dimana". "terserah bapak, Ines ngikut aja". "Gimana kalo kita ketemu aja di foodcourt mal yang deket Nes". "Boleh pak, jam brapa?" "Ya sekitar waktu magrib lah ya". "Oke pak, sampe nanti, trima kasih banyak ya pak". Aku segera memasukkan semua form aplikasi yang sudah diisi dengan baik, ditandatangani dan dilampiri dengan surat keterangan gaji perusahaan. Karena dapet lumayan banyak, aku kembali ke kantor untuk segera memprosesnya. Teman2ku heran aja kok aku bisa dapate segitu banyak aplikasi kartu kredit baru dimasa seperti sekarang, yang orang dah banyak yang punya kartu kredit. Aku senyum2 saja.

Saat bubaran kantor, aku segera menuju ke mal yang dijanjikan. Dia sudah menunggu aku di depan salah satu counter. Baeknya tempatnya eye catching sehingga aku dengan mudah bisa mengenali si bapak. Dia tampak santai sore itu, dasi sudah dilepas dan tangan panjangnya digulung, macho sekali kliatannya, cuma matanya agak jelalatan memandangi tubuhku. Tadi pagi aku mengenakan pantalon dan blazer, sorenya blazernya kulepas sehingga kemontokan toketku tampak dengan jelas. matanya memandang ke arahku dari ujung rambut ke ujung kaki. Pandangannya fokus ke arah toketku. Aku mengerti apa yang diinginkannya. belahan toketku mengintip dari balik tank topku yang belahan dadanya rendah. Dia menyilakannya duduk, dan aku duduk didepannya. Sengaja aku mengatur pose sehingga aku duduk bersandar pada tanganku yang kuletakkan dimeja. Dengan pose duduk seperti itu, maka belahan toketku makin nampak dengan jelas. "Mo makan apa Nes, biar aku pesenin". Karena aku masi terdiam, dia melanjutkan, "Don't worry, aku yang traktir". "Wah makasi deh pak, kita browsing aja". "Jangan, nanti tempatnya diisi orang, lewat magrib gini biasanya suka penuh ma yang mo makan malem. Panggil aku mas aja yah, dipanggil bapak terus jadi rasanya dah tua". "Ya deh mas", jawabku. Dia kemudian menyebutkan beberapa makanan yang tersedia di foodcourt, aku memilih satu. Segera dia menghilang untuk memesan makanan untukku dan untuk dia sendiri. Cukup lama dia menghilang, kembalinya membawa 2 botol teh dengan gelas berisi es. "Aku beliin teh aja ya, ato kamu mo soft drink". "Biasanya sih air putih aja pak eh mas". "Irit amat sih, cukup gak teh dingin". "Cukup banget mas". Dia menghilang lagi untuk mengambil pesanan makananku. Dia kembali membawa pesananku kemudian dia pergi lagi mengambil pesanannya. Sambil makan dia mengajakku ngobrol. Selama makan, kelihatan sekali dia melahapku dengan pandangannya yang penuh napsu. Aku tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena sering lelaki memandangi tubuhku dengan mata lapar seperti itu, ada kebanggaan juga pada diriku bahwa ternyata aku menarik perhatian lelaki lain.

Setelah makan, "Kita mo kemana lagi neh, masak gini ari pulang. Nonton aja yuk". Aku mengiyakan ajakannya. "suka nonton Nes". "Jarang mas". Filmnya tentang dunia yang ampir kiamat yang menghebohkan itu. Di bioskop, dia mulai mengelus2 tanganku. "Nes, tanganmu halus ya, gak pernah dipake kerja ya", bisiknya. Aku diam saja, menikmati elusan tangannya. Dia makin berani, tanganku digenggamnya. "Mas, lagi nonton aja Ines digandeng2, kalo lagi jalan tadi malah gak digandeng", guyonku berbisik. "Ooh, mau toh digandeng", jawabnya berbisik juga. Seusai nonton, hujan deras, gak masalah karena dia bawa mobil. Aku diantarnya pulang. Sesampai dirumah, dengan menggunakan payung aku membuka pager rumahku dan dia memasukkan mobilnya kr halaman rumahku. "Mas, duduk dulu ya, Ines mo mandi dulu, apa mo mandi sekalian?" pancingku. Dia diem aja, tersenyum. "Kamu tinggal ma sapa disini Nes". "Ma temen2, ngontrak ramean, tapi mreka pada pulang kampung semuanya, jadi Ines sendirian deh. Mas mo nemeni Ines?" pancingku. Dia kembali tersenyum. "Ines mandi dulu ya mas", kataku sambil masuk kamar mandi. Selesai mandi, aku mengenakan kimono dari bahan handuk. Akupun keluar dari kamar mandi. Dia terpana memandangku, kimono itu pendek hanya 15 cm di atas lutut. Paha dan betis menjadi terlihat, tersingkap ketika aku melangkah. Kimononya melekat erat di badanku, sehingga pantatku yang besar, pinggangku yang ramping dan toketku yang membusung tercetak dengan jelas. "Mas, hujannya deras banget, nyetirnya bahaya gak, kalo gak nunggu ja sampe reda ya mas, sekalian nemenin Ines".

Dia duduk disofa nonton tv. Aku menyediakan minuman hangat dan duduk disebelahnya. Karena posisi dudukku, kimono yang aku pakai agak terbuka dan menyembulkan belahan toketku. "Nes, kamu cantik dan seksi sekali", katanya. Aku hanya tersenyum saja mendengarnya. Setelah itu kami ngobrol saja sambil nonton tv. dia mulai mengelus pahaku yang terbuka, disingkapkannya kimono yang kupakai. Napsuku mulai bangkit. Tangannya kubiarkan mengelus makin ke atas dan berhenti di pangkal pahaku, kimono yang kupakai makin tersingkap, aku sengaja merengangkan pahaku sehingga dia dapat melihat CD minimku yang tipis, jembutku yang lebat menyeruak di kiri dan kanan CD serta sedikit dibagian atas CD ku. "jembut kamu lebat ya Nes, napsu kamu pasti besar ya. Aku suka ng3ntot dengan cewek yang jembutnya lebat", katanya dengan napas memburu. "Kenapa begitu mas?" tanyaku. "Kalo cewek jembutnya lebat, minta nambah terus kalo di3ntot, binal dan gak puas2", jawabnya. "Itu bukan binal mas, tapi menikmati", jawabku. "itu sudah tau, kok tadi nanya". Aku hanya tersenyum saja.

Jarinya mulai mengelus pangkal pahaku dan daerah m3m3kku. Aku menggeliat, geli. Dia bangkit dari duduknya dan berlutut didepanku. Pahaku diciuminya bergantian, sambil diremas2nya. Paha kubuka makin lebar sehingga dia makin mudah mengakses daerah m3m3kku. Dia makin beringas, tali kimonoku diurainyanya dan kimonoku dilepasnya. "Wow, Nes, kamu merangsang sekali", katanya sambil memandangi tubuhku yang hanya berbalut bra dan CD. "Kita teruskan diranjang yuk", aku ditariknya bangun dan digandengnya ke kamarku.

Aku merebahkan diri di ranjang, kimono sudah kulepaskan. Dia langsung memelukku. Diciuminya toketku sambil diremas2nya. Karena terhalang bra, tak lama braku sudah terlepas. Dia semakin semangat, diciumnya toketku. Pentilnya diemutnya, digencet dengan gigi dan lidahnya. Makin lama makin kuat emutannya dan makin luas daerah toketku yang diemutnya. Napsuku sudah berkobar2 tapi kubiarkan saja dia terus menggumuli toketku. Dia membenamkan wajahnya di belahan toketku, kemudian bergerak kebawah pelan2 mengarah ke perutku. Puserku dijilatinya. Rasanya geli2 nikmat, napsuku makin berkobar saja. Dia memeluk pinggulku dengan gemas, kecupannya terus turun ke arah CD ku, dia menjilati jembut yang keluar dari samping CDku, kemudian diciumnya daerah m3m3kku dengan kuat. CD ku sudah basah karena napsu yang terus berkobar. "Kamu udah napsu ya Nes, CD kamu sudah basah begini", katanya sambil tersenyum. Dia nampak senang bisa merangsang napsuku sehingga aku tampak pasrah saja dengan tindakannya.

Dia bangkit dan melepaskan semua yang melekat dibadannya. batangnya sudah ngaceng dengan keras, lumayan besar dan panjang. Dia menjepitkan batangnya di belahan toketku, dan digerakkannya maju mundur. Aku membantu dengan mengepitkan kedua toketku menjepit batangnya. Lama2 gerakan maju mundurnya makin cepat, dia merem melek keenakan, "baru dijepit toket aja udah nikmat Nes, apalagi kalo dijepit m3m3k kamu ya". Napasku juga sudah memburu, selama ini aku menahan saja napsuku dan membiarkan dia menggeluti sekujur tubuhku. "Nes, enak banget deh", katanya tersengal2. Kemudian dia berhenti, batangnya digesek2kan di toketku sambil terus meremas2nya. Gesekan batangnya terus kearah perut, sesekali digesekkan ke lubang pusarku. Geli2 enak rasanya.

Akhirnya, selesai juga permainan babak pertama, dia melepas CDku. jembutku yang lebat menutupi sekitar m3m3kku. Dia mengangkangkan pahaku makin lebar. jembutku tersingkap dan nampaklah m3m3kku yang sudah basah sekali. Dia menggenggam batangnya dan digesek2kan ke jembutku, kemudian diarahkan ke m3m3kku. Terasa ada benda tumpul yang keras dan besar menyeruak diantara bibir m3m3kku. "Mas, gede banget batangmu, masukin semua mas, Ines udah pengen di3ntot", rengekku. Dia menggetarkan batangnya sambil dimasukkan sedikit demi sedikit ke m3m3kku. Sekarang kepalanya sudah terjepit di m3m3kku. Aku menjadi belingsatan karena lambatnya proses memasukkan batangnya, padahal aku udah pengen dienjot keluar masuk dengan keras. "Ayo dong mas, masukin semua, enjot mas, Ines udah gak tahan nih", kembali aku merengek minta dienjot. Dia hanya tersenyum saja. Pelan tapi pasti batangnya ambles ke dalam m3m3kku, sudah masuk separo. Terasa sekali batang besarnya mengganjal m3m3kku. Aku menggerakkan otot m3m3kku meremas2 batangnya biar dia gak tahan dan segera menancapkan batangnya semuanya ke dalam m3m3kku. Strategiku berhasil, dia segera menghunjamkan batangnya sehingga masuk semuanya. "Duh mas, nikmatnya, batang mas udah gede panjang lagi, masukknya dalem banget. m3m3k Ines sampe sesek rasanya", kataku. "Tapi enakkan", jawabnya. "Enak banget mas, sekarang dienjot yang keras mas, biar tambah nikmat", kataku lagi. Masih dengan pelan2 dia mengenjotkan batangnya keluar masuk. Sewaktu keluar, yang tersisa di m3m3kku hanya tinggal kepalanya saja, kemudian dienjotkan kedalam sekaligus sehingga nancap di bagian m3m3kku yang paling dalam. "Enak mas, kalo dinjot seperti itu, yang cepat mas", rengekku lagi sambil terus mengejang2kan otot m3m3kku. Dia pun menjadi belingsatan karena remasan otot m3m3kku sehingga enjotannya menjadi makin cepat dan makin keras. "Gitu mas, aduh enak banget deh mas, terus mas, terasa banget gesekan batang mas ke m3m3k Ines, nancepnya dalem banget lagi, terus mas, yang cepat", kataku terengah2 keenakan. Dia mempercepat enjotan batangnya, caranya masih sama, kalo ditarik tinggal kepalanya saja dan terus dienjotkan kembali kedalam dengan keras. Lihai sekali cara ngenjotnya, itu membuat aku menjadi liar, pantatku menggelinjang saking nikmatnya dan aku terus merintih kenikmatan sampai akhirnya aku tidak dapat menahan lebih lama, "Mas,
Ines nyampe mas", jeritku. Dia masih bertahan juga dengan terus mengenjotkan batangnya keluar masuk dengan caranya tadi. Nikmat sekali rasanya.

Sampe akhirnya, dia menarik batangnya keluar dari m3m3kku. Kembali dia bergeser dan menjepitkan batangnya yang berlumuran dengan lendir dari m3m3kku di toketku. Aku menjepit batangnya dengan toketku dan dia menggerakkan maju mundur.Karena panjangnya, ketika dia mendorong batangnya maju, kepalanya menyelip kedalam mulutku, kuemut sebentar sebelum dia memundurkan batangnya lagi, berulang2. "Nes, nikmat banget, aku mau ngecret dimulutmu ya Nes", katanya sambil terus memaju mundurkan batangnya. "Kenapa gak dingecretin di m3m3kku aja mas, aku lagi gak subur kok", jawabku. "Nanti ronde kedua", jawabnya sambil dengan cepet memaju mundurkan batangnya. toketku makin keras kujepitkan di batangnya. Akhirnya dia mendorong kantolnya masuk ke mulutku, segera kuemut dengan keras. "Nes, aku ngecret Nes", teriaknya sambil mengecretkan pejunya kedalam mulutku. Aku segera menggenggam batangnya dengan tanganku, kukocok pelan sambil terus mengemut kepalanya. pejunya nyemprot beberapa kali sampe habis, banyak banget ngecretnya sampe meleleh keluar dari mulutku. Kutelan pejunya tanpa merasa jijik. "Aduh Nes, nikmat banget ya ng3ntot sama kamu. Kamu nikmat kan", katanya terengah". "Nikmat mas, Ines mau lagi di3ntot", jawabku lemes.Setelah nafsunya menurun, batangnya melemas. "Mas, lemes aja batangnya udah gede, gak heran kalo ngaceng jadi gede banget", kataku. "Tapi kamu suka kan", jawabnya. "Suka banget mas. Ines suka kalo di3ntot batang yang besar panjang seperti punya mas". Dia memelukku dan mencium pipiku. "Kita istirahat dulu ya Nes, kalo udah seger kita ng3ntot lagi", karena lemes abis di3ntot akupun tertidur

Gak tau berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena dia memelukku. Bibirku segera dilumatnya dengan penuh napsu. Aku meladenin ciumannya dengan penuh napsu juga, napsuku sudah mulai bangkit dicium dengan liar seperti itu. Dia makin erat memelukku, tangan kirinya meremas pinggangku. Kemudian ciumannya beralih ke leherku. "Geli mas", kataku sambil menengadahkan kepalaku sehingga dia makin leluasa menciumi leherku. Tangan kanannya mulai meremas toketku dan memlintir pentilku. Pentilku sudah menegang dengan keras, napsuku makin memuncak. Puas dengan leherku, dia turun lagi ke belahan toketku, ke 2 toketku diremas2nya. Dia menciumi belahan toketku, kemudian ciumannya merembet ke pentilku dan diemutnya dengan gemas, sementara tangannya masih terus meremas2 toketku.

"Geli mas", erangku keenakan. Emutannya makin keras, dan remasannya juga makin kuat. Pentil yang satu diplintir dengan jempol dan telunjuknya. "Mas, geli", rengekku lagi. Tapi dia tidak memperdulikanku, terus saja dengan remasan dan plintiran. Napsuku sudah memuncak,aku menggeliat2 keenakan, m3m3kku sudah basah dengan sendirinya. Aku tidak mau kalah. batangnya kuremas. Sudah ngaceng, keras sekali. "Mas gedenya, pantes kalo sudah masuk m3m3k Ines jadi sesek banget rasanya", kataku sambil meremas2 batangnya. "Mas, terusin yuk", ajakku. "Udah napsu ya Nes", jawabnya. Aku dipeluknya sambil menciumi leherku dan telingaku sampai aku menggelinjang kegelian, toketku kembali diremas2nya.

Jempol dan telunjuknya memlintir2 pentilku yang sudah mengeras karena napsu sambil menciumi leherku lagi. Aku menjadi menggeliat2 kegelian. Ciumannya kemudian pindah ke bibirku, dilumatnya bibirku dengan penuh napsu. Aku menyambut ciumannya dengan tak kalah napsunya. Aku ditindihnya, ciuman kembali keleherku, batangnya yang keras menggesek2 pahaku. Puas dengan leher, dia kembali menyerang toketku. Dia menciumi belahan toketku dan kemudian mengemut pentilku. Terasa pentilku dikulum2 dan dimainkan dengan lidahnya. "Mas, geli", kataku melenguh, tapi dia tidak perduli. Dia terus saja mengulum pentilku yang mengeras sambil meremas toketku. Dia melakukannya bergantian antar toket kiri dan kanan sementara batangnya terus saja menggesek2 pahaku, tanpa terasa aku mengangkangkan pahaku.

Dia kembali menciumi leherku dan mengarahkan kepala batangnya ke m3m3kku. Diputar2kannya kepala batangnya dijembutku yang lebat. Aku sudah gak tahan, segera kuraih batangnya sambil mengangkangkan pahaku lebih lebar lagi. "Mas, gedenya, keras banget", kataku mengarahkan kepala batangnya ke m3m3kku. Diapun menggetarkan batangnya sehingga kepalanya mulai menyelinap masuk ke m3m3kku. Kepalanya sudah terbenam didalam m3m3kku. Terasa batangnya yang besar mulai mengisi m3m3kku pelan2, nikmat banget rasanya. "Terus masukin mas, enak banget deh", erangku keenakan. Tapi dia menghentikan gerakan batangnya, hanya digerakkan pelan2, sehingga hanya kepalanya saja yang menancap. "Mas terusin dong, masukin semuanya mas biar sesek m3m3k Ines, ayo dong mas", protesku. Tapi dia tetep melakukan hal yang sama sambil menciumi ketekku. "Geli, mas, ayo dong dimasukin semua batangnya mas", rengekku terus. Tiba2 dia menghentakkan batangnya dengan keras sehingga batangnya meluncur kedalam m3m3kku, amblas semuanya. "Akh, mas" erangku kaget. Dia diam sesaat, membiarkan batangnya yang besar dan panjang itu menancap semuanya di m3m3kku. Kemudian mulailah enjotan nikmatnya, mula2 perlahan, makin lama makin cepat batangnya keluar masuk m3m3kku. "Enak Nes", tanyanya sambil terus mengenjot m3m3kku. "Enak banget mas, batang mas kan besar, panjang dan keras banget. m3m3k Ines sesek rasanya keisi batang mas. Gesekannya terasa banget di m3m3k Ines. Mau deh Ines di3ntot tiap malem", jawabku. "Bener nih", katanya dengan penuh semangat mengenjotkan batangnya keluar masuk.

Kemudian dia merubah posisinya tanpa mencabut batangnya dari m3m3kku. Kaki diangkat satu keatas dan dia merebahkan dirinya miring. Enjotan batangnya terus dilakukan, dengan posisi itu rasanya batangnya masuk lebih dalem lagi dan gesekannya lebih hebat lagi ke m3m3kku. Gaya seperti ini pernah aku lihat di film bokep. Dia terus mengenjotkan batangnya, sementara kedua toketku diremas2nya bergantian. Pentilku juga diplintir2 perlahan. Nikmat banget rasanya di3ntot seperti itu, "enak mas", erangku. Enjotannya makin lama makin cepet dan keras. "terus mas, enak banget", erangku untuk kesekian kalinya. "Mas nikmat gak?" tanyaku. "Enak banget Nes, empotan m3m3kmu kerasa sekali, batangku serasa diremes dan diisep, lebih nikmat dari emutan mulutmu", jawabnya sambil terus mengenjotkan batangnya keluar masuk. "Terus mas, lebih keras mas, Ines hampir nyampe", erangku lagi. Dia terus mengenjotkan batangnya keluar masuk, makin cepat. Aku merintih2 keenakan, akhirnya aku tidak bisa menahan lebih lama, "Mas, Ines nyampe, akh", terasa m3m3kku berkedut2 meremas batangnya yang masih keras sekali itu. Tubuhku mengejang. Dia menghentikan enjotannya dan menurunkan kakiku. Aku terbaring mengangkang dengan batangnya yang masih menancap di m3m3kku, dia kembali ke posisi semula, menelungkup diatasku. "Mas, lemes banget deh", lenguhku. "Tapi enak kan", jawabnya. "Enak banget mas, terusin aja mas, kan mas belum ngecret", jawabku terengah2. "Mas, hebat banget deh ng3ntotnya, belum pernah Ines di3ntot dengan gaya seperti tadi, enak banget mas", kataku lagi.

Dia kembali mendekapku dan batangnya mulai dienjotkan lagi keluar masuk m3m3kku, perlahan. Aku mulai mengedut2kan otot m3m3kku meremas batangnya yang sedang bergerak keluar masuk m3m3kku. Dia melumat bibirku, satu tangannya meremas2 toketku sedang tangan satunya lagi menyangga badannya. Pentilku juga diplintir2nya, napsuku mulai bangkit lagi. "Enak mas, terus yang kenceng ngenjotnya mas", erangku. Sambil terus melumat bibirku, enjotan batangnya dipercepat. Dia menyelipkan kedua tangannya kepunggungku. Aku pun memeluk dan mngusap2
punggungnya yang basah karena keringat. batangnya makin cepat dienjotkan. Setiap kali masuk batangnya dienjotkan dengan keras sehingga nancep dalem sekali di m3m3kku, makin lama makin cepet. "Nes, m3m3kmu enak banget, empotan m3m3kmu kenceng banget Nes", erangnya. "Mas, terus mas, hebat banget deh mas ini, Ines sudah mau nyampe lagi, yang cepet mas", akhirnya kembali aku mengejang sambil melenguh "Mas, Ines nyampe, mas..." Dia terus saja mengenjotkan batangnya keluar masuk dengan cepat sampe akhirnya diapun mengejang sambil menancapkan batangnya sedalam2nya di m3m3kku, "Nes, aku ngecret", bersamaan dengan itu terasa pejunya nyemprot dengan dahsyatnya dalam m3m3kku. Nikmat banget rasanya walaupun sekarang lebih lemes katimbang tadi. Beberapa saat kami terdiam, saling berpelukan menikmati permainan yang baru usai. Dia menciumi leherku, dan aku mengusap2 punggungnya. Nikmat banget ng3ntot dengan dia. Kemudian dia mencabut batangnya yang sudah mengecil dari m3m3kku, batangnya berlumuran peju dan cairan m3m3kku. "Nes, tidur yuk", katanya sambil berbaring disebelahku, tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Akupun terlelap lagi. Lemes, cape tapi nikmat banget, aku udah nyampe 3 kali dalam 2 permainan. Padahal aku pengennya di3ntot 4 kali, gak tau deh kesampaian atau tidak.

Semaleman kita berdua tertidur, aku terbangun ketika hari sudah mulai remang2 terang. Aku segera ke kamar mandi. Mandi dan membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi aku masih bertelanjang bulat sambil mengeringkan badanku dengan handuk. Aku masuk ke kamar, lampu kamar sudah menyala tapi dia tidak kelihatan. Tiba2 dari belakang dia memelukku, rupanya ketika tau aku masuk dia bersembunyi dibelakang pintu. "Ngapain mandi Nes, kan masih mau satu ronde lagi", dia mencium leherku sambil meremas2 kedua toketku dengan napsu. batangnya yang sudah mengeras digeser2kannya ke pantatku. Aku menggelinjang kegelian, dia terus saja menciumi leherku. Kemudian ciumannya bergeser kebawah, kepunggungku sampai akhirnya ke bongkahan pantatku. Aku hanya mendesah2 ketika dia menyapu bongkahan pantatku dengan lidahnya. Pahaku direnggangkannya dan terasa lidahnya menyapu m3m3kku dari belakang. "Mas, nikmat banget", kataku sambil menunggingkan pantatku kebelakang. "Jilat terus mas, jilatin semuanya", kataku terengah. Dia membuka belahan pantatku dan menyapu lobang pantatku sampe ke memkku. Dia menjilati m3m3kku yang sudah basah kuyup saking napsunya. Nikmat banget digeluti pagi2 seperti ini. Aku sempat menjerit kecil ketika dia mencolok m3m3kku dengan lidahnya. Gak cuma batangnya yang nikmat, lidahnya juga bisa bikin aku keenakan. Kemudian dia berdiri lagi, ciumannya kembali bergeser keatas, kepunggungku. Kedua tangannya meremas2 toketku dari belakang, beberapa kali aku tersentak nikmat ketika ke2 pentilku diplintir2 dengan jarinya. Tanganku menjalar kebelakang, meremas batangnya yang sudah keras sekali dan mengurutnya dari atas kebawah. Aku dibalikkannya sehingga berhadapan dengan dia, toketku mulai dijilatinya dan pentilnya diisap2nya bergantian. Napsuku makin memuncak ketika dia menyodok2 m3m3kku dengan telunjuknya. Aku berdiri mengangkang, "enak mas", erangku.

Permainan dihentikannya, dia duduk diranjang dengan kaki agak mengangkang, aku segera berlutut diantara kedua kakinya. batangnya berdiri tegak dan keras sekali sehingga tampak urat2nya menonjol. Segera aku menggenggam batangnya dan dengan ganas aku ciumin batang itu. Terdengar dia sedikit mengerang sembari merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Akupun segera beraksi. Kujilati batangnya itu dari pangkal sampai kekepala. Lalu kuisap, kukulum dalam mulut sementara tangan kiriku mengelus-elus biji pelirnya terasa beberapa kali tubuhnya tersentak karena nikmat. Lalu kujilati biji pelirnya. Terdengar, "Aaahhkk", dia mengerang kenikmatan, mendengar itu aku tambah gairah. Terus ku jilati biji pelirnya. Sementara tangan kananku mengurut-urut batangnya. Semakin lama aku semakin lost kontrol. Dengan kedua tanganku ku angkat kedua pahanya sehingga kedua lututnya hampir menyentuh dadanya. Dengan posisi demikian aku leluasa menjilati batangnya. Dari ujung kepala sampai ke sekitar biji pelirnya. Lalu aku menjilat semakin kebawah. Kebawah. Dan akhirnya ujung lidahku menyentuh pantatnya yang berbulu itu. Segera
lidah ku menari-nari dipantatnya. Terasa sekali tubuhnya beberapa kali bergetar. "Aakkkh...Oougghh", erangnya. Mendengar itu aku tambah bernapsu. Kucolok-colok lobang pantatnya dengan ujung lidahku. Semakin dalam ku julurkan lidahku ke dalam lobang pantatnya. Semakin bergetar tubuhnya, terasa beberapa kali batangnya yang ku kocok berdenyut-denyut. Rupanya dia sudah tidak tahan.

Lalu ia memegang tanganku dan membimbing ku naik ke atas ranjang. Aku disuruh menungging diatas ranjang. Rupanya dia menginginkan dog gy style. Sebelum mencobloskan batangnya, dia sekali lagi memperhatikan bentuk m3m3k ku dari belakang, aku pun menanti penuh harap. Dan akhirnya terasa batangnya menempel dibibir m3m3kku dan masuk perlahan-lahan ke dalam m3m3k ku, terasa seret tapi nikmat. "Oohh.. Nggk... Ahhh", desisku ketika seluruh batangnya amblas. Lalu ia mulai melakukan gerakan erotisnya. Nikmat sekali. Dan aku cepat sekali nyampe dalam posisi demikian, sepertinya dijilati dan menjilati merangsang napsuku sedemikian rupa sehingga baru dienjot sebentar saja aku sudah nyampe. Rupanya dia belum mau nyampe.

Lalu ia menyuruh aku berbaring miring. Sementara dia berada dibelakang punggungku. Aku segera menekuk kedua lututku. Dan membiarkan dia mencobloskan batangnya ke dalam m3m3kku. Nikmat sekali, dia mahir dengan macem2 gaya yang nikmat rupanya. Dalam posisi demikian tangan kanannya leluasa meremas-remas toket ku dari belakang. Hentakan batangnya makin lama makin keras dan cepat. Aku tahu kalau dia hampir ngecret. "Nes, ku mau ngecret dimulutmu lagi", katanya. "Kenapa mas, kan lebih enak ngecret dim3m3kku", jawabku. Dia menghentikan gerakannya. Lalu aku mencabut batangnya dari m3m3kku. Dan dengan gesit akupun berlutut disampingnya. Dia tersenyum. Aku segera menjilati batangnya yang berlendir itu. Lalu kuisap-isap batang yang keras dan berurat itu. "Ooh.. Nggkk..Aakk", erangnya keenakan. Aku semakin mempercepat gerakan kepala ku naik turun, beberapa kali dia mengerang sembari mengeliat, tapi belum ngecret juga. Lalu aku membasahi telunjuk tangan kiriku dengan ludahku, setelah itu kucucukan telunjuk jari ku itu ke dalam pantatnya.

Tampak tubuhnya sedikit tersentak ketika aku menekan jariku lebih dalam lagi kelobang pantatnya. Rupanya dia merasakan nikmat luar biasa dengan isapanku pada batangnya dan sodokan jari ku di pantatnya. Hingga, "Aaahh... Aaakkhh", dia mengerang hebat bersamaan dengan menyemburnya pejunya dalam mulutku. Crott.. Croot, banyak sekali sehingga kembali meleleh keluar dari mulutku. pejunya ku telan. Lalu aku mengeluarkan batangnya dari dalam mulutku. Tampak sedikit sisa-sisa pejunya masih keluar. Dan aku segera menyapunya dengan lidahku. "Hebat... Hebat sekali kamu Nes." pujinya, aku hanya tersenyum saja.


Bu Bidan Desaku



Namanya widiastuti, aku memanggilnya bu widi atau bu bidan karena dia adalah bidan desa tempatku sekarang tinggal, umur 35 th dan sudah 8 th menikah tapi belum dikaruniani anak. awalnya kenal dengannya kurang lebih 4 th yang lalu yang sebelumnya lebih dulu kenal dengan suaminya yang bernama yanto yang sama sama berprofesi pemasok onderdil mobil.
singkat cerita pada tahun pertama pernikahanku, istriku melahirkan seorang bayi laki laki dan persalinannya dibantu bu bidan widi.semua berjalan biasa saja sampai ketika itu jam 11 malem 2 jam setelah proses persalinan normal istriku aku disuruh mengambil obat obatan buat anak dan istriku dirumah bu widi.tanpa banyak pikir akupun bergegas kerumah bu widi yang berjarak 50m.lampu ruang tamu n tempat prakteknya masih menyala, agak ragu ragu karena takut mengganggu,lalu....

Ting toooongggg
Pintu tempat praktek bu widi tak lama terbuka
"eh mas fahmi,masuk mas"sambut bu widi
"iya bu"balesku
"duduk dulu mas,tak ngracik obat dulu"sambung bu widi
"ya bu"aku cuma ber-iya iya aja
"enak ya mas udah punya istri cantik sekarang sudah ada dede juga,cowok lagi"bu widi mulai buka obrolan sambil ngracik obat
"alhamdulillah bu,dikasih amanah sama sang kholiq"jawabku
"aku juga pengin banget sebenernya"katanya
"ya tinggal bilang aja sama mas yanto donk bu"lanjutku
"emang mas yanto kemana bu koq gak keliatan"aku coba ganti topik obrolan
"tadi sih telpon katanya mo ngecek barang yang baru datang,jadi pulangnya telat"jawab bu widi
"lo bukannya mas juga ngeceknya sama kaya mas yanto?"sambungnya
"iya sih kemarin udah sepakat mo bareng ke tokonya tapi aku tadi pagi dah nyuruh toni buat ngecek coz aku bakal ndampingi istri mo melahirkan"jawabku
"duh bertanggung jawab banget kayaknya mas fahmi ini"lanjutnya sambil tersenyum kepadaku
"hehe...gitu deh bu"
Tak lama obat pun selesai diracik
"ini mas obatnya,aturan pakainya ada di bungkusnya ya mas"kata bu widi
"iya bu makasih,permisi sekalian bu"kataku
"iya mas.........mas yanto kayaknya gak bisa ngasih anak deh"deg jatungku serasa berhenti
Kenapa bu widi bilang begitu ya?pikirku
"ah jangan bilang gitu bu,belum diamanahi mungkin"
"emang iya koq mas,ya nasibku mungkin,andai saja mas yanto kaya mas fahmi pasti enak deh"senyumnya genit
"ya usaha n tawakal aja bu....eh enak apa maksudnya neh bu"tanyaku
"ya enak...enak jadi istrinya pasti dikelonin terus"
"sama istri sendiri ini kan gak apa apa toh bu"
"iya sih tapi aku jadi ngiri deh"sahut bu widi
Sejenak aku mikir nakal
"ngiri minta dikelonin juga?"candaku setengah mancing
"boleh kalo mas fahmi ada waktu"jawabnya seraya tersenyum
"ah udah ah malah ngelantur,aku permisi bu udah malem"
"ok mas,ati ati"jawabnya
akupun segera beranjak takut ada setan lewat....hehe

Setelah kejadian itu entah kenapa bu widi selalu datang kerumah dengan berbagai macem alesan medis dan bahkan sering ngasih sesuatu ke anakku yang masih bayi dan selama itu sikapnya ke aku terbilang biasa aja sampai waktu itu hari senin jam 09.00 pagi hari,aku yang kebetulan malamnya habis cek dropan barang sengaja gak ke toko karena kebetulan babysitterku lagi ada hajatan dirumahnya dan anakku sudah berusia 4bulan, jadi sudah agak mudah dimomong
"lagi apa mas"sms masuk dihapeku
"ini siapa ya?"balesku
"widi mas...gimana kabar?"
"eh bu widi...baik bu,ini lagi momong anak"balesku
"loh ibunya kemana?"balesnya
"kerja bu,udah aktif lagi.eh tau nomorku dari mana?"
"dari hape mas yanto"
Aku tidak membales sms terakhirnya karena harus nimang anak di ayunan coz udah terlelap.
Sudah 4bulan lamanya sejak obrolan dimalam itu
"saya mau ngecek kesehatan nabil mas,boleh?"smsnya lagi
"boleh,bukannya kemarin udah ya bu?"
"ada yang kelupaan mas"
kemudian
tok tok took
Assalamu'alaikum.....
Wa'alaikum salam.....
Aku bergegas ke arah pintu dan membukanya
"eh bu widi,mari masuk"kataku
Tak lama anakku pun di perikasanya
"susunya pake ASI apa formula mas?"tanyanya
"sekarang formula bu,
ASI cuma bertahan 2 bulan habis itu gak mau lagi"jawabku
"gak mau apa gak boleh sama bapaknya?"candanya
"hehe bisa aja bu widi ini emang anakknya gak mau bu mungkin ASInya gak lancar"
"owh...gitu ya"
"gimana yang katanya mau ngelonin aku"ucap bu widi tiba tiba
"eh eeeeehh...mmmmmm waktu itu cuma becanda bu,dari pada bingung mau ngobrol apa"sahutku sambil cengar cengir
"loh padahal aku ngarepnya beneran loh"kali ini tatapannya serius
Aku pun terdiam bingung mau mgomong apa
"tapi mana mungkin juga mas fahmi ini mau sama aku yang udah tua"
"kalo dikasih sih ya mau mau aja toh bu"aku menimpalinya dan pikirku selisih umurku hanya 6tahun dibawahnya.

Bu widi menoleh ke aku yang sedang duduk di sofa kasur diruang keluarga, kemudian meletakkan anakku yang tadi digendongnya di ayunan, dia menghampiriku lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, dia melumat bibirku dan memainkan lidahnya dirongga mulutku, Aku tersentak kaget dan tak berapa lama akupun balas pagutannya dengan gigitan kecil mesra, bu widi melepaskan ciumannya dan berkata
"aku pengin ngrasain spermamu mas"
Aku lanjutkan mencium bibirnya dan begitu lama kami berciuman, tangankupun mulai aktip bergerilya di sekitar dadanya dan memainkan gundukan gunung kembarnya yang masih tertutup blazer n dalemannya...
Wah gede banget, pikirku. kuhentikan ciumanku ku buka blazer n kusingkap tanktopnya, ternyata gak pake BH, langsung ku remes gunung kembar itu dan kupilin puting susunya sementara bibirku dan bibir bu widi masih saling berpagutan
"aaaaahhhhh...massssssshhh" Bu widi mendesah saat aku mulai menjilati dan mengenyot susunya yang kiri sedang susu kanannya kuremas dan kupilin puting pinknya. bu widipun tak tinggal diam, tangannya menggrayangi celana pendekku, mengusap ngusap kontolku yang sudah berontak tegang di celana pendekku yang tak berCD, sambil mendesah coz teteknya ku mainin, bu widi menyusupkan tangannya kedalam celana pendekku yang berkolor mencari pusaka tersembunyi. bu widi mendorong ku agar tiduran sementara mulut dan tanganku masih asik maenan susu gede bu widi.
Bu widi memutar badannya hingga posisinya diatasku dan susunya dibiarkan menggelantung dikenyot aku. bu widi memlorotin kolorku dan terpampanglah pusakaku, aku hanya memakai singlet aja setelahnya. Bu widi mencabut susunya dari seponganku dan merangkak menuju kontolku, mengelusnya dan mengocoknya sebentar lalu dikulumnya kontolku hingga membuatku merinding, sementara aku pun menyibak roknya dan terkaget bu widi gak pake CD, Langsung saja ku jilat memeknya yang udah basah, ku jilat memeknya dan ku gigit ringan itilnya namun jeritannya tak terdengar keras coz mulutnya dipenuhi batang kontolku dan kami pun ber69 cukup lama hingga "aaaaaaaaahhhhhhhhh
sssssshhhhhh..massssssshhh"
memeknya ditekankan ke wajahku sambil badannya bergetar hebat dan keluarlah cairan khas wanita orgasme. bu widi bangkit melucuti pakaian dan roknya yang masih menempel dibadannya sedang aku masih terlentang di sofa dengan kontol yang berdiri tegak, bu widi menaikiku dan posisi kami behadapan, dipegangnya kontolku diarahkan ke memeknya dan bleeeessssss...ambles semua kontolku ke dalam memeknya yang basah, didiamkanya sebentar dan bu widipun mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur perlahan lahan memompa kontolku didalam memeknya dan lama kelamaan goyangan maju mundurnya mulai dipercepat dan semakin cepat dan akupun mengimbanginya ikut bergoyang mengikuti irama goyangan pantat bu widi, kedua tangannya mengamit tanganku dan meremaskan di teteknya, bu widipun mengeluh menengadahkan kepalanya dan mencengkeram kuat tanganku yang sedang meremas kedua teteknya
"uuuuuuuuhhhhhhgggggg masssshhh........."
bu widi ambruk didadaku, dia tersenyum dan, mencium lembut bibir sementara aku menggoyang goyangkan kontolku yang masih terbenam di memeknya yang sudah orgasme dua kali, bu widi bangkit lagi jongkok diatasku dengan memeknya masih tertusuk kontolku yang masih tegar, dia naik turun diatasku sambil merem melek menikmati surga dunia, sementara teteknya juga ikut naik turun akibat gerak naik turun memompa kontolku, kali ini aku diam saja menikmati pemandangan itu. Sekali kali dimentokin kontolku hingga menyentuh rahimnya sambil dia goyangin pantatnya ke kanan kekiri dan tak lama
"ouuuuchhhh masssssshhh..."
Kontolku basah oleh cairan memeknya yang orgasme yang ketiga kalinya. Bu widi ambruk di dadaku lagi dengan kontolku masih menancap tegang di memeknya
"mas ayo digoyang lagi"
Aku tak menyahutnya coz Aku langsung menaik turunkan pantatku, kontolkupun naik turun di memeknya, tiba tiba bu widi bangkit dan nungging sambil berpegangan sandaran sofa kasur, Akupun paham langsung mengarahkan kontolku ke memeknya dari belakang, aku genjot kencang tak pedulikan erangan dan racauan bu widi, ku remas kupukul pukul pantatnya
Dan tak lama...
"bu..aku mau keluaaaaaaarhhhhhhh"
"didalam ajaaaahhhh...akk...uuuhhh jugaaaaaah mau keluaaaar ohhhhhh"
Crot crot croooooooooottttt
spermaku muncrat didalam memek bu widi, Kontolku ku biarkan dimemeknya,ku peluk bu widi dari belakang, kucium tengkuknya sambil kuremas gemas kedua teteknya
"emang gak apa apa bu?"
"gak apa apa mas,tenang aja,aku numpang ke kamar mandi dulu ya mas"

Ku cabut kontolku, kupandangi goyangan pantatnya saat telanjang menuju kamar mandi buat bersih bersih, tak lama bu widi kembali dari bersih bersihnya, kupandangi teteknya yang menggelayut besar didadanya dan kubiarkan Bu widi merapihkan penampilannya lagi, sementara aku cuma pake tisu basah anakku untuk bersihin kontolku dan kupakai lagi kolorku
"makasih ya mas, aku pulang dulu ya"
Bilangnya sambil mengecup
Bibirku dan lalu berlalu dari hadapanku.

Hampir seminggu ga ada kabar,pada hari minggu istriku ditelpon bu widi katanya hari ini jadwalnya imunisasi tahap 5. istriku tak seperti biasa, hari itu mengajakku untuk mengimunisasi anakku dirumah bu widi dan aku pun menggendong anakku, setelah diimunisasi pas mau pulang istriku kebelet pipis dan memohon ijin buat pipis di wc tempat praktek bu widi. Kesempatan itu bu widi bilang ke aku kalo dia udah telat mens, aku kaget tapi bu widi malah tersenyum gembira.
sesampainya dirumah aku berusaha menghilangkan pikiran bu widi yang telat mens setelah berhubungan denganku, hampir tak bisa menghilangkan pikiran andai istriku tidak mengajak bersetubuh.
hari itu hari senin jam 4 sore aku pulang ke rumah dan seperti biasa aku melewati jalan pintas beraspal yang melintas melingkari rumah bu widi dari belakang sampai kedepan halaman rumahnya coz rumah bu widi terletak di pojok jalan komplek tempatku tinggal. ku lihat bu widi sedang membuang sampah dibelakang rumah dan melihatku melintas, dipanggilnya aku
"udah pulang mas???koq pake motor???"sapanya
"iya bu, lagi pengin motor aja biar irit"jawabku sambil tersenyum.
"mampir sini mas, mas yanto lembur lagi cek dropan barang"
"ga enak bu takut dilihat orang nanti bisa celaka"
"masukin aja motornya lewat dapurku mas, ayolah mas, mau ya????"pintanya sambil tersenyum genit
"oke deh bu"sahutku segera memasukkan motorku lewat dapur bu widi yang tembus ke garasi mobilnya. bu widi membuatkan es sirup kesukaanku dan ketika menyuguhkan es sirup, teteknya terpampang jelas di wajahku coz dia memakai kaos berkerah rendah, langsung ku tarik tangannya hingga bu widi tersungkur ke arahku, kucium bibirnya dengan ganas, kukulum lidahnya dan kumainkan lidahku di rongga mulutnya, bu widi membalas pagutanku. begitu lama kami berciuman, bu widi melepaskan ciumannya
"diminum dulu mas kan cape n haus"
akupun meminum es sirup dan kulihat bu widi membuka kaosnya dan terlihat jelas teteknya yang gede tanpa tersanggah BH, es sirup rasa susu cap nona neh batinku. kuletakkan gelas es sirup yang telah habis ku minum langsung ku soso tetek gede yang ngganggur dihadapanku, ku kenyot kencang sampai bu widi melenguh, kuremas dan kupilin putingnya yang sudah mengeras sementara itu bu widi juga sibuk melepas leggingnya dan...shiiiiiiit, dia gak pake cd...anjriiiiit. ku hentikan kenyotanku, kududukkan bu widi dan reflek kakinya langsung mengkangkang, kujilat memek n itilnya, tersebak bau khas organ memeknya, kumasukkan lidahku ke dalam memeknya sambil tanganku meremas kedua teteknya tanpa sadar bu widi mendesah menikmati lubang memeknya ku jilati, bu widi menekan kepalaku ke memeknya hingga membuatku susah bernafas tapi kutahan coz aku terus menjilati memeknya dan kuremas serta kupilin puting teteknya agar bu widi semakin dekat dengan kenikmatan orgasmenya
"aaaaaaaaaccchhhhhhhh..."
tubuhnya menggelinjang kuat ketika cairan wanitanya keluar membasahi memeknya, aku segera bangkit dan melepas celana jeansku beserta cd dan jaket yang kupakai, kubiarkan kaos tetap menempel ditubuhku,ku arahkan kontolku ke memek bu widi yang masih terlentang di sofa ruang keluarganya, kali ini dengan hati hati coz bu widi mungkin sedang mengandung janin hasil hubunganku dengannya. perlahan namun pasti kontolku masuk keliang memeknya, aku mulai memaju mundurkan pantatku dan lama lama mulai kupercepat dan terdengan bunyi keciprak gerakan kontolku yang menusuk nusuk memek yang sudah sangat basah, nampak bu widi juga ikut menggerak gerakan pantatnya mengimbangi gerakanku. ku remas kedua teteknya yang terombang ambing akibat gerakan pompa kontolku dimemeknya, tangan bu widi mencengkeram pantatku seraya membatuku memaju mundurkan kontolku. bu widi mengejang, pahanya mengapit pingganggku kencang, dia melenguh kencang dan kontolkupun terasa tersembur cairan hangat memek bu widi orgasme. bu widi lunglai tapi aku melanjutkan mengobel memeknya dengan kontolku, kupercepat gerakanku dan tak lama kontolku hendak mengeluarkan lahar panas, ditekannya pantatku dalam dalam dan kurasakan kontolku mentok dirahimnya dan crooot croooot crooottt..spermaku meluncur deras di dalam memeknya. masih kubiarkan kontolku didalam memek bu widi, kucium bibir bu widi, kubelai mesra rambutnya. disingkapnya kaosku, dicupangnya bekas cupangan istriku di dadaku.
"buat oleh oleh mas"candanya genit
aku tersenyum sambil mencubit puting teteknya, ku cabut kontolku, tiba tiba dipegangnya kontolku, dijilatnya dan dikulumnya kontolku hingga bersih, ngilu rasanya
"biar gak usah ke kamar mandi mas"timpal bu widi
"gak jijik sih bu?"tanyaku tersenyum
"enggaklah mas"jawabnya sambil makein cd ku, sebelum kontolku dimasukkan ke cd, diciumnya kontolku

"makasih ya sayaaang"ucapnya sambil mengusap lembut kontolku lalu dimasukkannya ke cd. kupake jeans n jaketku sedang bu widi ke kamar mandi lalu mengambil bh n cd, memakainya lalu kaos n legging baru dipakai. aku pamit pulang, mengambil motor dan keluar lewat garasi mobil.
hari hari selanjutnya tiap suaminya gak ada dirumah n tiap ada kesempatan selalu melakukan hubungan sex. hal ini tanpa dicurigai suaminya karena bu widi juga selalu melayani suaminya meski katanya kurang puas, pun istriku karena aku selalu rutin tanpa mengurangi rasa dalam hubungan sexku de ngan istri. sedang pembantu bu widi datang kerumah bu widi hanya buat masak pagi siang malam n bersih bersih dipagi hari, selebihnya pulang kerumah yang masih dalam kompleks


Bu Lina Istri Tetanggaku



Saya baru 2 tahun berumah tangga, tinggal di satu komplek real estate yang di pinggir Jakarta. Kompleksnya tidak terlalu besar, Rumah ku juga tidak terlalu besar yah ukuran 140 dan bangunan 100, karena sudah dikembangkan. Kami memang belum menginginkan anak karena diusia kami yang baru 24 dan istri 22 masih ingin menikmati masa muda. Hubungan kami tidak ada masalah . Istriku adalah yang kupacari sejak dia kelas 3 SMP dan perawannya ku jebol 6 bulan setelah pacaran.
Hubungan kami baik-baik saja dan dalam masalah sex kami sudah saling terbuka, jadi istri tidak malu-malu kalau dia lagi pengin

Istriku cukup cantik dengan kulit putih dan penampilannya masih seperti remaja. Sejak dia lulus D-3 dia belum pernah bekerja. Awalnya dia ingin juga kerja tetapi karena rumah kami jauh dari pusat kota, jadi dia akhirnya malas menempuh kemacetan setiap hari. Jadilah dia ibu rumah tangga yang anteng.

Kami bertetangga dengan pasangan yang usianya sudah di atas kami . Pak Bardi kutaksir berumur sekitar 35 tahun dan istrinya Bu Lina mungkin sekitar 28 tahun. Bu Lina pintar dalam hal masak memasak. Istriku akrab dengan Bu Lina, karena dia sering belajar masak dari Bu Lina.
Pasangan tetanggaku ini menurut pengamatanku adalah pasangan yang tidak seimbang. Pak Bardi perawakannya agak kurus dan tidak tinggi. Sedangkan Bu Lina adalah sosok wanita yang montok meski tidak termasuk gemuk. Kadang-kadang aku berpikir, apakah Pak Bardi sanggup melawan Bu Lina, yang kelihatannya kalau ngesek agak hot juga, karena dari penampilannya yang aktif dan bicaranya banyak. Sementara Pak Bardi perawakannya kecil dan penampilannya agak loyo.
Pernah juga aku tanya istriku mengenai apakah Bu Lina pernah cerita mengenai kehidupan sex mereka. Aku hanya penasaran aja melihat pasangan yang tidak seimbang itu. Dalam hatiku kok mau Bu Lina punya suami yang tampilannya tidak perkasa, padahal dia modelnya kaya Vina Panduwinata.
“Ih papa ada-ada aja, malu kali dia cerita-cerita gituan,” kata istriku.

Meski umur kami dengan pasangan Pak Bardi tidak terlalu terpaut jauh, tetapi Penampilannya yang lebih tua dari umurnya mendorong aku mersa pantas memanggil mereka Pak dan Bu. Mereka pun memangil kami mas dan mbak. Maklumlah kami memang sama sama bibit jawa.
Suatu hari Istriku menarik masuk kamar, katanya dia mau cerita penting. Ternyata yang diceritakannya adalah hasil ngrumpi dengan Bu Lina. Menurut pembicaraan ngrumpi mereka ternyata Pak Bardi sudah hampir 2 tahun tidak bisa ereksi, akibat penyakit gula. Pantas penampilannya agak loyo dan layu, pikirku dalam hati.
Padahal pasangan itu ingin punya keturunan dan mereka baru 3 tahun menikah.
Istriku dan Bu Lina sudah seperti kakak adik, mereka kompak sekali dan sering jalan bareng pergi belanja atau sekedar jalan-jalan ke Mall.
Aku juga cukup akrab dengan Pak Bardi, karena hobby kami sama yaitu main catur. Ada kalanya kami ngobyek bareng, jual tanah, jual rumah atau apa saja. Hasilnya sih lumayanlah untuk tambah-tambah up grade mobil.

Istriku jadi sering bercerita soal kehidupan sex keluarga Pak Bardi. Bu Lina katanya paling senang mendengar petualangan sex kami. Istriku memang agak-agak jahil, Dia senang sekali bercerita hal-hal yang membuat Bu Lina penasaran dan terangsang. Mungkin istriku senang melihat Bu Lina tersiksa oleh dorongan sexnya yang tidak tersalur. Kebahagiaan yang aneh. Kami memang sering mempraktekkan fantasi sex kami. Bahkan kami sering dirumah hanya bertelanjang saja. Rumah kami pagarnya tinggi, sehingga tidak bisa terlihat dari luar.
Hal itu malah diceritakan istriku ke Bu Lina. Kata istriku Bu Lina kadang-kadang sampai menangis karena keinginan sexnya tidak bisa tersalur. Istriku memang keterlaluan, dia bercerita lalu Bu Lina mendengarnya sampai terangsang berat, akhirnya dia menangis.
Aku nasihatkan istriku agar jangan menyiksa Bu Lina dengan cara itu, kasihan dia. “ Abis selalu dia yang minta aku bercerita soal-soal sex, aku sudah bilang nanti akan bikin susah ibu lho, tapi Bu Lina tetap maksa, ya jadi aku cerita aja.,” kata istriku polos.
Aku sudah minta kepada Lina agar dia mengajari cara-cara oral, sehingga meski Pak Bardi gak sanggup penetrasi, tapi masih bisa melayani istrinya dengan oral. “ sudah pa, Tapi Pak Bardi katanya cepet cape, jadi belum sampai Bu Lina Nyampe, pak Bardi udah bilang gak bisa nerusi karena kecapean.” Kata istriku.

Pak Bardi udah pasrah soal urusan sex dengan istrinya, malah katanya dia membolehkan istrinya cari kepuasan sex dengan orang lain asal jangan membawa penyakit. Tapi Bu Lina tipe wanita yang pemalu serta mencintai suaminya, dia tidak sanggup menuruti kebebasan yang diberikan Pak bardi.
Bu Lina berasal dari keluarga yang miskin di kampung, kehidupannya terangkat keatas setelah menjadi istri Bardi. Bahkan dia menunjang biaya orang tuanya dikampung . Pak Bardi memang tipe orang yang gigih dalam mencari uang, sehingga meskipun hidup di perumahan tipe dipinggir Jakarta gini, tapi mobilnya mentereng. Bu Lina juga dia belikan Honda Jazz. Mobil itulah yang sering digunakan bersama istriku jalan-jalan ke mall.
Aku sendiri hanya bisa punya Avanza, itupun nyicil dengan cicilan yang mati-matian aku usahakan agar tidak sampai telat.
“ Pa aku lama sekali ingin ngomong ke papa, tapi rasanya susah sekali keluarnya,” kata istriku suatu hari.
“ Ngomong apaan sih, kamu kan biasanya ceplas ceplos, kok jadi nervous gitu,” kata ku.
“ enggak pa ini karena masalahnya sensisitif,” kata istriku.
“Apaan sih,” kataku agak penasaran.
“ Gini lho pa, tapi janji jangan marah ya, papa harus bener-bener pegang janji lho,” kata istriku.
“ Ya deh , apaan sih bikin orang penasaran aja,” kataku.
“ Ah nggak jadi deh, susah ngomongnya sekarang,” kata istriku tiba-tiba.
Aku sudah mengenal wataknya yang senang membuat orang tersiksa karena penasaran.
“ Ya udah kalau gak jadi, aku mau main catur ke rumah Pak Bardi,” kata ku.
“ Eh jangan pak, iya deh aku cerita sekarang,” katanya.
“Gini lho pa, aku lama-lama kasian liat bu Lina, dia makin lama rasanya makin tersiksa, meskipun hartanya cukup dan suaminya selalu baik terhadap dia,”
“Selanjutnya,” kataku.
“Aku ingin menolong Bu Lina, papa setuju nggak,” katanya.
Aku belum bisa menangkap arah pembicaraan istriku , apa yang dia akan lakukan bagiku masih gelap.
“ Kalau kita bisa nolong ya lebih baguslah, mereka kan sering nolong kita juga,” kataku datar.
“Bener nih Pa, papa juga mau nolong mereka,” kata istriku serius.
“Ya iya lah,” kataku.
Lalu sambil mememeluk lenganku, istriku bercerita bahwa dia ingin aku sekali waktu membantu Bu Lina . Meskipun kata-katanya muter-muter, tapi singkatnya aku diminta melakukan hubungan dengan Bu Lina. Katanya Bu Lina sudah bersedia dan Pak Bardi juga mengizinkan bahkan sangat mendukung.

Rencana mereka ini ternyata sudah 3 bulan disusun, katanya tiap hari sibuk memikirkan strategi apa yang akan dilaksanakan. Masalah yang paling berat adalah menyampaikannya ke aku oleh istriku.
Aku tidak munafik sebagai laki-laki, Bu Lina adalah idamanku, sebagai variasi menu selain menu istriku. Tapi mana mungkin aku menggodanya , karena dia bersahabat dengan istriku. Eh sekarang malah istriku yang minta aku ngembat Bu Lina.
“ Apa benar mama gak keberatan berbagi dengan Bu Lina,” kataku meyakinkan.
“Nggak lah mama kasihan banget liat penderitaan Bu Lina, paling tidak kita bisa menyelamatkan keutuhan rumah tanga mereka, dari pada Bu Lina main sama orang yang gak jelas,” kata istriku.
“Ok lah selanjutnya bagaimana skenarionya, “ tanya ku.
Istriku bingung, karena ternyata skenario selanjutnya luput mereka susun. Sebab selama ini mereka berpikir keras bagaimana menyampaikan ke aku.
“ Belum ada skenario selanjutnya, ntar deh mama ngomong dulu ke Bu Lina, “ kata istriku.
Akhirnya aku berkeputusan untuk menemui Pak Bardi langsung dengan alasan main catur.
Begitu aku bertemu Pak Bardi, dia langsung aku salami dan ku katakan, aku siap menolong. Pak Bardi tidak sempat berpikir dan menyusun kata-kata dia langsung memelukku. “ Terima kasih ya mas, kita memang sudah seperti saudara,” katanya dengan mata agak berkaca-kaca.
“Ayo pak kita main catur lagi,
Kami pun terlibat serius main catur. Kali ini pertahanan Pak Bardi selalu lemah. “ Pak bapak koq gak kayak biasanya,” kataku.
“Gak tau dik, saya jadi sulit konsentrasi,” katanya.
Aku langsung menebak bahwa Pak Bardi pasti memikirkan cara memulai hubungan baru kami.
“Pak ini kan malam minggu, bagaimana kalau kitapesta barberque di rumah saya, sambil merayakan hubungan baru kita,” aku menawarkan solusi.
“ Ok juga tuh mas , biar saya yang siapkan semua bahan-bahannya, nanti biar ibu-ibu yang belanja, “ kata Pak Bardi lalu masuk kedalam menemui istrinya.
Aku lalu pamit pulang dan ingin istirahat tidur, untuk menyiapkan stamina, siapa tahu nanti malam sudah mulai dibuka hubungan ku dengan Bu Lina.
Istriku pamit, katanya mau belanja sama Bu Lina.
Jam 8 malam kami mulai menggelar pesta barberque di halaman belakang. Kami kekenyangan dan puas.
Aku menyarankan, acara dance party untuk dua pasang suami istri. Musik segera kupilih yang syahdu. Mulanya kami dance dengan pasangan kami masing-masing. Lampu memang sudah aku redupkan . Tapi lama-lama rasanya lampunya masih terlalu terang. Akhirnya semua lampu kumatikan, cahaya hanya mengandalkan lampu dari luar. Mulanya terasa sangat gelap, tetapi lama-lama mata kami mulai bisa menyesuaikan, meski pemandangan tidak begitu jelas. Istriku melontarkan ide agar kami bertukar pasangan dance. Istriku menarik tanganku dan dia menarik Bu Lina agar merapat ke badanku. Bu Lina mulanya agak canggung. Mungkin dipikirannya dia malu, karena soal keinginannya main denganku. Aku berusaha mencairkan suasana dengan langsung kupeluk Bu Lina. Bu Lina melemaskan badannya merapat ke tubuhku. Sementara itu istriku menarik tangan pak Bardi untuk juga turun melantai.
Lagunya mendukung sekali dan amat syahdu. Aku langsung melakukan serangan ke leher bu Lina. Leher dan telinganya menjadi sasaran ciumanku. Bu Lina agak terkejut, karena tidak menyangka mendapat serangan begitu cepat. Namun sebentar kemudian dia sudah pasrah. Sampai kami berdiri tidak bergerak. Aku merasa nafsu birahi Bu Lina sudah mulai meningkat , Bibirnya aku kecup dengan gerakan yang ganas. Aku memperlakukan Bu Lina dan menganggap di ruangan ini tidak ada orang lain. Bu Lina benar=benar terbuai dengan seranganku.
Begitu lagu selesai, istriku bertepuk kecil. Bu Lina kaget dan dia malu. Kami lalu duduk di sofa. Aku berpasangan dengan Bu Lina dan Istriku dengan pak Bardi. Kami istriahat dengan menenggak bir dingin.
“Sekarang party kita tingkatkan dengan Lingerie party,” kata istriku yang langsung mencopot semua baju luarnya. Pak Bardi ragu-ragu tapi dia ikut-ikutan juga membuka baju luarnya, hingga tinggal celana dalam koloran dan singlet. Aku membuka semua kecuali celana dalamku.
Bu Lina agak malu, sehingga terpaksa dibantu istriku yang sudah memakai BH dan celana dalam saja

Tiga lagu kami habiskan dalam acara pesta pakaian dalam. Istriku tiba-tiba membuka BHnya dan dia menghampiri Bu Lina untuk membuka BHnya. Bu Lina mulanya agak menahan, tapi akhirnya dia turuti. Tetek Bu Lina yang lebih besar dari tetek istriku menempel erat ke dadaku. Pantatnya yang tebal aku remas-remas. Kami bercumbu berat dan posisi dance kami tidak lagi saling berhadapan tetapi aku memeluk Bu Lina dari belakang, sambil meremasi susunya yang montok banget.
Jari tanganku pelan-pelan juga sudah menyusup ke balik celana dalam Bu Lina dan mengerayangi jembut tebal dan celah basah. Bu Lina menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Entah berapa lagu sudah dimainkan, bahkan tanpa lagu pun kami tetap berpelukan di tengah ruangan. Istriku tiba-tiba menghampiri bu Lina dan segera menarik turun celana dalam Bu Lina. Bu Lina Kaget, tapi dia tidak menolak. Celanaku giliran berikutnya dipelorotkan. Istriku sendiri sudah total naked.

“Ayo pak jangan malu-malu kata istriku ketika melihat Pak Bardi ragu mau mencopot celananya. Dia jadi jengah karena tinggal dia yang masih pakai celana, sehinga akhirnya dibuka juga.
Aku dan Bu Lina sudah makin dalam bercumbu. Kami kembali berpelukan berhadap-hadapan. Kebetulan tinggi Bu Lina tidak beda jauh dengan ku, sehingga kemaluan kami bisa langsung bertatap muka. Kujepitkan penisku di antara kedua paha Bu Lina, kami dance dalam keadaan penisku terjepit paha Bu Lina. Aku sudah makin terangsang, sehingga berusaha memasukkan penisku ke dalam vaginanya Awalnya agak susah, tetapi karena kegigihanku akhirnya ambles juga semuanya. Bu Lina melenguh. Tapi posisi dancenya jadi kurang nyaman karena aku terpaksa agak menekuk dengkulku.
Lama-lama dengkulku pegel, sehingga aku mengajak Bu Lina untuk berbaring di lantai karpet. Dia kutelentangkan, di karpetku yang agak tebal. Aku mengtur posisi misonaris dan dalam gerakan lambat aku menghunjam-hunjamkan penisku sedalam-dalamnya ke lubang kenikmatan Bu Lina. Bu Lina agresif sekali bergerak memutar pantatnya sampai aku susah mengikuti iramanya. Aku berusaha bertahan selama mungkin untuk mengalahkan Bu Lina. Hampir 15 menit aku genjot Bu Lina tapi dia masih belum ada tanda-tanda orgasme. Badanku mulai lelah, Kulihat istriku meremas-remas penis Pak Bardi tapi masih terlihat kuyu. Pak Bardi seperti memberi isyarat ke istriku agar bergabung bersamaku, sedang Pak Bardi duduk di sofa mengamati istrinya yang aku mainkan. Istriku duduk bersila disamping pertarungan kami.
Istriku memberi semangat agar Bu Lina berkonsentrasi.

Bu Lina memejamkan mata dan tak lama kemudian dia melenguh dan berusaha mendekapku erat sekali. Aku merasa vaginanya mulai berdenyut. Aku tidak memberi kesempatan dia menuntaskan orgasmenya, malah aku percepat dengan dengan gerakan kasar. Bu Lina melolong-lolong karena tidak sampai 5 menit kemudian dia menjerit, lalu menutup sendiri mulutnya setelah sadar ada orang yang memperhatikannya. Meski mulutnya ditutup tapi dia tetap menjerit di sekapan tangannya sendiri.
Tampaknya Bu Lina mencapai orgasme berkualitas tinggi. Aku padahal sudah hampir juga sih, tapi karena aku tahan jadi bisa agak lama.
Bu Lina terkulai lemas, tergeletak di karpet dengan badannya penuh keringat. Padahal ruangan ini awalnya dingin karena ada AC. Aku segera meraih istriku dan dia ku minta bermain diatasku. Terus terang kalau aku diatas, aku bisa jebol duluan. Istriku berputar-putar diatasku sampai dia mencapai orgasme aku juga bersamaan menyertainya.
Kami berbaring berjajar bertiga dengan aku ditengah. Kiri kananku memelukku.
Di sofa Pak Bardi hanya duduk memperhatikan kami Dia tersenyum. Mungkin batinnya bahagia karena akhirnya istrinya mendapat nafkah batin.
Pak Bardi mendekat dan menyalamiku. “ Terima kasih ya mas,” katanya.
Pak Bardi lalu menyarankan agar istrinya tetap tinggal malam ini bersama aku dan istriku, sementara dia pamit pulang.
Pak Bardi berkemas dan dia segera meninggalkan kami.
Istriku membimbing Bu Lina ke kamar mandi, dan aku juga ikutan. Kami membersihkan diri dengan mandi air hangat.
Setelah mengeringkan dengan handuk kami bertiga bertelanjang tidur bersama di ranjangku yang memang king size. Aku diapit oleh Bu Lina dan Istriku.
Istriku memulai babak baru. Dia bangkit dan mulai mengulumi penisku. Tak lama kemudian tangan Bu Bardi ditariknya dan diarahkan agar dia ikut mengulum penisku. Bu Bardi sudah tidak lagi merasa malu. Dia menghisap penisku dan tarikan yang kuat. Rasanya air main seperti ditarik keluar secara paksa. Pelan-pelan penisku mulai mengembang sampai ukuran setengah keras.
Bu Lina ku suruh berbaring dan kini giliranku mengoral memey nya. Dia mendesah-desah sambil meremas-remas susunya sendiri. Pertahanannya jebol karena dia segera mencapai orgasme.
Istriku kuminta menghidupkan lampu, sehingga kamar tidur jadi terang benderang. Bu Lina segera menarik selimut karena merasa malu. Istriku melarangnya sehingga akhirnya dia pasrah telentang telanjang.

Ku ajarkan bagaimana cara membuat Bu Lina mencapai orgasme sempurna tanpa oral dan tanpa hubungan badan. Aku memasukkan jari manis dan jari tengah ke dalam lubang vagina Bu Lina.. Setelah semua masuk terbenam lalu aku melakukan gerakan seperti mengangkat benda dengan berstumpu pada kedua jariku di lubang vagina Bu Lina. Dia mulanya heran, tapi lama-lama merasakan kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Bu Lina lalu mengerang-ngerang seperti orang kesurupan sehingga tidak sampai 5 menit dia sudah menjerit karena orgasmenya. Bu Lina berteriak ampun-ampun agar aku menghentikan rangsangannya, tapi setelah berhenti sebentar aku mulai lagi gerakan tadi, dia kembali mencapai orgasme dan berteriak nikmat, lalu memegangi tanganku agar aku menyudahinya. “ Lemes banget mas , tapi enak banget,” katanya.
Tidak lama kemudian dia jatuh tertidur pulas. Giliran berikutnya aku bermain dengan istriku. Istriku malah kelihatan bersemangat sekali. Aku tahu, meskipun dia sudah mengatakan rela, tapi ada juga rasa cemburunya melihat suaminya mesara dengan perempuan lain. Main dengan istri yang sedang diliputi rasa seperti itu, rasanya nikmat sekali, karena dia sangar bergairah.
Kami akhirnya tertidur lelap sampai jam 7 pagi. Ketika aku terjaga kulihat kedua wania disampingku masih tidur nyenyak. Aku mulai menciumi pipi Bu Lina lalu menyedoti susunya yang menggelembung. Akhirnya aku menggenjotnya meskipun Bu Lina belum siuman benar dari tidurnya, tapi vaginanya sudah cukup basah.

Penisku yang keras sempurna pada pagi hari terasa sesak berada di dalam vagina bu Lina. “ Mas rasanya kok penuh banget ya, enak mas, “kata Bu Lina. Mendengar suara berisik Istriku bangun, Dia menonton permainan kami sebentar lalu dengan tetap bertelanjang menuju kamar mandi. Dia tidak balik lagi, tetapi keluar kamar. Aku meneruskan misiku memuaskan bu Lina yang mendesis-desis seperti kepedasan.
“ Mas aku sebenarnya kebelet kencing, tapi udah keburu disodok duluan jadi rasanya bingung gitu mas, “ kata bu Lina.
Aku bangun lalu membimbing bu Lina ke kamar Mandi. Aku segera duduk di closet dan kuminta Bu Lina duduk dipangkuanku sambil menghunjamkan barangku ke dalam vaginanya. “ Lho kirain saya disuruh pipis, kok malah disodok lagi. “ protes Bu lina yang katanya sudah kebelet banget mau pipis.
Aku tidak menghiraukan, dan aku meminta Bu Lina untuk memutar-putarkan pinggulnya. “ Oh mas enak banget mas,” katanya.
Bu Lina jadi urung kebelet pipis, dia malah bersemangat menggenjotku. Aku ingin ganti posisi. Dan Bu Lina kuminta berbaring di lantai kamar mandi yang masih kering. Kedua kakinya kutekuk dan aku bersimpuh menggenjot dirinya sambil tanganku menekan dan memutar di clitorisnya. Bu Lina mencapai orgasme. Sessat kemudian kutarik penisku dan kini tanganku ku colokkan ke dalam vaginanya mencari titik g spotnya. Dengan gerakan halus aku raba bagian sensitif di dalam lubang vagina itu, sampai Bu Lina menggelinjang-gelinjang. Dia mulai mengerang keenakan dan tak lema kemudian seperti ada cairan kental yang muncrat pelan dari lubang kencingnya ketika itu dia orgasme dengan ejakulasi, tetapi kemudian air kencing yang terpancar dari lubang itu dengan semprotan yang keras sehingga mengenai mukaku. Aku hanya memejamkan mata dan tidak berusaha menghindar. Bu Lina bingung karena dia tidak bisa menghentikan semprotan air seninya. Sementara aku menahan posisinya agar tidak berubah. Sempurnalah dia mengencingiku sebanyak-banyaknya.
“ Eh mas sorry ya aku gak bisa tahan lagi, abis mas nahan aku sih jadi aku gak bisa ngalih,” katanya.
“Gak apa –apa bu, saya sudah tahu, makanya saya ajak ke kamar mandi.” kataku.
Istriku masuk bergabung dan kami mandi bertiga.

Selepas mandi Istriku melarang Bu Lina berpakaian. Kami akan melakukan nude breakfast. Bu Lina diminta menelpon suaminya untuk sarapan Bareng. Tak lama kemudian Pa Bardi mengetuk pintu, dia rupanya baru selesai jalan pagi, sehingga masih mengenakan sepatu dan celana pendek.
Dia kaget melihat kami bertiga telanjang. Aku mencegah dia buka baju, karena kurasa dia lebih nyaman dengan berpakaian. Kami lalu sarapan bersama. Seharian itu kami bernudis dir di rumah dengan pak bardi yang tetap mengenakan baju, Tapi dia kemudian berganti baju dengan berkaus oblong dan sarung.
Seharian itu entah berapa kali kami main berhenti dan main lagi. Aku yang sehari sebelumnya sudah doping dengan obat-obat kuat, sehingga stamina dan nafsuku tetap prima.
Kami akhirnya makin akrab dengan keluarga Pak Bardi dan memutuskan untuk membuat pintu penghubung di bagian belakang rumah kami. Bu Lina sudah tidak canggung-canggung lagi minta jatah dan sering kali langsung menerobos ke kamar kami. Kadang-kadang kami sedang asyik bertempur dia masuk. Bu Lina lebih sering tidur di rumah ku dibanding tidur dengan suaminya.
Mengenai cara yang kuminta dipraktekkan hubungan tanpa oral dan penetrasi bersama Pak Bardi, kata bu Lina kurang mantap kalau suaminya yang melakukan.
Hampir setahun kami berhubungan, Bu Bardi akhirnya hamil dan lahirlah bayi laki-laki. Untung wajahnya mirip Bu Lina, sehingga tidak ada orang yang curiga kalau itu adalah bibitku. Kami pun mengakhiri masa menahan tidak punya anak dan istriku kemudian hamil dengan melahirkan anak laki-laki juga.
Sampai anak kami sekolah kami masih tetap melakukan dengan Bu Lina. ***


Ibu Nunik yang Rimbun



Sebelum aku mulai cerita ini, aku ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Alwan dan Aku adalah seorang pegawai negeri yang ditempatkan disebuah kota di Jawa Tengah sekitar sepuluh tahun yang lalu. Aku merasa nyaman kerja di kota ini, karena teman-teman sekantorku orangnya ramah-ramah dan mengayomi bagi para pegawai muda yang masih mentah dalam pengalaman kerja Aku sangat berterima kasih pada rekan-rekan kerjaku yang tanpa pamrih membimbingku dalam berbagai hal.

Diantara rekan-rekan kerjaku ini, ada seorang wanita yang cantik keibuan dan umurnya 8 tahun diatasku. Namanya Nunik. Pada saat pertama kali aku bertemu dengannya dia belum menunaikan ibadah haji dan belum mengenakan jilbab, sehingga aku bisa melihat putih dan mulusnya kulit betis sebagian pahanya pada saat dia duduk. Tapi yang membuat aku tertarik padanya adalah banyaknya bulu-bulu yang tumbuh di betis dan lengannya yang membuat dirinya semakin seksi dimataku. Karena dalam imajinasiku jika seorang wanita mempunyai bulu-bulu yang lebat di betis dan lengan, terbayang olehku pastilah dia akan sangat menggairahkan dan mampu memberikan kenikmatan pada lelaki di tempat tidur. Maka aku selalu membayangkan dan menghayalkan betapa nikmatnya bila aku dapat menggaulinya. Obsesiku untuk dapat menggaulinya tidak pernah hilang, walaupun aku telah menikah dua tahun setelah aku bekerja. Dan dia selalu ada dalam hayalanku pada saat aku dan istriku sedang melakukan hubungan suami istri.

Tapi sebagai yunior, tentu saja aku tidak berani macam-macam padanya. Apalagi dia adalah seorang istri pejabat Pemda di daerahku. Oh ya, Dia sudah menikah selama 10 tahun dan baru dikaruniai putra berumur 2 tahun. Rupanya rumah tangganya termasuk yang cukup lama untuk mendapatkan momongan. Dari rekan-rekanku, kuketahui bahwa pada awal pernikahan mereka, suaminya pernah mendapat masalah dalam urusan vitalitas, itulah sebabnya dia lambat mendapatkan momongan. Disamping itu kuketahui pula bahwa perbedaan usia antara dirinya dan suaminya cukup jauh, yaitu sekitar 15 tahun.

Aku sering mendekatinya untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul, orangnya enak diajak ngobrol, ramah pada setiap orang. Itulah sebabnya rekan-rekan lelaki ditempat kerjaku senang menggodanya, dan dia tidak marah jika godaan-godaan itu tidak terlalu bersifat pelecehan. Namun aku tidak pernah menggodanya, karena selain usiaku jauh lebih muda darinya, aku tidak ingin ia menganggapku macam-macam. Aku selalu bertindak sebagai seorang yunior yang memerlukan petunjuk dari seniornya sehingga aku bisa semakin dekat dengannya, karena dia merasa bahwa aku sangat menghormati dan mengaguminya.

Lima tahun setelah aku bekerja, dia menunaikan ibadah haji dengan suaminya dan sejak saat itu dia selalu mengenakan jilbab untuk menutup seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangannya. Namun jilbab yang ia kenakan tidak mampu menyembunyikan keseksian tubuhnya, dan bahkan membuat dirinya semakin cantik dan keibuan, ditambah lagi dengan gaun dan jilbab yang ia kenakan selalu serasi dengan model-model yang gaul. Sehingga dia semakin menjadi objek hayalanku pada saat aku sedangkan melakukan hubungan suami istri dengan istriku.

Aku selalu konsisten menjaga sikapku dihadapannya, karena tidak ingin dia benci atau menjauh dariku. Maka dengan sabar aku selalu menjaga kedekatanku dengan dirinya sehingga aku dapat menikmati kecantikan, keanggunan dan keseksian tubuhnya dari dekat.

Kesabaranku itu kujalani hingga saat ini setelah 10 tahun mengenalnya dan dia merasa aku sebagai sahabat baik dan sekaligus bagaikan adik baginya, sehingga tidak segan-segan menceritakan berbagai masalah dengan diriku, bahkan meminta bantuanku untuk hal-hal yang tak dapat dia kerjakan. Bahkan kami sering duduk berdampingan dalam mengerjakan sesuatu sehingga aku bisa merasakan lembutnya buah dadanya yang montok. Dan pernah aku menggeser-geserkan bahuku yang menempel dengan buah dadanya, tapi dia hanya berkomentar “jangan nakal ach…, Wan !” sambil tersenyum dan tidak ada nada marah sama sekali. Sehingga hal itu sering aku lakukan bila kami duduk berdampingan pada saat mengerjakan sesuatu

Pada suatu hari ia datang padaku dan mengkonsultasikan laptop miliknya yang terasa lambat dan juga minta diajari bagaimana caranya mengkoneksikan laptop dengan internet. Setelah kuperiksa, ternyata banyak virus yang mengerogoti sistem di laptopnya sehingga mengakibatkan kinerja laptopnya menjadi terganggu. Dan aku bilang untuk membersihkan semua virus di laptopnya diperlukan waktu yang cukup lama, sedangkan agar bisa dikoneksikan ke internet, harus ada jalur telepon. Lalu dia menyarankan agar untuk menangani laptopnya dikerjakan di rumah kost miliknya yang ada di dekat kantor kami. Rumah kost itu terdiri dari 10 kamar dan diisi oleh para pelajar yang bersekolah di sekitar daerah itu. Dan aku menyanggupinya.

Sepulang dari kantor, aku dan dia menuju rumah kost miliknya dan kebetulan, hari itu adalah hari sabtu, sehingga semua penghuni kost pada pulang ke kampungnya masing-masing dan rumah kost tersebut kosong. Begitu tiba di sana, dia langsung membawaku ke ruang tamu dan aku mulai melakukan pembersihan virus dengan software yang aku bawa.

Sambil menunggu anti virus bekerja, kami ngobrol berbagai hal diselingi dengan minum dan makan camilan yang ia sediakan. Dari obrolan itu kuketahui, bahwa setiap malam minggu dia suka tidur di rumah kost ini pada saat para penghuni kost pulang ke kampung halamannya masing-masing. Oleh sebab itu di rumah ini ada kamar khusus untuk dirinya. Aku merasa heran, apakah suaminya tidak apa-apa ditinggal tidur sendiri di rumah sementara dia menunggu di rumah kost. Dia menjawab tidak ada masalah dengan hal itu, bahkan katanya di rumah pun dia jarang tidur sekamar dengan suaminya. Karena sejak suaminya pensiun, suaminya lebih sering ingin tidur sendiri. Aku heran dengan kenyataan ini, kenapa ada rumah tangga seperti ini, tapi aku mau bertanya lebih lanjut, takut dia merasa aku akan semakin jauh mengetahui privasi rumah tangganya.

Hari semakin gelap, tetapi anti virus masih bekerja, karena banyak sekali virus yang menyerang laptopnya dan kami terus melanjutkan obrolan. Tanpa disadari atau seolah-olah tanpa disadari, kami telah duduk berdampingan di ruang tamu yang sepi ini. Sambil mengobrolkan hal-hal yang bersifat pribadi. Perlahan-lahan aku mulai terangsang terhadapnya, tapi aku masih merasa takut untuk memulainya, walaupun bisikan-bisikan di kepalaku mengatakan bahwa inilah saatnya yang tepat untuk mewujudkan obsesi yang selama ini ada dalam khayalanku.

Akhirnya dengan hati-hati aku berkata padanya “Apakah, bapak tidak sayang meninggalkan ibu tidur sendiri ? Uhh… kalau saya jadi bapak, tidak akan saya biarkan ibu tidur sendiri satu malampun. Sayang dong…., membiarkan tubuh seksi dan cantik seperti ibu ini sendirian….. mubazir ”

“Ach… Alwan bisa aja ! Masak sih… tubuh peot dan wajah keriput ini disebut seksi dan cantik ?” katanya tersenyum dan tampaklah ekspresi kebanggaan diwajahnya mendengar pujianku. Dan aku merasa gembira karena dia tidak marah dengan ucapanku.

Dan kembali aku lanjutkan rayuanku “ bener lho, Bu! Saya ‘ngga bohong… , Di mata saya ibu adalah wanita yang paling cantik dan seksi di kantor kita..!”

“Udah ach… , jangan dilanjutkan rayuannya nanti saya bisa terbang… !” jawabnya samibil tersenyum semakin tersanjung.

“Ngomong-ngomong… , Bu..! Boleh ‘nggak saya minta sesuatu, nggak macam-macam kok, swear !” kataku

“Minta apaan sich.. ? kalau nggak macam-macam akan saya penuhi ! “ katanya

“Sebelumnya maaf ya, bu ! Boleh ngga saya membelai bulu kaki yang ada di betis dan bulu tangan yang ada di lengan ibu yang dulu sering saya lihat. Saya benar-benar terobsesi dengan bulu-bulu yang dimiliki ibu ?” kataku memberanikan diri.

Dia memandangku heran “Kok, Alwan tahu kalau saya memiliki bulu di kaki dan lengan…? Rupanya Alwan sering ngintipin ibu ya ?” Katanya menggodaku.

Aku tergagap mendapat godaannya “Ti…tidak bu…, saya tidak pernah ngintip.. khan dulu ibu ngga pake jilbab..” jawabku membela diri

“Apa sich.. istimewanya bulu-bulu itu ? saya justru merasa risih” katanya lagi

“Justru bagi saya hal itu sangat istimewa dan menggairahkan….., boleh kan bu, saya membelainya !”

“Ya.. dech …” Dia mengalah dan menyingsingkan ujung lengan bajunya hingga sebatas siku. Mataku terbelalak melihat putih dan mulusnya kulit lengan yang dihiasi dengan bulu-bulu lengan yang cukup panjang, aku semakin terangsang namun masih bisa mengendalikan diri. Dengan tangan gemetar aku membelai lengan halus tersebut. Darahku berdesir ketika tanganku mengusap dan membelai langan halus nan berbulu itu. Dari sudut mataku terlihat dia merasa bangga atas keterpanaanku pada kemulusan dan keindahan kulit lengannya. Aku tak tahu apakah dia merasakan desiran-desiran rangsangan pada saat telapak tanganku membelai lengannya.

Setelah puas membelai lengannya, kembali aku berkata “kakinya belum bu ? “. Namun dia menjawab tidak serius “udah ach…, cukup .”. Lalu rayuku lagi “Akh… Ibu, khan tadi saya mintanya lengan dan kaki !”

Lalu dengan gaya seperti yang terpaksa dia mengangkat rok panjangnya sebatas lutut sehingga terlihat betis indah yang putih mulus dihiasi oleh bulu-bulu yang cukup panjang dan merangsang. Kembali tanganku bergetar membelai betih indah tersebut, mataku terpejam dan darahku semakin berdesir memberikan rangsangan-rangsangan yang sangat kuat padaku. Cukup lama tanganku membelai dan mengusap betis indah milik Hj Nunik ini. Aku sangat menikmati apa yang kulakukan. Betis kiri dan kanannya secara bergantian aku belai dan usap, terlihat mata Hj. Nunik terpejam menikmati belai tanganku “Oh..mmmnn .. “ mulutnya berguman tidak jelas.

Melihat itu aku tak mau berhenti, tanganku terus membelai betis indah itu dan dengan sangat hati-hati arah belaian semakin ke atas di sekitar lutut . Mata Hj Nunik semakin rapat terpejam. Dengan hati-hati kedua betis Hj Nunik aku naikkan ke atas jok kursi panjang yang kami duduki dan aku duduk di lantai menghadap betis indah dan sebagian paha disekitar lutut yang terbuka”

Dengan suara bergetar dan suara yang sedikit memburu dia berkata “Kok jadi duduk dibawah ?”

“Ngga apa-apa bu, supaya lebih jelas “ jawabku beralasan ”Awas lho… jangan macam-macam !” ancamnya dengan nada yang tidak yakin.

Kembali tanganku melanjutkan belaian dan usapan pada betis berbulu yang merangsangku ini, tanganku dengan lembut membelai betis kiri dan kanan secara bergantian . Kembali matanya terpejam menikmati belaian tanganku pada betisnya. Kuberanikan diri untuk mencium lembut ujung kakinya. Matanya terbuka dan berkata “Kok..?” hanya kata itu yang keluar. Akhirnya kedua tangan dan bibirku membelai betis hingga lutut dan paha di sekitar lutut. Ciumanku dan tanganku semakin naik ke atas, ciumanku sudah mencapai lututnya dan kedua tanganku sudah membelai kedua pahanya. Dia semakin terlena, napasnya semakin memburu dan mulutnya semakin sering mengguman sesuatu yang tidak jelas. Sedangkan aku semakin terangsang penisku sudah mulai mengeras. Tapi aku masih berhati-hati agar dia tidak menghentikan usahku ini.

Tanganku semakin aktif membelai paha bagian bagian dalam dan mulutku menciumi lututnya yang kiri dan kanan secara bergantian. Duduknya sudah mulai gelisah, pinggulnya sudah bergoyang-goyang dan dari mulutnya sudah mulai memperdengarkan erangan-erangan nikmat dan terangsang. Ku hentikan gerakanku, matanya terbuka memandangku sayu, terlihat bahwa dia sudah sangat terangsang, kuberanikan diri wajahku mendekati wajahnya, dia memejamkan matanya kembali dengan mulut yang terbuka menantang, lagsung bibirku menciumi bibirnya yang seksi. Dia tidak marah, bahkan menyambut ciumanku dengan hangat dan sangat bergairah. Kami berciuman dengan sangat bergairah. Kedua tangannya meraih kepalaku dan mencium bibirku dengan sangat panas, bibirnya menghisap-hisap bibirku dan lidahnya menari-nari dengan lidahku seperti seorang wanita yang sudah sangat lama tidak bermesraan, tentu saja aku semakin melayang nikmat dan bersemangat. Tanganku mulai meremas-remas buah dadanya yang montok, dia diam saja bahkan semakin bergairah dan mengerang nikmat. Tanganku mulai mencopoti kancing bajunya satu-persatu dan menyusupkan tangan kananku ke dadanya yang sudah terbuka, kemudian menarik cup bh-nya ke atas, sehingga kedua buah dadanya yang putih montok terbuka bebas. Tanganku langsung meremas buah dada montok itu yang kiri dan kanan.

Dia menghentikan ciumannya dan memegang tangan kananku, sambil memandang padaku dengan sayu. Aku terkejut, takut dia marah dan menghentikan usaha yang telah dengan sabar aku lalui. Namun dengan suara bergetar dan napas memburu dia berkata “Jangan disini Wan..! bahaya kalau ada tamu datang… Di kamar saya aja.., biar tenang!” Plong… dadaku terasa lapang, ketakutanku ternyata tidak terbukti. Dia kemudian berdiri dan mengunci pintu tamu dan menarik diriku menuju kamarnya.

Tak kuperhatikan lagi anti virus yang masih bekerja pada laptop. Dengan tergesa-gesa kami menuju kamarnya yang cukup luas. Begitu tiba di dalam kamar, dia langsung menutup pintu kamar dan menarikku ketempat tidur. Aku langsung menindihnya dan bibirku kembali mencium bibirnya dengan gemas. Ciumannya kali ini semakin panas dan bergairah dan dia sudah tidak segan-segan lagi mengeluarkan lenguhan dan erangan nikmat.

Tanganku kembali merayap ke buah dadanya yang masih terbuka dan meremas-remasnya dengan nikmat, Dia membantu mencopoti sisa kancing yang masih terkait sehingga semua kancing bajunya terlepas dan melepaskan kaitan tali bh-nya. Kemudian dia duduk dan melepaskan baju dan bh dari tubuhnya. Tampaklah dihadapanku tubuh seorang wanita matang yang masih mengenakan jilbab dan rok panjang, namun sudah tidak mengenakan baju dan bh.

Aku kembali menubruknya dan mendorong tubuhnya hingga telentang diatas kasur, bibirku menciumi seluruh bagian buah dadanya baik bagian kiri maupun bagian kanan sedangkan tangan meremas-remas buahdada yang tidak aku ciumi. Aku begitu bernafsu menciumi buah dada Bu Hj Nunik ini. Walaupun dia sudah berumur, namun buah dadanya masih montok dan sekal, tidak mengelayut dan kendor. Kuhisap dan kujilati setiap mili bagian buah dada menggairahkan ini. Dan akhirnya bibirku dengan asyiknya menghisap dan menjilati putting susu yang tegak menantang. Dia semakin mengerang nikmat “Akhhhh… wan… euh … euh….!” Badannya bergelinjang-gelinjang menahan nikmat yang menderanya.

Setalah cukup lama bermain-main di buah dadanya, kedua tanganku berusaha melepaskan pengait rok panjang yang masih dikenakannya dan menariknya hingga lepas sekaligus dengan celana dalam nilon yang dia kenakan, dia hanya diam saja dengan tatapan mata yang semakin sayu, kembali mataku nanar melihat pemandangan merangsang yang ada dihadapanku. Sungguh luar biasa Bu Hj Nunik ini, walaupun sudah berusia 45 tahun, tapi tubuhnya masih sangat sempurna, perutnya masih ramping tanpa ada timbunan lemak, paha masih padat dan mulus dan yang paling luar biasa adalah jembut yang menutup vaginanya demikian lebat dan hitam menutupi hampir seluruh bagian antara kedua paha hingga keatas mendekati pusat

Beberapa saat aku terpana menatap pemandangan indah ini, Dia bangun dan meraih bajuku sambil berkata “Buka bajunya Wan… , ngga fair dong…, saya udah telanjang sementara Alwan masih berpakaian lengkap..” Dengan bantuannya aku mencopoti bajuku yang sudah basah oleh keringat dan sekaligus aku membuka celana panjangku sekaligus dengan cd yang aku kenakan. Dia terpana memandang penisku yang tegak menjulang, Tangannya mendorong tubuhku hingga aku telentang , kemudian dengan gemetar tangannya meraih penisku dan mengocoknya dengan gemas, aku melayang nikmat merasakan kocokan tangannya pada penisku, kemudian bibirnya dengan lembut menciumi penisku dan lidahnya menjilati kepala penisku. Aku semakin melayang.. “Ouhhh…. “ aku melenguh nikmat. Cukup lama lidah dan bibirnya bermain di kepala penisku membuat aku melayang-layang nikmat, kemudian mulutnya semakin terbuka lebar untuk memasukkan penis tegangku kedalam mulutnya sambil lidahnya terus-menerus menjilati kepala penisku. Mataku semakin terbeliak-beliak menahan nikmat “Ouh…ouh… aduhh….aduh… “ erangan nikmatku keluar tanpa dapat kucegah.

Dia begitu gemas dengan penis tegangku, bagaikan seorang wanita yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan penis yang tegang. Tanpa memperdulikan diriku yang terengah-engah menahan nikmat, mulut dan lidahnya terus menerus memberikan kenikmatan pada diriku. Aku tak tahan, ku geserkan kepalaku mendekati lututnya yang sedang menungging. Aku posisikan kepalaku diantara kedua lututnya yang terbuka, sehingga posisi kami menjadi posisi 69. Aku mulai menjilati jembut hitam yang menutupi vagina yang ada dihadapanku. Kedua tanganku membelai pantat montok, sementara lidahku terus mencari celah vagina yang tertutup jembut yang lebat, kusibakkan jembut lebat tersebut, terlihatlah vagina yang sudah sangat basah, lidahku terjulur menjilati celah vagina tersebut, badannya tergetar setiap kali lidahku menyentuh klentitnya. Aku semakin semangat menjilati dan menghisap vaginanya, dia semakin sering bergetar dan mengerang nikmat, sehingga mulutnya berhenti mempermainkan penisku. Aku tak peduli, lidah dan mulutku semakin lincah bermain di vaginanya, badannya semakin bergetar dan menekan-nekankan vaginanya dengan keras ke arah mulut dan hidungku sambil menjerit-jerit nikmat “Ouh.. ouh… ouh… euh…euh…”

Gerakannya semakin keras dan jeritannya semakin tak terkendali, hingga akhirnya pantatnya dia tekankan dengan keras ke arah mukaku hingga mulut dan hidungku tertekan vagina dengan sangat rapat sehingga aku sulit bernapas dan terdengar dia menjerit keras “Aaaakkkhhhh……..” kemudian terlihat olehku vaginana mengempot-ngempot dengan sangat keras.

Tak lama kemudian badannya ambruk menindih tubuhku. Beberapa saat kemudia dia menggulingkan tubuhnya hingga tidur telentang. Kubangunkan tubuhku dan memposisikan tubuhku agar tidur berdampingan. Kemudian matanya terbuka memandangku. Dengan napas yang masih tersengal-sengal dia berkata “kalau Alwan percaya…, Sudah 4 tahun saya tidak pernah melakukan hubungan suami istri, bukannya saya tidak ingin, tapi si bapak sudah tidak sanggup lagi. Sebagai wanita normal, tentu saja saya merasa sangat tersiksa denga keadaan ini…” Aku tidak mengomentari ucapannya, hanya dalam hati aku berkata pantas saja dia terlihat sangat gemas memandang penisku yang sangat tegang.

Karena aku belum apa-apa, maka badanku bangkit dan tanganku meremas-remas buah dadanya serta memilin-milin putting susunya yang perlahan-lahan mulai kembali tegak menjulang. Kembali badanku menindih tubuhnya dan bibirku mencium bibirnya, bibirnya menyambut bibirku dengan gairah yang kembali bangkit. Tangannya merayap ke arah penisku dan meremas-remas dengan gemas, kemudia berkata “Sekarang aja Wan! Saya sudah nggak tahan…”

Aku mengangkat pinggulku memberi jarak dengan selangkangannya, kemudian pahanya terbuka lebar dan tangannya menuntun penis tegangku agar tepat berada liang vaginanya. Dia sibakkan jembut lebat yang menghalangi liang vagina dengan kepala penisku, hingga akhirnya kepala penisku tepat berada di mulut liang vagina yang sangat basah. Kemudian kedua tangannya merengkuh pantatku dan menariknya.

Aku mengerti apa yang dia inginkan. Ku dorong pantatkudan Blessh…. Perlahan-lahan batang penisku menyusuri liang vagina hangat yang basah berlendir yang disertai kedutan-kedutan yang memijit batang penisku selama aku memasukinya. Jepitan dan kedutan vaginanya pada penisku memberikan sensasi nikmat yang luar biasa. Perjalanan masuk ini kulakukan perlahan-lahan, karena aku ingin menikmati setiap mili pergeseran antara batang penisku dan veginanya yang selama 10 tahun ini menjadi obsesi dan khayalanku. Aku tidak ingin obsesi yang menjadi kenyataan ini berlangsung cepat.

Setelah seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya, kudiamkan sejenak untuk menikmati sensasi nikmat yang diberikan oleh vaginanya pada diriku. Kemudian kutarik secara perlahan hingga menyisakan ujung kepalanya dan kudorong kembali masuk hingga amblas. Gerakan ini terus kulakukan dengan sabar sambil menikmati deraan nikmat yang datang bertubi-tubi.

Nampaknya Bu Hj Nunik ini sudah tidak sabar, pantat terangkat setiap aku mendorong masuk, dan tangannya memberikan bantuan kecepatan pada pantatku agar aku melakukan dengan lebih cepat dan keras. Aku tidak terpengaruh dengan gerakan pantatnya yang semakin bergelinjang dan tangannya yang semakin menarik-narik keras pantatku agar bergerak lebih cepat. Aku hanya menambah sedikit kecepatan pada gerakan mengocokku.

Pinggulnya semakin bergelinjang, kepalanya terlempar ke kiri dan kanan sambil mulut yang kembali mengerang-ngerang nikmat “Auh…auh….euh… euh…..” Gelinjang tubuhnya semakin keras dan hebat. Berputar, kekiri kekanan dan ke atas ke bawah, hingga akhirnya gerakannya semakin tak beraturan, badannya terlonjak-lonjak, tangannya menarik punggungku hingga tubuhnya terangkat dan kepalanya terdongak dengan mata terbeliak dia menjerit keras “Aaaaaakkkhhhhhh……. “ kakinya terjulur kaku, tak lama kemudian badanya terhempas lemas dan tangannya terlepas dari punggungku dan jatuh ke samping tubuhnya. Kurasakan vagina berkontraksi sangat keras memijit-mijit dan menghisap-hisap penisku sehingga akupun terbeliak menahan sensasi nikmat yang teramat sangat.

Kubiarkan batang penisku amblas di dalam vaginanya menikmati sensasi orgasme yang kembali dialaminya. Kutopang tubuhku dengan kedua tangan yang menahan di pinggir bahunya. Perlahan-lahan matanya terbuka dan berkata dengan napas tersengal-sengal menahan lelah “Makasih.. Wan.., barusan betul-betul nikmat…uuhhhh..” Aku hanya menjawab dengan mencium bibirnya dengan nafsu yang menggelora.

Dia menyambut lemah ciumanku. Dengan sabar aku berusaha membangkitkan kembali gairahnya. Kuciumi lehernya dari balik jilbab yang masih dikenakannya namun telah basah oleh keringat, kujilati dadanya yang juga basah oleh keringat. Ketelusuri hingga ke bawah hingga akhirnya mulutku kembali memilin-milin putting susunya untuk membangkitkan gairahnya. Sambil perlahan-lahan kukocok penisku yang masih terbenam divaginanya yang semakin basah, namun tetap masih terasa sempit dan memijit-mijit.

Perlahan-lahan gairahnya bangkit kembali, hal ini terasa dengan ciumannya yang semakin hangat dan pinggulnya yang bergerak membalas setiap gerakan pinggulku. Makin lama gerakan pinggulnya semakin erotis dan bersemangat dan erangan nikmat kembali terdengar dari mulutnya.

Kuhentikan gerakanku dan kucabut penisku yang masih tegang. Dia menatapku kecewa sambil berkata “Ada apa Wan? “. Aku tersenyum lalu berkata “Kita nungging bu!” Dia mengerti apa yang kuinginkan. Lalu dia bangun dan membuat posisi merangkak. Aku posisikan selangkanganku pada tengah-tengah pantatnya. Sebelum kumasukkan penisku, kembali aku terpana melihat keseksian tubuhnya dalam posisi menungging, kulit punggung yang begitu putih kekuning-kuningan, mengkilap oleh basahnya keringat yang keluar dari pori-pori tubuhnya. Hanya ada satu kata untuk mengomentari keadaan itu, yaitu “Sempurna..!” tanpa terasa bibirku berguman.

“Ada apa ..Wan..?” tanyanya padaku. Aku segera menjawab “Tubuh ibu betul-betul sempurna.”. Dia tidak menjawab mungkin dia merasa bangga dengan pujianku. Tangannya hanya menggapai-gapai meraih penisku untuk diarahkan vaginanya yang sudah menanti. Lalu kuarahkan penisku ke liang vaginanya dan Bleshhhh……

Kembali penisku menyusuri liang vagina basah yang masih tetap sempit dan memijit-mijit. Pantatku memulai bergoyang maju mundur agar penisku mengocok-ngocok vaginanya. Tanganku meraih buah dadanya yang bergantungan bebas dan kuremas-remas dengan gemas untuk menambah sensasi nikmat yang kembali mendera sekujur tubuhku. Tubuhnya bereaksi dengan apa yang kulakukan, mulutnya mengerang nikmat “Auh… auh… euh …. Euh… “, dan pinggulnya bergerak-gerak semakin liar. Kudiamkan gerakan pinggulku, namun pinggul dan pantatnya menghentak-hentakkan selangkanganku sehingga penisku semakin dalam mengocok dan mengaduk-aduk vaginanya. Kepalanya tidak bisa diam menggeleng-geleng sambil mulut yang tak henti-hentinya mengerang nikmat.

Gerakan pinggul dan pantatnya semakin liar tak terkendali, jeritan nikmatnya semakin keras, dan kedutan dan pijatan vaginanya pada penisku semakin keras. Hingga akhirnya badannya kaku, tangannya mencengkram kasur dengan sangat keras dan menjerit “Aaaakkhhhh…..” kembali kepala terdongak dengan mata yang terbeliak. Setelah itu kembali kontraksi keras terjadi pada vaginanya yang memelintir dan menghisap-hisap penis membuat aku terbeliak-beliak menahan nikmat. Tak lama kemudian… BRUK.. badannya jatuh tertelungkup hingga penisku yang masih tegang lepas dari vaginanya.

Kubiarkan dia istirahat menikmati sensasi orgasme yang kembali menderanya. Lalu mendekati punggungnya yang basah, kubelaikan tangan kiriku dari punggung hingga pantatnya, dan kuremas-remas pantat seksi itu. Tangan kananku menyibakkan jilbab yang sudah sangat basah dan akhirnya kulepaskan jilbab itu. Bibir dan mulutku menciumi tengkuk dan lehernya yang putih mulus tiada kerut. Mulutku menyusuri tengkuk dan punggung sedangkan tanganku meremas-remas pantatnya. Akhirnya gairahnya bangkit kembali. Dia membalikkan tubuhnya hingga telentang dan tangannya meraih tubuhku hingga menindih tubuhnya bibirnya mencium bibirku dengan ganas, kemudian tangannya mencari-cari penisku dan mengarahkan ke vaginanya.

Blesshh…. Untuk kesekian kalinya kembali penisku menjelajahi liangvagina yang semakin basah dan berdenyut. Aku menggerakkan pantatku untuk mengocok penisku di dalam vaginanya, dia menyambut dengan erangan dan gerakan pinggul yang bisa memelintir-melintir batang penisku dengan liarnya. Semakin lama gerakanku semakin cepat dan gerakannyapun semakin cepat dan liar.

Lenguhan nikmatku dan erangan nikmatnya bersatu padu membangun suatu komposisi musik penuh gairah dan merangsang, semakin lama suara erangan dan lenguhan nikmat semakin riuh rendah. Hingga akhirnya pantatku bergerak sangat keras dan liar tak terkendali demikian pula gerakan pinggulnya. Gerakan kami sudah menjadi hentakan-hentakan nikmat yang keras dan liar. Hingga akhirnya aku merasa gelombang yang maha dahsyat keluar dari dalam diriku melalui penis yang semakin keras dan kaku dan akhirnya tanpa dapat kukendalikan tubuhku menegang kaku dan badanku melenting ke atas serta menjerit melepas nikmat yang tak tertahankan “Akhhh….” Dan secara bersamaanpun dia menjerit nikmat “Akhhhh… “ dengan badan yang kaku dan tangan yang mencengkram punggungku dengan sangat keras.

Tak lama kemudian, tubuh kami ambruk kelelahan seperti orang yang baru saja berlari cepat dalam jarak yang sangat jauh. Aku menggulingkan tubuhku agar tidak menindih tubuhnya. Dan kami telentang berdampingan sambil menikmati sensasi kenikmatan orgasme yang masih datang menghampiri kami.

Setelah beberapa menit kami terdiam menikmati sensasi orgasme dan napas yang perlahan-lahan mulai pulih, Dia memiringkan badannya menghadapku, sambil tangannya membelai-belai dadaku dia berkata “Wan… kamu memang luar biasa… Dulu saja waktu si Bapak masih sehat. Belum pernah saya merasakan sepuas ini dalam berhubungan badan. Sebagai lelaki kamu mampu bermain cukup lama dan memberikan beberapa kali orgasme pada pasangan kamu. Pantas saja, istrimu sangat sayang padamu..”

“Ahh… jangan begitu ach… Bu! Saya jadi malu…” Sahutku sambil merasa bangga dipuji seperti itu.

Setelah cukup lama beristirahat kembali kami berpakaian, dan aku terlebih dahulu ke ruang tamu untuk memeriksa laptop yang masih menyala. Ternyata laptop sudah lama mati, karena hampir 1,5 jam aku tinggalkan. Tak lama kemudian Bu Hj. Nunik menghampiriku dan duduk disampingku sambil menggelayut mesra dan bertanya “bagaimana Wan , beres ?”. “Belum saya periksa bu…, keburu mati..” jawabku

“Ok dech , kamu lanjutin aja dulu, saya mau nyiapkan makan malam.

Akhirnya malam itu, aku menelepon istriku untuk memberitahukan pada istriku bahwa aku tidak bisa pulang, karena ada pekerjaan yang belum selesai. Akhirnya sepanjang malam itu hingga mendekati subuh, kami isi dengan persetubuhan yang sangat bergairah. Kami hanya istirahat untuk minum dan makan memulihkan tenaga. Malam itu kami bagaikan sepasang pengantin baru yang menghabiskan malam pertamnya. Hal ini terjadi barangkali karena Bu Hj Nunik ini merupakan Wanita yang menjadi obsesi saya yang selama 10 tahun menjadi khayalan dan impian. Sedangkan bagi Bu Hj. Nunik, malam itu merupakan malam pertama selama 4 tahun dia tidak mendapatkan kehangatan tubuh laki-laki.

Akhirnya sampai saat ini aku dan Bu Hj Nunik berselingkuh, tanpa seorang temanpun yang tahu. Kami berusaha menjaga perselingkuhan ini serapih mungkin. Entah sampai kapan….




Arsip Blog