Tetangga Depan Rumah



Cerita tersebut berawal dari istriku saat akan tidur, yang mengatakan bahwa evi tetangga depan rumah aq ternyata mempunyai suami yang impoten, aq agak terkejut tidak menyangka sama sekali, karna dilihat dari postur suaminya yang tinggi tegap rasanya tdk mungkin, memang yg aku tau mereka telah berumah tangga sekitar 5 tahun tapi blm dikaruniai seorang anakpun.

“bener pah, td evi cerita sendiri sm mama” kata istriku seolah menjawab keraguanku,
“wah, kasian banget ya mah, jadi dia gak bisa mencapai kepuasan dong mah?” pancingku
“iya” sahut istriku singkat
pikiran aku kembali menerawang ke sosok yg diceritakan istriku, tetangga depan rumahku yang menurutku sangat cantik dan seksi, aku suka melihatnya kala pagi dia sedang berolahraga di depan rumahku yang tentunya di dpn rumahku jg, kebetulan tempat tinggal aku berada di cluster yang cukup elite, sehingga tidak ada pagar disetiap rumah, dan jalanan bisa dijadikan tempat olahraga, aku perkirakan tingginya 170an dan berat mungkin 60an, tinggi dan berisi, kadang saat dia olahraga pagi aku sering mencuri pandang pahanya yang putih dan mulus karena hanya mengenakan celana pendek, pinggulnya yg besar sungguh kontras dengan pinggangnya yang ramping, dan yang sering bikin aku pusing adalah dia selalu mengenakan kaos tanpa lengan, sehingga saat dia mengangkat tangan aku dapat melihat tonjolan buah dadanya yg keliatannya begitu padat bergotang mengikuti gerakan tubuhnya.

Satu hal lagi yang membuat aku betah memandangnya adalah bulu ketiaknya yang lebat, ya lebat sekali, aku sendiri tidak mengerti kenapa dia tidak mencukur bulu ketiaknya, tapi jujur aja aku justru paling bernafsu saat melihat bulu ketiaknya yang hitam, kontras dengan tonjoilan buah dadanya yg sangat putih mulus. tapi ya aku hanya bisa memandang saja karna bagaimanapun juga dia adalah tetanggaku dan suaminya adalah teman aku. namun cerita istriku yang mengatakan suaminya impoten jelas membuat aku menghayal gak karuan, dan entah ide dari mana, aku langsung bicara ke istriku yang keliatannya sudah mulai pulas.

“mah” panggilku pelan
“hem” istriku hanya menggunam saja
“gimana kalau kita kerjain evi”
“hah?” istriku terkejut dan membuka matanya
“maksud papa?”
Aku agak ragu juga menyampaikannya, tapi karna udah terlanjur juga akhirnya aku ungkapkan juga ke istriku,
“ya, kita kerjain evi, sampai dia gak tahan menahan nafsunya”
“buat apa? dan gimana caranya?” uber istriku
lalu aku uraikan cara2 memancing birahi evi, bisa dengan seolah2 gak sengaja melihat, nbaik melihat senjata aku atau saat kamu ml, istriku agak terkejut juga

apalagi setelah aku uraikan tujuan akhirnya aku menikmati tubuh evi, dia marah dan tersinggung

“papa sudah gila ya, mentang2 mama sudah gak menarik lagi!” ambek istriku tapi untunglah setelah aku beri penjelasan bahwa aku hanya sekedar fun aja dan aku hanya mengungkapkan saja tanpa bermaksud memaksa mengiyakan rencanaku, istriku mulai melunak dan akhirnya kata2 yang aku tunggu dari mulutnya terucap.

“oke deh pah, kayanya sih seru juga, tapi inget jangan sampai kecantol, dan jangan ngurangin jatah mama” ancam istriku.
aku seneng banget dengernya, aku langsung cium kening istriku. “so pasti dong mah, lagian selama ini kan mama sendiri yang gak mau tiap hari” sahutku.

“kan lumayan buat ngisi hari kosong saat mama gak mau main” kataku bercanda istriku hanya terdiam cemberut manja.. mungkin juga membenarkan libidoku yang terlalu tinggi dan libidonya yang cenderung rendah.

keesokan paginya, kebetulan hari Sabtu , hari libur kerja, setelah kompromi dgn istriku, kami menjalankan rencana satu, pukul 5.30 pagi istriku keluar berolahraga dan tentunya bertemu dengan evi, aku mengintip mereka dari jendela atas rumah aku dengan deg2an, setelah aku melihat mereka ngobrol serius, aku mulai menjalankan aksiku, aku yakin istriku sedang membicarakan bahwa aku bernafsu tinggi dan kadang tidak sanggup melayani, dan sesuai skenario aku harus berjalan di jendela sehingga mereka melihat aku dalam keadaan telanjang dengan senjata tegang, dan tidak sulit buatku karena sedari tadi melihat evi berolahraga saja senjataku sudah menegang kaku, aku buka celana pendekku hingga telanjang, senjataku berdiri menunjuk langit2, lalu aku berjalan melewati jendela sambil menyampirkan handuk di pundakku seolah2 mau mandi, aku yakin mereka melihat dengan jelas karena suasana pagi yang blm begitu terang kontras dengan keadaan kamarku yang terang benderang. tapi untuk memastikannya aku balik kembali berpura2 ada yang tertinggal dan lewat sekali lagi, sesampai dikamar mandiku, aku segera menyiram kepalaku yang panas akibat birahiku yang naik, hemm segarnya, ternyata siraman air dingin dapat menetralkan otakku yg panas.

Setelah mandi aku duduk diteras berteman secangkir kopi dan koran, aku melihat mereka berdua masih mengobrol. Aku mengangguk ke evi yg kebetulan melihat aku sbg pertanda menyapa, aku melihat roma merah diwajahnya, entah apa yg dibicarakan istriku saat itu. Masih dengan peluh bercucuran istriku yg masih keliatan seksi jg memberikan jari jempolnya ke aku yang sedang asik baca koran, pasti pertanda bagus pikirku, aku segera menyusul istriku dan menanyakannya
“gimana mah?” kejarku
istriku cuma mesem aja,
” kok jadi papa yg nafsu sih” candanya
aku setengah malu juga, akhirnya istriku cerita juga, katanya wajah evi keliatan horny saat dengar bahwa nafsu aku berlebihan, apalagi pas melihat aku lewat dengan senjata tegang di jendela, roman mukanya berubah.
“sepertinya evi sangat bernafsu pah” kata istriku.
“malah dia bilang mama beruntung punya suami kaya papa, tidak seperti dia yang cuma dipuaskan oleh jari2 suaminya aja”
“oh” aku cuma mengangguk setelah tahu begitu,
“trus, selanjutnya gimana mah? ” pancing aku
“yah terserah papa aja, kan papa yg punya rencana”
aku terdiam dengan seribu khayalan indah,
“ok deh, kita mikir dulu ya mah”
aku kembali melanjutkan membaca koran yg sempat tertunda, baru saja duduk aku melihat suami evi berangkat kerja dengan mobilnya dan sempat menyapaku
“pak, lagi santai nih, yuk berangkat pak” sapanya akrab
aku menjawab sapaannya dengan tersenyum dan lambaian tangan.
“pucuk dicinta ulam tiba” pikirku, ini adalah kesempatan besar, evi di rumah sendiri, tapi gimana caranya? aku memutar otak, konsentrasiku tidak pada koran tapi mencari cara untuk memancing gairah evi dan menyetubuhinya, tapi gimana? gimana? gimana?

sedang asiknya mikir, tau2 orang yang aku khayalin ada di dpn mataku,
“wah, lagi nyantai nih pak, mbak yeni ada pak?” sapanya sambil menyebut nama istriku
“eh mbak evi, ada di dalam mbak, masuk aja” jawabku setengah gugup
evi melangkah memasuki rumahku, aku cuma memperhatikan pantatnya yang bahenol bergoyang seolah memanggilku untuk meremasnya.

aku kembali hanyut dengan pikiranku, tapi keberadaan evi di rumahku jelas membuat aku segera beranjak dari teras dan masuk ke rumah juga, aku ingin melihat mereka, ternyata mereka sedang asik ngobrol di ruang tamu, obrolan mereka mendadak terhenti setelah aku masuk,

“hayo, pagi2 sudah ngegosip! pasti lagi ngobrolin yg seru2 nih” candaku
mereka berdua hanya tersenyum.

aku segera masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku, aku menatap langit2 kamar, dan akhirnya mataku tertuju pada jendela kamar yang hordengnya terbuka, tentunya mereka bisa melihat aku pikirku, karena di kamar posisinya lebih terang dari diruang tamu, tentunya mereka bisa melihat aku, meskipun aku tidak bisa melihat mereka mengobrol?
reflek aku bangkit dari tempat tidur dan menggeser sofa kesudut yg aku perkirakan mereka dapat melihat, lalu aku lepas celana pendekku dan mulai mengocok senjataku, ehmm sungguh nikmat, aku bayangkan evi sedang melihatku ngocok dan sedang horny, senjataku langsung kaku.

tapi tiba2 saja pintu kamarku terbuka, istriku masuk dan langsung menutup kembali pintu kamar.
“pa, apa2an sih pagi2 udah ngocok, dari ruang tamu kan kelihatan” semprot istriku
“hah?, masa iya? tanyaku pura2 bego.

“evi sampai malu dan pulang tuh” cerocosnya lagi, aku hanya terdiam,
mendengar evi pulang mendadak gairahku jadi drop, aku kenakan kembali celanaku.
sampai siang aku sama sekali belum menemukan cara untuk memancingnya, sampai istriku pergi mau arisan aku cuma rebahan di kamar memikirkan cara untuk menikmati tubuh evi,
” pasti lagi mikirin evi nih, bengong terus, awas ya bertindak sendiri tanpa mama” ancam istriku “mama mau arisan dulu sebentar”
aku cuma mengangguk aja,

5 menit setelah istriku pergi, aku terbangun karna di dpn rumah terdengar suara gaduh, aku keluar dan melihat anakku yg laki bersama teman2nya ada di teras rumah evi dengan wajah ketakutan, aku segera menghampirinya, dan ternyata bola yang dimainkan anakku dan teman2nya mengenai lampu taman rumah evi hingga pecah, aku segera minta maaf ke evi dan berjanji akan menggantinya, anakku dan teman2nya kusuruh bermain di lapangan yg agak jauh dari rumah.
“mbak evi, aku pamit dulu ya, mau beli lampu buat gantiin” pamitku

“eh gak usah pak, biar aja, namanya juga anak2, lagian aku ada lampu bekasnya yg dari developer di gudang, kalau gak keberatan nanti tolong dipasang yang bekasnya aja” aku lihat memang lampu yang pecah sudah bukan standar dr developer, tapi otakku jd panas melihat cara bicaranya dengan senyumnya dan membuat aku horny sendiri.
“kalau gitu mbak tolong ambil lampunya, nanti aku pasang” kataku
“wah aku gak sampe pak, tolong diambilin didalam” senyumnya.

kesempatan datang tanpa direncanakan, aku mengangguk mengikuti langkahnya, lalu evi menunjukan gudang diatas kamar mandinya, ternyata dia memanfaatkan ruang kosong diatas kamar mandinya untuk gudang.
“wah tinggi mbak, aku gak sampe, mbak ada tangga?” tanyaku
“gak ada pak, kalau pake bangku sampe gak” tanyanya
“coba aja” kataku.

Evi berjalan ke dapur mengambil bangku, lambaian pinggulnya yang bulat seolah memanggilku untuk segera menikmatinya, meskipun tertutup rapat, namun aku bisa membayangkan kenikmatan di dalam dasternya.
lamunanku terputus setelah evi menaruh bangku tepat didepanku, aku segera naik, tapi ternyata tanganku masih tak sampai meraih handle pintu gudang,
“gak sampe mba” kataku

aku lihat evi agak kebingungan,
“dulu naruhnya gimana mbak? ” tanyaku
“dulu kan ada tukang yang naruh, mereka punya tangga”
“kalau gitu aku pinjem tangga dulu ya mba sama tetangga”
aku segera keluar mencari pinjaman tangga, tapi aku sudah merencanakan hal gila, setelah dapat pinjaman tangga aluminium, aku ke rumah dulu, aku lepaskan celana dalamku, hingga aku hanya mengenakan celana pendek berbahan kaos, aku kembali ke rumah evi dgn membawa tangga, akhirnya aku berhasil mengambil lampunya. dan langsung memasangnya, tapi ternyata dudukan lampunya berbeda, lampu yang lama lebih besar, aku kembali ke dalam rumah dan mencari dudukan lampu yg lamanya, tp sudah aku acak2 semua tetapi tidak ketemu jg, aku turun dan memanggil evi, namun aku sama sekali tak melihatnya atau sahutannya saat kupanggil, “pasti ada dikamar: pikirku “wah bisa gagal rencanaku memancingnya jika evi dikamar terus”

aku segera menuju kamarnya, namun sebelum mengetuknya niat isengku timbul, aku coba mengintip dari lubang kunci dan ternyata….

Aku dapat pemandangan bagus, aku lihat evi sedang telanjang bulat di atas tempat tidurnya, jari2nya meremas buah dadanya sendiri, sedangkan tangan yang satunya menggesek2 klitorisnya, aku gemetar menahan nafsu, senjataku langsung membesar dan mengeras, andai saja tangan aku yang meremas buah dadanya… sedang asik2nya mengkhayal tiba2 evi berabjak dari tempat tidurnya dan mengenakan pakaian kembali, mungkin dia inget ada tamu, aku segera lari dan pura2 mencari kegudang, senjataku yang masih tegang aku biarkan menonjol jelas di celana pendekku yang tanpa cd.
“loh, nyari apalgi pak?” aku lihat muka evi memerah, ia pasti melihat tonjolan besar di celanaku

“ini mbak, dudukannya lain dengan lampu yang pecah” aku turun dari tangga dan menunjukan kepadanya, aku pura2 tidak tahu keadaan celanaku, evi tampak sedikit resah saat bicara.

“jadi gimana ya pak? mesti beli baru dong” suara evi terdengar serak, mungkin ia menahan nafsu melihat senjataku dibalik celana pendekku, apalagi dia tadi sedang masturbasi.

Aku pura2 berfikir, padahal dalam hati aku bersorak karena sudah 60% evi aku kuasai, tapi bener sih aku lagi mikir, tapi mikir gimana cara supaya masuk dalam kamarnya dan menikmati tubuhnya yang begitu sempurna??
“kayanya dulu ada pak. coba aku yang cari” suara evi mengagetkan lamunanku, lalu ia menaiki tangga, dan sepertinya evi sengaja memancingku, aku dibawah jelas melihat paha gempalnya yang putih mulus tak bercela, dan ternyata evi sama sekali tidak mengenakan celana dalam, tapi sepertinya evi cuek aja, semakin lama diatas aku semakin tak tahan, senjataku sudah basah oleh pelumas pertanda siap melaksanakan tugasnya.

Setelah beberapa menit mencari dan tidak ada juga, evi turun dari tangga, tapi naas buat dia ( Atau malah sengaja : ia tergelincir dari anak tangga pertama, tidak tinggi tapi lumayan membuatbya hilang keseimbangan, aku reflek menangkap tubuhnya dan memeluknya dari belakang, hemmm sungguh nikmat sekali, meskipun masih terhalang celana dalam ku dan dasternya tapi senjataku dapat merasakan kenyalnya pantat evi, dan aku yakin evi pun merasakan denyutan hangat dipantatnya, “makasih pak” evi tersipu malu dan akupun berkata maaf berbarengan dgn ucapan makasihnya
“gak papa kok, tapi kok tadi seperti ada yg ngeganjel dipantatku ya”?” sepertinya evi mulai berani, akupun membalasnya dgn gurauan,

“oh itu pertanda senjata siap melaksanakan tugas”

“tugas apa nih?” evi semakin terpancing
aku pun sudah lupa janji dgn istriku yang ga boleh bertindak tanpa sepengetahuannya, aku sudah dikuasai nafsu.

“tugas ini mbak!” kataku langsung merangkulnya dalam pelukanku

aku langsung melumat bibirnya dengan nafsu ternyata evipun dengan buas melumat bibirku juga, mungkin iapun menunggu keberanianku, ciuman kami panas membara, lidah kami saling melilit seperti ular, tangan evi langsung meremas senjataku, mungkin baru ini dia melihat senjata yang tegang sehingga evi begitu liar meremasnya, aku balas meremas buah dadanya yang negitu kenyal, meskipun dari luar ali bisa pastiin bahwa evi tidak mengenakn bra, putingnya langsung mencuat, aku pilin pelan putingnya, tanganku yang satu meremas bongkahan pantatnya yang mulus, cumbuan kami semakin panas bergelora
tapi tiba2

“sebentar mas!” evi berlari ke depan ternyata ia mengunci pintu depan, aku cuma melongo dipanggil dengan mas yang menunjukan keakraban

“sini mas!” ia memanggilku masuk kekamarnya

aku segera berlari kecil menuju kamarnya, evi langsung melepas dasternya, dia bugil tanpa sehelai benangpun di depan mataku. sungguh keindahan yang benar2 luar biasa, aku terpana sejenak melihat putih mulusnya badan evi. bulu kemaluannya yang lebat menghitam kontras dengan kulitnya yg bersih. lekuk pinggangnya sungguh indah.
tapi hanya sekejab saja aku terpana, aku langsung melepas kaos dan celana pendekku, senjataku yang dari tadi mengeras menunjuk keatas, tapi ternyata aku kalah buas dengan evi. dia langsung berjongkok di depanku yang masih berdiri dan melumat senjataku dengan rakusnya.

Lidahnya yang lembut terasa hangat menggelitik penisku, mataku terpejam menikmati cumbuannya, sungguh benar2 liar, mungkin karna evi selama ini tidak pernah melihat senjata yang kaku dan keras, kadang ia mengocoknya dengan cepat, aliran kenikmatan menjalari seluruh tubuhku, aku segera menariknya keatas, lalu mencium bibirnya, nafasnya yang terasa wangi memompa semangatku untuk terus melumat bibirnya, aku dorong tubuhnya yang aduhai ke ranjangnya, aku mulai mengeluarkan jurusku, lidahku kini mejalari lehernya yang jenjang dan putih, tanganku aktif meremas2 buah dadanya lembut, putingnya yang masih kecil dan agak memerah aku pillin2, kini dari mataku hanya berjarak sekian cm ke bulu ketiaknya yang begitu lebat, aku hirup aromanya yang khas, sungguh wangi. lidahku mulai menjalar ke ketiak dan melingkari buah dadanya yang benar2 kenyal.

Dan saat lidahku yang hangat melumat putingnya evi semakin mendesah tak karuan, rambutku habis dijambaknya, kepalaku terus ditekan ke buah dadanya. aku semakin semangat, tidak ada sejengkal tubuh evi yang luput dari sapuan lidahku, bahkan pinggul pantat dan pahanya juga, apalagi saat lidahku sampai di kemaluannya yang berbulu lebat, setelah bersusah payah meminggirkan bulunya yang lebat, lidahku sampai juga ke klitorisnya, kemaluannya sudah basah, aku lumat klitnya dengan lembut, evi semakin hanyut, tangannya meremas sprey pertanda menahan nikmat yang aku berikan, lidahku kini masuk ke dalam lubang kemaluannya, aku semakin asik dengan aroma kewanitaan evi yang begitu wangi dan menambah birahiku.

Tapi sedang asik2nya aku mencumbu vaginanya, evi tiba2 bangun dan langsung mendorongku terlentang, lalu dengan sekali sentakan pantatnya yang bulat dan mulus langsung berada diatas perutku, tangannya langsung menuntun senjataku, lalu perlahan pantatnya turun, kepala kemaluanku mulai menyeruak masuk kedalam kemaluannya yang basah, namun meskipun basah aku merasakan jepitan kemaluannya sangat ketat. mungkin karna selama ini hanya jari saja yang masuk kedalam vaginanya, centi demi centi senjataku memasuki vaginanya berbarengan dengan pantat evi yang turun, sampai akhirnya aku merasakan seluruh batang senjataku tertanam dalam vaginanya, sungguh pengalaman indah, aku merasakan nikmat yang luar biasa dengan ketatnya vaginanya meremas otot2 senjataku, evi terdiam sejenak menikmati penuhnya senjataku dalam kemaluannya, tapi tak lama.

Pantatnya yang bahenl dan mulus nulaik bergoyang, kadang ke depan ke belakang, kadang keatas ke bawah, peluh sudah bercucuran di tubuh kami, tanganku tidak tinggal diam memberikan rangsangan pada dua buah dadanya yang besar, dan goyangan pinggul evi semakin lama semakin cepat dan tak beraturan, senjataku seperti diurut dengan lembut, aku mencoba menahan ejakulasiku sekuat mungkin, dan tak lama berselang, aku merasakan denyutan2 vagina evi di batang senjataku semakin menguat dan akhirnya evi berteriak keras melepas orgasmenya, giginya menancap keras dibahuku…
evi orgasme, aku merasakan hangat di batang senjataku, akhirnya tubuhnya yang sintal terlungkup diatas tubuhku, senjataku masih terbenam didalam kemaluannya,aku biarkan dia sejenak menikmati sisa2 orgasmenya setelah beberapa menit aku berbisik ditelinganya, “mba, langsung lanjut ya? aku tanggung nih” evi tersenyum dan bangkit dari atas tubuhku, ia duduk dipinggir ranjang, “makasih ya mas, baru kali ini aku mengalami orgasme yang luar biasa” ia kembali melumat bibirku.aku yang masih terlentang menerima cumbuan evi yang semakin liar, benar2 liar, seluruh tubuhku dijilatin dengan rakusnya, bahkan lidahnya yang nakal menyedot dan menjilat putingku, sungguh nikmat, aliran daraku seperti mengalir dengan cepat, akhirnya aku ambil kendali, dengan gaya konvensional aku kemabli memasukkan senjataku dalam kemaluannya, sudah agak mudah tapi tetap masih ketat menjepit senjataku, pantatku bergerak turun naik, sambil lidahku mengisap buah dadanya bergantian, aku liat wajah evi yang cantik memerah pertanda birahinya kembali naik, aku atur tempo permainan, aku ingin sebisa mungkin memberikan kepuasan lebih kepadanya, entah sudah berapa gaya yang aku lakukan, dan entah sudah berapa kali evi orgasme, aku tdk menghitungnya, aku hanya inget terakhir aku oake gaya doggy yang benar2 luar biasa, pantatnya yang besar memberikan sensasi tersendiri saat aku menggerakkan senjataku keluar masuk. dan memang aku benar2 tak sanggup lagi menahan spermaku saat doggy, aku pacu sekencang mungkin, pantat evi yang kenyal bergoyang seirama dengan hentakanku,tapi aku masih ingat satu kesadaran “mbak diluar atau didalam?” tanyaku parau terbawa nafsu sambil terus memompa senjataku

Evipun menjawab dengan serak akibat nafsunya ” Didalam aja mas, aku lagi gak subur”
dan tak perlu waktu lama, selang beberapa detik setelah evi menjawab aku hentakan keras senjataku dalam vaginanya, seluruh tubuhku meregang kaku, aliran kenikmatan menuju penisku dan memeuntahkan laharnya dalam vagina evi, ada sekitar sepuluh kedutan nikmat aku tumpahkan kedalam vaginanya, sementara evi aku lihat menggigit sprey dihadapannya, mungkin iapun mengalami orgasme yg kesekian kalinya.


Saat Kereta Terlambat Datang



Hampir tiga jam aku duduk duduk di peron stasiun. Suasana yang tadinya rame ketika aku masuki stasiun Tanjung Barat sudah mulai sepi. Banyak calon penumpang yang memilih pindah naik bis karena jadwal kedatangan kereta yang kacau. Dan ketika kereta menuju Bogor itu datang, banyak yang tidak bisa masuk karena penuhnya. Bahkan kereta express yang harga tiketnya hampir 10 kali lipat harga tiket kereta ekonomipun penuh dijejali penumpang.
Aku yang mulai tidak sabar mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Karena memang kalau harus pindah naik bis berarti keluar biaya extra yang tidak sedikit. Aku pikir masih ada banyak waktu. Disamping istri tidak sedang dirumah, aku tahu kalau masih ada kereta yang bakal lewat meski jam tanganku menunjuk angka 9 lewat 25 menit.

Dan seleksi alam sepertinya berlaku, kedatangan kereta harus diadu dengan kesabaran calon penumpang. Dari puluhan calon penumpang yang nampak tiga jam yang lalu, sekarang bisa dihitung dengan jari yang tersisa. Di antara mereka aku lihat seorang wanita yang duduk gelisah. Aku mencoba tidak peduli, dan asik dengan kubus ajaib yang ingin aku taklukkan misterinya. Tapi ketika aku dengar sapanya, mau tidak mau aku harus sedikit mengalihkan perhatianku.
"Mas, sampai jam berapa ya kereta bakal datang?" tanyanya yang ternyata telah duduk di sebelahku.
"Perhitunganku masih Mba, sebab biasanya jam segini kalau jadwalnya normal masih ada satu kereta ekonomi, 2 kereta ekonomi AC dan satu Express. Sabar saja mba." Jawabku mulai menenangkan.
"Bukan begitu Mas, dengan jam segini temanku pasti sudah pulang, dan aku harus naik angkot yang belum tentu masih ada." ia mencoba menjelaskan alasan kegelisahannya.
"Lha memang teman mba ngga mau nunggu?"
"Dia balik jam sembilan dari taman topi, dan sudah jadi kesepakatan kalau aku belum sampai ya ditinggal saja."
"Yah memang pasti sudah pulang sih. Lha memang pulang ke mana kok angkutan sudah tidak ada."
"Jasinga."
Waduh.. pikirku. itu sih jauh banget, ada kemungkinan memang sudah tidak ada mobil. Kalaupun ada, untuk perempuan cantik macam dia apa aman kalau harus pulang sendirian. Jangan-jangan dikira bukan perempuan baik-baik. Dan dengan dia bertanya padaku tentunya berharap ada solusi.
"Kalau hitungan waktusih paling tidak kita sampai stasiun Bogor jam sebelas. Dan belum lagi ke arah Jasinga. Apa tidak sebaiknya mba telelepon teman mba itu untuk njemput di stasiun Bogor?"
"Tidak mungkin Mas, tidak enak aku sama istrinya. Dan lagi dia hanya tetangga, bukan saudara."
"Terus bagaimana Mba, apa nanti mba cari penginapan saja di Bogor, besok diteruskan jalan pulangnya."
"Waduh Mas, buat beli susu anakku saja susah, apalagi buat bayar penginapan."
Sudah ada anak, berarti ada suami dong. "Kenapa tidak dijemput suami Mba?"
Dia diam tak menjawab, tapi malah menundukkan mukanya.
"Eh maaf kalau saya salah ucap." Saya coba mengkoreksi.
"Tidak apa-apa Mas, saya sudah tidak ada suami. Sudah meninggal."
"Oh maaf, ikut berduka cita." Saya mencoba menghibur. Tiba-tiba saya menjadi bersimpatik, dalam usianya yang masih muda dan cantik dia harus membesarkan anaknya sendiri.
"Err... Maaf mba. Mba berharap saya menolong Mba?"
"Saya tidak berani meminta mas.."
"Begini saja mba, saya tidak mungkin mengajak mba kerumah saya. Tapi kalau mba mau, saya antar saja nanti ke rumah."
"Tapi Mas, rumah saya sangat jauh, memangnya rumah mas di mana?"
"Saya di Bojong Gede, tapi sepertinya tidak tega melihat mba ngadepin kesulitan sendirian."
"Tidak Mas, saya tidak mau merepotkan. Saya terima saja saran Mas tadi untuk mencari penginapan.
"Gak papa Mba, istri saya juga sedang tidak di rumah, jadi tidak apa-apa kalau pulang terlambat. Baiknya kita ganti saja tiketnya. Kita naik express. Terus turun di Bojong Gede. Motor saya ada di stasiun. Nanti mba saya antar ke rumah.
Si Mba hanya diam saja. Tapi bisa aku lihat rasa cemas itu sudah sedikit hilang dari wajahnya.
***
Tidak sampai satu jam, kita sudah tiba di stasiun Bojong Gede. Ada rasa cemas di hati, takut kalau ada kenalan yang melihat aku pulang dengan seorang wanita. Tapi itu segera aku kesampingkan, aku bisa berdalih kalau ini untuk menolong. Sengaja aku berlama-lama di tempat penintipan motor. Menunggu punumpang kereta express melanjutkan perjalannannya. Dan si Mba sepertinya mengerti maksudku.
"Takut ada yang lihat ya Mas?" tanyanya sambil tersenyum.
"Saya bukan orang yang terbiasa diledek karena bareng dengan wanita. Apalagi secantik mba." kilahku
"Eh mas bisa saja. Untuk perempuan yang sudah punya 2 anak saya bukan orang yang bisa dibanggakan sebagai penggoda laki-laki." jawabannya mulai menunjukkan keakaraban. Tapi bagaimanapun harus aku akui, perempuan disampingku ini sangat menggoda, dibalik balutan swetter sangat jelas body yang sempurna. Meski perkiraanku tinggi badannya tidak lebih dari 160, tapi besar badannya sangat proposional. Dengan dada yang membusung dan pantat yang berisi, mau tidak mau aku membayangkan godaan apa yang dia bawa.
"Eh ngomong-ngomong kita belum saling tahu nama kita masing-masing. Saya Listanto. Panggil saja Anto."
"Oh iya, aneh ya, sudah sejam lebih ngobrol malah gak tahu nama. Saya Nengsih. Kalau di rumah sering dipanggil Neng, tapi terserah Mas Anto saja."
Aku hanya tersenyum, namanya semanis orangnya. Dan setelah jaket dan helm aku pakai, termasuk helm cadangan yang selalu aku bawa aku serahkan ke Nengsih. Motor yang selalu menemaniku itu berjalan kearah Bogor. Aku lihat isi tangki bensinku ada setengah. Aku rasa masih cukup untuk menempuh perjalanan 50 km. Tapi untuk berjaga-jaga akan aku penuhi dulu bila ketemu pom bensin nanti.
Dingin angin malam kota Bogor membuat Nengsih meski sedikit jengah melingkarkan tangannya di pinggangku. Ah ternyata ada imbalannya pertolonganku padanya. Kehangatan pelukannya. Dan makin lama rasa jengah itu makin hilang dan tubuhnya makin rapat kepunggungku. Meski masih terhalang jaket motorku, bisa aku rasakan apa yang menempel di punggungku. Mau tidak mau, teman kecilku menggeliat.
Ketika motor yang kupadu memasuki daerah Dermaga, tiba-tiba hujan turun langsung besar. Sigap aku tepikan motorku mencari tempat berteduh di depan area kampus. Beruntung ada kios foto copy yang sudah tutup. Motor segera kuparkirkan dibawah emperan. Dan Nengsih segera turun.
"Aduh Mas, pakai acara hujan lagi. Bagaimana ini?"
"Ada jas hujan Neng, sebaiknya kamu pakai saja." Saya tidak lagi memanggilnya Mba, karena memang usaianya lebih muda dari saya dan dia hanya mau dipanggil namanya saja.
"Emang ada berapa jas hujan Mas?"
"Satu"
"Kalau satu mas saja yang pakai. Gak papa aku kehujanan. Kan dibelakang."
"Atau begini saja. Kamu pakai jaket saya, terus saya pakai jas hujan. Dan kepalamu ditutup jas hujan yang saya pakai. Bagaimana?"
"Boleh."
Aku segera membuka Jaket motorku dan menyerahkan kepadanya yang segera memakainya. Setelah aku rapi dengan jas hujan, kembali aku naiki motorku. Nengsih tidak mau ketinggalan. Segera saja dia masuk ke jas hujan yang aku pakai. Tapi rupanya Nengsih tidak penuh menutup resleting jaket yang dia pakai, sebab ketika dia menempel di punggunku segera aku rasakan kekenyalan payudaranya. Aku sedikit mendesah. Gejala apa ini.
"Neng, kenapa jaketnya tidak ditutup semua." aku mencoba bersikap sok alim.
"Gak papa mas, lebih hangat kan mas kalau begini. Bolehkan aku meluk Mas Anto."
Aku hanya diam saja. Yah siapa yang tidak bakal merasa intim. Pada saat dalam kesulitan, datang malaikat yang tidak terlihat pamrihnya datang menolong.
Bukan maksudku untuk memperlambat laju motorku untuk merasakan kemesraan seorang Nengsih lebih lama, tapi karena memang hujan yang begitu lebat menghalangi pandanganku. Dan sepertinya Nengsih mengetahui kesulitanku.
"Mas, sebaiknya berhenti saja daripada celaka nantinya."
"Tapi hari sudah malam Neng, aku takut kamu masuk angin."
"Ga papa Mas, berhenti saja."
Akhirnya aku tepikan lagi motorku. Dan perjalanan memang masih jauh. Kembali aku dapatkan tempat berteduh sebuah counter HP yang sudah tidak beraktifitas lagi.
"Ini daerah apa namanya Neng?" tanyaku.
"Cibatok Mas. Mungkin masih sekitar 25 KM lagi baru sampai Jasinga."
"Kita tunggu hujan reda atau bagaimana Neng?"
Nengsih tak menjawab, tapi aku tidak tega melihat bibirnya yang mulai biru. Segera aku dekati dia dan aku rengkuh ke pelukanku. "Maaf Neng, bukannya nyari kesempatan, tapi sepertinya kamu kedinginan."
Nengsih tidak menjawab, malah membalas pelukanku. Kembali aku rasakan hangatnya dadanya. Dan aku harus berjuang untuk tetap berlaku bisasa saja. Dan itu tidak berlaku lama. Lima belas menit kemudian hujan telah benar-benar berhanti. Segera aku lanjutkan perjalananku.
Tidak sampai 30 menit aku sudah memasuki rumah sederhana di daerah Jasinga. Nengsih mengenalkan aku kepada seorang perempuan paruh baya yang ia kenalkan sebagai ibu angkatnya sebagai malaikat penolongnya.
Karena kondisi badanku yang basah dan dingin meski aku ingin lebih lama tinggal, aku harus pamitan untuk pulang.

Tapi Nengsih mencoba menahanku. "Mas baiknya jangan pulang. Saya rebusin air saja terus Mas mandi. Pulangnya besok pagi saja. Besok libur kan Mas?"
Sebenarnya batinku bersorak. Tapi ada pertimbangan yang memaksaku harus pulang.
"Benar Nak, kalau Nak Anto pulang, sampai rumah bisa jam dua lebih. Sebaiknya menginap di sini saja. Tapi kalau Nak Anto keberatan menginap dirumah yang kecil ini hanya ini yang kami punya."
Ucapan Ibu angkat Nengsih sedikit banyak membuatku jengah. Dan sepertinya tawaran mereka bukan tawaran untuk ditolak. Baru aku mau menolak tawaran mereka tiba-tiba hujan turun lebat. Lebih lebat dari tadi.
"Ayo mas masuk saja. Nanti malah masuk angin. Kalau tidak mau menginap ya berteduhlah dulu. Nanti aku buatkan teh hangat." Nengsih memaksaku masuk sambil menyeret tanganku.
Kali ini aku tidak menolak, karena memang jaket motorku basah, sepertinya hujan kali ini tidak bersahabat karena disertai angin.
Nengsih segera masuk dan keluar lagi sambil membawa handuk yang diserahkan kepadaku yang aku terima dengan penuh terima kasih. Nengsih kemudian masuk lagi dan disusul Ibu angkatnya yang keluar sambil membawa secangkir teh hangat. Aku tak berfikir bagaimana bisa secepat itu teh yang menyegarkan badanku itu cepat terhidang.
Sambil menunggu hujan reda aku keringkan rambutku. Ah ternyata badanku terasa bau asam. Yah memang seharusnya aku sudah mandi.
Entah sedah berapa menit aku ditinggal sendiri. Setelah tadi Ibu angkat Nengsih pamit untuk pergi tidur karena besok harus berangkat ke pasar jam empat pagi.
Lamunanku dikejutkan oleh kedatangan Nengsih yang ternyata sudah membersihkan badannya. "Mas kalau mau mandi sudah aku rebuskan air, tapi maaf kamar mandinya jelek."
Aku tidak langsung menjawab, tapi terpana dengan sosok indah di depan mataku. Dalam keremangan lampu bisa aku lihat Nengsih yang segar seusai mandi dengan memakai daster tanpa lengan. Ah ada bidadari rupanya.
"Mas... Ditawari mandi kok bengong." Tegur Nengsih mengagetkan keterpanaanku.
"Eh iya, percuma kali Neng kalau mandi, aku cuci muka saja."
"Kenapa?"
"La kan habis mandi masih pakai baju ini juga."
"Er... maaf mas. Mandi saja mas. Maaf, habis mandi mas pakai sarung saja. Maaf.." kata Nengsih malu-malu.
"Kamu suruh aku pulang pakai sarung Neng?" tanyaku pura-pura bingung.
"Eh siapa yang nyuruh pulang. Mas nunggu pagi saja disini. Anak-anak sudah aku pindahin ke kamar ibu.
Sekali lagi aku hanya bisa diam. Bangkit dan mengikuti Nengsih ke kamar mandi.
Ketika Nengsih membukakan pintu kamar mandi, meski sudah menepi, pintu sempit itu tidak memberiku banyak ruang untuk dilewati. Mau tidak mau aku miringkan badanku. Celakanya itu artinya harus berhadapan dengan Nengsih yang masih berdiri di sana. Mau tidak mau dadanya bergesekan dengan dadaku. Seperti ada sengatan listrik disana. Nengsih melengos malu. Aku jengah dan salah tingkah.
"Maaf Neng." kataku lirih.
"Gak papa Mas." jawab Nengsih lirih juga.
Celakanya aku tidak segera masuk ke kamar mandi. Dan ketika Nengsih mendongak, bisa aku rasakan nafasnya lebih cepat.
"Sebaiknya Mas Anto mandi. Sarung sudah ada di kamar mandi. Nengsih menutup pintu dulu. Motornya sudah dimasukin kan Mas. Nanti istirahatnya di kamar depan." Ternyata Nengsih lebih bisa menguasai keadaan.
"Terima kasih Neng." jawabku sambil menutup pintu kamar mandi.
***

Hangat air mandi menurunkan ketegananku. Termasuk teman kecilku. Meski terasa segar aku tak mau berlama-lama di kamar mandi. Segera aku pakai sarung yang dipinjamkan Nengsih dan menuju kamar depan.
Aku terkejut, ternyata Nengsih juga terbaring di sana. Ragu-ragu aku untuk masuk kedalam kamar.
"Kenapa Mas?" tanya Nengsih melihat keraguanku.
"Eh Neng, sebaiknya aku di ruang tamu saja."
"Maaf mas, saya tidak bermaksud menjebak atau yang lain. Tapi sepertinya saya benar-benar menjadi orang yang sangat tidak tahu terima kasih kalau membiarkan Mas Anto tidur di ruang tamu, sementara hujan begitu lebat. Dingin Mas diluar."
"Tapi Neng, aku tidak enak sama Ibu, juga kalau tetangga tahu kalau aku tidur sekamar sama Nengsih. Aku hanya ingin menjaga kehormatan Nengsih."
"Terima kasih Mas, Mas Anto begitu baik. Ibu kok yang menyuruh. Dan kalau masalah tetangga, sebagai janda saya sudah kebal dengan omongan mereka Mas. Yang penting buat saya, saya tahu Mas Anto tidak bermaksud jelek."
Aku ragu-ragu, tapi melihat pandangan Nengsih yang penuh dengan permohonan, aku jadi tidak tega. Segera aku menuju balai yang tidak lebar itu. Dan Nengsih begeser memberiku ruang untuk berbaring.
Dipan kecil itu memaksa kami yang berbaring di atasnya untuk saling berhimpitan. Lengan telanjang kami saling bersentuhan. Lama kami berbaring dalam kebisuan. Dan keadaan itu sulit bagi kami untuk segera memejamkan mata.
"Mass...","Neng.." tegur kami hampir bersamaan...
"Eh Neng saja yang bicara." dapat aku rasakan ketegangan padanya. Seperti juga debaran jantungku yang semakin cepat.
"Anu.." ujar Nengsih sambil memiringkan badannya. Celakannya itu artinya lenganku harus bersentuhan dengan dadanya. Tidak seperti ketika di pintu kamar mandi tadi. Kali ini yang aku rasakan adalah daging lembut yang hanya berlapis kain dasternya. Aku benar-benar tidak tahan.
"Apa Neng...?" tanyaku dengan nada yang sudah dikuasai nafsu sambil ikut memiringkan badanku ke arahnya.
Nengsih tidak menjawat, melainkan langsung memeluk tubuhku. Segera aku cari bibirnya dan tak lama kami sudah saling mencium dengan penuh nafsu.
"Neng..., apa yang kita lakukan ini benar?" tanyaku ketika istirahan sejenak karena kehabisan nafas.
"Aku tidak tahu massss... Tapi aku menginginkan Mas..." jawab Nengsih sambil mempererat pelukannya, sementara wajahnya dibenamkan di dadaku. Mungkin karena lama tidak bersentuhan dengan lak-laki Nengsih berlaku lebih berani dan mengesampingkan resiko.
"Tapi kalau Mas tidak mau, aku juga tidak mamaksa." kata Nengsih selanjutnya.
"Maaf Neng.., sepertinya ini terlalu cepat. Bukan maksudku merendahkan Nengsih, ini karena rasa hormat saya pada Nengsih. Saya tidak ingin memanfaatkan keadaan Neng." aku mencoba berdiplomasi.
"Tidak apa-apa Mas, Nengsih ngerti. Maaf kalau Nengsih kurang ajar." Aku lihat matanya sedikit berkaca-kaca.
Aku menjadi salah tingkah. Segera aku pererat pelukanku. "Neng, aku juga menginginkannya.
Bahkan sejak kita berboncengan pas hujan di motor tadi."
"Neng ngerti kok Mas, Mas ragu karena Mas punya istri. Dan itu hak Mas. Dan itu membuat Neng makin hormat sama Mas. Mas bukan orang yang mudah tergoda, bahkan pada keadaan seperti sekarang, ketika tidak ada lagi halangan di antara kita."
"Maafkan aku Neng.." Aku bingung dengan apa yang harus aku katakan. Tapi entah kenapa, bukannya merenggangkan pelukanku, tapi malah merapatkan tubuhku. Dan Nengsihpun demikian. Sejenak kami hanya saling diam. Diam gerak, diam suara.
***
Terjebak dalam kebisuan, tubuh Nengsih beringsut merapat. Dan yang aku rasakan puncak bukit di dadanya sudah mengeras. Tak sadar aku mengusap dari luar dasternya.
"Masssss..." kembali kami terlibat saling mencium. Saling memberi.
Dan entah kapan memulainya, tangan kananku sudah parkir di dadanya. Dan Nengsihpun sudah menggenggam erat sahabat kecilku yang sudah ikut bangun dari tadi.
"Neng......, mau kita teruskan..?" tanyaku dalam guman.
"Terserah Masss......., Nengsih pasrah." jawab Nengsih sambil mendesah.
Aku mencoba membangun kembali kesadaranku. Tapi sepertinya usahaku sia-sia, sebab tak tahan aku untuk segera menindihnya.
Ketika aku lihat Nengsih sudah memejamkan matanya, tiba-tiba aku sadar dengan apa yang aku lakukan. "Neng..."
Nengsih membuka matanya, "Ada apa Mas..?"
"Ini tidak benar Neng. Maafkan aku.." ujarku sambil turun dari tubuhnya.
Setengah mati aku menahan gejolak di dada. Aku lihat Nengsih sedikit kecewa. Tapi dia pendam jua.
"Iya Mas... Nengsih ngerti. Sebaiknya tidak kita teruskan." sungguh luar biasa perempuan satu ini. Ketika nafsu ada diubun-ubunnya dia masih bisa berfikiran logis.
Aku menarik nafas lega. Meski tahu Nengsih kecewa, paling tidak pikiran sadarku membenarkan hal ini.
Aku tatap langit-langit kamar yang sebenarnya tidak bisa aku lihat jelas karena memang kamar ini diterangi hanya dengan lampu 5 watt. Fikiranku mengembara entah kemana.
"Mas.." Nengsih mencoba memecah kesunyian.
"Ya Neng?" tanyaku.
"Kenapa kita bertemu dengan status seperti sekarang ya?" tanya Nengsih menggugat.
Ketika aku lihat ke wajahnya, ada air mata yang mengalir di atas telinganya. Aku bangkit dan tengkurap disampingnya. Aku usap air matanya.
"Neng, masing-masing dari kita punya jalan sendiri-sendiri. Tidak perlu disesali. Mencobalah mengalir mengikuti arus jalan hidup kita." Aku berdiplomasi.
"Neng gak menyesal Mas. Tapi kalau hanya untuk ini, kenapa kita mesti bertemu."
"Siapa bilang hanya untuk ini Neng." kataku bergetar. Aku usap bibirnya lembut. "Meski mungkin tidak adil, aku masih ingin bertemu lagi sama Neng." egoku timbul, karena memang sesungguhnya aku tidak mau berpisah dengan wanita cantik ini.
"Maksud Mas?" Nengsih kembali melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Kamu terlalu indah untuk disia-siakan Neng." jawabku sambil mengecup lembut bibirnya.
"Mas mencintai saya?"
"Aku tidak tahu Neng, yang jelas dekat dengamu, apalagi dalam keadaan seperti ini, jiwa kelakianku berkata bahwa kamu harus aku lindungi."
"Terima kasih Mas, sudah berterus terang. Mungkin terlalu cepat Neng bicara ini, tapi ibu tadi juga bicara bahwa Mas bukan tipe laki-laki brengsek, dan dia merestui apapun yang Mas lakukan pada saya." sungguh satu pernyataan yang emplisit.
"Dan aku tidak mau mengecewakan harapan Ibumu dengan memperlihatkan aku sebagai laki-laki brengsek Neng."
"Dan itu sudah Mas buktikan."
"Jadi?"
"Terserah Mas. Seperti Ibu, Neng juga rela apapun yang bakal berlaku terhadap Neng dari Mas." Nengsih mempererat pelukannya.
Aku cium lembut lagi bibirnya. Dan untuk sementara yang terdengar hanyalah lenguhan dan dengusan orang berpagut bibir. Teman kecilku kembali bangun. Dengan tanpa menghentikan ciumanku, tanganku membuka simpul dasternya. Dan terbuka dadanya yang membusung. Tak tahan aku bibirku pindah ke payudaranya.
"Masss..." Nengsih mendesah. "Neng pasrah Mas..."
Di remasnya rambut kepalaku. Aku asik berkecipak dengan payudaranya yang bak payudara perawan.
Ketika aku asik mencumbu perempuan indah ini, aku dengar suara pintu dibuka.
"Apa itu Neng?" tanyaku berbisik.
"Ibu ke kamar mandi. Sebentar lagi ibu harus berangkat ke Pasar." jelas Nengsih dengan suara berbisik pula.
Aku kembali ke alam sadarku. Aku hentikan sejenak aktivitasku.
"Neng, apa tidak sebaiknya aku ikut pergi bareng Ibumu? Hujan juga sudah berhenti. Tidak baik kalau aku keluar hari sudah siang dan tetangga melihat." Aku mencoba berfikir logis.
"Mas tidak mau aku layani dulu?" Nengsih tampak kecewa.
"Tapi ibumu harus berangkat."
"Kalau ibu Mas antar sampai kepasar, Ibu bisa nunggu Mas."
"Tapi sekarang ibu sudah bangun. Sepertinya tidak etis kalau ibu nungguin aku sementara kita lagi bercumbu."
Nengsih kali ini sepertinya memaksa, ditelentangkannya aku kemudian menindihku. Dia lepaskan Dasternya dengan tidak sabar. Segera di pegangnya sahabat kecilku dan diarahkan ke lobang kewanitaannya. Tak lama kemudian terasa hangat disana dan segera di gerakkan pinggulnya.
"Stop Neng." Aku memaksa menghentikan kesenangannya.
"Apa lagi Mas, waktu kita tidak banyak." tangisnya hampir meledak.
Aku tarik tubuhnya untuk tengkurap di atasku. "Tidak baik kalau terburu-buru Neng. Aku tidak ingin persetubuhan seperti ini. Aku ingin kita lalui dengan perlahan-lahan dan kita mencapainya secara bersamaan. Tidak terburu-buru seperti ini."
Nengsih mulai sesenggukan. "Tapi Mas, Nengsih sangat ingin. Tolong Nengsih Mas..."
"Nengsih harus percaya Mas. Mas janji, ini bukan yang terakhir. Nengsih tahan ya..." Sungguh mati aku pun pengin meneruskan ini. Tapi.....
"Bu.... Mas Anto katanya mau bareng.." tiba-tiba Nengsih memanggil ibunya.
Aku yakin karena dinding kamar yang terbuat dari bilik sedikit banyak Ibunya mendengar pembicaraan aku dan Nengsih meski telah dilakukan dengan berbisik.
"Masih lama ko Neng perginya. Baru jam 3. Ibu hanya pengin ke belakang saja. Habis subuh Ibu pergi."
"Begitu ya Bu, terima kasih Bu." Nengsih menjawab cerah.
"Iya Neng. Teruskan saja tidurnya. Nanti Ibu bangunin."
Sungguh satu isyarat yang bijaksana menurutku. Satu jam sudah cukup untuk bercumbu dengan penuh kasih sayang.
"Mass......" Nengsih sepertinya tidak mau menyia-nyiakan waktu yang satu jam. Kembali ia pagut bibirku. Kami berdua sudah sama-sama telanjang. Dan memang dari tadi sahabat kecilku masih bersarang di sana.
Aku mencoba mengimbangi hasratnya. Logika yang dari tadi coba aku pertahankan sudah entah aku buang kemana.
Nengsih begitu menggebu-gebu melumat bibirku disertai menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku dan nafasnya terdengar cepat serta tidak beraturan.
Nengsih semakin ganas saja dalam berciuman dan kadang-kadang diselingi dengan menciumi seluruh wajahku dan kugunakan kesempatan yang ada untuk melepas sarung yang menutupi tubuhku. Dengan posisi Nengsih masih tetap di atas badanku, kupeluk badan Nengsih yang kecil mungil itu rapat-rapat sambil kuciumi seluruh wajahnya, demikian juga Nengsih melakukan ciuman yang sama sambil sesekali kudengar suaranya, “aahh.., aahh.., ooh.., Maass”.
Nengsih sekarang menciumi leherku dan terus turun ke arah dadaku dan karena terasa geli dan nikmat, tidak terasa aku berdesis, “sshh.., sshh.., Neng.., sshh”. Karena gerakannya, sahabatku otomatis tercabut dari tempat dimana tadi dengan nyaman bersarang.
Nengsih meneruskan ciumannya sambil terus menuruni badanku dan ketika sampai di sekitar pusarku, dia menciuminya dengan penuh semangat dan disertai menjilatinya sehingga terasa nikmat sekali dan sahabat kecilku making semangat berdiri di bawah badan Nengsih.
“sshh.., Neng.., adduuhh.., aahh”, dan Nengsih secara perlahan-lahan terus turun dan ketika sampai di sekitar sahabat kecilku yang sudah kuyup karena sempat masuk ke sarangnya, Nengsih mengelapnya dengan daster sambil memijit daerah sekelilingnya termasuk buah salaknya sehingga rasa enaknya terasa sampai ke ubun-ubun sambil tangan kanannya memegang sahabat kecilku dan mengocoknya pelan-pelan.
“Sshh.., aahh.., aahh.., Nengsih.., oohh.”
"Masss.... Nengsih mau ini.." pintanya sambil terus memegangi sahabat kecilku.
"Bukannya tadi sempat mampir Neng." godaku
"Lagi....." Nengsih terus mengurutnya perlahan.
"Jangan dulu Neng, kita masih punya waktu lama." Segera aku balikan tubuhnya sehingga sekarang aku yang menindihnya.
"Neng, aku juga sudah tak tahan...." Mulai aku lumat lagi bibir mungilnya. Nengsih dari bawah siap menerima. Pahanya telah direnggakan lebar-lebar, dan sahabat kecilku kembali menempel di pintu sarangnya.
Nengsih mempererat pelukannya. "Mas..... "
Aku terus mencumbunya, lehernya aku ciumi dan Nengsih sepertinya sudah demikian terangsangnya. Tangannya sudah mencari-cari sahabat kecilku dan digesek-gesekan ke pintu sarangnya setelah ketemu. Tapi aku masih ingin yang lain. Payudaranya belum puas aku ciumi. Nengsih makin menjadi-jadi dibuatnya. Bahkan lenguhannya bukan lagi bisikan, tapi aku kira sudah bisa terdengan ke luar kamar.
"Neng jangan keras-keras.." aku mencoba mengingatkan.
"Iya ya Mas... Neng tidak sadar Mas... habis lama banget tidak merasakan ini." aku mencoba paham, dan mungkin bila Ibu mendengar juga paham.
"Neng, masukin ya.. aku sudah tidak tahan.." pintaku ketika merasakan Nengsih masih terus mengusap-usapkan sahabat kecilku ke pintu sarangnya.
"Iya Mas, Nengsih juga sudah kepengin.." katanya sambil ia jejalkan sahabat kecilku ke sarangnya.
Tidak seperti ketika pertama tadi, sekarang rasanya lain. Lebih nikmat dan penuh kedamaian. Tapi ketika baru setengahnya tubuh sahabat kecilku masuk ke sarangnya Nengsih menjerit agak keras. Aku terkejut dibuatnya. Terlambat untuk menutup mulutnya. "Ah.... Mas........"
"Sssttttt Neng...."
"Iya Mas, sekarang masuknya lebih dalam dari yang pertama tadi. Sakit mas...."
"Pelan-pelan sayang...."
Aku mencoba lebih perlahan lagi menekan pinggangku. Aku lihat Nengsih masih meringis karena ada yang terasa pedih. Dan ketika sahabat kecilku telah terbenam semua, sengaja aku hentikan sejenak gerakanku.
"Ah Mas... terima kasih." Nengsih berkata dengan nafas tersengal-sengal. "Rasanya sampai ke perut punya Mas masuk."
Aku hanya tersenyum. "Sudah Neng, aku gerakin ya.."
Aku belum menggerakkan sahabat kecilku rupanya Nengsih punya keahlian sendiri. Dia mempermainkan otot-otot dinding sarangnya sehingga sahabat kecilku terasa seperti terhisap-hisap dengan agak kuat.
“Yaang.., teruus.., yaang.., enaakk sekalii.., yaang”, kukatakan kenikmatanku di dekat telinganya, dan karena keenakan ini dengan tanpa sadar aku mulai menggerakkan sahabat kecilku naik turun secara pelan dan teratur, sedangkan Nengsih secara perlahan mulai memutar-mutar pinggulnya. Setiap kali penisku kutekan masuk ke dalam vaginanya, kudengar suaranya, “aahh.., sshh.., Maass.., aaccrrhh”, mungkin karena sahabat kecilku menyentuh bagian sarangnya yang paling dalam.
Karena seringnya mendengar suara ini, aku semakin terangsang dan gerakan sahabat kecilku keluar masuk sarangnya semakin cepat dan suara, “aahh.., sshh.., aahh.., oohh.., aahh” dan Nengsih semakin sering dan keras terdengar serta gerakan pinggulnya semakin cepat sehingga penisku terasa semakin nikmat dan nyaman.
Aku semakin mempercepat gerakan sahabat kecilku keluar masuk sarangnya dan tiba-tiba Nengsih melepaskan jepitan kakinya di pinggangku dan mengangkatnya lebar-lebar, dan posisi ini mempermudah gerakan sahabat kecilku keluar masuk sarangnya dan terasa sahabat kecilku dapat masuk lebih dalam lagi.
Tidak lama kemudian kurasakan pelukan Nengsih semakin kencang di punggungku dan, “aahh.., oohh.., ayoo Maass.., aahh.., akuu.., mauu.., keluaar.., aahh.., maas”.
“Tungguu.., yaang.., aahh.., kitaa.., samaa.., samaa”, sahutku sambil mempercepat lagi gerakan sahabat kecilku.
“Adduuhh.., Maas.., akuu.., nggaak.., tahaan.., Maas.., ayoo.., se..karaang.., aarrcch”, sambil kembali kedua kakinya dilingkarkan dan dijepitkan di punggungku kuat-kuat.
“Yaang.., akuu.., jugaa..”, dan terasa, “Creet.., creet.., crreett”, sahabat kecilku menumpahkan seluruh isinya ke sarangnya sambil kutekan kuat-kuat sahabat kecilku ke sarangnya.
Aku jatuhkan badanku ke tubuh hangat Nengsih. Damai sekali rasanya
Setelah nafasku agak teratur, kukatakan di dekat telinganya, “Yaang.., terima kasih.., yaang”, sambil kukecup telinganya dan Nengsih tidak menjawab atau berkata apapun dan hanya menciumi wajahku.
***
Setelah berapa lama, Nengsih bangun dan keluar kamar dengan hanya berlilit handuk. Tak berapa lama dia sudah masuk lagi sambil membawa pakaianku.
Melihat Nengsih hanya berlilit handuk, nafsuku bangkit lagi. Segera aku raih pinggangnya dan aku buka handuknya. Aku dudukan tubuh telanjang itu di pangkuanku sambil aku ciumi payudaranya.
Seperti ibu yang bijaksana Nengsih mengelus kepalaku. "Sudah Mas.. ibu sudah bangun. Baiknya siap-siap."
"Sebenarnya aku masih ingin lebih lama di tempat tidur Neng. Tapi aku selalu ingin menjaga kehormatanmu Neng."
"Terima kasih Mas, Neng juga tidak mau Mas pulang. Tapi belum waktunya Mas." Aku mengerti arti ucapannya. Nengsih pengin aku lebih serius membina hubungan dengannya.
"Nak Anto sudah siap?" tiba-tiba aku dengar suara Ibu angkat Nengsih dari luar.
"Sebentar Bu." jawab Nengsih. Dia segera turun dari pangkuanku dan menggenakan Daster. Akupun bergegas memakai pakaianku. Setelah rapi, Nengsih kembali mengajaku beradu bibir kembali. Aku melayaninya dengan penuh kasih sayang. Tidak enak ditunggu terlalu lama oleh Ibu aku segera keluar kamar.
Segera aku keluarkan motorku. Dan siap aku jalankan.
"Neng sebaiknya kamu istirahat saja hari ini. Anak-anak sudah aku masakin. Jadi tinggal ambil saja nanti." pesan Ibunya pada Nengsih.
"Iya bu, terima kasih." jawab Nengsih.
"Mas..." Nengsih berlari menghapiriku ketika aku hendak menaiki motorku.
Aku mengengok dan langsung mendapati Nengsih memelukku erat-erat sambil kembali mencium bibirku. Tak lupa tanganku dituntun ke payudaranya. Dia minta diremas.
Meski jengah karena dihadapan Ibunya aku turuti juga kemauannya. Dan dalam keremangan pagi itu kembali kami asik beradu bibir. Aku lihat Ibunya tersenyum bijak.
"Sudah Neng, Mas mu tidak bakal lama perginya." tegur ibunya. "Kalau nanti sudah tidak cape, siang nanti nyusul Ibu saja ke Pasar Neng. Anak-anak biar dititipkan ke tetangga." kembali Ibunya berpesan.
"Iya bu, Nengsih pasti menyusul." Nengsih menjawab tapi tatapannya melihat mataku.
***
Segera aku susuri jalan Jasinga menuju pasar Leuwiliyang. Beruntung belum ada tetangga yang bangun. Kerena memang udara masih terasa dingin.
Sesampainya di Pasar, sebelum ibu masuk tiba-tiba berkata padaku "Nak Anto, saya sangat berharap Nak Anto bisa membahagiakan anakku. Ibu rela kalo Nengsih cuma bisa jadi Madunya Nak Anto. Kalau nanti siang Nak Anto sempat, ibu ingin Nak Anto antar Nengsih."
"Saya tidak berani berjanji bu. Tapi saya akan tetap berusaha menjadi seperti yang ibu harapkan. Untuk nanti siang saya pasti datang."
"Iya Nak, ibu juga tahu kok apa yang berlaku semalam tadi. Ibu bisa menilai Nak Anto tidak mengedepankan Nafsu. Malah Nengsih yang meminta kan Nak? Ibu restui Nak. Tolong malam nanti bahagiakan lagi Nengsih. Ibu sangat menyayanginya Nak."
Aku hanya bisa mengangguk, sambil terbayang semalaman bakal bisa mencurahkan kasih sayangku pada bidadari kaki gunung salak tersebut.
"Saya pergi dulu Bu." Pamitku menyongsong matahari kota Bogor. Aku memang tidak perlu mencari alasan kemana hendak pergi nanti malam. Karena memang istri masih di kampung. Yang aku fikirkan adalah akan aku bawa kemana Nengsih nanti malam.



Pembantu Yang Bikin Ketagihan



Cerita ini berawal ketika ane di mutasi perusahaan ke daerah Bgr karena kinerja ane di tempat asal kurang bagus..ane sempet putus asa dan yg lebih sedih ane harus pisah ma bokin yg ane sayangi..
Tapi karena kebutuhan akhirnya ane ambil juga itu keputusan untuk mutasi..
Sesampai di Bgr ane dapet fasilitas kontrak rumah dari perusahaan,dan ane dapet di daerah pinggiran kota,lumayan lah type 36,ada 2 kamar plus perabotan udah ada di sana..
Setelah 1 bulan berlalu ane kewalahan ngurusi itu rumah,maklum ane berangkat pagi,pulang malam,minggu pulang ke Bdg ketemu bokin ya jadinya itu rumah acak2an dan kotor banget..
Ane ngerasa ga nyaman,dan ane mutusin untuk nyari orang buat ngurusi rumah.
Ane sempatkan datangi salah satu yayasan penyalur di kota Bgr,ane pilih 1 orang yg ane pikir bisa kerja,orangnya biasa aja,masih muda,umur 20 tahun,aslinya dari daerah di jw tngh,dan 1 yg bikin ane pilih dia,dia keliahatan cekatan saat ane melihat cara praktek di beberapa orang yg di tawarkan..
Sebenarnya kalau ane emang niat macem2,ane bisa aja pilih yg genit,karena ada beberapa orang yg matanya tuh menunjukan kalo "pilih gw aja" dan sedikit centil..

Ane minta Susi (sebut aja bgitu) di antar ke rumah hari sabtu,karena ane pikir hari minggu ane akan pergi dan ane minta susi untuk bersihin rumah..

Hari sabtu malam orang yayasan datang mengantar susi,dan ane lunasi biaya administrasi,lalu jadilah susi bekerja di rumah ane..

Hari minggu ane tinggal dia di rumah,untuk bersih2 dan cuci baju ane yg udah menggunung..

Hari senin pagi ane datang ke rumah,ane seneng banget rumah udah bersih,rumput2 di bersihin depan rumah..baju ane pun udah pada wangi di setrika ma doi..
Karna ane puas,ane kasih doi uang jajan 50 ribu,dia seneng banget,ane bilang itu di luar gaji dan uang makan..ane kasih dia uang makan karena ane ga pernah makan di rumah,jd di rumah gak pernah masak..

hari2 berlalu,ane emang tidak pernah memandang status orang dari pekerjaannya,walaupun susi adalah pembantu,tp dia sering cerita tentang pribadi,tentang orang tua di kampung dll..
Dari situ ane tau bahwa ortu susi cerai,dan susi di paksa bekerja untuk menghidupi keluarga,ane juga tahu bahwa susi di kampung punya pacar,dan pacarnya itu sering telp tiap hari,susi kadang mengeluh juga karena pacarnya ini sering minjem duit tp ga di bayar..
Ane sering nasihati dia supaya lebih hati2 dalam pacaran,lebih2 cowok kayak gitu..dan dia pun mengangguk..

Kami tiap malam nonton tv bareng,kadang becanda,bahkan ke mall bareng untuk belanja sabun dsb..kadang kalau ane lagi ada duit ane beliin dia baju karen aane tahu bajunya itu2 aja..

tak terasa sudah 3 bulan susi kerja di rumah,dan kelihatan dia sangat betah,terlihat dari badan dia yg sekarang jd lebih gemuk di banding saat pertama datang..tp hal itulah yg mengganggu pikiran ane..body nya justru bikin ane gusar..toketnya yg dulu kelihatan kecil tp sekarang malah kelihatan nyembul...bokongnya yg dulu biasa aja sekarang jd menarik...haduh...ane pikir bahaya ni..tp ane buang jauh2 perasaan itu..

Diam2 ane suka ngintip dia kalo habis mandi...kadang ane juga curi2 pandangan ke arah pahanya kalau dia lg pake baju daster dan duduk sembarangan...

Suatu hari ane dapet tugas dari kantor untuk mengurus proyek di kalimantan,ane pun harus pergi selama 2 minggu..ane pergi dan sebelumnya ane pamit ke susi berpesan supaya hati2 jaga rumah selama ane pergi..

Di kalimantan ane sms menanyakan kabar,dan ane beranikan untuk sms yg bernada memancing..seperti "km udah mandi belum susi manis?"...dan dia pun membalas dengan "udah aa sayang"...
Dan ane pancing2 dia denga sms bahwa sebenarnya ane suka ma dia...tp takut di tolak karena susi udah punya cowok..
Tak di sangka susi membalas dengan sms yg sangat mengagetkan "aa kenapa ga bilang,susi juga suka banget ma aa,tp susi takut,susi kan cuma pembantu"..
wah..ini yg ane tunggu...ane tlp dia..dan kita pun ngobrol panjang lebar tentang seringnya ane curi2 pandang...dll...

Ane pun pulang ke Bgr,ane langsung menuju rumah..susi menyambut dengan senyuman malu...ane pun mencubit lengannya..tanda kangen..

Ane beranikan mengajak susi ngobrol malam itu...kami pun ngobrol..tp terlihat sekali susi sangat kaku dan tidak seperti biasanya...ane bertanya "kenpa sus"..."ga apa2 a" susi menjawab..
Ane duduk mendekati susi..dia sangat terlihat gelisah..ane dekatkan bibir ane ke bibir susi..susi sedikit menghindar..tp ane udah pengen banget mencium susi..ane sedikit memaksa dan kami pun berciuman...ane mainkan lidah ane di di bibir susi...kami pun bergumul mesra dengan hangatnya...di temani hujan bibir kami saling bermain...
Malam itu tak terjadi apa2..ane ga ingin buru2 melakukan sesuatu..ane takut susi akan minta pertanggungan jawab bila ane exe dia malam itu..

esok hari nya sepulang kerja ane langsung mandi...kami pun ngobrol..sudah mulai cool...suasananya udah mulai seperti biasa lg..susi nonton tv,ane di sebelahnya,yg berbeda adalah sekarang susu udah berani duduk dekat2 nempel ke ane..
Ane membuka pembicaraan..ane bertanya tentang hubungan susi dengan pacarnya di kampung sejauh apa hubungan yg mereka lakukan..
Susi bercerita bahwa mereka memang sering berciuman..dan susi juga pernah pegang punya cowoknya..begitu pula sebaliknya...sambil berpura2 cemburu aku pun pergi ke kamar..
Susi mengejar ane ke kamar..dia minta maaf..dan bilang bhwa susi masih perawan...
Ane bilang gak percaya...karena blm membuktikannya..kami pun sedikit ngadu argument..dan ane minta pembuktian kalo susi memang masih benar perawan..
Tak di sangkan susi langsung membuka daster yg di pakainya..."susi akan buktikan kalau susi memang masih perawan"..kata susi
"jangan sus,aku ga berani tanggung jawab kalo sampai terjadi sesuatu"ane bilang begitu
"aa ga usah mikirin tanggung jawab,yg penting susi kan buktikan kalau memang susi masih perawn",susi mendekati ane hanya mengenakan BH dan CelDam...

Ane konak gan...ga tahan..melihat secara langsung apa yg selama ini ane inginkan...oh shit...ane bingung..
di tengah kebingungan ane,bibir susi sudah melumat bibir ane...kita berciuman di pinggir tempat tidur...tangan ane secara replex mulai bergerilya menuju gunung kembar susi...ane ga kuaaaaaat (dalam hati ane menahan nafsu ini)..

Ane terus belai toket susi...ane buka bra yg membungkusnya..ane rebahkan susi di ranjang..susi tersenyumm..oh..

ane mulai melumat pentil susunya...tangan ane mulai bergerilya di paha susi...susi pun melenguh "ohhh"...

tangan ane menuju selangkangan susi...bermain si pinggiran celana dalam yg masih membungkus meki susi..ane terus benjilati puting susu susi yg mulai keras...tangan ane pun membuka celana dalam yg di pkai susi...susi melenguh kembali.."oooohhhh"....

Ane secara cepat membuka celana pendek dan kaos ane...ane pun membuka CD yg ane pakai...

kembali ane lumat bibir susi...tangan ane mulai mengelus pinggiran meki susi...susi pun men desah "aaaaahhhh"...
Tangan ane mulai menyibak meki susi yg di tumbuhi bulu yg tidak terlalu tebal...jari ane menari2 mengelus klitoris susi...susi pun tambah mendesah "AAAAAAHHHH"...

Jari ane bermain2 di bibir lobang meki susi...bibir ane bermain di toketnya...dan tangan susi pun mulai mengeleus2 konto ane yg udah keras n panas...

"aa..punya aa gedee..." susi berbisik..
Ane tersenyum sambil kembali melumat bibir susi dan memainkan jari di mekinya...

Bibir ane pindah ke toketnya....lalu turun menjilati perutnya...dan sampailah di pertigaan selangkangan susi...

Ane buka perlahan belahan paha susi...ane pun mulai merunduk...ane sibak kedua belahan meki susi...dan lidah ane mulai bermain di bibir meki susi...oooh...mantapnya meki perawan...

"AA..AAAAAhhh"..susi mendesah ketika bibir mekinya ane jilati...lidah ane mulai menusuk2 lobang mekinya...dan sekali2 lidah ane bermain di klitoris susi...

"aa''ooooooughhhh....."..susi mendesah semakin keras...

ane menjilati mekinya -+ 15 menit..ane pun kembali melumat toket susi....pentilanya ane jilati melingkar..jari ane terus bermain di bibir meki susi yg mulai basah di bajiri cairan kenikmatan...

Susi terus mendesah.."ouwgh..aa...ouwgh..aa..."dia memanggil ane dalam desahannya..

Tak menunggu lama,ane siapkan rudal konti ane yg udah keras banget...ane arahkan ke meki susi yg udah basah...ane lebarkan pahanya...ane taptkan di lobangnya..dan ane tekan pelan2...."aa...ouwgh..."susi mendesah...."aa...sakit"...."ouwgh"...susi sedikit meringis ketika konti ane mulai masuk ke mekinya...konti ane semakin dalam..."aa...sakit..."..."oughwwhhh"..susi mndesah sambil menutup matanya....
Ane cabut pelan2...ane tekan lagi...ane cabut lagi...ane tekan lagi...dan seterusnya....
"owgh..aa...oegh...owgh...ooooooh..."desahan susi semakin terdengar...
Ane pun mengenjot konti ane di mekinya...dan tiba2 keluarlah darah keperawanan dari lobang meki susi....
...ane genjot lagi lebih cepat...darah semakin banyak....ane genjot terus..."aa...sakiiiiiit....owwwuuuuuuuggggghhh".. .susi mendesah sambil terpejam matanya..
Ane genjot terus..."sabar sayang...bentar lagi sakitnya hilang"...ane menimpali sambil terus menggenjot..
konti ane keluar nasuk di meki susi....sampai darah perawannya tak lagi keluar...

Ane goyang2 di dalam mekinya...ane hujam lebih dalam..."oooooooooooowwwwwwwghhhhhh"...susi menjerit...mekinya semakin licin...menandakan susi udah mendapatkan O...dan ane pun memepercepat genjotan ane...."OOOOOOOOOOOOOOOOOOWWWWWWGGGGGGGGGGGGHHHHHH HHHHHHH"....susi menjerit kenikamatan...susi mencengkeram pundak ane.....tangannya mencakar bokong ane...dan "croooooooot"....ane pun orgasme.....sperma ane memenuhi lobang meki susi....

Ane memeluknya...dan susi pun tersenyum..."percaya kan kalo susi masih perawan?" tanya susi pada ane
"iya aku percaya"...ane pun tersenyum...dan kami pun berpelukan...

Ane minta susi supaya kencing dulu...dan membersihkan mekinya...ane pengen malam ini 5 ronde..hehehe...

kami pun bermain hingga pagi hari...esoknya ane ajak susi ke bidan yg jauh dari rumah ane...ane minta susi untuk KB...susi pun KB suntik...dan kami pun hingga sat ini masih berhubungan..
1 yg membuat ane ga bisa lepas dari susi...mekinya wangi...dan nikmat banget saat di oral...beda dengan bokin ane yg kadang ada bau tak sedapnya...
Ane jd jarang pulang ke bdg,ane malah tiap minggu menghabiskan waktu bermain sex seharian bareng susi...semua gaya udah kami mainkan...bahkan anal sudah kami praktekan...

Susi tak pernah minta ane menikahi dia..karena dia pun tak mungkin memutuskan hubungan dengan pacarnya di kampung yg sudah di jodohkan oleh ortunya...entah sampaia kapan kami begini...tp jujur..nikmat sex bukan karena status..tp karena barang...hehehe


Buat agan2 yg suka maen ma pembokatnya,saran dari ane,pembokat juga manusia,yg butuh kasih sayang dan materi,selain gaji 750rb ane kasih tambahan 1 jt perbulan buat susi plus uang jajan 50 rb tiap hari agar meki yg mantap itu di jaga dan di rawat demi kepentingan bersama..dan satu lagi,buatlah komitment agar sang pembokat tidak menuntut anda menikahinya..dan ini adalah hal yg paling penting!!!




Gara-gara Batu Subur


Namaku nanto dan cerita ini terjadi di tahun ditahun terakhirku kuliah atau lebih tepatnya aku sedang dalam pengerjaan skripsi ketika itu. mungkin aku ingin menjelaskan lebih detail dulu tentang keluarga angkatku ini. ibu angkatku yang biasa kupanggil mama merupakan adik dari istri pertama papa angkatku, istri pertama papa meninggal karena sakit. waktu istri pertama meninggal mbak rani anak kedua papa masih kelas 1 SMA dan mbak ayu sudah kelas 3. mama angkatku ini pernah menikah waktu umur 24 tahun tetapi selama lima tahun dia selalu keguguran dan setelah di berulang kali di"kuret" hasilnya rahim mama angkatku ini terjadi pengeringan permanen karena terlalu seringnya di "kuret. mungkin karena mama angkatku dulu sangat sibuk untuk pekerjaannya. mama angkatku bercerai di tahun kelima pernikahannya dan setehun kemudian papa angkatku memberanikan diri untuk menikahinya, mungkin merasa sudah seperti keluarga sendiri jadi mama angkatku mau menerima papa angkatku itu. lalu sebagai pengganti ketidak mampuan mama angkatku beliau mengangkatku sebagai anak ketika aku masih kelas 6 SD. ternyata papa angkatku setuju dan mbak ayu dan mbak rani senang sekali punya adik seperti ku. aku bukan merasa di tempat orang lain malah seperti benar-benar keluarga ku sendiri.

Itulah sekilas dari sejarah keluarga angkatku. kali ini menceritakan tentang pengalamanku ketika mengejar skripsiku, bukan dengan dosennya. aku mendapatkan pembimbing skripsi dua orang dan kedua dosen pembimbingku itu merupakan guru besar di salah satu PTN luar provinsi jadi mereka jarang sekali ke kampusku yang PTS, kadang hanya sebulan sekali. jadi daripada kelamaan lulus lebih baik aku mengejar kedua dosenku itu yang berada di kota M. tapi aku memang berani ke kota M karena mbak rani tinggal disana bersama suaminya yang sekarang sedang merintis bisnis bersama, bisnis yang mereka bangun adalah team kontraktor proyek yang ternyata sudah berkembang maju, sekarang disebelah kanan rumahnya sudah dijadikan bangunan khusus kantor dan karyawan mereka. rumah dan kantor nya sekarang sudah dikelilingi dengan pagar tembok tinggi dan didepan pintu gerbang sudah ada pos satpam yang selalu berjaga 24 jam. mbak rani tidak disibukan dalam proyek tapi hanya sebagai kathering makanan bersama beberapa pembantu lainya, maklum karyawannya sudah banyak dan rumahnya pun sekarang sudah besar jadi mungkin agak repot kalau di urusi mbak rini sendiri. kalau pagi sampe sore rumah rame karena ada pembantu-pembantu mbak rani dan juga oleh aktivitas kantor disebelah rumahnya tapi kalau sudah malam jadi sepi dan hanya ada satpam yang berjaga di depan gerbang.

aku sampai di rumah mbak rani ketika siang hari dan pas waktu jam makan siang jadi aku mala dikenalkan oleh mas yadi (suaminya mbak rani) kepada seluruh karyawan nya. entah karena mereka semua ramah atau memang mau cari muka dengan mas yadi jadi gak karyawan ataupun karyawatinya sok-sok dekat dengan ku. bahkan skripsiku dibantui oleh mereka tapi apapun itu yang penting skripsiku beres. hehehe. sudah dua minggu aku ada dirumah mbah rani dan setiap hari aku bantu-bantu apa yang bisa kukerjakan meskipun malah aku kena marah pembantu-pembantu mbak rani karena aku malah disuruh istirahat melulu. tapi mmbak rani dan mas yadi malah ketawa aja pas ngeliat ku dimarahi pambantu-pembantunya. jadi dari pada aku bengong aja dirumah mbak rani aku jalan-jalan aja pake mobil mas yadi, kadang ditemani mbak rani kadang sendiri malah kalo mas yadi lagi free kadang kita bertiga jalan-jalan keman-mana sambil liburan weekend.

sautu hari hari baru pulang dari bimbingan skripsi dengan dosenku dan pulang pake angkutan umum karena mobil dipake semua karyawan. aku buka sendiri pintu gerbang dan kulihat mbak rani sudah duduk didepan teras sambil mainan tabletnya.
"kok malem sih sampenya?' tanya mbak rani
" dosennya reseh, banyak yang dicorat coret jadi baru pulang deh." jawabku.
"masuk yuk..kita makan dulu. mbak laper nungguin kamu di teras dari tadi" ajaknya.
"mbak..kok gak ada satpam-nya?" tanyaku sambil berjalan menuju kamar tempatku menginap.
"satpamnya lagi pada dibawa mas yadi buat nurunin barang-barang untuk proyek. mungkin nanti tengah malem baru pulang lagi kesini bareng mas yadi. jelasnya mbak rani.

aku meletakaan tas yang kubawa di kamar tamu yang disediakan mbak rani untukku dan kemudian aku mandi baru setelah mandi aku duduk di meja makan menunggu mbak rani yang sedang sibuk didapur. ketika makan malam juga tak ada yang aneh. kami ngobrol apa saja dan aku pun biasa saja melihatnya yang hanya mengenakan pakaian tidur seperti daster putih panjang tak berlengan yang terlihat sangat anggun dipakai oleh mbak rani. selesai makan aku dan mbak rani duduk diruang keluarga yang ada tv besar, sambil nonton tv kami terus saja mengobrol.
"mbak kapan nih ngasih aku ponakan...apalagi mama papa udah pengen juga tuh punya cucu abis kata mama papa aku dah gak lucu lagi hehe..." candaku.
"hihihi...kamu mah bukan lucu..tapi 'kunyu' hihihi..." balas mbak rani.
"hehe...abis mbak ayu lom punya anak eh..mbak rani juga malah ikut-ikutan." candaku lagi.
"iya..gampang..entar kalo mas yadi pulang tak bikinin ponakan deh...hihihi" balas mbak rani.
"ye..makanya kalo mas yadi lagi pengen jangan disuruh maen sendiri dikamar mandi..hehehe'' balasku sengit
"hihihi...itu mah kamu..kalo mas yadi kan ada tempat pembuangannnya disini (sambil menepuk-nepuk perutnya) hihihi..."kata mbak rani.
"yah..pantes..gak jadi-jadi dedeknya..lawong malah ditelen sama ibunya..hahaha" balasku sambil tertawa.
"ye..dasar bocah..hihihi...lom tau enak ya gitu...hihihi.." katanya sambil bangkit berdiri untuk tidur dikamarnya.
"jangan lupa entar malem bikinin aku dedek ya mbak..hehehe.." candaku lagi.
"gampang...entar malem tak bikinin selusin biar kamu kerepotan hihi.. " jawabnya sambil melenggang menuju tv untuk mematikan tv.
"ih..mbak genit...hahaha" balasku lagi.
"ye..hihihi..namanya aja lagi malem masbur(masa subur) jadi kebawa-bawa ngerumpi jorok deh..hihihi...dah aku mau tidur entar kalo kelamaan ngobrol jorok ama kamu aku malah gak bisa tidur.." katanya mematikan lampu ruang tengah.
"ye..itu sih maunya mbak aja pengen diidurin ama mas yadi..haha" balasku sambil berlari masuk kamar.

Klontang...
"ada apa, to." kata mbak rani yang datang kedepan pintu kamarku.
"gak tau nih mbak kayak ada yang jatuh dari meja." kataku menjelaskan.
"iya..sih..ini meja sebelahan bangat ama pintu kamar tamu jadi ngeri kalau ada guci atau apa yang jatuh..yuk cari dulu apa yang jatuh.." kata mbak rani sambil muter-muter di sekitar meja.
"ah...ini mbak.." kataku sambil mengambil sebuah satu kecil seperti batu kali tapi warnanya hitam mengkilat dan halus.
"oh..ini sih koleksi mas yadi. katanya siapa yang bisa megang ini batu pas direndem di mangkok putih isi air putih berarti dia subur alias bisa punya anak tapi bukan lantaran dari batu ya... hihihi" jawabnya sambil tertawa.
"lah..kalo orang yang gak bisa megang batunya waktu direndem air berarti mandul ya mbak? kataku penasaran.
"katanya mas yadi sih gitu. tapi kalo kata mas yadi air rendaman dari batu tadi kudu diminum biar bisa subur dan terus diminum sampe orangnya bisa megang batunya, berarti dia sudah cukup subur." jelas mbak rani.
"eh..mbak, udah nyobain lom tuh batu sama mas yadi.?" tanyaku penasaran.
"udah sih..aku sama mas yadi bisa megang dan pas waktu tes di rumah sakit juga kami berdua emang subur tapi emang belum rejeki punya anak ya jadinya lom jadi-jadi deh dedek-nya hihihi..." jawab mbak rani.
"ye..kirain tuh batu bisa bantuin.hehehe." kataku meledek.
"ya enggaklah..ini cuman mendeteksi dan buat terapi kesuburan tapi dikasih atau belum itu rejeki. eh..mau nyobain gak kamu..?"tanya mbak rani.
"hehehe...aku lom punya istri to mbak.." jawabku bingung.
"ya..gak papa..kalo nanti kamu gak bisa megang nanti kan kamu langsung aja minum airnya terus menerus tiap hari sampe kamu bisa pegang batunya."jelas mbak rani.

aku duduk di sofa besar yang panjang tempat aku dan mbak rani tadi nonton tv. dari pada bengong nungguin mbak rani ambil mangkok dan air putih aku hidupin lagi tv nya. mbak rani membawa mangkok putih besar seperti baskom yang berisi air putih. kemudian diletakkan diatas meja di depan sofa kami dan mbak rani duduk disamping kananku.
"nah sekarang tinggal nyemplungin batunya kedalem air yang di mangkok, to." katanya menyuruhku.
plung..
"gak ada apa-apa tuh mbak airnya...?" kataku bingung.
"ye...somplak...kamu kira kayak di tv keluar sinar-sinar gitu...tunggu lima menit baru coba kamu ambil itu batunya." jelas mbak rani lagi.
"mbak..kalo nanti aku bisa ambil batunya boleh gak air rendemannya tak minum?" tanyaku heran.
"gak papa sih..biar makin subur hihihi" katanya sambil tertawa.
"emang mbak sama mas yadi lom pernah minum air rendemannya ya?" tanyaku lagi.
"belom pernah sih..tapi kata mas yadi sih..gak papa kalo mau diminum. emang serius nih mau diminum semua air rendeman sebanyak itu?" tanya mbak rani heran.
"hehehe...gak sebanyak itu juga sih...kan ada mbak naniti ngewangi setengah. hehe.." kataku dengan tawa.
"ye...lah kalo aku entar kembung gimana..?" katanya gengsi.
"hehehe...anggep-anggep terapi bikin tambah subur buat nanti malem gitu lo...hehehe..." ledekku.
"iya..iya...entar tak ewangi..tapi setengah-setengah loh...aku gak mau kalo gak rata.." katanya mengiyakan.
"siiip..boss...!!!" jawabku semangat.

kulihat jam di hp ku, ternyata sudah lima menit lebih sedikit. dengan dada berdebar-debar aku mulai memajukan tanganku yang sudah kucuci bersih hingga menyentuh air yang ada di mangkok itu tetapi sebelum tanganku menyentuh batu itu ternyata batunya bergetar-getar seperti bergerak-gerak sendiri didalam mangkok yang berisi air itu.
"mbak..kok batunya getar-getar gitu ya..?" tanyaku sedikit takut.
"o..kamu malem ini lagi masa paling subur..coba genggam aja batunya nanti batunya diem sendiri." jelasnya dan aku mematuhinya, ternyata memang benar.
"ah..aku bisa megang batunya mbak..lega aku mbak." kataku lega.
"hihihi..aku juga ah..lepasin batunya taroh lagi di dalem air. aku mau coba, aku kan lagi masbur malem ini bisa getar juga gak itu batu." suruhnya.

kuletakkan kembali batu kecil yang hanya segenggaman tangan itu kedalam mangkok besar putih yang berisi air putih. kemudian kulihat mbak rani mengulurkan tangannya masuk kedalam air, ketika jari jari tangan yang lentik itu masuk kedalam air batu itu langsung bergetar-getar sendiri.
"hihihi...batunya getar, to..berarti bener malem ini aku lagi masbur." kata mbak rani girang.
"udah tangkep tuh batu...!" suruhku. yang kemudian batu itu sudah ada ditangannya.
"nih. batunya udah tak pegang sekarang tak simpen dulu di kotak koleksi mas yadi dulu. kamu minum tuh air nya setengah..oke.!" suruhnya.

mbak rani masuk kekamarnya, kuambil mangkok putih besar itu dan mulai kuminum setenguk demi seteguk. segar sekali air ini belom pernah ngerasain air yang sesegar ini tapi bukan karena dingin ataupun karena dari air kulkas tapi segarnya itu bikin semangat dan badan rasanya rileks dan agak adem ini hati apa kayak gini ya reaksinya. kusudahi minumku ketika mbak rani sudah duduk disampingku lagi dan ketika kulihat airnya sudah terminum setangah labih dikit lah..
"cie...haus nih kayaknya..hihihi" ledek mbak rani.
"bawel..nih minum.."kataku memberikan mangkok itu.

mbak rani meminum air yang ada di dalam mangkok itu. aku menoleh kearah tv dan bersender di senderan sofa. kurasakan badanku yang rileks dan segar tapi kok makin lama makin berasa agak anget ini badanku ya.. dan mbak rani kulihat baru kembali dari dapur untuk meletakkan kembali mangkok besar yang tadi dipakai. dan baru kuperhatikan jika mbak rani itu sangat cantik dan anggun, pinggulnya melenggak-lenggok seperti model yang ada di tv, dia juga terlihat mempesona dengan baju tidurnya yang seperti daster putih berlengan pendek yang tebal dan licin yang panjangnya hanya selutut sungguh baru kusadari pesona indah itu bahkan sekarang aku malah yang terpesona olehnya. entah karena terpesona atau karena apa tapi yang jelas batangku didalam celanaku ini mulai menggeliat dan rasanya lumayan sakit karena kecepit. karena tak ingin dibilang kurng ajar aku nonton tv aja dan mbak rani malah gak jadi tidur dan duduk nonton tiv di sebelahku lagi. kami ngobrol lagi tapi obrolannya hanya obrolan tak penting dan banyak diamnya karena aku juga sedang kesulitan dengan badanku yang sekarang malah seperti merinding tapi bukan karena dinginnya malam tapi karena makin lama badanku makin anget dan dadaku ser-seran seakan jantungku berdenyut lebih kencang entah bagaimana dengan mbak rani mungkin dia sedang asyik nonton film di tv yang emang lagi seru.

aku mulai gelisah karena entah kenapa batangku malah sekarang full tegang dan kuambil bantal di sofa untuk menutupi tegangangku tapi malah seperti menjadi-jadi. kulihat mbak rani kok malah agak gelisah juga ya...apa dia juga sama kayak aku, lagi nafsu. apa jangan-jangan gara-gara minum itu air rendaman batu yang tadi ya. tapi aku sekuat tenaga untuk nafan nafsu dan juga nahan nafas biar gak kayak orang lagi ngos-ngosan walaupun kadang kelepasan dan ternyata mbak rani juga kayaknya lagi ngos-ngosan juga nih. aku makin yakin kayaknya ini gara minum air rendaman batu tadi karena film yang kami tonton juga film action bukan film porno.
"to, susu mbak kok rasanya kenceng banget ya'' kata mbak rani mengagetkankua.
"kan namanya aja masih muda mbak.."jawabku diplomatis.
"tapi kok rasanya kenceng padet banget aku aja yang punya kerasa banget bedanya. kalo gak percaya pegang nih." kata mbak rani sambil membawa tanganku dan diletakkan di kedua susunya.
"coba pegang, to. kerasa kan padet banget..nafasku rasanya sesek banget nih.." kata mbak rani.

aku makin gugup dan tak bisa ngomong apa-apa lagi karena tanganku sekarang sudah berada tepat diatas susunya dan kurasakan sepertinya mbak rani gak pake BH.
"mba..gak.pake.BH ya.?" tanyaku gugup.
"engh..gak, to. remes, to. biar tau." suruhnya.

tangan kananku ku coba meremas walaupun dengan lembut. emang terasa banget apa yang terjadi di susunya, susunya seperti makin membesar dan sangat padet bahkan susu si risa aja kalah. rasanya begitu hangat dan juga padat tapi juga begitu halus dan putingnya terasa sekali karena sedang keras tapi masih kecil.
"emh..enak to..duh..kerasin dikit.." suruhnya terengah-engah.
"i.iya..mbak."jawabku tergagap.
"pa.det..kan, to. ra.sanya..sesek..ba.nget . a.apa susu.ku jadi ge.de yah..ehmhm" celoteh mbak rani.
"i.iya mbak..ge.de." kataku terbata-bata.
"ehmn..emutin pen.tilnya., to.." kata mbak rani yang sudah memelorotkan baju tidurnya hingga keperut.

tak bisa lagi aku nolak kalau sudah sepanas ini adegannya. kepalaku langsung ditarik mbak rani ke susunya yang terlihat bulat sempurna dan juga besar putih dengan pentil cantiknya yang segera ku cucupi, dan aku tak menyianyiakan sebelah susunya lagi. mbak rina suaranya sudah tak terkendali lagi tapi masih lirih terdengar dengan tubuh yang terus menggeliat. mulutku berpindah ke susu sebelahnya yang tetap masih kuremas dan kugunakan kedua tanganku untuk berkerja bersama untuk meremasi kedua susu yang luar biasa indah dan menantang itu. aku ingin mencupangi kedua susunya, jadi aku mulai menjilati semua bagian susunya baik yang kanan maupun yang kiri hingga basah kuyup oleh ludahku. saat aku mulai ingin melakukan cupangan mbak rani bersuara untuk memberitahukanku.
"to, ja.ngan di cu.pang..keta.wan mas ya.di. ja.ngan ya.." katanya mengangkat kepalaku dan mengelus rambutku dengan penuh kelembutan.
"i.ya. mbak. ta..."belum sempat aku menyelesaikan kata-kata ku mbak rani nyosor bibirku.

kuhisap dengan penuh nafsu mulut, lidah dan ludahnya sampe mbak rani melepaskan ciumannya dengan nafas yang megap-megap. mbak rani menarik kepalaku lagi untuk berciuman dengan panasnya sambil tanganya menarik kaosku keatas agar bisa terlepas dari badanku, aku melepas ciuman itu sejenak untuk melepaskan sendiri semua bajuku termasuk celanaku walaupun celana dalamku masih kupakai dengan setengah batangku yang sudah keluar dari sisi atas celan dalamku. mbak rani juga melepasi semua yang ada ditubuhnya bahkan celana dalamnya juga. kulihat vaginanya gundul dan tak ada rambutnya sama sekali yang membuatku semakin memanas dan menarik mbak rani untuk duduk bersandar di sofa dan aku bersimpuh di lantai agar aku bisa menjilati vaginanya yang membuatku semakin meronta karena nafsu. kujilati dengan ganas bahkan aku seperti kesetanan karena nafsuku sendiri dan jangan tanya bagaimana keadaan mbak rani karena dia sudah lebih gila lagi karena kedua tangannya meremasi kedua susunya sendiri dengan mulut yang selalu mengerang nikmat. kujilati klitorisnya dan kumasukan jari telunjuk dan jari tengahku untuk masuk kedalam vaginanya dan sempit sekali seperti milik si risa tetapi vagina mbak rani berkedut-kedut terus tak seperti risa yang berkedut-kedut jika ingin klimaks. kucari G-spot yang berada didalam vagina mbak rani, agak lama mencarinya karena susah sekali kutemukan malah sebelum G-spot mbak rani kutemukan ternyata dia sudah klimaks duluan sampe aku susah nafas karena dijepit kedua paha putih itu. setelah agak mereda aku jilati lagi klitorisnya dan kucari lagi G-spot mbak rani yang belum kutemukan, sesekali aku seperti menyentuh benjolan datar yang rata di bagian atas vaginanya tetapi agak kesamping kiri mungkin karena letaknya disitu aku yang belum banyak pengalaman jadi gak tau.

setelah kutemukan G-spot mbak rani aku gosk-gosok g-pot mbak rani dan lidahku terus menjilati clitoris mbak rani. mbak rani meraung-raung seperti orang berteriak dan tak sampai 5 menit, vagina mbak rani nyemprot dua kali walaupun semprotannya kecil tapi sangat kental. aku sempat terminum air squirt mbak rani dan rasanya asin pekat, mungkin karena mbak rani lagi masa subur malam ini.
"udah...udah..to..ampun..to. ngi.lu.." kata mbak rani.

aku berenti dan berdiri didepan mbak rani dan tangan mbak rani langsung menggapai celana dalamku dan menurunkannya. seperti risa dulu, mbak rani pun terlihat sedikit terkejut entah karena ukuran batangku atau karena batangku yang langsung memukul wajahnya.
"to, punyamu subur banget.. beda ama mas yadi...hihihi" kata mbak rani dengan mata memperhatikan batangku.
"hehehe..maaf mbak panjang banget bulunya heheh.." kataku mengira-ngira.
"ye..maksudku punyamu ini nih..." katanya yang langsung mencaplok batangku kedalam mulutnya.

dan kejadian bersama mama angkat dan risa pun terulang lagi karena mbak rani juga hanya bisa mengulum kepala dan sedikit leher batangku. mulutnya seperti roda yang bisa memutari batangku yang masih didalam mulutnya. tanganya membantu mengocoki batangku yang tak terkulum mulutnya dan kemudian kepalanya maju mundur di batangku. beberapa kali mbak rani seperti tersedak dan mengeluarkan batang lalu mbak rina manarik batangku agar aku rebah menindihnya walaupun tak sepenuhnya menindih mbak rani karena mbak rani posisinya duduk bersender tetapi agak rebah. mbak rani menarik kepalaku dan kami berciuman dengan agak panas. kurasakan kepala batangku dioles-oleskan di depan vaginanya kemudian sebelah tangannya mendorong pantatku. ku dorong pantatku perlahan untuk memasukkan batangku kedalam vagina sempit yang penuh denyutan nikmat itu. mbak rani seperti menggigit bibirku tapi kubiarkan saja dan terus kudorong tapi batangku terasa buntu setelah setengah batangku masuk. mungkin perlu perlahan jadi aku mengangkat pantatku agar batangku mulai tertarik keluar dan kemudian kudorong lagi untuk masuk dan terus-menerus kulakukan sampai terasa lancar. karena sudah lebih lancar aku pun mendorong lagi batangku untuk masuk lebih dalam dan ternyata masuk juga sedalam-dalamnya sampai kepala batang dan leher batangku seperti memasuki lubang lagi, seperti memasuki lubang kedua tapi entahlah aku tak tau apa yang terjadi didalam sana. mbak rani melarangku untuk mulai menggenjotnya.
"ben.tar, to. pu.nyamu..men.tok ba.nget di.tem.patku.." kata mbak rani terengah-engah sambil meringis.
"i.iya mbak. tapi pu.nya mbak..e.nak ba.nget.." kataku menghibirnya dengan kejujuranku.

mbak rani tersenyum dan menyuruhku mulai menggenjot tapi pelan pelan dulu katanya. jadi mulai kutarik lagi batangku hingga setengah dan kumasukkan lagi batangku hingga ambles. setiap batangku masuk sampai ambles mbak rani terdangak keatas dengan mata tertutup rapat tetapi mulut menganga. kucium mulut mbak rani ketika aku ingin mempercepat genjotanku. genjotan-genjotanku makin mala makin cepat bahkan otak ku seperti tidak berfungsi lagi untu berfikir apapun karena semua fokus dan konsentrasiku sedang memburu nafsu meraih klimaks. genjotan-genjotanku membuat mulut mbak rani mengerang cukup keras dan tak lama kemudian mbak rani sudah kelojotan dengan vagina meremas batangku dengan kuat sekali sampai-sampai aku gak bisa lagi menggenjot batangku. mbak rani kolojotan menjemput klimaksnya dengan begitu indah kulihat. dan aku tak perlu menggenjotkan batangku karena remasan-remasan yang dilakukan vaginanya sungguh luar biasa sekali bahkan melebihi risa.
"ah..ah.. ka.mu su.bur ba.nget, to." kata mbak rani setelah agak reda dari klimaksnya.

aku tak mempedulikan ucapannya karena tadi aku sedang enak-enaknya dan sekarang aku mulai lagi menggenjot tubuhnya dengan kuat dan tekanan-tekanan yang sangat nikmat hingga mentok semua batangku. pompaan-pompaan batangku di dalam vagina mbak rani sampai-sampai menimbulkan suara kecipak dari vaginanya yang sudah basah dan tepukan-tepukan selangkangan kami mengalahkan suara tv yang sering terdengar tembakan-tembakan dari film. aku semakin heran pada vagina mbak rani yang sungguh membuatku lupa diri, vaginanya begitu menjepit kuat dan sering berdenyut-denyut walaupun vaginanya sudah banjir sebanjir-banjirnya. kepalaku sudah tak bisa berfikir apapun kecuali berusaha menggapai klimaks ku yang kurasakan akan datang dan semakin dekat, denyutan vagina mbak rani makin intens dan itu sangat membuatku lupa diri. suara mbak rani sudah kayak orang minta tolong, teriakannya membuatku takut dikira aku memperkosa mbak rani. kulumat bibirnya agar tak lagi teriak dan kupompa sekuat tenaga ku, terus, terus dan terus. semakin lama batangku semakin berkedut-kedut seakan mempersiapkan tembakan ku dan vagina mbak rani pun ikut berdenyut-denyut seirama seakan ada interaksi diantara keduanya. ketika aku sudah tak lagi bisa mempertahankan spermaku ternyata mbak rani teriak didalam mulutku keras sekali dengan tubuh yang kejang-kejang seperti orang sekarat. vaginanya mencengkram begitu kuat dan meremas dengan nikmatnya, aku tak mampu lagi untuk menahan walaupun sedetik lagi. ciumanku terlepas dan pantatku menekan kuat ke vagina mbak rani. semprotan demi semprotan sperma ku tembakan, nikmatnya terasa lama sekali dan entah berarapa kali aku menembakan sperma ku tapi aku merasakan banyak sekali yang kusemprotkan bersamaan dengan erangan nikmat kami berdua hingga kami berdua sama-sama lemas dalam pelukan yang begitu memuaskan. setelah agak reda aku mencium bibirnya dengan lembut dan dibalas mbak rani dengan ciuman basah yang lembut pula dengan di iringi sisa-sisa nikmat klimaksa yang masih terasa begitu nikmat.

setelah kami sama-sama sudah agak reda kami saling menatap mata dengan batangku yang masih agak tegang terendam di vaginanya, mata mbak rani sayu menunjukan kepuasan dan kelegaan.
"to, jangan kasih tau mas yadi ya..?" kata mbak rani mengingatkan.
"iya, mbak. maaf kalau aku sampe begini. aku gak bisa nahan nafsu." kataku meminta maaf.
"aku juga, to. aku kok malah gak bisa nahan nafsu gini ya. apa jangan-jangan gara minum air rendaman tadi ya?" tanyanya padaku.
"mungkin juga mbak, karena pas udah minum aku badanku jadi agak panas dan ngaceng terus" jelasku.
"aku juga abis minum air itu punyaku langsung basah terus kedut-kedut gatel gitu, to. sampe heran aku kok bisa sampe dapet 3 kali" kata mbak rani bingung.
"mbak, punyamu enak banget. suempit tenan, gigit-gigit gitu mbak. ah..beruntung amat ya jadi mas yadi." kataku memuji.
"ye...itu sih punyamu aja yang terlalu subur...hihihi" jawabnya sambil tertawa dibawah tindihan tubuhku.

Tiiin...(suara klakson mobil).
aku dan mbak rani langsung berbenah diri. aku disuruh mbak rani membuka pintu gerbang dan mbak rani masih dengan telanjang berlari menuju kamarnya. tangan kiri memegang baju dan celana dalamnya sedangan tangan kanannya membekap vaginanya agar spermaku tak tercecer saat dia berjalan. dan malam itu berlalu seperti biasanya. dan seperti biasanya juga, kejadian bersama mbak rani menjadi kejadian pertama dan terakhir karena baik aku dan mbak rani sama-sama gak mau menghianati mas yadi. tetapi sering bila aku nonton tv berdua dengan mbak rani kadang meledekku.
"punyamu jangan dikasih pupuk lagi ya...!!! entar malah ngalahin pentungan pak satpam...hihihi" cadanya bila kami berdua.
"mbak kemaren aku keluar di dalem...gi.mana..kalau.." tanyaku gugup.
"ye..emang mbak anak kemeren sore apa.." jawab mbak rani.
"duh..serius aku mbak. aku takut di bunuh mas yadi..." kataku takut.
"hihihi...berani berbuat berani bertanggung jawab donk.." katanya yang membuatku panik.
"ah...mbak..aduh aku gimana mbak...aku blom siap mati nih..." kataku ketakutan.
"hihihi...kamu lucu kalau lagi panik. pokoknya kamu tenang aja. mbak seminggu ini minum pil kb. itu juga gara-gara mani-mu itu..." jelas mbak rani.
"kok gara-gara mani-ku?" tanyaku bingung.
"iya..gara-gara kamu terlalu subur, itu mani banyaknya bukan main. pas sampe kamar mandi itu mani keluar terus-terusan sampe pegel kaki-ku kelamaan jongkok." jelas mbak rani.


Arsip Blog