Melayani Nafsu Mertuaku



Ini menceritakan perselingkuhan antara seorang suami dengan ibu mertuanya ketika isterinya sedang pergi ke luar kota. Mereka berdua menikmati hubungan seks terlarang ini. Seakan melepaskan nafsu birahinya, anak menantu dan ibu mertua ini mencapai kenikmatan seks yang mereka dambakan dan pendam selama ini. Selengkapnya, simak ceritanya berikut ini!

Bapak mertuaku (Pak Tom, samaran) yang berusia sekitar 60 tahun baru saja pensiun dari pekerjaannya di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebetulnya beliau sudah pensiun dari anggota ABRI ketika berumur 55 tahun, tetapi karena dianggap masih mampu maka beliau terus dikaryakan. Karena beliau masih ingin terus berkarya, maka beliau memutuskan untuk kembali ke kampungnya didaerah Malang, Jawa Timur selain untuk menghabiskan hari tuanya, juga beliau ingin mengurusi kebun Apelnya yang cukup luas.

Ibu mertuaku (Bu Mar, samaran) walaupun sudah berumur sekitar 45 tahun, tetapi penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak gemuk gombyor seperti biasanya ibu-ibu yang sudah berumur, walau tidak cantik tetapi berwajah ayu dan menyenangkan untuk dipandang. Penampilan ibu mertuaku seperti itu mungkin karena selama di Jakarta kehidupannya selalu berkecukupan dan telaten mengikuti senam secara berkala dengan kelompoknya.

Beberapa bulan yang lalu, aku mengambil cuti panjang dan mengunjunginya bersama Istriku (anak tunggal mertuaku) dan anakku yang baru berusia 2 tahun. Kedatangan kami disambut dengan gembira oleh kedua orang mertuaku, apalagi sudah setahun lebih tidak bertemu sejak mertuaku kembali ke kampungnya. Pertama-tama, aku di peluk oleh Pak Tom mertuaku dan istriku dipeluk serta diciumi oleh ibunya dan setelah itu istriku segera mendatangi ayahnya serta memeluknya dan Bu Mar mendekapku dengan erat sehingga terasa payudaranya mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa penisku menjadi tegang karenanya.

Dalam pelukannya, Bu Mar sempat membisikkan Sur…(namaku).., Ibu kangen sekali denganmu”, sambil menggosok-gosokkan tangannya di punggungku, dan untuk tidak mengecewakannya kubisiki juga, “Buuu…, Saya juga kangen sekali dengan Ibu”, dan aku menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap masih mendekapku membisikiku dengan kata-kata, “Suuur…, Ibu merasakan ada yang mengganjal di perut Ibu”, dan karena kaget dengan kata-kata itu, aku menjadi tertegun dan terus saling melepaskan pelukan dan kuperhatikan ibu mertuaku tersenyum penuh arti.

Setelah dua hari berada di rumah mertua, aku dan istriku merasakan ada keanehan dalam rumah tangga mertuaku, terutama pada diri ibu mertuaku. Ibu mertuaku selalu saja marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam serta tidak meladeni ibu mertuaku ketika beliau sedang marah-marah dan ayah mertuaku kelihatannya lebih senang menghabiskan waktunya di kebun Apelnya, walaupun di situ hanya duduk-duduk seperti sedang merenung atau melamun. Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah laku orang tuanya terutama dengan ibunya, yang sudah sangat jauh berlainan dibanding sewaktu mereka masih berada di Jakarta, kami berdua hanya bisa menduga-duga saja dan kemungkinannya beliau itu terkena post power syndrome. Karena istriku takut untuk menanyakannya kepada kedua orang tuanya, lalu Istriku memintaku untuk mengorek keterangan dari ibunya dan supaya ibunya mau bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya, maka istriku memintaku untuk menanyakannya sewaktu dia tidak sedang di rumah dan sewaktu ayahnya sedang ke kebun Apelnya.

Di pagi hari ke 3 setelah selesai sarapan pagi, istriku sambil membawa anakku, pamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi Budenya di kota Kediri, yang tidak terlalu jauh dari Malang dan kalau bisa akan pulang sore nanti.
“Lho…, Mur (nama istriku), kok Mas mu nggak diajak..?”, tanya ibunya.
“Laah.., nggak usahlah Buuu…, biar Mas Sur nemenin Bapak dan Ibu, wong nggak lama saja kok”, sahut istriku sambil mengedipkan matanya ke arahku dan aku tahu apa maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya berpesan pendek supaya hati-hati di jalan karena hanya pergi dengan cucunya saja.

Tidak lama setelah istriku pergi, Pak Tompun pamitan dengan istrinya dan aku, untuk pergi ke kebun apelnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sambil menambahkan kata-katanya, “Nak Suuur…, kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul bapak saja ke sana”. Sekarang yang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku yang sedang sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diminta oleh istriku, kugunakan untuk membaca koran lokal di ruang tamu.

Entah sudah berapa lama aku membaca koran, yang pasti seluruh halaman sudah kubaca semua dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu yang jatuh dan diikuti dengan suara mengaduh dari belakang, dengan gerakan reflek aku segera berlari menuju belakang sambil berteriak, “Buuu…, ada apa buuu?”. Dan dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku seperti merintih, “Nak Suuur…, tolooong Ibuuu”, dan ketika kujenguk ternyata ibu mertuaku terduduk di lantai dan sepertinya habis terjatuh dari bangku kecil di dekat lemari pakaian sambil meringis dan mengaduh serta mengurut pangkal pahanya. Serta merta kuangkat ibu mertuaku ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar dan kutidurkan sambil kutanya, “Bagian mana yang sakit Buuu”, dan ibu mertuaku menjawab dengan wajah meringis seperti menahan rasa sakit, “Di sini.., sambil mengurut pangkal paha kanannya dari luar rok yang dipakainya”.

Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya, “Buuu…, apa ada bagian lain yang sakit..?
“Nggak ada kok Suuur…, cuman di sepanjang paha kanan ini ada rasa sakit sedikit..”, jawabnya.
“Ooh…, iya nak Suuur…, tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu, biar paha ibu terasa panas dan hilang sakitnya”.
Aku segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias dan alangkah kagetku ketika aku kembali dari mengambil minyak kayu putih, kulihat ibu mertuaku telah menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya terlihat jelas, putih dan mulus. Aku tertegun sejenak di dekat tempat tidur karena melihat pemandangan ini dan mungkin karena melihat keragu-raguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke arah paha beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata, “Ayooo..lah nak Suuur…, nggak usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula dengan ibu mertua sendiri saja kok pake sungkan sungkan…, tolong di urutkan paha ibu tapi nggak usah pakai minyak kayu putih itu…, ibu takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan.

Dengan perasaan penuh keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat ada tanda agak merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku yang dinaikinya seraya kutanya, “Bagaimana Buuu…, apa bagian ini yang sakit..?
“Betul Nak Suuur…, yaa yang ituuu…, tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas ke bawah”, dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah beberapa saat kuurut pahanya yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil memejamkan matanya, ibu mertuaku berkata kembali, “Nak Suuur…, tolong agak ke atas sedikit ngurutnya”, sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa, apalagi vagina ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar CD-nya dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang keluar dari samping CD-nya.

“Ayoo…,doong…, Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti”, kata ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.
“Iii…, yaa…, Buuu maaf, tapi…, Buuu”, jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.
“aah… kenapa sih Nak Suuur..?, kata ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.
“Buuu…, Saa…, yaa…, saayaa”, sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang karena melihat bagian CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.

“Nak Suuur..”, katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis suara ibu mertuaku, “ssshh…, ssshh”. Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman agak keras.
“Buuu…, Saa…yaa”, dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar, “Nak Suuur…, koook seperti anak kecil saja.., siiih?”.
“Buu…, Saa…, yaa…, takuuut kalau nanti bapak datang”, sahutku gemetar karena memang saat itu aku takut benar, sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu mertuaku yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan, “Nak Suuur…, Bapak pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti…, tolong Ibuuu…, naak”,terdengar seperti mengiba.

Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti para pembaca Situs “17 Tahun.Com” pun juga tidak bisa menahan diri kalau dalam situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kualami dan apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, tentunya perasaan takutpun pasti akan ada.
“Ayooo…lah Nak Suuur…, tolongin Ibuuu…, Naak”, kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.
“Buuu…, biar saya kunci pintunya dulu, yaa..?”, pintaku karena aku was-was kalau nanti ada orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab, “Nggak usah naak…, selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu”, serta terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk bernafas. Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.

Ciuman demi ciuman ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu dan ketakutanku yang tadipun sudah tidak teringat lagi.
“Buuu…, boleh saya bukaa…, rok Ibu..? tanyaku minta izin.
“Suuur…, bol…, eh…, boleh…, Nak, Nak Suur…, boleh lakukan apa saja..”, katanya dengan suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku dengan nafasnya yang cepat dan sekarang malah berusaha melepas kancing celana pendek yang ada di badanku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas, lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan tersembulah payudaranya yang tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke bawah dengan puting susunya yang besar kecoklatan. Sambil kuusapkan kedua tanganku ke bagian bawah payudaranya lalu kutanyakan, “Buuu…, boleh saya pegang dan ciumi tetek…, Ibuu..?
“Bool…, eh…, boleh…, sayang.., lakukan apa saja yang Nak Sur mau.., Ibu sudah lama sekali tidak mendapatkan ini lagi dari bapakmu…, ayoo.., sayaang”, sahut ibu mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan perlahan-lahan kupegang kedua payudara ibu mertuaku dan salah satu puting susunya langsung kujilati dan kuhisap-hisap, serta pelan-pelan kudorong tubuh ibu mertuaku sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari mulut ibu mertuaku terdengar, “ssshh…, aahh.., sayaang…, ooohh…, teruuus…, yaang…, tolong puasiiin Ibuu…, Naak”, dan suara ibu mertuaku yang terdengar menghiba itu menjadikanku semakin terangsang dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri dan ibu dari istriku.

“Naak Suuur”, kudengar suara ibu mertuaku yang sedang meremas-remas rambut di kepalaku serta menciuminya, “Ibuu…, ingin melihat punyamu…, Naak”, seraya tangannya berusaha memegang penisku yang masih tertutup celana pendekku.
“Iyaa…, Buu…, saya buka celana dulu Buuu”, sahutku setelah kuhentikan hisapanku pada payudaranya serta segera saja aku bangkit dan duduk di dekat muka ibu mertuaku. Segera saja ibu mertuaku memegang penisku yang sedang berdiri tegang dari luar celana dan berkomentar, “Nak Suur…, besar betuuul…, dan keras lagi, ayooo…, dong cepaat.., dibuka celananya…, agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas”, katanya seperti sudah tidak sabar lagi, dan tanpa disuruh ibu untuk kedua kalinya, langsung saja kulepas celana pendek yang kukenakan.

Cerita Dewasa : Ketika aku membuka CD-ku serta melihat penisku berdiri tegang ke atas, langsung saja ibu mertuaku berteriak kecil, “Aduuuh…, Suuur…, besaar sekali”, padahal menurut anggapanku ukuran penisku sepertinya wajar saja menurut ukuran orang Indonesia tapi mungkin saja lebih besar dari punya suaminya dan ibu mertuaku langsung saja memegangnya serta mengocoknya pelan-pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan desahan kecil, “ssshh…, aahh”, sambil kedua tanganku kuusap-usapkan di wajah dan rambutnya.

“Aduuuh…, Buuu…, sakiiit”, teriakku pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik penisku ke arah wajahnya, dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku melepas tarikannya dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya yang ditahan oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati penisku. Setelah mulutnya dekat dengan penisku, langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan lidahnya serta menjilati kepala penisku sedangkan tangan kirinya meremas-remas pelan kedua bolaku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk meremas-remas rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu mertuaku. Tangan kananku kuremas-remaskan pada payudaranya yang tergantung ke samping.

Setelah beberapa kali kepala penisku dijilatinya, pelan-pelan kutarik kepala ibu mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah penisku dan rupanya ibu mertuaku cepat mengerti apa yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja kepalanya didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang penisku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku secara pelan-pelan memasukkan penisku yang sudah basah oleh air liurnya sampai setengah batang penisku masuk ke dalam mulutnya. Kurasakan lidah ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala penisku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali dimajukan sehingga penisku terasa sangat nikmat. Karena tidak tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi mendesis, “ssshh…, aacccrrr…, ooohh”, mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu. Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju mundur semakin cepat dan ini menambah nikmat bagiku.

Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan penisku dari mulutnya, padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk mengikutinya. Ibu langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya mengarah ke telingaku, kudengar ibu berkata dengan agak berbisik, “Naak Suuur…, Ibu juga kepingin punya ibu dijilati”, dan sambil kunaiki tubuh ibu mertuaku lalu kutanyakan, “Buuu…, apa boleh…, saya lakukan?”, dan segera saja ibu menjawabnya, “Nak Suuur…, tolong pegang dan jilati kepunyaan ibu…, naak…, ibu sudah lama kepingin di gituin”.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi, setelah beberapa saat kuciumi payudara ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya. Kemudian dengan cekatan ku lepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai. Kulihat vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam mengitari liang vaginanya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat vaginanya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku, “Nak Suuur…, tolooong…, cepaat…, saa.., yaang…, ayooo…, Suuur”.

Tanpa kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat itu untuk melihat belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu menggelinjang agak keras sambil berkata, “Cepaat…, Suuur…, ibu sudah nggak tahaan”.

Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam vaginanya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara, “ssshh…, aahh…, Suuur…, teruuus…, adduuuhh…, enaak…, Suuur”, Lalu kukecup clitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, “Aahh…, ooohh…, Suuur…, betuuul…, yang itu…, Suuur…, enaak…, aduuuh…, Suuur…, teruskaan…, aahh”, sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih dalam masuk ke vaginanya. Kecupan demi kecupan di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang, “aahh…, oooh…, duuuh…, Suuur…, ibuu…, mau.., mauuu…, sampaiii…, Naak…, oooh”, disertai dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.

Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya berkata, “Naak Suuur…, ke siniii…, saayaang”, dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan ibu, ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu, “Suuur…, Ibu puas dengan apa yang Nak Suuur…, lakukan tadi, terima kasiih…, Naak”. Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya, “Buuu…, saya sayang Ibuuu…, saya ingin ibu menjadi…, puu..aas”.

Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata, “Naak Suuur…, Ibu masih belum puas sekali…, Suuur…, tolooong puasin ibu sampai benar-benar puaas…, Naak”, seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya. Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya, aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara kembali, “Sayaang…, ayooo…, tolooong Ibu dipuasin lagi Suuur, tolong masukkan punyamu yang besar itu ke punya ibu”.
“Buuu…, seharusnya saya tidak boleh melakukan ini…, apalagi kepada Ibuu”,sahutku di dekat telinganya.
“Suuur…, nggak apa-apa…, Naak…, Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak…, lakukan sampai Ibu benar-benar puas Suuur”, katanya dengan suara setengah mengiba.

“aahh…, biarlah, kenapa kutolak”, pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan bibir vagina ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu kubisikkan, “Buuu…, maaf yaa…., saya mau masukkan sekarang, boleh?”.
“Suur…, cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak”, sahutnya seperti tidak sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau berteriak kecil, “Aduuuh…, Suuur…, pelan-pelan saayaang…, ibu agak sakit niiih”, katanya dengan wajah yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan. Kuhentikan tusukan penisku di vaginanya, “Maaf Buu…, saya sudah menyakiti Ibu…, maaf ya Bu”. Ibu mertuaku kembali menciumku, “Tidak apa-apa Suuur…, Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Suur..”, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungungku.

“Buuu…, saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa…, kalau ibu merasa sakit”, sahutku. Tanpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi sekarang kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala penisku sudah menancap di lubang vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan, “Buuu…, sakit.., yaa?”. Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab, “Suuur…, masukkan saja sayaang”, sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala penisku sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan penisku dan, “Bleess”, penisku mulai membongkar masuk ke liang vaginanya diikuti dengan teriakan kecil, “Aduuuh…, Suuur”, sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak menambah sakit bagi ibu.
“Buuu…, sakit yaa..? maaf ya Buuu”. Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.
“Enggak kok sayaang…, ibu hanya kaget sedikit saja”, lalu mencium wajahku sambil berucap kembali, “Suuur…, besar betul punyamu itu”.

Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-pelan sambil berdesah, “ssshh…, oooh…, aahh…, sayaang…, nikmat…, teruuuskan…, Naak”, katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan enaknya vaginan ibu dan kusahut desahannya, “Buuu…, aahh…, punyaa Ibu juga nikmat, buuu”, sambil kuciumi pipinya.

Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah, “Aah…, Suuurr…, ooh…, teruus…, Suur”. Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya. Aku tersentak kaget, “Buuu…, kenapa? apa ibu capeeek?”, Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil mencium leherku ibu berucap, “Suuur…, coba hentikan gerakanmu itu sebentar”.
“Ada apa Buuu”, sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.
“Suuur…, kamu diam saja dan coba rasakan ini”, kata ibu tanpa menjelaskan apa maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot dan terhisap di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan, “Buuu…, aduuuh…, enaak…, Buu…, teruus Bu, oooh…, nikmat Buu”, dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.
“oooh…, aah…, Suuur…, enaak Suuur”, dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi.

Mengetahui nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya yang menyebabkan ibu mertuaku protes, “Kenapa…, Suuur…, kok berhenti?”, tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.

Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu tanpa kesulitan. Ketika seluruh batang penisku sudak masuk semua ke dalam vaginanya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil, “Suuur…, aduuuh…, punyamu masuk dalam sekali…, naak…, aduuuh…, teruuus sayaang…, aah”, dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat. Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku, ibu terus saja berdesah, “Ooohh…, aahh…, Suuur…, enaak…, terus, tekan yang kuaat sayaang”.

Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu, “Buuu…, coba ibu tengkurap dan nungging”, kataku sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging, “Aduuh…, Suuur…, kamu kok macem-macem sih”, komentar Ibu mertuaku. Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba penisku kutusukkan langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak, “Aduuuh Suuur, oooh”, dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu berteriak, “oooh…, oooh…, Suuur”, dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi, “Suuur…, Ibu capek Naak…, sudaah Suuur…, Ibuu capeeek”, dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.

Tanpa mempedulikan kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan penisku dengan mudah ke dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga payudaranya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat, “Suuur…, jangaan…, kuat-kuat Naak…, badan ibu sakit semua”, sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.

Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan, “Maaf…, Buu…, kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan”, segera saja ibu berucap, “Suuur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja, ayoo…, Suuur mainkan lagi punyamu agar ibu cepat puaas”.
“Iyaa…, Buuu…, saya akan coba lagi”, sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku keluar masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di vaginanya, sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan sewaktu memasuki liang vaginanya.

Ketika salah satu payudara ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu, “ooohh…, aahh…, Suuur…, teruuus…, oooh”, seraya meremas-remas rambutku lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam vaginanya.

Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata, “Nak Suuur…, aduuuh…, Ibuuu…, sudaah…, oooh…, mauuu kelluaar”. Aku sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan penisku keluar masuk vaginanya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, “Bagaimana…, Buuu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.

Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, “Buu…, saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?”, seraya aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina ibu yang sudah sangat basah itu. Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku, “Jangaan…, Suuur…, jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuuu, jangaan dicabut dulu…, yaa…, sayaang”, terus kembali menutup matanya.

Mendengar permintaan ibu itu, aku tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan, “Tidaak…, Buuu…, saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti ini”, sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku. Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang sejak tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan tersedot vagina ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh, “Aduuuh…, oooh…, Buuu”.
“Kenapa…, sayaang…, enaak yaa?”, sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya kukatakan, “Buuu…, enaak sekaliii”, dan seperti tadi, sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya, secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk vaginanya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, “oooh…, aah…, Suuur…, teruuus…, naak…, aduuuh…, enaak sekali”.

Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat kocokan penisku keluar masuk vaginanya. Makin lama aku sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar, “Buuu…, sebentar lagi…, sayaa…, sudaah…, mau keluaar”, sambil kupercepat penisku keluar masuk vaginanya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya di punggungku seraya berkata, “Suuur…, teruuuss…, Naak…, Ibuuu…, jugaa…, sudah dekat, ooohh…, ayooo Suuur…, semprooot Ibuu dengan airmuu…, sekaraang”.

“Iyaa…, Buuu…, tahaan”, sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke vagina ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.

Setelah nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut penisku dari dalam vagina ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.
“Buuu…, apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?”, tanyaku.
“Mungkin saja Suuur…, kenapa Suuur?”, Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.
“Buuu…, kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia”, ibu hanya diam dan seperti berfikir.
Setelah diam sebentar lalu kukatakan, “Buuu…, sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.

Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan alasan kangen cucu dan anaknya Mur, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel, sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang Istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh, karena setiap bulannya ibunya selalu mengunjungi rumah kami.


BINOR Yang Doyan ML




Kriinngg...Kriiiinnggg...suara telp di meja kerja gw berdering dikala gw lagi pusing-pusingnya karena banyaknya pekerjaan yang harus gw selesaikan...”selamat siang” sapa gw...”selamat siang pak Jerry”...bla..bla...bla...singkatnya gw harus menyampaikan data ke kantor pusat karena akan dipakai sebagai bahan materi meeting para Big Boss dikantor pusat dan harus segera dikirim paling lambat besok sore...DAMN!!.

Kepala gw makin pusing ngga karuan karena selain banyak kerjaan yang harus gw selesaikan tapi juga karena Boss gw juga ngga masuk kerja karena sakit akhirnya gw telp Boss gw untuk minta kesediannya menandatangani beberapa file yang akan dikirim besok...dan akhirnya Boss gw pun meminta gw untuk hari ini lembur menyelesaikan tugas-tugas yang diminta oleh kantor pusat dan besok pagi gw harus membawa hasil kerja gw ke rumah Boss gw untuk ditandatangani olehnya.

Tepat jam 5 sore gw telp istri gw untuk mengabari perihal kerja lembur gw...”mah, papah malam ini harus lembur karena ada kerjaan yang besok pagi harus dikirim ke kantor pusat...mungkin pulangnya malam mah” jelas gw ke istri gw ...”ok pah..jangan lupa beli makan malam pah & pulangnya hati-hati di jalan ya pah” jawab istri gw...”iya mah” balas gw.

Dan akhirnya pekerjaan lemburpun gw lakukan yang sebelumnya juga gw sudah kasih pengumuman untuk semua bawahan gw kalo hari ini kita semua harus kerja lembur untuk keroyokkan buat data yang dibutuhkan kantor pusat.

“Titititit...titititit...titititit”...alarm jam tangan gwpun akhirnya berbunyi menunjukkan jam 11 malam dan itu pertanda kalau kerja lembur gw semua harus berakhir dan untungnya semua kerjaan sudah selesai tepat pada waktunya...”ok, sekarang sudah malam & kerjaan kitapun sudah beres saatnya kita semua pulang, THANKS GUYS!!”...seru gw kesemua bawahan gw dan merekapun membalasnya...” OK...YOU’RE WELCOME BOSS!!!” dengan nada yang masih ada sisa semangatnya (semangat karena sudah waktunya pulang...hehehehehe).

45 menit sudah berlalu perjalanan gw pulang dari kantor dan akhirnya gwpun sudah tiba di depan rumah gw, berhubung sudah malam dan biasanya istri gw dan juga pembokat gw (si mbok pengganti LILIK pembokat gw) sudah tertidur pulas maka gwpun masuk ke dalam rumah dengan memakai kunci cadangan yang memang selalu gw simpan di dalam laci mobil gw.

Setibanya gw di dalam kamar gw lihat istri gw sudah tertidur pulas dengan posisi terlentang dan sudah menjadi kebiasaan istri gw kalau tidur pasti memakai daster tanpa memakai pakaian dalam...pengen rasanya menggerayangi tubuh istri & menggarapnya tapi apa daya badan gw sudah terlalu lelah karena lembur barusan, akhirnya gw putuskan untuk segera bergabung ke kasur bersama istri untuk selanjutnya tertidur pulas karena besokpun gw harus bangun pagi-pagi untuk pergi ke rumah Boss.

Dan pada akhirnya tidur gw pun terbangun secara perlahan setelah terdengar sayup-sayup kumandang Adzan Subuh yang keluar dari corong TOA Masjid di sekitar perkampungan rumah gw selanjutnya gwpun beranjak turun dari tempat tidur gw & melaksanakan semua ritual dari mulai ibadah sampai dengan persiapan gw untuk pergi ke rumah boss.
“Tumben pah pagi-pagi sudah siap berangkat”...tanya istri gw yang sedikit kebingungan karena ngga biasanya gw pagi buta sudah rapih berpakaian...”iya mah soalnya papah mau ke rumah Boss pagi-pagi untuk kasih hasil kerjaan lembur semalam”...jawab gw ke istri...”oohh...pantesan aja...hehehehe” timpal istri gw.

Jam 6 pagi akhirnya gw pamit ke istri untuk pergi berangkat ke rumah Boss gw...setelah menempuh waktu sekitar 1 jam perjalanan akhirnya gw sampai juga di rumah Boss gw (maklum Gan rumah Boss gw jauh dari kota bisa dibilang di desa gitu deh...hehehehe) akhirnya gw coba telp Boss telebih dahulu sebelum gw masuk ke rumah agar Boss gw tidak merasa terganggu dengan kehadiran gw...”hallo, selamat pagi”...ujar suara wanita dari telp Boss gw....”eh...selamat pagi maaf bu mengganggu...bapak ada bu?” tanya gw kepada suara wanita tersebut yang gw yakini itu suara istri Boss...”ooh..ada pak ini dengan bapak siapa ya?” tanya wanita tersebut...”saya Jerry anak buahnya bapak bu” lanjut gw menjelaskan siapa gw...”oohh...mas Jerry...ada perlu apa mas?... tadi bapak sudah titip pesan kalo pagi ini mas Jerry mau datang ke rumah ya?”...lanjut tanya wanita itu...”iya benar bu dan sekarang saya sudah berada di depan rumah bu” jawab gw menerangkan....”ya ampuun silahkan masuk mas...tunggu ya mas saya bukakan pintunya”...serunya dengan sedikit bernada kaget...”iya makasih bu” jawab gw.

“Ceklek!!”...akhirnya pintu rumahpun terbuka”silahkan masuk mas Jerry” seru wanita tersebut...”iya makasih bu”...jawab gw dengan terbengong karena wanita yang dari tadi bicara di telp dengan gw dan sekarang membukakan pintu awalnya gw sangka istri Boss gw tapi ternyata gw melihat sosok wanita yang berbeda dari sosok istri Boss yang selama ini gw pernah lihat...”silahkan duduk mas” seru wanita tersebut sekaligus membuyarkan kebingungan gw...”i-iya makasih bu” jawab gw masih dalam kebingungan.

“Tunggu sebentar ya mas saya panggilkan dulu bapaknya” seru wanita tersebut sambil berlalu masuk ke dalam ruang tengah, dalam pikiran gw pun bertanya siapakah wanita tersebut?...karena setahu gw istrinya Boss yang gw tahu tidak seramping dan semuda wanita tadi. Dan tidak berselang lamapun akhirnya Boss gwpun muncul...”wah udah lama datangnya Jer? Maaf gw baru nongol soalnya gw bersiap-siap mau ke rumah sakit pagi ini mau ambil darah lagi” ujar Boss menjelaskan...”ngga apa Boss...memang sakit apa Boss?” tanya gw ke Boss...”ngga tahu nih belum ketahuan diagnosanya apa tapi kemungkinan gw kena Thypus nih Jer”...jawab Boss.

30 menitpun sudah berlalu dan Bosspun sudah selesai memeriksa dan menandatangani file-filenya namun masih ada beberapa revisi yang harus gw kerjakan...”Jer daripada lo ngeditnya di kantor mending lo edit disini aja kan lo ngga harus mondar mandir ke rumah gw hanya untuk ngejar tandatangan gw lagian juga gw belum bisa masuk kerja kok” ujar Boss...”iya sih Boss tapi gw ngga enak masa gw di rmh lo sendirian Boss?”...jawab gw...tiba-tiba..”sssttt....kesini lo deket-deket gw”ujar Boss sedikit berbisik...”ada apa Boss?” tanya gw sambil gw mendekatinya.

“Lo sudah lihat cewek yang membukakan pintu untuk lo kan?”...tanya Boss...”iya Boss, ada apa Boss?” tanya gw lagi....”tolong ini menjadi rahasia selamanya antara lo sama gw ya” seru Boss dengan tatapan tajam “ok tapi memangnya cewek tadi siapa Boss?” tanya gw pengen tahu...hehehehe...akhirnya Bosspun bilang “dia SELINGKUHAN gw Jer!!”....JEDHHEERRR...gwpun akhirnya tahu siapa wanita tersebut...”sebenarnya dia itu BINOR Jer!!”...lanjut Boss....JEDHEEERRR kedua kalinya “HAH??”...gw terkaget-kaget mendengarnya..”kenapa sih lo??? Kok kayak KAGET gitu??!!” tanya Boss gw...”bu-bukan gitu Boss masalahnya dia kan istri orang Boss” jawab gw kebingungan...”ya udah lah pokoknya ini menjadi rahasia kita berdua OK?!!”...”SIIAAPP BOSSS” jawab gw lantang...hehehehe...”ya udah lo betulin yang tadi gw revisi ya Jer tapi lo ngerjainnya cukup di rumah gw aja biar cepat beres” kata Boss...”kalo gitu biar gw pergi ke rumah sakit naik taksi aja jadi cewek gw cukup di rumah aja untuk temenin lo kerja OK?” ujar Boss...”iya deh terserah Boss gimana baiknya aja deh” jawab gw...”by the way emang dia tinggal disini boss?” tanya gw mencari tahu...”enggaklah dia itu pagi tadi datang kesini terus dia alasan ke suaminya kalo dia ada kerjaan dadakan pagi-pagi dikantornya padahal kesini buat lihat kondisi gw...gw sih tenang aja soalnya suami dia kerjanya jauh diluar kota Jer baru bisa pulang sebulan sekali.....hehehehe” ujar Boss senang...”wuidih mantap kali Boss gw ini” ujar gw sedikit menyanjung Boss...hehehe...”ok deh gw ke rumah sakit dulu ya Jer” ujar Boss gw...”ok siaap Boss”...jawab gw.

Ngga terasa udah 30 menit gw berada diruang kerja Boss di rumahnya tiba-tiba..”mas Jerry ini diminum dulu tehnya”...ujar wanita tersebut...”eh iya, makasih mbak”...ujar gw...”wah tadi bilang ibu kok sekarang jadi mbak mas?” tanya wanita tersebut....”eh..a-anu mbak...emmm..abis mbak sepertinya terlihat lebih muda dari saya” jawab gw malu...”mas pasti bingung ya siapa saya?” tanya wanita tersebut...”Bingung gimana mbak?”...tanya gw pura-pura ngga ngerti....”kenalkan mas nama saya Ayu”...ujarnya memperkenalkan namanya ke gw...’eh...iya mbak Ayu” ujar gw...”bapak tadi sudah cerita ke aku tentang siapa aku sebenarnya ke mas Jerry, iya kan?”..tanya Ayu langsung to the point...”iya mbak” ujar gw lagi...”sudah ngga perlu bingung seperti itu mas bersikap biasa aja ke aku anggap aja aku ini memang istri Boss mu, ok?!!”...jelas Ayu mempertegas agar cair pembicaraan..”iya deh mbak” jawab gw santai...”husss jangan panggil mbak cukup Ayu aja kan aku lebih muda dari mas Jerry”...ujarnya protes...”hehehehe...iya deh Yu”...”nah gitu dong” lanjut ayu senang.

Akhirnya pembicaraan kita berdua menjadi cair setelah 10 menit pertama dalam kondisi yang serba kikuk buat gw.....”Yu memangnya berapa sih umur kamu?” tanya gw...”ayu umur 31 mas, kalo mas Jerry umur berapa?” tanya Ayu balik...”aku umur 37 Yu”...jawab gw...”sudah berkeluarga mas?” tanya Ayu lagi...”sudah dong...hehehehe”...jawab gw...”sudah punya anak berapa mas?” tanya Ayu menyelidiki seperti polisi...”kalo anak belum punya Yu” jawabku lagi...”kalo Ayu sendiri kenapa kok mau berselingkuh sama Boss aku?” tanya gw langsung to the point....”eh...gimana ya jawabnya..” ujar Ayu kebingungan...”ayo jujur deh aku dari tadi sudah jawab jujur loh” ujar gw memancing...hehehehe....”i-iya deh Ayu jujur.....habis Boss mu alias masku ini perhatian sih sama aku”...jawabnya tersipu malu...”aahh...masa Cuma karena itu Ayu bisa suka...apa bukan karena Ayu lagi ada masalah dengan suami?” tanya gw memojokkan dia...Ayu terdiam sejenak tanpa mengeluar sepatah katapun sedangkan aku cuek saja karena aku juga sedang mengerjakan revisi pekerjaan.

“Ehmmm...mas bisa ngga aku minta ke mas Jerry untuk menjaga rahasia ini?”....akhirnya Ayupun mengeluarkan suaranya...”rahasia apa Yu” tanya gw memancing....”begini mas....sebenarnya awal Ayu suka sama masku ini karena perhatian dia terhadap rumah tangga kami....karena suami aku itu kerjanya jauh dari sini mas dia baru bisa pulang sebulan sekali” ujar Ayu...”perhatian seperti apa Yu?” tanya gw lagi....”awalnya 2 tahun lalu suamiku itu baru saja di PHK dari perusahaannya karena perusahaannya itu bangkrut, akhirnya kami berdua sepakat untuk menjual tanah warisan untuk biaya sekolah anak kami yang kebetulan tanahnya itu berada tepat bersebelah dengan rumah Boss mas ini...setelah beberapa minggu kami pasang papan iklan jual di tanah kami tapi belum ada juga orang yang berminat dengan tanah kami, akhirnya suami mencoba untuk menawarkan ke Boss kamu mas setelah mendengar penjelasan kami berdua,...masku ini aku panggil Ayang ya mas Jer....ngga apa kan?...iya justru menawarkan suami aku pekerjaan sehingga kami tidak perlu menjual tanah warisan kami sedangkan untuk uang sekolah kami Ayang kasih kami pinjaman dana yang bisa kami bayar cicil semampu kami”...”teruus Yu”...potong aku...”iya...akhirnya suamiku setuju dan mau mengikuti tawaran Ayang...selang sebulan kemudian akhirnya suami mendapat surat keterangan bahwa suami diterima bekerja di perusahaan tersebut namun dengan syarat suamiku harus mau bekerja jauh dari kota ini, berhubung kami memang sangat membutuhkannya maka suamipun menyanggupi persyaratan tersebut tapi hanya suami saja yang berangkat, hal ini dikarenakan anak kami baru saja bersekolah dan kami juga baru saja melunasi semua dana kebutuhan sekolah anak kami mas”...”terus Yu”...ujar gw penasaran.

“dengan dapatnya kabar seperti itu suami dan aku mendatangi rumah Ayang ini dengan maksud mengucapkan terima kasih atas bantuannya dan setelah Ayang mendengar semua cerita kami akhirnya Ayang menyarankan agar suami tetap berangkat saja dan Ayang menawarkan diri untuk membantu dan menjaga aku dan anak selama suami berada jauh disana.” Ujar Ayu panjang lebar bercerita tentang kondisi rumah tangganya...tiba-tiba..”kriiinngg....kriinggg...eh Ayang telp mas tunggu ya mas” ujar Ayu kembali setelah mengetahui siapa yang telp dia...selang beberapa menit kemudian “mas...tolong Ayu mau ngga?”...”ada apa Yu?’ tanya gw bingung melihat raut wajah Ayu yang panik...”itu...A-ayang harus dirawat di rumah sakit mas”..jawabnya lirih...”WADUH...ada apa nih?”...tanya gw kaget...buru-buru gw telp Boss untuk menanyakan kondisi yang sebenarnya seperti apa.

Akhirnya gw mengetahui kalau Boss harus dirawat di rumah sakit karena penyakit Thypus yang di deritanya dan dia minta tolong agar gw bantu Ayu bawa beberapa pakaian ganti untuk dia selama dirawat dan sekaligus mengantarkan Ayu ke rumah sakit beserta file hasil revisi dia yang sudah gw selesaikan.

Gw dan ayu pun akhirnya berangkat ke rumah sakit, selama diperjalanan kami berduapun tidak banyak berbincang karena Ayu terlihat masih panik mungkin karena dia tidak terbiasa mendapat kondisi bila ada anggota keluarganya yang harus dirawat sedangkan gw sendiri terlalu sibuk berkonsentrasi menyetir kendaraan agar cepat sampai tujuan.

Setelah memacu kendaraan dengan cepat akhirnya kami berdua telah sampai di rumah sakit dan kami langsung menuju kamar yang telah di SMS oleh Boss gw, setelah tiba di dalam kamar ternyata Ayu pun pecah tangisnya yang membuat gw bingung tapi gw bisa memakluminya.

Dengan tidak mau membuang waktu Boss pun menanyakan hasil revisinya dan setelah dia baca maka diapun langsung menyetujuinya akhirnya gwpun diperintahkan untuk mengirim ke kantor pusat melalui Email namun masalahnya sinyal di rumah sakit ini sangat lemah akhirnya gw pamit untuk ke kantor agar bisa mengirim Email tapi Boss justru melarang dan memberi gw sehari ini untuk tidak bekerja di kantor melainkan bekerja di rumahnya.

“Jer hari ini lo ngga perlu kerja di kantor cukup kerja di rumah gw aja, gw mohon ya Jer” ujar Boss memohon ke gw...”ngapain juga memohon gitu sih Boss?”...tanya gw risih...”soalnya gw pengen lo nanti antar cewek gw lagi untuk pulang nah sekalian lo kirim deh filenya dari rumah gw aja ok?”...”ok ngga masalah kok Boss santai aja” jawab gw.

Akhirnya 30 menit sudah kami di rumah sakit dan kamipun pamit dulu untuk pulang, di dalam perjalananan tiba-tiba Ayu berkata “mas nanti ngga usah antar Ayu ke rumah biar Ayu nanti pulang sendiri aja, kasihan mas habis waktunya...kan masih ada kerjaan yang harus diselesaikan.”...”kok gitu Yu? Ngga apa kok”...jawab gw...”ngga usah mas”...timpal Ayu kembali...”ya terserah Ayu aja deh” jawab gw.

“WHAAATT??!!”...”ya ampun udah jam 2 siang aja”...kaget gw waktu lihat jam tangan gw pas ketika gw sudah sampai di depan rumah Boss gw, dengan tergesa-gesa gw segera masuk ke dalam rumah Boss untuk segera mengirim filenya ke kantor pusat melalui Email....”pffuuiihhh....amaaaan selesai juga nih tugas”...gumam gw.

“Ayu mau pulang sekarang?” tanya gw ke Ayu sambil gw berjalan untuk bergabung nonton acara tv bersama Ayu....”sebentar lagi mas, Ayu masih mau tenangin pikiran dulu...kasihan Ayang mas”...”iya sih Yu...apalagi si Boss disini tinggal sendirian jauh dari keluarganya....untung ada Ayu yang perhatian sama Boss...hehehe”...ujar gw sekalian pancing omongan...hehehehe.

“Iya ya mas kasihan Ayang....iiihh mas kok gitu sih?...kan Ayu jadi malu”...ujarnya malu dengan rona mukanya yang memerah...”loh kenapa malu Yu? Kan memang kenyataan kan?” ujar gw menegaskan...”iya deh mas benar kok...tapi jangan sampai ada yang tahu ya mas”....ujar Ayu yang sepertinya masih mau banyak bercerita....”iya tenang aja 100% aman kok” ucap gw yakin.

“Selain dari semua yang sudah Ayu ceritakan tentang Boss ke mas sebenarnya kalo boleh jujur apa lagi sih Yu yang akhirnya Ayu mau dan yakin untuk menjadi selingkuhan Boss?”...tanya gw penuh selidik....”hmmmm....apa yaaa?....kasih tau ngga yaaaa?...hihihihi”....canda Ayu “kalau si Boss sih pasti mau banget sama Ayu lah”...celoteh nakal gw ke Ayu...”kok mas yakin tahu banget kalo Ayang mau sama Ayu?”...tanya Ayu bingung dengan ucapan gw....”ya gimana ngga mau Yu...kamu itu sesuai sama namanya berwajah ayu nan manis....hehehehe”....ujar gw ngegombal ke Ayu....”iiihhhh....mas sih bisanya ngeledek Ayu aja niiih...”...”loh benaran kok”...sambar gw unutk membuat ge-er Ayu...”apalagiiiii....badan Ayu tuh masih ramping kelihatannya seperti belum punya anak....hehehehe”...ujar gw ngegombal gambil...hehehehe.

“Ya ampuun....mas Ayu ini sudah umur kepala 3 & sudah punya anak kok, masa dibilang ramping?”...ujar ayu menepis sanjungan gw...”ya kalo bukan karena itu berarti si Boss ada penilaian lain tentang Ayu doong?”...ujar gw memancing lagi...hehehehe....”kalo mas boleh tahu apa tuh Yu yang membuat si Boss punya penilaian lain tentang kamu?” tanya gw memojokkan Ayu...”apaan ya mas?”...tanya Ayu bingung....”mungkin aja permainan Ayu memuaskan kaliii...”...ucap gw sekenanya...”iiiiihhhh....mas aahhh kok bilang gitu ssiiiihhh???”...protes Ayu ke gw tapi kelihatan kalau dia senang.....”loh mungkin benar kan Yu?...sekarang nyatanya kalian berdua kan sudah punya keluarga masing-masing terus ngapain juga kalian berselingkuh kalo bukan karena hal tersebut?”...JEDHEEERRR kalimat gw begitu saja meluncur yang membuat Ayu bengong dan langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya karena malu...”benar ngga Yu?” tanya gw untuk meyakinkan kalimat gw barusan (kepalang tanggung sudah ngomong gitu ya mending gw terusin ajalah toh Cuma ada 2 pilihan buat gw dia marah atau dia bisa menerima) dalam hati gw berkata gitu....namun ternyata...”i-iya sih...mas Jerry benar kok”...jawab Ayu sambil tetap menutup mukanya dengan kedua tangannya...”ini rahasia ya mas...pleaseee aku mohon” lanjut Ayu memohon dengan nada sedikit ketakutan...”jadi benar Ayu sudah melakukan hubungan sex sama Boss?” tanya gw untuk meyakinkan...”iya mas Ayu sudah melakukan itu....tapiiii.....itu semua karena Ayu merasa kesepian karena terlalu lama ditinggal sama suami dan juga karena Ayu sudah merasa sayang sama Ayang mas”...jawab Ayu jujur.

“Hmmmm....sepertinya gw bisa nih untuk merasakan nikmatnya tubuh Ayu”....begitulah setan mempengaruhi pikiran gw....hehehehe....akhirnya gw coba untuk terus menggoda Ayu dengan harapan Ayu pun bisa takluk sama gw....hehehehe.

“Kalo mas boleh tahu memang si Boss mainnya bisa memuaskan Ayu ya?”....tanya gw nakal...”apaan ssiiih massss!!”...jawab Ayu menolak pertanyaan gw...”ayolah Yu jawab jujur aja toh kita sudah dewasa dan sudah tahu akan hal seperti itu”...jawab gw meyakinkan Ayu...”yaaaa...puas lah mas kan Ayu ditinggal suami lama, makanya Ayu juga mau berselingkuh sama Ayang”...jawab Ayu yang sekarang nampak Ayu sudah mulai terima dan terbiasa dengan arah pembicaraan gw....”enak mana sama suami Yu?” tanya gw mendesaknya....”hmmmm....sama enaknya kok mas...hihihihi”...jawab ayu dengan tawanya yang sedikit malu....”kalo ukuran kontolnya besaran mana Yu?” tanya gw semakin menjadi-jadi....”adduuuhhh...kok detail banget sih massss tanyanya?”...protes Ayu...”hhmmm...masih besaran punya suami Ayu kok mas” akhirnya Ayupun mau menjawab jujur....hehehehe....sambil terus memberondong pertanyaan nakal diam-diam kontol gw pun bergerak menegang juga akhirnya.

Dengan sedikit nekat tanpa sepengetahuan Ayu gw luruskan posisi kontol gw yang masih terbungkus celana walau sudah dalam kondisi sesak.....dan gw coba memancing Ayu untuk mau melihat tegangnya kontol gw yang masih di dalam celana dengan cara gw berdiri dari kursi gw dan berjalan mengambil remote tv dengan alasan untuk mengganti chanel acara tv.

Setelah gw ambil remote tv gw pun berbalik badan kembali menuju kursi gw yang otomatis posisi gw saling berhadapan dengan Ayu dan gw pun dapat melihat reaksi muka Ayu yang dengan terbengong-bengong melihat bentuk celana gw yang sudah menonjol karena tercetaknya kontol gw yang sudah tegang....”hmmmm...sepertinya Ayu sudah masuk perangkap gw nih” begitulah dalam benak pikiran gw ketika gw lihat reaksi mukanya Ayu.

“Kenapa Yu? Kok muka kamu seperti itu?”...tanya gw mengagetkan Ayu dari tatapan takjubnya...”eh...eeemmm...anu ngga apa kok mas” jawab Ayu salah tingkah....”sepertinya mata kamu kok lihat ke arah kontol aku ya Yu? Benar ngga?” tanya gw lagi yang langsung memojokkan Ayu...”eh..eh...ngga kok mas” jawab Ayu langsung berpaling melihat ke arah tv...”hehehehe....yakin ngga salah deh pasti lihat kontolku kan Yu?” tanya gw nakal...Ayupun hanya bisa menggelengkan kepala sambil menutup kembali mukanya dengan kedua tangannya karena malu ketahuan telah melihat kontol gw.

“Wah kesempatan nih gw buka resleting celana dan mengeluarkan kontol gw terus gw berdiam diri di depan Ayu dengan posisi kontol gw yang tepat berada di depan muka dia, mumpung dia lagi menutup muka” begitulah pikiran nekat gw dan akhirnya gwpun melakukan kenekatan tersebut...”AAAAWWWW!!!...MAASSSS!!!...KAMU GILAAA YAAA??!!!”..teriak Ayu kaget ketika dia membuka tangannya dari muka dia dan ternyata dihadapan dia sudah terpampang kontol gw yang sudah mengacung tegang....hehehehe....”gimana kontol aku Yu? Besar mana sama punya suami kamu?” tanya gw menantang...”kamu gillaa masss!!!” caci Ayu tapi dia bukannya menghindar namun tetap saja menatap ke kontol gw dan akhirnya mata Ayu menatap gw untuk beberapa saat dan kemudian dia kembali menatap kontol gw, untuk beberapa detik kami berduapun terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Tiba-tiba...”sepertinya besaran punya mas deh” Ayupun menjawab dengan langsung tangannya menggenggam kontol gw...”masa sih Yu?” tanya gw kenikmatan akibat genggaman tangannya di kontol gw...”sepertinya sih maasss...” jawab Ayu lirih...”jangan sepertinya dong Yu”...ucap gw menggodanya...”ya terus gimana dong mas?” jawab Ayu sambil tangannya mengocok pelan kontol gw...”ya coba dong dirasakan dan dinikmati sama Ayu, jadi Ayu bisa tahu apakah kontol aku besar atau kecil”...ujar gw menantang Ayu....”hhmmm....gitu ya mas?...memangnya Ayu boleh menikmati dan merasakan punya mas?”....tanya Ayu mulai berani karena sudah terangsang...”boleh kok Yu, silahkan aja kamu nikmati sepuasnya Yu”...jawab gw memastikannya.

“Sllrruuuupp....ssshhhh...ssslllrruuupp...ssshhh”. ..tanpa disangka Ayu langsung bereaksi menjilati kontol gw, kontan saja gwpun langsung menggelinjang nikmat akibat serangan mendadak dari lidah Ayu...”ssshhhh....aaahhhh...oooyyyeeaaaahh....enaa ak Yuuu”...desah gw keenakkan...”ssllrrruppp...ssllrruupp....aaahhh”.. hanya suara tersebut yang keluar dari mulut Ayu akibat aktifitas lidahnya yang sedang asik menikmati tekstur batang kontol gw...hehehehe.

“Mas tolong ini menjadi rahasi kita berdua ya....pleeaseee...Ayu malu & takut kalo Ayang sampai tahu mas” ujar Ayu memohon kepada gw...”sssshhhh....tenang aja Yu aku ngga akan bocorkan ini semua kok...kan lagi juga lebih baik dirahasiakan supaya kita masih bisa melakukan ini lagi ke depannya...hehehehe”.....”hhuuhh...dasar lelaki memang hobinya beginian”...seru Ayu cengengesan sambil melanjutkan kembali menikmati sebatang kontol milik gw...hehehe.

Jilatan lidah Ayu dibatang kontol gw masih terus berlangsung namun sekarang perlahan lidah Ayupun mulai bergerak kebawah menuju biji kontol gw dan ketika lidah itu mendarat tepat dibiji kontol gw maka erangan nikamt dari mulut gwpun keluar tanpa ada remnya...”aaaahhhhh....sssshhhhh....Ayuuuuu...teru uuuuusss...Yu” ceracau gw....”teruuuus Yu...masukin ke dalam mulut kamu Yu...”mohon gw ke Ayu...”hhmmmm...sslllrruupp....ssllrrruuuppp....”. ..akhirnya kontol gwpun perlahan dilahap masuk ke dalam mulut Ayu...”OOHHHH....ARRGGGHHH!!!!” gwpun sedikit berteriak karena menikmati permainan mulut Ayu yang naik turun dengan perlahan sambil tangan Ayu mengusap-usap biji kontol gw dengan lembut....selagi Ayu asik menikmati batang kontol gw gwpun akhirnya membuka semua pakaian yang menempel dibadan gw sampai akhirnya gwpun sudah dalam kondisi bugil.

Mengetahui gw sudah dalam kondisi bugil perlahan-lahan Ayupun naik keatas sambil tetap menjilati seluruh badan gw...”AAAHHHH...YUUU...ENAAAAKKK SAY!!!” ceracau gw keenakkan...dan pada akhirnya bibir Ayu telah menempel tepat di bibir gw seketika itu juga gw langsung mencaplok bibir Ayu dengan rakus dan kamipun terlibat perang bibir dan saling menusukkan lidah kami untuk masuk kedalam mulut kami berdua....”eemmmhhhh...emmmmhhh..” hanya suara itulah yang keluar dari kedua mulut kami akibat serunya pertempuran bibir dan lidah kami berdua.

Sambil kami berdua berciuman gwpun langsung bertindak cepat dengan mempreteli semua pakaian yang menempel di badan Ayu sampai akhirnya Ayupun sudah dalam kondisi bugil, setelah Ayu bugil tangan kiri gw langsung menggerarayangi dan meremas-remas pantat Ayu yang bahenol itu sedangkan tangan kanan gw langsung hinggap meremas-remas dan memilin-milin toket serta pentilnya Ayu yang ukurannya 34A (setelah selesai ngentot gw baru lihat ukurannya di tali pengait branya Ayu) ...”AAHHHH....AHHHH...ADDDUUHH...ENAAAAKKKK....TER UUUSSS MAAASSSS!!!”...teriak Ayu menikmati kenakalan kedua tangan gw ditubuh dia.

Karena kami sudah cukup lama bercumbu dalam posisi berdiri akhirnya gw mendorong Ayu secara perlahan ke belakang yang pada akhirnya Ayupun secara pelan-pelan memposisikan tubuhnya duduk diatas kursi kembali, hal ini pun langsung gw lancarkan serangan lidah gw untuk menjilat kupingnya dan terus turun menjilati lehernya yang jenjang dan ngga lama kemudian berhentilah dipemberhentian pertama gw di kedua toket Ayu, dengan rakusnya gw jilat dan sedot toket Ayu dengan penuh napsu...”AAAHHHHH...SSHHHHH...MASSSSSS....ENNAAAAK KK...TERRUUSSSS...MAASSSS NIKMATI MASSS MULAI HARI INI AYU MILIK MASSS!!!!...AARRGGGHHHH”...teriak Ayu keenakkan dengan serangan seporadis mulut gw di toketnya.

“OOOOHHH....AAAHHHH....SSSSHHHHH...MAAASSSSS....AA RRGGGHHHH” Ayu berceracau dan serta merta badannya pun diangkat keatas hingga melengkung sampai dia harus memalingkan kepalanya kekiri dan kekanan akibat mendapatkan kenikmatan yang luar biasa yang mendera tubuhnya karena sedotan mulut gw di toketnya dan juga usapan tangan gw di memeknya dia.

“Ini baru permulaan Ayu sayang...kamu akan aku beri kenikmatan yang takkan pernah kamu rasakan sebelumnya” desah gw...”OOUUGGHH...MAASSS...LAKUKANLAH MAAASS...AYUU...MAU DIBUAAT NIKMAAT SAMA MAASSSSSS!!!”...Ayupun memelas liar dan pasrah karena sudah dalam kondisi terlalu tinggi birahinya.

Sesaat kemudian gwpun menjilati sekujur tubuh Ayu dan beranjak turun terus menyusuri seluruh lekuk tubuhnya hingga akhirnya sampailah mulut gw di depan bibir memeknya namun gw tidak mau untuk langsung menggarap memeknya akan tetapi gw lanjutkan untuk menjilati kedua pahanya terlebih dahulu...”AAAAWWWWWW....AADUUUHHHH...GEEELLLIIIIII I MAAAASSSSS!!!!....EEENNNAAAAKKKK...TERUUUUUUUSSS.. .MAAAASSSS!!”...teriak Ayu sambil bergelinjang ngga karuan, gw coba untuk memainkan napsu birahinya dengan cara berhenti menjilati pahanya dan tampak terlihat napas Ayu yang naik turun dengan cepat dan merah meronanya muka dia...”kenapa mas? Kok berhenti?” tanya Ayu dengan raut mukanya yang menunjukkan kekecewaan...”ngga apa-apa kok Yu”..jawab gw singkat namun sedetik kemudian gw langsung nyosor untuk menyerang memeknya Ayu...”SSLLRRRUUUPPP....SSLLLRRRUUUPPP....SSSLLLRR RUUUPPP...AAHHHH”....”AAAARRRGGHHHH....AADDDUUUHHH H...MMAAAASSSSS....KAMU....NGAPAAAAIIINNN???? JANGAAAANNN....MAAASSSS...KOTTTOOOOORRR...SSSHHHHH H” protes Ayu namun menikmati jilatan lidah gw yang menari-nari naik turun dan menusuk-menusuk ke dalam memek dia.....”AAAHHH....OOOOUUUGGHHH....GEELIIII MASSSS!!!...TTERRUUUSSS...MAASSSS!!!...AAWWW...BAR U KALI INI ANU AYU DIJILATIIIIN...MAASSSS!!!”....erang Ayu keenakkan...tiba-tiba kedua paha Ayu menjepit erat kepala gw yang sedang asik menikmati memek Ayu serta nampak terasa sekali sekujur tubuh Ayu menegang kaku yang menunjukkan sebentar lagi Ayu akan mendapatkan klimaksnya ”MAAAAASSSSS!!!!...AYU KEELUUUUAAARRRRRRRR!!!!...AAARRRGGGHHHH”...”SEERR. ..SERRR...SERRR” akhirnya keluarlah cairan kenikmatan dari dalam memek Ayu, tanpa harus menunggu waktu untuk Ayu mengatur irama napasnya yang sudah lelah, gwpun langsung mengarahkan kontol gw tepat di depan bibir memeknya Ayu, tanpa disadari oleh Ayu yang masih terpejam akibat sedang menikmati sisa-sisa kenikmatan yang telah keluar tadi akhirnya gw melakukan penetrasi dengan sekali dorongan yang menghentak keras langsung menghujam masuk ke dalam memeknya sampai terasa ujung kepala kontol gw mentok di dalam rahimnya Ayu..”SLLLEEEEEEBBBB!!!....”....”AAAWWWWWW...MAASS SSSSS!!!” Ayupun tersentak kaget dengan mata melotot dan bibir melongo serta kedua tangannya meremas-remas sprei dengan sekuat tenaganya....”ARRRRGGGGHHHHHH!!!!”..gwpun teriak keenakkan, setelah kontol gw terbenam semua ke dalam memeknya Ayu....namun setelah itu gw tidak mau langsung untuk menggenjot kontol gw di dalam memeknya terlebih dahulu akan tetapi dengan sengaja gw diamkan dahulu kontol gw bersarang di dalam memeknya untuk beberapa saat karena gw ingin menikmati rasanya kontol gw terbenam penuh di dalam memeknya Ayu dan juga gw memberi kesempatan untuk Ayu beradaptasi dengan diameter ukuran kontol gw yang telah masuk terbenam di dalam memeknya.

Setelah sekiranya Ayu sudah dapat beradaptasi menerima keberadaan kontol gw di dalam memeknya akhir dengan perlahan gw mulai melakukan genjotan kontol gw di dalam memeknya dengan pelan-pelan...”SLLEEEBBB...SLLLEEEBBB...SLLLEEEBBB...”.. .”OOOHHH...SSSHHHH...MAASSSS”...Ayupun mulai mengerang kembali menikmati irama kocokkan kontol gw yang naik turun secara pelan-pelan.

“Gimana rasanya kontolku Yu?” tanya gw sambil terus memompa kontol gw di dalam memeknya”SLLEEEBBB...SLLLLEEEEBB”...”hhhmmm...enaa akk sayaangku...” sahut ayu mendesah dengan tatapan matanya yang sayu...”Ayu sayang...enakkan ngentot sama mas?” tanya gw untuk memancing naik kembali birahi Ayu....Ayupun hanya bisa mengganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya serta kedua tangannya merangkul erat badan gw.

Lambat laun kocokkan kontol gw di dalam memeknya Ayu gw tingkatkan kecepatannya...”SLLLEEEBBB....SLLEEEBB...SLEEEBBB” ...”AAAAHHHH....OOOOOHHHH.....SSSSSHHHHH....TTEERU UUUUUSSS SAYAAAAANNGGG....YAANG DALAAAAMM...A-AYU SUKAAAAA KONTOL SAYAAAANG!!!!”...ceracau Ayu yang sudah mulai terbakar kembali birahinya..”SAYAAAAAAAANNNGGGG!!!!” Ayu mulai lepas kendali karena telah dirasuki kenikmatan napsu birahinya, pinggul Ayupun mulai bergoyang naik turun mengikuti irama kocokkan kontol gw sambil kedua tangannya menekan pantat gw agar terus menekan lebih dalam lagi kontol gw di dalama memeknya.

“OOOHHHH....AAAAHHHH..OOOHHH...AAAHHHHH!!!!” begitulah irama yang keluar dari kedua mulut kami karena sedang menikmatinya persenggamaan kedua buah alat kelamin kami namun gw ngga mau hanya melakukan 1 gaya permainan saja maka akhirnya gw balikkan badan kami berdua hingga akhirnya kami berubah posisi sampai-sampai tanpa kami pedulikan lagi kalau sebenarnya kami telah terjatuh ke lantai dari yang tadinya kami berada diatas kursi sofa tersebut dan akhirnya sekarang posisi Ayu berada diatas badan gw, dengan sigap Ayupun langsung menggerakkan pantatnya untuk naik turun diatas kontol gw...”PLOK....PLOK...PLOK..” begitulah suara yang terdengar akibat dari gerakkan naik turun pantatnya diatas kontol gw yang sudah basah karena telah melelehnya cairan pelumas Ayu dan melumuri semua batang kontol gw sehingga mempermudah kerja Ayu dalam mendapatkan kenikmatan untuk kami berdua...”AAAAHHHH...SAYAAANG...KONTOL KAMU BUAT MEMEKKU PENUH SESAK SAAAYY!!!”..ujar Ayu keenakkan...”SSSHHH....OOOOHHH....IYA SAYAAANG NIKMATI KONTOLKU SAYAANG!!!” sahut gw yang sangat menikmati kontrol permainan dari Ayu.

Peluh keringat dari badan kamipun telah keluar bercucuran dengan sangat derasnya namun ternyata permainan kami pun belum juga dapat kami tuntaskan akhirnya gwpun melakukan inisiatif untuk merubah gaya permainan kembali, gw ajak Ayu untuk berdiri dari lantai dan gw tarik Ayu untuk mendekati meja makan yang berada tidak jauh dari posisi kami ngentot dan setelah itu gw minta agar Ayu merebahkan tubuhnya diatas meja makan.

Dengan posisi Ayu rebah diatas meja maka gwpun menarik kedua buah kakinya keatas dan bersandar dikedua buah bahu gw setelah itu kontol gw mulai kembali melakukan penetrasi ke dalam memeknya Ayu...”SLLLEEEEBBBB”...”AAAAHHHH...SSSHHHHH”...kam i berdua kembali mendesah ketika kontol gw menyeruak masuk kembali ke dalam memeknya Ayu namun kali ini kontol gw dapat dengan mudah masuk ke dalam memeknya karena memek Ayu sudah banyak sekali cairan pelumasnya yang keluar hingga sampai melumuri bibir luar memeknya..”SLLLEEEEEBB...SSSLLLEEEEBBB...SSSLLLEEE BBB..”...”AAAAHHHH...SAYAAANGKU...TERUUUSSS SAYAAANG...ENTOT AYU SEPUAASNYA...KOCOKK TERUUSSS SEDALAM-DALAMNYA SAYAAANG!!” begitulah teriakkan dan ceracauan Ayu yang sudah tidak terkendali lagi...”SSSSHHHH....BADAN AYU PUNYA SAYAAANGG....AYUUU PENGEEN DIENTOT TERUS SAMA SAYAAAANG...OOOOHHHHHH!!!”... begitulah Ayu berteriak kenikmatan, namun dalam kenikmatan yang sedang kami dapati gw melihat ada tetes air mata yang keluar dari kedua mata Ayu...”Ayu kenapa menangis ssayang?” tanya gw kebingungan...”Ngga apa-apa sayangku...ayu nangis karena senang sayang”...jawab Ayu sendu...”senang kok menangis sayang?” tanya gw kembali sambil gw tetap memompa kontol gw di dalam memeknya Ayu...”jujur ya sayang....ini pertama kalinya Ayu bisa merasakan nikmatnya ngentot!!” jawab Ayu sambil langsung memeluk erat tubuh gw...mendengar kejujuran Ayu gw langsung memompa kontol gw lebih cepat lagi entah kenapa gw jadi bertambah semangat lagi”PLOOOK...PLOOKK...PLOOOKKK!!!”....”AAAAHHHHH. ...TERUUUUS SAYAAANG!...TERUUUUSSSSS...OOOOOHHHHHH!!” ayu blingsatan ngga karuan dan kembali tubuh Ayu menandakaan kalau sebentar lagi Ayu pun akan mencapai klimaks.

Kondisi ini membuat gw untuk semakin mempercepat kocokkan kontol gw di dalam memeknya Ayu...”PLOK...PLOK...PLOK...PLOK!!!”....”OOOOHHHH. ...AAAAAHHHH....SAYAAAANGGG....TERUUUSSS...YAAANNG GG...CEEEEPPPAAAAATTTT....AYU.SUDAH MAU KELUAAAAARRRRR!!!”...begitulah Ayu mengerang keras...”AYU KELUAAAAAARRRRR....AAARRRGGGHHHHH”...”SSSEEERR.... SEEERRR...SEERRR”...akhirnya Ayu pun mencapai klimaks untuk kedua kalinya begitu juga gwpun sudah merasakan akan tanda-tanda sebentar lagi kontol gw ini akan menyemburkan peju gw.

“AAARRRGGGHHHH.....SAYAAAANGGG....AKU KELUAAAAARRRRR!!!!....”...”OOUUGGHHH...AYO SAYANG KELUARIN SEMUANYA...SIRAM MEMEK AYU SAMA SPERMA KAMU SAYAAANGG!!!....HHHMMMMMM...AAAHHHH” .....”CROOOOTTT....CROOOTTT...CROOOOTT...ARRRGGGHH HHH!!!!”...dan muncratlah peju gw di dalam memeknya Ayu dengan derasnya dan rasanya banyak sekali semburan peju gw yang muncrat di dalam memeknya Ayu, mungkin juga menerobos barikade dinding rahim Ayu...hehehe..”aduuuhh...memek Ayu sepertinya penuh sama sperma kamu deh sayang...tapi rasanya enak dan hangat di dalam memek Ayu nih...hehehehe” begitulah gambaran Ayu tentang apa yang dirasakan oleh Ayu ketika mendapatkan semburan kenikmatan dari peju gw.

Akhirnya pertempuran kamipun berakhir dengan kepuasan dan kenikmatan yang ngga bisa diungkapkan dengan kata-kata...hehehehe, sehingga untuk beberapa saat kami berdua hanya bisa diam dalam kondisi terlentang diatas meja makan..”gila ya mas kamu tuh napsuin banget sih mainnya” ujar Ayu mengungkapkan bagaimana puasnya dia ngentot sama gw...”aku sih tergantung kamu aja Yu, kalo kamu menikmati permainan ya aku pastinya akan makin napsu lah mainnya juga....hehehehe”...jawab gw menjelaskan kenapa gw bisa napsu banget ngentot sama dia.

“Sayang...ingat ya ini semua harus menjadi rahasia lho dan mulai sekarang sayang harus siap dan mau untuk ngentotin Ayu ketika Ayu minta loh”...ujar Ayu mengigatkan gw...”siaaap komendaaan!!..untuk urusan ngentotin kamu aku sih pasti 100% mau lah...habis enak sih......hehehehe” jawab gw sambil bercanda....”huuuuuu...dasaar memang kamu doyan nih...hehehehe” balas Ayu.

Berawal dari kejadian ini akhirnya hubungan perngentotan gw sama Ayu menjadi kegiatan rutin setiap 2 minggu sekali namun sebulan kemudian bahkan hubungan kami jadi semakin sering karena akhirnya perlahan-lahan Ayu mundur dari hubungannya dengan Boss gw dengan alasan Ayu ngga enak dan kasihan sama suaminya makanya Ayu mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan asmaranya dengan Boss gw, padahal tanpa Boss gw ketahui sebenarnya sekarang gw lah yang menjadi pengganti Boss gw sebagai pemuas napsu birahinya Ayu akan tetapi hubungan gw sama Ayupun tidaklah berlangsung lama karena setelah setahun kami menjalin hubungan akhirnya suami Ayu mengambil keputusan untuk memboyong Ayu dan anaknya untuk pindah ke kota dimana suaminya bekerja.
Sementara itu selama Ayu punya hubungan asmara dengan Boss gw dan sampai dengan akhirnya berhubungan dengan gw suami Ayu sama sekali tidak mengetahui akan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan istrinya, begitu pula Boss gw sampai dengan Ayu ikut pindah bersama suaminya Boss gw sama sekali tidak mengetahui kalau sebenarnya gw lah orang pengganti posisi Boss gw untuk Ayu.

Akhirnya semuanya berakhir dengan baik, enak & aman...hehehehe.

Makasih untuk Ayu yang sudah pernah mengisi hari-hari gw menjadi lebih bergairah.


Gairah ABG Nita



Nama aslinya Arnita Widyastuti, lahir, Bandung 9 Juni 1983, kelas 2 SMA. Kami memanggilnya 'Nita'. Tinggi 162cm, berat badan 41kg, pinggul 26, kulit putih bersih, wajah oval dengan hidung mancung bangir dan bibirnya tipis basah. Toketnya masih sangat mungil dengan size bra 32a, rambut gaya punk rock, sifatnya agak tomboy sedikit. Dia adalah anak pertama tante Rita dan kakaknya Hendri dan juga shabatku.
=== ¤ ===
Siang ini udara trasa panas sekali, matahari bersinar teramat terik, membuat kering rasa kerongkonganku ini. Kemarau tahun ini terasa sangat panjang sekali, membuat bumi terasa panas dan gersang dengan debu bertebaran disana sini. Demikian juga dengan manusia yang kebayakan mulai terbawa cuaca. Mudah terpancing emosi, mudah tersinggung dan rasa egois yg tinggi. Ditambah lagi dngn kesulitan hidup di Ibu kota yg kejam ini, membuat orang malas berfikir dngn cara akal yg sehat.
Aku dan Hendri baru saja plng skolah. Stlh brganti pakaian aku berniat makan siank menyusul Hendri yg sdh lebih dulu menyerbu kedapur tanpa ganti pakaian trlebih dahulu. Aku duduk disblh Hendri dan mkn hidangan yg tlh disediakan bi Inah. Tak lama Nita juga plng dan langsung brgabung dngnKU dan Hendri. " Wah....., enak ne!? " seru Nita smbil mngambil sbuah piring lalu mnyeduk nasi. Kamipun makan bertiga dngn lahap. Karna perut kami memang sudah sangat lapar sekali. Dan cacing cacing didalam perut menari nari kelaparan.
Stelah makan aku brniat istirhat smbil nonton Tv diruang tamu. Smentara Hendri dan Nita sudah masuk kekmrnya masing masing. Blum brapa lama aku mnyaksikan acara Tv, Nita dtng mnghampiriku msh mngenakan pakaian skolahnya. " Fad, tmenin gW nyari buku digudang yuwk!? " ajak Nita kpdku, smbil mlangkah pergi. Dengan berat aKUpun branjak dari dudukku dan mngikuti langkah Nita yg prgi kearah gudang. Sesampainya digudang kami brduapun masuk stelah Nita mmbuka pintunya trlebih dulu.

Suasana didlm tampak tak sperti layaknya sbuah gudang. Karna smua barang yg ada, mskipun tampak usang tapi trtata dngn baik dan rapi. Trutama skumpulan buku yg trsusun rapi disbuah rak buku. Disbuah sudutnya ada sbuah ranjang kayu yg masih nampak bagus dan kuat beserta kasurnya meskipun tanpa kain sprainya. Nita duduk diranjang trsebut sambil mmperhatikan sbuah majalah yg diambilnya dari bawah kasur ranjang trsebut. Kemudian nampak asyik mmbolak balikan majalah yg dipegangnya. Sampai pada akhirnya dia brpaling kearahKU. " Ssssttt..., sini mau liat ga nich!? " panggil Nita kpadaku stengah brbisik. Akupun mlangkah mnghampirinya dngan rasa pnuh pnasaran. Sdikit kaget hatiKU ta kala mlihat majalah yg brada ditangan Nita. Trnyata sbuah majalah khusus orng dewasa atau porno brmerek ' playboys ', tapi aKU tak mmperlihatkan rasa kagetKU kpada Nita. Aku duduk disisinya sraya turut mmperhatikan gambar gambar bugil dimajalah trsebut. Yg tak bisa aKU jelaskan scara rinci isinya.

Halaman demi halaman kami prhatikan dngn seksama, tanpa trlewat satu halamanpun. Mmbuat kami tngglam dalam kesunyian serta kebisuan diri. Kadang kala jari jemari kami saling brsntuhan satu sama lain. Mmbuat kedua mata kami saling bradu pandang sesaat.... Entah bagai mana dan siapa yg memulainya jari jemari kami saling brkaitan serta saling remas. Mmbuat tubuhKU dan Nita smakin mnempel rapat. Shingga tubuh mulai trasa hangat didorong oleh hawa nafsu.
Yang kadang kala mmbuat mataku nakal, mlirik kearah bagian dada Nita. Dimana nampak dua bulatan mungil yg kembang kempis dibalik bajunya. Mmbuat pendulumKU turun naik laksana mnahan dahaga nan tramat serta mulai mmbangkitkan gairah sex dan kemaluanKU. Pikiranku tak lagi fokus trhadap gambar gambar bugil yg ada dimajalah. Benakku mulai dipenuhi dngn fikiran fikiran kotor tntang Nita, yg ada disblahku. Yang masih srius mmperhatikan gambar gambar bugil dihadapannya.

" Ehm, knapa Lw Fad!? " tny Nita pelan sraya mrebahkan tubuhnya diatas kasur. " Eemm, ga pa pa ko Nit! " jwbku sdikit gugup brcampur malu. " Kayaknya dari tadi Lw ngliatin tete gW aja..? " sambung Nita dngn helaan nafas panjang hingga nampak bagian dadanya mngembang dan naik. Aku hanya diam saja, tak mampu mnjawab prtanyaan Nita. " Kalau Lw mau, pegang aja.....,ne!? " ujar Nita lagi sambil jarinya mlepaskan bebrapa buah kancing bajunya dibagian dada. Hingga tampak kedua toketnya yg mungil dan kencang trbalut dngn bra yg brwarna pink. Mmbuat darahku smakin hangat dan hatiku kian brdebar debar tak karuan. Kontolku pun kian brdiri tegak dan keras. " Bner ne Nittt...!? " tnyKU antara ragu dan nafsu. Nita tak mnjwb tapi hny mnganggukkan. kpalanya sambil mnghela nafasnya dalam dalam.
Tak lama jari tanganKU pun mulai mrayap dan meremas daging bulat dan kenyal didada Nita. " Mmmm.., bukain branya dulu dong Fad...!? " pinta Nita sambil mnggeliatkan tubuhnya dan brbalik telunpkup. Sgera ku lepas tali bra trsebut dan kulepas dari tubuh Nita, shingga kini trlihat jelas kedua toket Nita yg mungil tapi padat brisi. Stelah itu tubuh Nitapun kmbali telentang dngn toket yg mnantang. Jari jari tanganKUpun kmbali merayap ditoketnya yg tlah polos tanpa pnghalang. Tlapak dan jariku meremasi sluruh bagiannya. Mmbuat tubuh Nita brgeliat geliat sperti ular yg brdesis.
" Aaashhhss.., truss.., ennaakks.., Faad " desis Nita prlahan. " Hmmm..., oohhh.., mainin pentilnyaaa.., isepps.., achhh " Nita trus brdesis stengah memohon. Akupun mulai mnjiati puting toketnya yg masih tramat mungil dan mulai mngeras tegang. " Iyaaa Fad.., trusss..., oohhhhh..., ennaaak, aaach " desah Nita ...
...tngah mnikmati jilatan lidah serta sedotan mulutku pada puting toketnya. " Aaaahhh.., oohhhhh,..., yeaaahhh.., oochhhh " suara Nita dngn nafas yg tak braturan. " Faadd.., gW mau liatt anu Lw.., achhhh.., uddaahh.., och " Nita mmintaku mnyudahi mmpermainkan toketnya. Akupun mnghentikan dan brguling kesblah tubuhnya.

Nita bngkit dan mrangkak mnindih tubuhku dngn kpalanya mnuju arah slangkanganku. Lalu melorotkan clanaku dan mngelus ngelus kontolKU yg masih smbunyi dibalik CD. Kontolkupun smakin tegan dan brdiri keras akibat belaian dan elusan tlapak tangan Nita yg lembut. Trasa hangat dan ingin berontak kluar dari CDnya. Akhirnya Nita mlorotkan CDku dan mremas remas langsung kontol tegakku. Mmbuat tubuh trasa smakin hangat dan linu. Kedua lututKU trasa lemas dan tak brdaya, andai disuruh bangkit tuk brdiri. Apa lagi tak kala KU rasakan kpala kontolKU dijilat serta diemut olehnya. " aachhh.. " gumamku dngn prasaan yg mlayang jauh. Dngn mata trpejam aKU mnikmati stiap jilatan lidah serta sedotan mulut Nita trhadap kontolKU. Smentara Nita diatas tubuhKU, makin asyik mnjilati atau mngulum kontolKU masuk kedlm mulutnya. Mmbuat diriKU kian mlambung tinggi....
Akhirnya aKU trsadar kalau tepat diatas wajahKU nampak slangkangan Nita mngangkan lebar trhalang rok abu abunya. Sgera KU tarik dan mlorotkan rok trsebut. Dilanjuti dngn CDnya, mmbuat Nita kini benar benar dlm keadaan bugil.
Nampak daging trbelah ditengahnya yg ditumbuhi bulu bulu halus brwarna hitam yg tampak masih jarang dan baru tumbuh. Akupun sgera mnjilati lobang ditengah bulu bulu halus dan lembutnya Nita, dimana sbelumnya aku kuak lebih dulu dngn jariku. " Aagchhhh.., owwwhhh.., gila Lw Fad.... " desah Nita sambil brgetar dan mngejangkan tubuhnya.

Ketika lidahku menyentuh lobang memeknya yg trasa hngt dan mulai basah. " Aaacghhhh.., gillaaa.., oohhh, ohhh.., enaaak.., gellii..., oooch.., truusss " ujar Nita sambil terus jari jari tangannya mmpermainkan kontolKU. " Buka baju Lw dong...!? " pinta Nita seraya melepas kontolKU dan berguling kesisiku. Akupun bangkit dan mmbuka seluruh pakaianku hingga bugil sperti Nita. Kemudian mrangkak keatas tubuh Nita yg tengah terlentang sambil memainkan kedua toketnya sendiri. kutatap matanya yg indah, hidung, bibir, smua yg ada diwajahnya. Nita hanya trsenyum manis sambil merangkulku. kulumat bibirnya dngn pnuh nafsu yg dibalas dngn agresif oleh Nita. Puas dngn bibirnya ku jilati leher dan daun telinganya, mmbuat Nita brgelinjang kegelian dan nafsunya bangkit kembali. " Fad maen yang kayak tadi lagi...!? " pinta Nita perlahan.
Akhirnya aku memutar tubuhku hingga kpalaku brada tepat diatas memeknya. Dan wajah Nita berada tepat berada dibawah kontol yg semakin tegang dan keras. Nita langsung meraih kontolKU dan diisap isap seperti dia mengisap es creams. Akupun mulai meraba dan mengusap usap bulu halus memeknya. Kemudian dengan perlahan aku masukan jari telunjukku kelobangnya yg masih terasa basah bekas tadi. " Auughhh.., pelan pelannn..., aagghhh..., ooohhh " jerit Nita kecil tak kala jari telunjukku masuk kedalam lobang memeknya seraya melepaskan kontolKU dari mulutnya. Cukup lama lobang memeknya ku colok colok, hingga terasa semakin becek. " Oowwghhh..., uuphhssss..., yeeaaasss.., oohhh Fadilll.., aaachh, trussss., Fad " Nita meracau semaunya.
" Yuppzhh..., aaachhh.., pakai lidah Fad.., jillattinnn,., oooohhhh,, jilatinnn.,, ooochh " rengek Nita seperti kesetanan sambil mengoyang goyangkan pinggulnya. Akupun menuruti permintaannya, segera mulutku mendarat dibibir memeknya dan menguakkan bibir memeknya dengan jari tanganku. Kemudian menjilati lobang yg berwarna merah dan basah itu dngn lidahKU. " Aaaaashhh.., oohhh.., truusss.., yang dalaammm,..., oonhhhh.., enaakk..., trusss " ujar Nita sambil menggoyang goyangkan serta sekali kali mengangkat bokongnya. " Yeeeaah.., oghhh.., maaammaah..., oochhh.., truuuuss, ochhhh " Nita kian kerasukan.
" Fadd udaahh.., Faaad.., ooohhh.., yeeesss.., udaahhh..., aduuuchhh " rengek Nita sambil menahan wajahKU memintaku berhenti menjilati lobang memeknya yg sudah semakin basah. Dan akupun menyudahinya.

Kemudian kembali pada toketnya yg mungil dan kenyal. Sementara Nita hanya mendesah dengan kedua matanya sedikit terpejam.
" Punya gW boleh dimasukin ga Nit, dah ngaceng banget ne? " bisikku ditelinganya pelan. " Iya.., pi pelan pelan ya, gW takut sakit!? " balas Nita sambil mmbuka klopak matanya. " Iya.., ga sakit dech!! " ujarku mnyakinkan Nita. " Ya udah, Lw ngangkang lagi dech!? " pintaku Kpd Nita. Karna sudah tidak kuat lagi mnahan nafsuku. Kemudian Nita mngangkangkan kedua pahanya yg putih mulus. Dngn prlahan KU arahkan batang kontolku kearah memeknya. " Aaauuww, aowww..., pelan pelan...., sssakit " rintih Nita ketika kontolku perlahan brusaha menusuk lobang memeknya. Tetapi nafsuku sudah makin mmuncak, maka kutekan trus batang kontol mnerobos lobang memeknya. "Aaaghhh., sakkiitttt Fad!!" jerit Nita saat kontolku brhasik amblas kedalam lobang memeknya sambil meremas remas pinggulku. Perlahan lahan batang kontolku mulai keluar masuk dilobang memeknya yg masih terasa peret mskipun telah basah. Shingga beberapa kali batang kontol harus terlepas dari bibir memeknya. " Aaughh.., aauuwww.., ooghhh.., aaaooww " Nita mringis sambil mnggigit bibir distiap batang kontolKU masuk . Kedua tangan tak lagi mremas remas pinggulKU, tapi mmbantu bokongKU maju mundur dngn perlahan lahan. "Ooochhh..., terusss Fad....., aaaach...., gilaaaaa....., oochhhh." desah Nita tak lagi menjerit kesakitan.

Tak brapa lama lobang memek Nita telah smakin basah. Shingga mmbuat kontolKU lancar melakukan penestrasi kelobang memeknya. Sbaliknya Nita kini tak lagi mringis kesakitan, tapi malah smakin menikmati hubungan badan ini. " Aaacczhh.., trrruuzsss..., ooohh, yesszs.., aaahhhh " Nita kini mngoyang goyangkan bokongnya mngikuti gerakan bokongKU yg turun naik. " ...
...Yeeszss..., oohh.., gillaaa.., trusss.., ooohhhh.., yeesss " desah Nita lagi. " Yesss.., yesss... Fad.., trruuuss..., oohhh..., yeeesss.., oohhhh " Nita meracau smakin tak karuan.
" Ooohh.., ooch yeess.., yesss.... Fad.., yesss..., aaaaaaachh " Nita mlengguh panjang sambil mngejangkan tubuhnya. Dan trasa cairan kental dan hangat mmenuhi lobang memeknya yg samakin becek. Akupun mulai mrasakan denyutan denyutan yg smakin kuat diujung kontolku. Akupun mmacu, mmpercepat gerakanku, sampai akhirnya aku tak mampu tuk menahannya.
" Aaaachhhh... " erangku tak mampu brtahan lagi. Sambil mnjatuhkan tubuhku mnindig tubuh Nita yg telah lemas tak brdaya. Kamipun saling brpelukan dngn peluh yg brcampur aduk satu sama lain. Kami tnggelam dalam hening sesaat dngn nafas yg tak braturan. Suasa gudang yg acak acakan mnjadi saksi bisu trhadap apa yg tlah dilakukan brsama.
" Fad.., memek gW masih sakit..., Lw gila banget se Fad!? " ujar Nita lagi sambil meringis memegangi selangkangannya " Tapi Lw puas ga Nit?? " tanyaku. " Puas banget, enak se!! " balas Nita. " Ya udah yuwk kita beres beres Fad!! " ujar Nita sambil memakai dan mrapikan pakaiannya. Kemudian kami brgegas mrapikan kamar dan ranjang trsebut.

Setelah semuanya beres dan rapi seperti smula, aku dan Nita sgera kleuar dari gudang trsebut. Dngn prasaan dihati masing masing. " Fad.., kalo nanti terjadi apa apa ma gW, Lw harus tanggung jawab ya Fad!? " ucap Nita diantara langkah kami berdua. " Iya Nit, gW pasti tanggung jawab dech!! " jawabku menyakinkan Nita. " Karna sebenarnya aku sayang banget sama kamu Nit " ucapku dalam hati sambil mengingat ngingat kembali apa yg telah terjadi dngn kami berdua tadi digudang.
Stelah kejadian itu, hubunganku dan Nita mnjadi smakin baik dan intim. Aku sring pergi dngnnya, baik itu acaranya atau sebaliknya. Kami brdua sperti layaknya orng yg dimabuk khasmaran. Bahkan aku prnah mngajak Nita mngunjungi orang tuaku di Garut Jawa barat. Kami brdua menginap beberapa hari dan keluargaku nampak sangat senang serta bisa menerima kehadiran Nita. Mungkinkah aku dan Nita bisa hidup brsama dlm arti yg sesungguhnya. Karna sejak dari awal mlihat dan mngenalnya aku memang tlah jatuh hati kepadanya. Meskipun aku tak brani tuk mngutarakannya. Tapi kini kami tlah brsatu dlm jalinan kasih suci, mskipun blum mndapat ridho ALLOH S.W.T dan orang tua.
- ¤ -
Demikian sebuah kisah hidup yg tlah aku alami dimana cinta prtamaku mulai tumbuh dngn gadis yg slama ini mnjadi impianku. Tapi sayang sgalanya trhalang oleh orang tua, ibu sigadis trsebut yg tak lain pacar gelapku juga. Mungkin smuanya blum mnjadi hak dan jodohku yg slama ini masih hidup brgelimang dosa nan trcela. Biarlah semua menjadi knangan manis dlm hidup ini.


Kangen Adik dan Mamaku



Kuliah adalah tempat seseorang untuk menuntaskan cita-citanya. Dan juga mungkin tempat di mana kita akan mengenal sebuah dunia baru. Dunia ini begitu luas, sampai-sampai kita tak sadar bahwa dunia itu sedikit demi sedikit mempengaruhi kita. Kita tak heran banyak orang-orang yang pergi kuliah pulang ke kampung halamannya sudah berubah drastis. Dari mereka yang sifatnya lugu menjadi sok gaul, dari mereka yang sifatnya jelek bisa jadi pulang menjadi orang yang alim banget. Inilah yang terjadi padaku, sebuah pengalaman yang entah aku harus menyebutnya apa. Namaku Gun, sebut saja begitu. Seorang mahasiswa fakultas Tehnik di kampus X, salah satu PTS terkenal di kota Y.

Ada perasaan kangen sebenarnya ama kampung halaman. Dan perasaan itu pun masih ada sampai sekarang, maklum karena kesibukanku, aku pulang hanya setahun sekali. Selain mengikuti organisasi kampus dan banyak ekstrakulikuler, aku juga dihadapkan pada jadwal perkuliahan yang padat. Namun pada semester kelima ini, aku mau mengambil cuti untuk beberapa waktu. Kabar tak enak datang dari kampung halaman. Baru saja keluargaku di kampung halaman mendapatkan musibah, sebuah kecelakaan. Ayah meninggal dan ibuku mengalami koma. Sedangkan adikku baik-baik saja. Mulai dari sinilah kehidupanku berubah.

Ayah yang satu-satunya orang yang membiayai kuliahku pergi. Sehingga dari sini, aku harus membanting tulang sendirian, untuk ibuku, adikku dan diriku sendiri. Akhirnya kuliah ini aku tunda dulu. Aku mengajukan cuti satu semester. Waktu cuti itu aku manfaatkan untuk membanting tulang. Aku tak bisa mengandalkan dari warisan ayahku. Sebab kalau aku mengandalkannya, aku tak bisa membiayai semua keperluan kami. Dan syukurlah aku diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta, walaupun berbekal kemampuanku di bidang analisis data, aku mendapatkan gaji yang cukup.

Ibuku adalah seorang wanita yang sangat cantik sebenarnya. Usianya baru 38 tahun. Ia menikah muda dengan ayahku. Dan sampai sekarang ia tetap bisa menjaga kemolekan tubuhnya. Pernah sih waktu masih remaja aku beronani membayangkan ibuku sendiri. Tapi hal itupun tak berlangsung lama, hanya beberapa saat saja. Dan adikku masih sekolah SMP, namanya Arin. Seorang gadis periang, cantik dan imut. Banyak cowok2 yang tergila-gila pada adikku itu. Dan paling tidak ada salah satu teman cowoknya yang pedekate ama dia, tapi yaaa…masih takut-takut.

Dua minggu setelah kecelakaan itu, ibuku sadar dari komanya. Mulanya ia tak ingat apa-apa, namun setelah tiga hari berada di rumah, ia pun ingat. Tapi karena kondisinya yang masih lemah, ia pun tak bisa berbuat banyak. Aku dan Arin gantian menjaganya. Sebagai anak laki-laki satu-satunya beliau benar-benar menyayangiku. Katanya ia mengingatkanku pada ayah. Aku tahu ia sangat shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Aku dan Arin terus berusaha menghiburnya, sampai ia benar-benar sehat.


Hari itu seperti hari-hari sebelumnya, tapi sedikit istimewa, karena teman-teman kuliahku mau mengunjungiku. Ketika pulang kerja, kami sempatkan sejenak untuk berkumpul. Mereka semua ikut berbela sungkawa terhadap keadaanku sekarang. Tapi selain itu mereka mencoba menghiburku, ada-ada saja ulah mereka, yaitu memberiku kaset bokep, dan majalah2 hardcore. Kata mereka, “Ini buat menghibur loe sobat, biar nggak berduka terus”. Sialan. Tapi nggak apa-apalah, soalnya juga sudah lama aku nggak nonton yang begituan. Namun ternyata inilah sumber dari kejadian selanjutnya.

Aku pulang dan aku lihat adikku sedang belajar di kamarnya. Ibuku sudah bisa sedikit berjalan, walau masih berpegangan pada apapun yang ada di dekatnya.

“Kau sudah pulang Gun?”, tanyanya.

“Iya bu”, kataku.

“Kalau mau makan, di meja makan tadi adikmu beli sesuatu”, kata ibuku.

“iya”, kataku singkat.

Singkatnya aku mandi dan mengurung diri di kamar. Aku pun mulai menonton bokep dan majalah-majalah hardcore. Mulanya sih agak aneh aja aku melakukan hal ini, tapi rupanya sedikit bisa menghiburku. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, aku tak sadar kalau sudah lama aku berada di dalam kamar mengocok sendiri punyaku dan menontoni tubuh para wanita itu. Aku keluar kamar dengan maksud hati untuk makan apa pun yang ada di meja makan.

Ketika keluar dari kamar, aku melewati kamar ibuku. Astaga, apa yang aku lihat itu? Ibuku yang memakai daster itu tampak tersingkap dasternya, sehingga aku bisa melihat CD-nya. Memang badannya masih mulus. Aku mulai berpikiran jorok, ini pasti akibat barusan aku nonton bokep. Wajahnya masih cantik, dan aku bisa melihat wajahnya yang polos ketika tidur. Aku berdiri di pintu kamarnya, memang pintunya sengaja di buka agar sewaktu-waktu kalau ia memanggilku aku bisa dengar. Entah setan mana yang menguasaiku, akupun mengocok punyaku sambil membayangkan beliau membelai punyaku. Aku kocok pelan-pelan. “Ohh….Mega..”, aku panggil nama ibuku berbisik. Aku terus mengocok, makin lama makin cepat, dan maniku muncrat…CROOT….CROTT…, banyak banget sampai mengotori lantai, buru-buru aku bersihkan dengan kain pel yang ada di sebelah pintu. Entah kenapa aku mulai berpikiran seperti itu. Namun rencana jelekku nggak sampai di situ saja.

Esoknya, aku libur, sebab hari ini adalah hari sabtu. Kantorku sabtu dan minggu libur. Arin sudah pergi ke sekolah. Aku bangun agak kesiangan. Mungkin kelelahan karena peristiwa kemarin. Aku pun entah dari mana punya pikiran yang aneh-aneh lagi. Aku berniat memandikan ibuku, aku ingin melihat tubuhnya yang utuh. Aku pun ke kamar ibuku, ia sudah bangun dan sedang bersiap mandi.

“Ibu, ibu mau mandi?”, tanyaku.

“Iya Gun”, katanya.

“Boleh Gun, mandiin ibu?”, tanyaku.

“Nggak usah Gun, ibu sudah bisa sendiri koq”, jawabnya.

“Nggak apa-apa bu, kondisi ibu masih belum pulih benar”, kataku merayu.

Tak punya pikiran lainnya, ibuku pun menjawab, “Baiklah”.

Akupun mengantarnya ke kamar mandi. Inilah saatnya pikirku. Aku melihatnya melepas daster, BH dan CD-nya satu per satu. Tampaklah dua buah toket yang masih mancung dan miss-v yang aku ingin lihat dari dulu. Aku hanya terbengong, dan tak terasa tongkolku sudah tengah. Darah mengalir cepat ke ubun-ubunku.

“Kenapa Gun?”, tanya ibu.

“Ah..nggak apa-apa “, jawabku.

“Bajunya dilepas dong Gun, nanti basah”, kata ibuku. “Kamu belum mandi juga kan?”

“I…iya”,kataku.

Aku pun melepas pakaianku. Ibuku agak terkejut melihat punyaku yang tegang. Lalu dia duduk di pinggir bak mandi. Seakan mengerti, akupun mengambil gayung dan menyiramkan ke tubuhnya. Ia membasuh mukanya, ia ganti mengambil gayung dan menyiramkannya ke tubuhku. Kami benar-benar saling menggayung. Tibalah saat menyabun. Aku mengambil sabun cair. Kusabuni punggungnya. Busanya melimpah, lalu dari belakang aku menyusuri pundak, hingga ke depan, aku agak takut menyentuh dadanya. Takut kalau dia marah. Tapi ternyata tidak. Akupun sedikit membelai toketnya, dan agak meremas. Kami diam, dan hanya bahasa tubuh saja yang saling berucap. Ku basuh dari dadanya, hingga ke perut. Ketika mau menuju miss-v, ibuku menahan.

“Jangan pakai sabun ini, tidak baik untuk kewanitaan”, katanya. “Bersihkan dulu tubuh ibu”.

Aku pun menurut, aku gayung ia pakai air. Sabun yang ada di tubuhnya hilang, lalu ia mengambil pembersih khusus kewanitaan. Lalu menyerahkannya kepadaku. Aku mengerti lalu mulai menyabun tempat itu pakai sabun tersebut. Mulanya aku hanya sekedar menggosok, tapi lama-lama aku sedikit menyentuh kelentitnya, ibuku memejamkan mata sejenak. Sepertinya ia keenakan, aku teruskan, namun aku tak berani lama-lama. Ia agak tersentak ketika aku menyudahinya. Ia menghirup nafas agak dalam, sepertinya ia sedikit horni.

Aku mengguyang air di daerah kewanitaannya. Bersihlah sudah sekarang. Lalu giliranku. Aku disabun oleh ibuku. Mula-mula punggung, dadaku yang bidang, lalu perut, dan sampai di tongkolku yang tegang. Ia mengurut tongkolku sesaat, lalu menggosok buah pelirku, sepertinya ia tahu bagian-bagian itu. Enak sekali sentuhan ibuku.

“E…bu…boleh Gun minta sesuatu?”, tanyaku.

“Apa itu?”

“Gun kan sudah dewasa, dan mengerti soal beginian. Kalau boleh aku ingin ibu mengocok punya Gun sebentar bu”, aku mengatakan hal yang aneh-aneh. Yang memang tak perkikirkan sebelumnya.

Ibuku terdiam.

“Maaf bu, aku tak bermaksud demikian, hanya saja, aku sebagai laki-laki normal siapa saja, pasti akan merasakan hal seperti ini”, kataku.

“Iya, ibu faham, anak ibu sudah dewasa”, katanya.

Tangannya yang lembut itu pun akhirnya mengocok punyaku, membelainya. Oh…apa ini? Aku serasa melayang. Ia benar-benar mengocok tongkolku yang sudah tegang. Peristiwa itu sangat erotis sekali. CLUK….CLUK…CLUK…bunyi tongkolku yang dikocok berpadu dengan air sabun. Busanya sangat banyak, aku ingin sekali meremas toket ibuku.

“Bu, boleh Gun meremas dada ibu?”, tanyaku. “Gun sangat terangsang sekali”.

“Maafkan ibu nak, seharusnya tidak begini. Gun tak boleh macam-macam sama ibu, ibu sakit Gun”, kata ibu.

“Kalau ibu tidak mengijinkan juga tidak apa-apa, tapi Gun tidak tahan lagi”, kataku.

Aku pun mencengkram pundak ibuku, pertanda mau orgasme. Ibuku tahu hal itu, dan ia mengocok tongkolku dengan cepat, CROOT…..CROOT…..CROT….sperma muncrat ke wajahnya, dadanya, dan perutnya. Banyak sekali. Sebagian membeler di jemarinya.

“Sudah Gun?”, tanya ibu.

“I…iya…”, kataku lemas.

Ibuku lalu membersihkan spermaku yang ada di tubuhnya dengan membasuhnya dengan air.

“Jangan bilang ini sama Arin ya”, katanya. “Atau orang lain.”

Kami segera keluar dari kamar mandi. Entah apa yang aku lakukan barusan. Tapi aku sangat menikmatinya. Ibuku dan aku hanya memakai handuk saja. Aku membawanya sampai ke kamar. Di kamar aku masih horny, dengan posisi ibuku yang sekarang hanya pakai handuk saja, membuatku makin terangsang.

Aku tak kuasa menahan godaan ini. Setelah ibuku aku dudukkan. Aku duduk di sebelahnya.

“Bu, maaf kalau tadi Gun lancang di kamar mandi”, kataku.

“Tak apa-apa Gun, laki-laki normal pun pasti demikian, bahkan bisa lebih”, kata ibuku.

“Bu, apakah boleh Gun lihat lagi dada ibu?”, tanyaku.

“Buat apa Gun?”, tanyanya. “Ibu masih sakit Gun”.

“Sebentar saja bu, boleh ya?”, tanyaku.

“Baiklah”, katanya.

Ia membuka handuknya, tampaklah dua buah bukit kembar yang aku inginkan. Aku memegang putingnya, entah kenapa tiba-tiba aku menyusu di sana.

“Oh…Gun…jangan Gun….ahkk”, ibuku tampak tak melawan walaupun aku menghisap susunya. Mengunyah putingnya, menggigit dan meremas keduanya. Tak terasa, ia sudah berbaring tanpa sehelai benang pun. Aku pun menciumi perutnya, hingga ke miss-v-nya. Miss-v-nya yang keset membuatku makin bergairah. Ibuku terus meronta jangan dan jangan. Aku tak peduli, nafsu sudah di ubun-ubun. Ibuku tampak terangsang dengan perlakukanku itu. Ia pun secara tak sengaja membuka pahanya, tongkolku sudah siap, dan aku sudah ada di atas ibuku. Kedua bibir kemaluan bertemu. Ibuku tampak meneteskan air mata.

“Maaf, bu, tapi Gun tak kuasa menahan ini”, kataku lagi.

Penisku kugesek-gesekkan di bibir miss-v-nya. Agak geli dan enak. Ini adalah aku melepaskan keperjakaanku kepada ibuku sendiri. Aku senggol-senggol klitorisnya, ibuku memejamkan mata, ia menggelinjang, setiap kali kepala penisku menyentuhnya. Lalu akupun memasukkannya. Miss-v-nya sudah basah sekali. Tak perlu tenaga banyak untuk bisa masuk. SLEEB!! Sensasinya luar biasa. Aku tak peduli ia ibuku atau bukan sekarang. Aku sudah menggenjotnya naik turun. Pinggulku aku gerakkan maju mundur dengan ritme sedang. Kurasakan sensai miss-v ibuku yang masih seret menjepit tongkolku yang panjang dan besar itu. Aku usahakan ibuku juga merasakan sensasi ini. Aku angkat bokongnya, aku remas. Kakinya mulai kejang dan menjepit pinggangku.

“Ohh….Ahh…terus Gun…cepat selesaikan, cepat Gun….”, kata ibuku. Ia mencengkram sprei tempat tidur. Ia menggigit bibirnya. Wajahnya yang cantik dan bibirnya yang seksi membuatku terangsang. Dadanya naik turun, oh…seksi sekali.

“Mega, tubuhmu nikmat Mega…ahh….aku ingin ngent*t terus denganmu, aku ingin keluar Mega…OOHH…Ahhhh”, aku percepat goyanganku. Ibuku pun sepertinya mau keluar, ia bangkit dengan bertumpu kepada kedua tangannya, pertanda orgasme. Aku juga keluar. Spermaku muncrat di dalam rahimnya, aku tekan kuat-kuat. Akhirnya fantasiku untuk ngent*t dengan ibuku sendiri kesampaian. Aku benamkan dalam-dalam penisku, sampai spermaku benar-benar tak keluar lagi. Ibuku lemas. Ia masih beralaskan handuk bekas mandi. Aku perlahan mencabut penisku. PLOP..!! suaranya ketika aku cabut.

“Maafkan aku bu, tapi enak sekali”, kataku.

Aku berbaring di samping ibuku. Ibuku memukulkan tangannya ke dadaku. “Kamu bajingan!!” Ibuku lalu menangis. Ia membelakangiku, sambil memeluk dirinya sendiri.

Butuh waktu lama untuk dirinya bisa diam. Sampai kurang lebih 30 menit kemudian, nafsuku bangkit lagi, karena masih melihatnya telanjang. Aku mempersiapkan penisku yang tegang lagi. Kali ini bukan fantasi, inilah yang aku rasakan. Aku mendekatkan penisku ke pantatnya, aku sentuh pinggulnya, lalu aku masukkan penisku ke vaginanya. Nggak perlu susah-susah dan Bless….”Aah…Gun, kamu mau apa lagi? Tidak cukupkah kamu menyiksa ibu?”

“Gun, tak tahan nih bu, Gun jugakan masih perjaka”, kataku. Posisiku kini dari samping. Dan aku keluar masukkan penisku. Pantatnya dan perutku beradu. Sensasinya luar biasa. Pantatnya benar-benar seksi, semok dan menggiurkan. Aku tak butuh waktu lama untuk bisa ejakulasi lagi di dalam rahimnya. Dan ketika puncak itu aku memeluk ibuku.

Sensasinya aneh memang, tapi nikmat sekali. Setelah itu aku benar-benar memohon maaf.

“Maafkan Gun bu, maafkan Gun”, kataku.

Lalu ibuku menyuruhku untuk keluar kamar. Aku pun keluar. Aku kembali ke kamarku dan memikirkan apa yang terjadi barusan. Aku sudah menjadi anak durhaka.

*******

Arin pulang. Ibuku bertingkah seperti biasa. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi tatapan kami mempunyai arti. Antara malu, takut dan senang aku bingung.

Esoknya, hari minggu. Ibuku tampak agak senang. Kesehatannya sedikit pulih. Ia bisa berjalan normal. Ia seolah melupakan kejadian kemarin. Apakah mungkin gara-gara apa yang aku lakukan kemarin? Bisa jadi. Tak perlu waktu lama memang untuk bisa mencerahkan wajahnya lagi. Ia sudah senang dengan perkembangan kesehatannya.

Malamnya, ibuku ingin tidur di kamarku. Entah kenapa ia ingin begitu. Dan aku pun mengiyakannya. Pukul 12 malam. Ketika Arin sudah tidur. Dan aku berada di samping ibuku. Kami seranjang. Aku tahu bisa saja saat itu aku sudah bercinta dengannya, tapi ada sesuatu yang membuat kami tidak melakukannya.

“Sepertinya kesehatan ibu mulai pulih akibat itu Gun”, katanya.

“Tapi inikan baru satu hari bu, dan Gun sangat menyesal melakukannya kemarin”, kataku.

Ibu bangkit, lalu ia menurunkan celana pendekku. Tanpa babibu, ia sudah mengulum penisku. Aku kaget mendapatkan sensasi itu. Tidak ada wajah jaim, tidak ada rasa penyesalan seperti kemarin. Ia sudah mengulum penisku, seorang Blow Jober pro. Ia mengocok, mengulum, menjilat. Dengan ganas ia lumat tongkolku dengan mulutnya yang seksi itu. Ia juga gesek-gesekkan ujung penisku ke putingnya, lalu ia jepit dengan dadanya. Akupun tak menyia-nyiakan ini, aku segera melepas bajuku, lalu bajunya. Kami sudah telanjang, dan ia masih mengoralku. Aku berbaring dengan menikmati sensasi yang sedikit aneh, tapi nikmat. Oh tidak, rasanya aku mau keluar….sedotannya benar-benar mantap. Aku tak kuasa lagi dan…aahh..benar…CROT…CROT…CROT…spermaku tak sebanyak kemarin pagi. Tapi cukup untuk memenuhi isi mulutnya. Ia menyedot spermaku sampai habis.

“Nih lihat”, kata ibuku sambil membuka sedikit mulutnya. Aku bisa lihat lidahnya yang terbungkus cairan putih spermaku.

“Ibu hebat”, kataku.

“Ibu masih belum puas”, katanya. Ia lalu menelan spermaku bulat-bulat.”Ah..”

Aku bangkit dan langsung nenen. Aku menenen kepadanya seperti bayi, kali ini kami All Out. Tidak seperti kemarin. Kami saling mendesat, saling menggigit. Ibuku ada di atas, dan aku berbaring. Penisku sudah tegang lagi dan mengacung ke atas. Ia berjongkok dan menuntun penisku masuk miss-v-nya dengan tangannya. Ia pun naik turun sambil tangannya bertumpu pada pahaku. Makin lama ia makin cepat gerakannya. Aku juga tak kuasa, bahkan aku bisa-bisa jebol duluan. Ia tahu kalau aku mau jebol, Ia hentikan gerakannya, ia ganti dengan meremas-remas telurku. Oh…ini baru, tehnik baru. Ketika ia meremas telurku, tampak nafsuku yang sudah dipuncak tiba-tiba hilang. Lalu setelah beberapa saat kemudian, ia bergoyang lagi naik turun. Ia terus mengulangi hal itu kalau aku mau ke puncak, rasanya spermaku berkumpul di ujung penisku. Seolah-olah pijatan itu membuatku seperti menahan bom. Dan benar, ketika ibuku mau orgasme, ia lebih cepat bergerak. Ia naik turunkan lebih cepat dari sebelumnya, ia tak lagi bertumpu di pahaku, tapi di dadaku. Dan ia mengigau, “Oh…Gun…Oh…anak mama yang nakal….tongkolmu gedhe Gun. Nikmat banget. Ibumu ini jadi budakmu Gun…Ahh…Sampai…sampai…ibu mau sampai, kamu juga ya sayang, basahi rahim ibumu, hamili ibumu ini”.

Aku pun keluar dan langsung bangkit memeluk ibuku. Kami orgasme bersama-sama. Vaginanya sangat basah, begitu juga punyaku. Sperma itu masuk ke rahimnya lagi. Banyak sekali, dan benar, spermaku tadi yang tertahan terkumpul di ujung dan melepas dengan semprotan yang luar biasa. Kami berpandangan sesaat, aku mencium bibirnya. Kami berciuman, aku masih memangkunya, dan tak perlu waktu lama. Kami ambruk dan saling berpelukan. Kami tertidur.

******

Hubunganku dan ibuku sendiri sekarang sudah seperti suami istri. Aku tak tahu bagaimana kami menyebutnya. Setiap malam aku selalu melakukannya, bahkan tidak tiap malam. Hampir setiap hari, dan kesehatan ibuku makin membaik dari hari ke hari. Dokter pun terheran-heran dengan hal ini. Dan setiap hari kami melakukan gaya yang berbeda-beda. Dan lambat laun hal ini pun tercium oleh Arin.

Suatu saat ketika ibu tidur lebih awal, sehabis main denganku. Aku nonton tv. Di ruang tengah tampak Arin juga ada di sana. Aku duduk berdekatan.

“Aku tahu kakak gituan sama ibu”, kata Arin.

Aku kaget tentu saja.

“Gituan gimana?”, tanyaku jaim.

“Alaah, nggak usah sok alim deh kak. Kakak ngent*t ama ibu kan?”, tanyanya.

“Kalau iya kenapa?”, tanyaku menantang.

“Asal ibu bahagia saja, Arin senang. Walau pun agak aneh rasanya kakak yang melakukan itu ama ibu”, katanya.

“Kamu kepengen ya?”,

“Nggak ah”

“Alah, kalau kau mau bilang aja, nggak usah malu-malu, atau kamu sudah pernah gituan ya?”

“Belum pernah, dan jangan ngejek ya!?”

“Kakak nggak percaya, kamu pasti udah nggak perawan”, kataku.

“Kakak jahat!”, katanya sambil memukul bahuku.

“Aduh, koq mukul”, kataku.

“Habisnya kakak jahat!”, katanya.

“Kau harus tahu, aku melakukan ini juga untuk kesembuhan ibu, semakin kakak melakukannya ibu semakin membaikkan?”

Arin diam sejenak, “Iya juga sih, ibu makin membaik”.

“Mau tau rahasia?”, tanyaku.

“Apa ?”, tanyanya.

“Sebenarnya sudah sejak dari dulu kakak ingin begini sama ibu”, kataku.

“Busett…kakak ternyata…”, Arin menggeleng-geleng.

“Yee…ini juga karena memang ibu wanita yang cantik”, kataku. “Apalagi kakak juga sudah dewasa kan?”

Entah bagaimana aku juga ingin begitu dengan adikku. Melihat dia hanya pakai celana pendek, bahkan aku bisa melihat putingnya yang menonjol. Kebiasaan dia kalau di rumah tak pakai BH. Alasannya gerah. Jadi hal ini pun membuatku makin terangsang.

Guna memancingnya aku keluarkan penisku. Dan mengurutnya.

“Kakak ngapain? Jorok ih”, katanya.

“Yeee…suka-suka dong”, kataku. Aku mengocok perlahan sambil menatap adikku itu. “Kamu boleh koq sentuh”

“Nggak ah..”, katanya.

“SENTUH!!”, aku sedikit membentak.

Adikku entah bagaimana ia tiba-tiba spontan menyentuh penisku.

“Nah, gitu…”, kataku. Sensasinya mulai aku rasakan. “Sekarang kocok dong!!”

“Udah ya kak, jangan deh”, katanya.

“Kocok!”, kataku.

Ia menurut. Mungkin perbedaan sikapku yang tadi membuat ia sedikit kaget. Aku tahu jantungnya berdegup kencang. Ia mengocoknya terus, tak beraturan. Tapi itu saja sudah membuatku nikmat. Aku lalu merangkulnya dan menciumnya, sembari ia masih mengocok. Ia kaget dan mencoba melepaskan diri, tapi aku lebih kuasa. Adikku yang SMP itu kini first kis denganku.

Lidahku menari-nari di dalam mulutnya, ia tampak kewalahan, bahkan aku sigap kaosnya dan kuremas dadanya yang montok itu. Lalu aku menyusu kepada adikku itu, aku lucuti pakaiannya, ia meronta, “Kak…jangan…”

Terlambat sudah, aku sudah menduduki perutnya, ia tak bisa ke mana-mana. Aku lucuti pakaianku, kini kami telanjang. Aku julurkan penisku ke mulutnya.

“Ayo isep!”, kataku.

“Nggak ah kak, koq jadi gini sih”, katanya.

“Isep!”, kataku.

Ia hanya nurut. Ia buka mulutnya dan aku jambak rambutnya. Kugerakkan kepalanya maju mundur. Nikmat sekali. Tak perlu lama-lama, aku sudahi permainan itu karena aku mengincar vaginanya. Segera, aku berbalik di posisi 69. Aku menjilati miss-vnya. Vagina perawan memang beda. Aku rasanya cairan itu membasahi mulutku. Lidahku terus menari-nari di dalamnya. Sementara adikku mengulum penisku dengan suara…”Hmmmhh…hmmmh…hmmmh…”

Cairan kewanitaan itu makin banyak. Dan vagina itu basah sekali. Aku sudah benar-benar puas. Lalu aku berbalik. Dan aku siap untuk menusukkan penisku yang besar dan panjang ini ke vagina Arin yang sempit. Mulanya kepalanya yang masuk, sulit sekali. Lalu aku dorong perlahan, aku tarik lagi, aku dorong lagi, vaginanya berkedut-kedut meremas-remas punyaku. Punyaku serasa ingin dia hisap.

“Kaakk….sakit kaak…jangan perkosa Arin”, katanya meminta.

“Nanti juga enak koq Rin”, kataku.

Dan aku pun mulai mendorongnya sekuat tenaga. Arin memiawik tertahan. Nafasnya memburu. Vaginanya berdenyut-denyut, ia menerima ransangan penisku, aku mulai bergoyang teratur. Sembari aku menindihnya aku menciumi bibirnya. Kakak adik ini sekarang sudah bersatu. Tak kusangka penisku bisa masuk penuh memenuhi rongga vagina adikku sendiri. Kini aku tak kuasa ingin keluar. Padahal juga baru sepuluh menit bergoyang. Dan aku pun tak bisa menyia-nyiakan ini, aku memang ingin keluar.

“Rin, kakak mau menghamili kamu….ahh…keluar riiinn…Akkkhh…aaahhkkk”, benar sekali. Spermaku muncrat dengan energi penuh. Adikku merangkulku. Karpet itu jadi saksi bahwa keperawanan adikku aku renggut. Agak lama kami berpelukan dan berguling di karpet. Sampai kemudian aku cabut punyaku. Dan melihat karpet itu bernoda.

Sperma tampak sedikit keluar dari vaginanya, karena terlalu banyak yang keluar tadi. Malam itu aku membopong adikku ke kamarnya. Ia menangis. Tentu saja ia kaget dengan yang kulakukan barusan, bahkan ia kuperkosa.

“Maafkan kakak ya”, kataku. “Kalau kau mau marah, kakak ada di sini”

“Percuma Arin marah, kakak sudah memerawaniku”, katanya. “Kakak harus janji, selain ibu dan Arin, kakak nggak boleh dengan wanita lain!!”

“Baiklah kakak berjanji”, kataku.

“Mulai sekarang, Arin ingin jadi istri kakak”, katanya.

Setelah itu, aku berterus terang kepada ibuku tentang kejadian tadi malam. Ibuku tak marah. Ia mengerti keadaanku yang kecanduan sex. Boleh dibilang, hubungan incest ini tak ada orang yang tahu. Bahkan ketika ibuku melahirkan anak hasil hubungan kami, demikian juga Arin. Entahla ini namanya apa. Tapi kami berjanji akan menjaga anak-anak kami sampai ia dewasa nanti. Dan yang pasti. Hari-hariku melakukan sex dengan mereka berdua tak akan pernah usai. Dan anehnya setiap saat aku ingin sekali melakukannya dengan mereka. Ibuku yang suka dan mahir blow job, ditambah Arin yang vaginanya sempit membuatku ingin setiap hari menggaulinya. Kau tahu kalau kalian menganggap kisah ini bualan, kalian salah. aku benar-benar melakukannya dengan ibu dan adikku.

THE END


Arsip Blog